Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rayuan Gombal
Akad nikah sudah berlangsung dan semua rangkaian acara pernikahan adat Sunda sudah selesai dilalui oleh Valerie dan Jeevan hari ini, mulai dari tahapan pra-nikah hingga paska-nikah yang penuh makna filosofis, meliputi dari neundeun Omong (janji), lamaran, seserahan, ngeuyeuk seureuh, akad nikah, hingga prosesi adat setelah akad seperti mapag panganten, saweran, nincak endog (injak telur), dan huap lingkung. Hanya siraman saja yang terlewatkan oleh kedua orang tuanya Valerie, saat acara siraman Valerie diwakili oleh keluarga Jeevan karena kedua orang tuanya tidak bisa hadir.
Hal yang paling membuat Valerie menangis dan tersentuh adalah saat acara sungkeman, air mata Valerie menetas begitu deras dan tangisnya pecah saat mencium tangan kedua orang tuanya. Valerie hanya bisa menangis mengingat penyakit yang sedang dideritanya dan takut tidak bisa bersama dengan mereka lebih lama.
Semua tidak perlu tahu tentang penyakitnya, hanya Owen satu-satunya sandaran hatinya yang tahu tentang penyakitnya. Ia tidak mau semua orang tahu dan mengasihi dirinya yang penyakitan. Ini adalah pernikahan pertama dan terakhir baginya dan Valerie ingin menggunakan momen ini untuk mengingatnya.
Setelah mengetahui jika Rania adalah sahabat baiknya Valerie, membuat Kenzie sedikit kesal dan kecewa. Kenapa ia harus bertemu lagi dengannya ketika hendak menghindarinya. Sepertinya alam semesta mendukung pertemuan mereka berdua kembali. Saat itu Rania datang bersama dengan calon tunangannya, Biyan. Namun Kenzie bersikap dingin seolah tidak mengenal Rania begitu juga dengan Rania kepadanya.
Setelah acara resepsi pernikahan Valerie dan Jeevan pergi bersama dengan keluarganya Sulthan ke sebuah pulau seribu. Memang belum ada waktu bagi Valerie dan Jeevan untuk honeymoon karena Ny. Ester dan suaminya Tn. Juan kakeknya Jeevan ingin pergi liburan bersama.
PULAU PARI
Pulau Pari adalah salah satu destinasi wisata populer di Kepulauan Seribu Selatan, Jakarta. Pulau ini dikenal dengan pantainya yang berpasir putih, air laut yang tenang, serta suasana yang asri, luas pulau bekisar 40 hingga 94 hektar. Jaraknya hanya sekitar 1,5 hingga 2 jam perjalanan dari Jakarta.
Sebelumnya, pulau ini merupakan pulau pengungsian bagi pelarian warga sekitar yang menolak dijadikan pekerja paksa oleh Belanda. Kini, Pulau Pari menjadi sentra budidaya rumput laut yang menopang kehidupan warganya serta menjadi daya tari wisatawan lokal dan mancanegara.
Sebelum tahun 1900-an, Pulau Pari merupakan pulau tak berpenghuni dan belum memiliki nama. Berkuasanya Belanda pada waktu itu memaksa sejumlah warga sekitar Tangerang menetap disana untuk menghindari kerja paksa.
Ada beberapa destinasi utama di Pulau Pari diantaranya.
Pantai Pasir Perawan: Ikon Pulau Pari dengan air dangkal yang jernih dan hutan mangrove di sekitarnya.
Pantai Bintang: Tempat bersantai dengan dekorasi unik berbentuk bintang, cocok untuk berfoto. Pantai Rengge: Area yang relatif lebih tenang untuk menikmati pemandangan laut. Hutan Mangrove yang bisa menyewa sampan untuk berkeliling area konservasi bakau.
Selain itu juga aktivitas yang bisa dilakukan seperti snorkeling(menjelajahi keindahan bawah laut), bersepeda, water sport, dan menikmati sunset pantai pasir Perawan adalah salah satu titik terbaik melihat mata hari terbenam.
Sulthan memang memiliki sebuah homestay di sana yang sering digunakan jika mereka berlibur, ada 8 kamar yang saling bersisian dengan kolam renang yang berada tepat di depan kamarnya masing-masing. Serta dapur dan ruang makan yang terpisah, dan dilengkapi AC, TV, wifi.
Sesampainya di kamar Valerie menatap seisi kamar yang lumayan besar hanya ada satu tempat tidur besar, TV, dua sofa kecil dan satu sofa panjang di sudut ruangan serta kamar mandi. Kenapa Valerie merasa sangat tidak nyaman berada di sana.
"Kenapa? Nggak suka kamarnya?" tanya Jeevan saat masuk ke kamarnya melihat Valerie masih berdiri menatap seisi kamar dengan seksama.
"Ah nggak." Valerie menoleh karena suara Jeevan menyadarkannya.
"Apa nggak ada tempat tidur yang terpisah?" tanya Valerie keheranan menatap Jeevan yang duduk di sofa karena masih merasa lelah menghadapi para tamu kemarin.
Jeevan menatap Valerie keheranan, apa Valerie takut jika Jeevan akan macam-macam kepadanya. Tatapan Valerie sedari tadi seolah curiga dengan Jeevan saat ini, melihat reaksi Valerie membuat Jeevan ingin sekali mengerjainya. Memang Jeevan sangat usil dan paling senang membuat Valerie panik.
"Kenapa harus terpisah? Kita udah nikah?" tanya Jeevan membuat Valerie sedikit ketakutan.
Glek, Valerie hanya terdiam menelan ludah ternyata Jeevan tidak mengerti apa maksud dari ucapannya. Meski sudah menikah tapi Jeevan harus tahu jika mereka punya batasan sesuai perjanjiannya.
"Jangan lupa, kita nikah cuma pura-pura," tegas Valerie mengingatkan Jeevan yang mulai menggodanya.
"Aku tahu, tapi bagaimana kalau mereka tahu kalau kita tidur terpisah?" Jeevan balik bertanya sambil mulai bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan menuju Valerie yang masih saja berdiri terpaku.
Valerie hanya terdiam membisu dan memikirkan apa yang baru saja Jeevan ucapkan, benar jika mereka tidur terpisah pasti akan menimbulkan pertanyaan besar. Tapi Valerie tidak bisa tidur satu ranjang dengan Jeevan. Semalam saja mereka harus tidur terpisah saat di hotel, Jeevan terpaksa tidur di sofa. Tapi tidak mungkin saat ini Jeevan kembali tidur di sofa karena tidak senyaman seperti di hotel.
"Aku nggak mau tidur di sana." Jeevan menunjuk sofa panjang yang terbuat dari kayu hanya beralaskan bantal tipis.
"Badanku bisa sakit dan nggak nyaman buatku tidur beberapa malam di sana, dan aku juga nggak mau tidur di lantai karena udara di sini dingin!" Jelas Jeevan menolak mentah-mentah akan permintaan Valerie.
Memang Valerie belum sempat meminta Jeevan untuk tidur di sofa atau di lantai, tapi ia sudah menjelaskan kepada Valerie untuk menolaknya secara mentah-mentah. Mendengar penolakan Jeevan membuat Valerie sedikit kebingungan, dan mau tidak mau mereka berdua harus tidur di tempat tidur yang sama.
Terlihat jelas di wajah Valerie yang sedikit kesal dan ketakutan saat Jeevan menolak permintaannya. Tapi memang benar kondisi di sini tidak memungkinkan, jika Jeevan meminta satu kasur lantai mereka semua akan curiga.
"Kenapa, kamu takut kalau aku macem-macem?" tanya Jeevan to the point ke inti masalah.
Mendengar pertanyaan Jeevan membuat Valerie sedikit kaget karena kenapa bisa Jeevan menebak apa yang sedang dipikirkan olehnya.
"Cuma jaga-jaga aja, apa salah?" Valerie terlihat sedikit gugup dan ketakutan menatap Jeevan yang sedari tadi sudah berdiri di hadapannya.
Senyum ringan begitu manis terlukis di bibir Jeevan, setiap kali Valerie berbicara seolah sedang menggoda dirinya seperti Jeevan ingin sekali menerkamnya. Berbeda dengan Valerie yang selalu waspada jika Jeevan berada di dekatnya, karena takut kejadian kemarin terulang lagi.
"Tenang, aku nggak akan maksa kamu kok, lagian juga aku bisa menahan diri. Tapi kalau kamu mulai menggoda, aku nggak bisa jamin," kata Jeevan sambil tersenyum mulai menggoda Valerie agar perempuan itu terlihat kesal kepadanya.
Melihat sikap Jeevan yang seperti sedang menggodanya membuat Vale sedikit kesal, dengan cepat ia mendorong Jeevan tapi saat Jeevan hendak jatuh dan kehilangan keseimbangannya, tangan kanan Jeevan yang sedari tadi berada di dalam saku celananya menarik tangan Valerie seperti hendak meminta bantuan agar tidak jatuh.
Namun sayang tubuh Vale tidak dalam keadaan seimbang, tenaga Jeevan lebih kuat darinya sehingga Valerie ikut terjatuh. Sial, keduanya jatuh ke lantai dan tubuh Jeevan jatuh lebih dulu menghantam lantai disusul Valerie yang menimpa tubuh Jeevan di atasnya.
Aawww...Jeevan teriak kesakitan ketika tubuhnya membentur ke lantai apalagi Valerie ada di atas tubuhnya. Mereka berdua jatuh saling berpelukan begitu dekatnya, jarak wajah keduanya hanya 1 cm dan Valerie bisa merasakan hembusan napas Jeevan yang hangat serta detak jantungnya yang begitu kencang.
Keduanya terdiam sesaat saling menatap satu sama lain tidak berkedip, Jeevan bisa merasakan wangi shampo dari rambut Valerie yang sedikit menutupinya. Dan Valerie bisa merasakan harumnya parfum Jeevan yang membius pusat syaraf.
Kedua bola mata Jeevan mulai nakal menjelajahi setiap sudut wajah Valerie, seperti biasa pemandangan favoritnya adalah bibir tipis Valerie berwarna merah muda. Setiap kali melihatnya, Jeevan selalu teringat kejadian kemarin. Dan ketika di dekatnya seperti tidak ingin melepaskannya. Begitu juga dengan Valerie yang membeku saat Jeevan memeluknya dengan erat, tangannya melingkar di pinggang Valerie begitu erat membuat Valerie sedikit sesak.
"Kenapa kamu terlihat gugup dan jantungmu berdetak begitu cepat, apa kamu merasakan sesuatu?" tanya Jeevan menyadarkan lamunan Valerie seraya sedikit menggodanya.
"Nggak siapa bilang!" Tampik Valerie dengan sedikit gugup.
Mendengar ucapan Jeevan membuat Vale gugup dan malu, pipinya tiba-tiba saja memerah merona saat Jeevan berhasil menggodanya. Secepat kilat Valerie bangun membuat Jeevan sedikit kesakitan karena Vale menekan tubuhnya begitu kencang.
Detak jantung Valerie mulai berdekat tidak karuan dan pipinya masih merah merona diserang rasa gugup di hatinya, tapi ia mencoba untuk terlihat tenang di hadapan Jeevan. Wajahnya mulai masam dan tatapannya sinis menatap Jeevan yang mulai bangkit merasa sedikit kesakitan.
"Kenapa pipinya jadi merah?" Jeevan mulai menggoda Valerie yang berusaha menghindari kontak mata dengannya.
"Nggak merah kok! Ini efek kebanyakan pakai blush on!" Tampik Valerie menjelaskan dengan nada tegas namun Jeevan hanya tertawa ringan.
Valerie sedikit kesal karena Jeevan selalu saja menggodanya, entah kenapa dia bersikap seperti itu membuatnya sangat kesal saja.
"Masa sih? Apa jangan-jangan kamu udah mulai jatuh cinta sama aku?" tanya Jeevan menebak membuat kedua bola mata Valerie membuat sempurna menatapnya.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪