NovelToon NovelToon
MATA SAKTI

MATA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"

#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: DARAH DI ATAS CATUR

Lantai kamar panti asuhan yang dingin terasa seperti es yang menusuk kulit Arka, tapi panas di dalam rongga matanya jauh lebih menyiksa. Rasanya seperti ada orang yang menyuntikkan besi cair langsung ke saraf otaknya. Arka meringkuk, mencengkeram sprei kasur tipisnya sampai robek.

‘Sinkronisasi dipaksa berhenti. Tubuh inang mengalami kegagalan sistematis level 2. Memulai proses pendinginan paksa.’

Suara itu—suara mekanis yang terdengar dingin di kepalanya—perlahan menjauh. Napas Arka tersengal-sengal. Bau karat darah memenuhi hidungnya. Dia menyeret tubuhnya ke arah cermin kecil yang retak di pojok ruangan.

Di sana, dia melihat pantulan dirinya. Wajahnya pucat pasi, tapi yang paling mengerikan adalah matanya. Pupil hitamnya dikelilingi garis-garis merah halus yang berpendar redup sebelum akhirnya menghilang.

"Jadi ini harganya?" bisik Arka pada bayangannya sendiri. Dia menyeka darah dari pipinya dengan kasar. "Memperbudak satu orang saja sudah bikin aku hampir mati. Bagaimana kalau aku harus menghadapi satu klan?"

Dia teringat tatapan Abraham tadi pagi. Kosong. Patuh. Sempurna. Tapi Arka tahu, kekosongan itu adalah lubang hitam yang akan terus memakan energinya jika dia tidak segera memperkuat fondasi fisiknya. Kekuatan matanya sudah di level dewa, tapi badannya masih badan anak panti yang kurang gizi.

Sembilan Jam Kemudian – Restoran Privat, Puncak Hotel Grand Jakarta.

Suasana di restoran ini sangat sunyi. Hanya ada suara denting garpu dan pisau perak yang beradu dengan piring porselen mahal. Hendra Wijaya duduk tegak, sementara di sampingnya, Clarissa terlihat tidak tenang. Dia terus-menerus melirik ke arah pintu masuk lift privat.

"Tenang, Clarissa. Dia akan datang," ucap Hendra tanpa mengalihkan pandangan dari steak di piringnya.

"Gimana aku bisa tenang, Pa? Semua orang di luar sana lagi cari dia. Jaksa, polisi, bahkan media internasional mulai bahas keajaiban medis yang dia lakuin di Sanjaya. Dia jadi orang paling dicari sekaligus paling ditakuti dalam dua belas jam terakhir."

Pintu lift terbuka dengan denting yang halus.

Bukan Arka dengan baju gembelnya yang keluar. Arka melangkah masuk mengenakan setelan jas hitam slim-fit yang tampak sangat mahal—hasil kerja cepat asisten pribadi yang dikirim Abraham atas perintah mentalnya. Rambutnya yang biasanya berantakan kini tersisir rapi ke belakang.

Aura yang dia bawa saat masuk ke ruangan itu membuat pelayan di dekat pintu hampir menjatuhkan nampan. Itu bukan aura orang kaya baru. Itu aura seorang predator yang sudah bosan berburu.

"Maaf telat. Ada sedikit 'gangguan kesehatan' tadi sore," ucap Arka sambil menarik kursi di depan Hendra.

Clarissa terpaku. Dia melihat Arka seperti melihat orang asing. "Arka... kamu... kamu terlihat berbeda."

Arka tersenyum, tapi senyum itu nggak sampai ke matanya. "Dunia menuntutku untuk tampil sesuai porsinya, kan? Clarissa, mulai besok, namamu akan resmi jadi pemegang saham pengendali di tujuh anak perusahaan Sanjaya. Selamat, kamu baru saja jadi wanita paling berpengaruh di kota ini."

Hendra Wijaya meletakkan pisaunya. Dia menatap Arka dengan pandangan menyelidik. "Dan apa bayarannya, Arka? Di dunia bisnis, nggak ada makan siang gratis. Apalagi makan siang seharga triliunan rupiah."

Arka menuangkan wine ke gelasnya, memutar-mutarnya pelan. Cairan merah itu mengingatkannya pada darah yang keluar dari matanya tadi sore.

"Sederhana, Pak Hendra. Saya butuh perlindungan hukum total dan akses ke database intelijen Wijaya Group. Saya tahu kalian punya daftar 'orang-orang aneh' di negeri ini. Orang yang bisa menghilang, orang yang bisa menghancurkan tembok dengan tangan kosong... saya butuh nama-nama mereka."

Hendra terdiam. Matanya menyipit. "Jadi kamu sudah tahu kalau kamu nggak sendirian di dunia ini?"

"Seekor serigala pasti tahu kalau ada serigala lain di hutan yang sama," jawab Arka dingin.

Tepat saat itu, alarm sensor di ponsel Hendra berbunyi. Di layar tablet yang tergeletak di meja, terlihat kamera CCTV di lobi hotel.

Seorang pria tua dengan pakaian tradisional abu-abu sedang berjalan santai melewati pintu detektor logam. Anehnya, para penjaga keamanan yang bertubuh kekar di sana hanya diam membatu saat pria itu lewat. Mereka tidak pingsan, mereka hanya... berhenti bergerak. Seolah-olah waktu di sekitar pria itu membeku.

"Dia di sini," bisik Arka. Matanya tiba-tiba berdenyut.

‘Deteksi Energi Terasing. Level Ancaman: Tinggi. Inisiasi Mode Analisis.’

Pandangan Arka berubah. Restoran mewah itu berubah menjadi garis-garis energi biru dan hijau. Dan di pintu masuk, dia melihat sebuah gumpalan energi berwarna emas yang sangat pekat sedang bergerak mendekat.

Pintu restoran terbuka tanpa ada yang menyentuhnya.

Pria tua berambut putih yang muncul di akhir bab sebelumnya masuk dengan langkah ringan. Dia memegang sebuah tongkat kayu sederhana, tapi setiap kali tongkat itu menyentuh lantai, getarannya terasa sampai ke tulang belakang Clarissa.

"Anak muda," suara pria itu terdengar jernih, seperti genta di tengah gunung sunyi. "Kamu punya mainan yang sangat berbahaya di rongga matamu itu."

Arka berdiri. Kursinya berderit di lantai marmer. "Siapa kamu?"

"Orang-orang memanggilku Si Buta dari Utara, meski aku bisa melihat lebih banyak dari kebanyakan orang," pria itu tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi yang masih utuh. "Aku datang bukan untuk bertarung. Aku hanya ingin melihat siapa yang berani mengacaukan 'keseimbangan' di Jakarta."

Pria itu menatap Arka, dan untuk pertama kalinya sejak mendapatkan Mata Sakti, Arka merasa "ditelanjangi". Seolah-olah pria tua ini bisa melihat sampai ke dasar jiwanya.

"Abraham Sanjaya itu cuma tikus kecil, Arka. Kamu menggunakan meriam dewa untuk membunuh seekor tikus. Itu pemborosan," lanjut si orang tua. "Tapi tindakanmu itu sudah membangunkan macan-macan yang sedang tidur di luar sana. Klan Macan Putih sudah mengirim eksekutornya. Mereka nggak suka ada orang 'liar' yang punya kekuatan tanpa seizin mereka."

"Aku nggak butuh izin dari siapa pun untuk menghancurkan sampah," balas Arka tajam. Aura putih mulai keluar dari matanya.

"Gagah juga," kekeh si pria tua. Dia melemparkan sebuah medali kecil terbuat dari perunggu ke meja Arka. "Simpan itu. Kalau dalam tiga hari kamu masih hidup setelah dikeroyok orang-orang Macan Putih, temui aku di kaki Gunung Salak. Ada banyak hal yang matamu itu belum mengerti tentang sejarah darah yang kamu bawa."

Dalam sekejap mata—tanpa asap, tanpa ledakan—pria tua itu lenyap.

Gelas wine di depan Arka tiba-tiba retak dan pecah menjadi debu halus.

Clarissa gemetar hebat, sementara Hendra Wijaya tampak pucat pasi. "Klan Macan Putih... Arka, kalau apa yang dia bilang benar, kita dalam masalah besar. Mereka bukan pengusaha. Mereka adalah... penguasa bayangan."

Arka mengambil medali perunggu itu. Di permukaannya, ada ukiran mata tunggal yang sedang menangis darah. Sangat mirip dengan apa yang dia alami tadi sore.

Dia meremas medali itu sampai telapak tangannya berdarah. Rasa sakit itu justru membuatnya merasa hidup.

"Bagus," ucap Arka pelan, suaranya mengandung nada ancaman yang membuat bulu kuduk merinding. "Aku memang lagi cari target yang lebih keras dari sekadar orang tua gempal seperti Abraham. Biarkan mereka datang. Aku ingin tahu, berapa banyak kepala yang harus aku injak sebelum seluruh negara ini sujud di kakiku."

Di luar jendela, petir menyambar langit Jakarta yang mendung. Hujan mulai turun, persis seperti malam saat dia dihina dulu. Tapi kali ini, dia bukan orang yang berdiri di bawah hujan. Dia adalah badainya.

1
SANG
Berlanjut terus💪👍
SANG
Semangat👍
SANG
Lanjut terus
SANG
like👍
Tang xu
terlalu terbuka soal kekuatannya
the misterius author 🐐: buka dikit aja bg belum semua
total 1 replies
the misterius author 🐐
asik juga nih
SANG
Like, suka
SANG
menarik
SANG
Mampir Thor
the misterius author 🐐: ok bg
total 7 replies
Sules Tiyanto
👍👍,, lanjut Thor,,
the misterius author 🐐: nanti lanjut kan bg
total 1 replies
Gege
dahlah otor menyembah AI buat generate kata..
the misterius author 🐐: bg bukan nyembah itu di gantung cerita nya soal nanti Abraham bakal mati sabr aja
total 1 replies
Gege
yaaah ga dapat duit jadinya si MC.. gass teroos bang 10k kata sekali update...jangan nanggung keluarkan semua...🤭
the misterius author 🐐: fokus perbaiki plot nya sistem si mulut pedas dulu bg
total 1 replies
Manusia Biasa
jadi MC🤣
Manusia Biasa
yakin?? kwk
Manusia Biasa
lanjutt 😂 ditunggu next Thor semangat
the misterius author 🐐: sudah tu thor
total 1 replies
Manusia Biasa
ngakak gw sekilas mikir santet😂
the misterius author 🐐: jangan bg itu paru paru ada gumpalan darah hitam bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
Menarik, novelnya berpotensi masuk jajaran Rekomendasi NT dan halaman beranda

semangat kak👍
the misterius author 🐐: ARKA cocok jadi Sigma 🤣 kak
total 6 replies
Manusia Biasa
potensi menjadi sigma ini mc🗿
the misterius author 🐐: tenang bg nanti bab tertentu ada saingan Clarissa bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
seperti biasa🗿
Manusia Biasa
iyalah boss, untuk rakyat jelata kaya kita kita bisa buat generasi beberapa keluarga itu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!