Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.
Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode-23
Sementara itu, di rumah baru Nara...
Nara terbangun karena mimpi buruk. Ia melihat Raka mengejarnya, melihat wajah Arkan yang penuh darah.
"Arkan...!" Nara terbangun dengan napas memburu, keringat dingin membasahi dahinya.
Ia menoleh ke samping, tempat tidur itu kosong. Arkan belum kembali.
"Kemana dia pergi malam-malam begini..." batin Nara cemas. ia tidak tahu kemana perginya pria itu,karena setelah meninggalkan dirinya disini Arkan langsung pergi begitu saja.
"Dimanapun kamu berada, semoga kamu baik baik aja!"
ke esokan harinya..
Matahari sudah tinggi menyinari ruangan, namun Nara masih terlihat gelisah. Ia sudah mandi dan berganti pakaian rapi, tapi matanya terus melirik jam dinding dan pintu utama.
Sudah jam 9 pagi... kenapa belum datang juga?
Hingga akhirnya...
Ceklek.
Suara pintu rumahnya terbuka. Nara langsung berlari kecil menyambutnya saat melihat siapa yang datang.
"Arkan!!"
Pria itu masuk dengan langkah yang terlihat sedikit lelah, namun posturnya tetap tegap dan gagah. Ia mengenakan kemeja putih yang terlihat baru dan rapi, rambutnya disisir rapi, seolah-olah semalam tidak terjadi apa-apa. Tidak ada bau darah, tidak ada luka, hanya ada aroma parfum mahal yang menyegarkan.
Namun... Nara bisa melihatnya jelas. Di balik tatapan manis itu, ada mata yang terlihat sangat gelap dan lelah, seolah baru saja kembali dari tempat yang sangat jauh dan mencekam.
"Sayang..." Arkan tersenyum tipis, suaranya terdengar sedikit serak.
Nara tidak peduli lagi dengan rasa malu atau sopan santun. Ia langsung menerjang masuk ke dalam pelukan hangat pria itu, memeluk pinggangnya seerat mungkin, menyandarkan wajahnya di dada bidang itu.
"Kamu dari mana aja semalam?! Aku khawatir setengah mati! Aku mimpi buruk terus!" omel Nara pelan, suaranya bergetar menahan tangis lega.
Arkan membalas pelukan itu dengan lembut, tangannya mengusap punggung dan rambut Nara perlahan, berusaha menenangkan wanita yang sangat ia cintai itu.
"Shhh... maafin aku sayang. Ada urusan mendesak yang harus aku selesaikan sampai tuntas," bisik Arkan di telinga Nara, nadanya terdengar sangat tenang dan meyakinkan.
"Dan sekarang... urusannya sudah selesai. Benar-benar selesai."
Nara mendongak menatap wajah Arkan. "Selesai? Maksud kamu..."
"Iya," potong Arkan lembut, jari telunjuknya menyentuh bibir Nara pelan. "Kamu gak perlu takut lagi. Raka... dia gak akan pernah bisa ganggu kamu lagi. Dia sudah hilang. Dan dia gak akan balik lagi."
Mata Nara membelalak. Ia tahu apa arti kata 'hilang' itu bagi Arkan. Hati kecilnya merasa ngeri, tapi di sisi lain ia merasa sangat lega dan aman.
"Terima kasih..." bisik Nara lirih. "Terima kasih sudah melindungi aku."
"Untuk kamu, aku akan lakukan apa saja. Bahkan kalau harus jadi orang jahat sekalipun," ucap Arkan tulus, lalu menarik wajah Nara mendekat dan memberikan ciuman hangat dan panjang di bibir wanita itu.
Ciuman yang menandakan bahwa bahaya sudah berlalu, dan mulai hari ini... mereka benar-benar bisa hidup tenang.
_______
Ternyata... kedamaian itu masih belum sepenuhnya datang.
Beberapa hari setelah kejadian itu, kabar hilangnya Raka mulai menyebar. Polisi melakukan pencarian, namun tanpa petunjuk sedikitpun. Seolah-olah pria itu ditelan bumi.
Dan tentu saja... Sarah tahu.
Sarah yang diam-diam masih memantau situasi, langsung menyadari ada yang tidak beres. Ia tahu persis hubungan buruk antara Raka dan Nara, dan ia juga tahu betapa berbahayanya Arkan kalau sudah tersulut emosi.
Di sebuah kafe mewah, Sarah duduk sendirian dengan wajah yang tidak lagi manis atau ramah. Matanya memancarkan amarah dan kegilaan yang sudah tak terbendung lagi.
"Jadi... Arkan benar-benar sudah menghabisi Raka ya?" gumamnya pelan, tangannya mengepal kuat di atas meja. "Bagus... bagus sekali! Jadi sekarang dia merasa paling berkuasa?! Merasa bisa melakukan apa saja sesuka hati?!"
Sarah tersenyum miring, senyum yang sangat menyeramkan.
"Kau pikir dengan menghilangkan Raka, masalah akan selesai? Kau pikir Nara akan aman begitu saja? Kamu Salah besar..."
Bagi Sarah, hilangnya Raka justru menjadi bukti nyata bahwa Arkan sudah mencintai Nara sampai titik buta. Dan itu justru membuat Sarah semakin sakit hati dan tidak terima.
"Kalau kamu mau jadi monster demi melindungi wanita tua itu... maka aku juga akan jadi iblis yang akan menghancurkan kalian berdua!" ancamnya penuh dendam.
Sarah mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi seseorang.
"Halo... aku butuh bantuanmu. Aku mau sesuatu yang besar... sesuatu yang akan membuat nama keluarga Delvin hancur lebur, dan membuat Nara menderita seumur hidupnya. Bayarannya berapapun aku sanggup!"
Sementara itu, di kediaman baru Nara...
Suasana terasa sangat hangat dan romantis. Arkan dan Nara, Mereka berdua sedang menikmati sarapan pagi bersama di teras belakang yang asri.
Arkan terlihat sangat santai, ia bahkan sedang sibuk mengoleskan selai ke atas roti bakar untuk Nara dengan wajah sangat lembut. Sisi gelap dan kejamnya semalam seakan tidak pernah ada. Yang ada hanyalah pria muda yang sangat mencintai pasangannya.
"Makan yang banyak ya sayang... biar badannya gemukan dikit, biar enak peluknya," ucap Arkan manja sambil menyodorkan roti itu ke mulut Nara.
Nara tertawa kecil sambil menggigit rotinya. "Iya iya... kamu juga tuh. Kayaknya semalam kurang tidur ya? Mata kamu ada lingkaran hitam gitu."
Nara mengusap pelan kantung mata Arkan dengan penuh kasih sayang.
"Gapapa kok... asalkan kamu aman, aku rela kurang tidur seratus malam sekalipun," jawab Arkan tulus, lalu mengecup tangan wanita itu.
Nara terkekeh mendengar bosnya yang biasa suka marah marah itu bisa juga berkata kata manis.
Mereka berdua benar-benar merasa dunia ini milik berdua. Tidak ada lagi Raka, tidak ada lagi ancaman. Mereka pikir semua musuh sudah kalah.
Namun... jauh di sudut pagar rumah yang tertutup tanaman rambat, sepasang mata yang penuh kebencian sedang mengintai mereka berdua dengan tatapan membunuh.
Sarah ada di sana. Dan ia tidak sendirian.
BERSAMBUNG...