Di mata tetangga apartemennya di Los Angeles, Faelynn Yosephine (26) hanyalah "perawan tua" pengangguran.
Namun, di balik pintu kamar, ia adalah penulis novel romantis papan atas yang memikat jutaan pembaca.
Dunia tenangnya terusik saat Kingsley Emerson (29 tahun), seorang agen elit CIA yang menyamar sebagai diplomat, mulai mengirim pesan misterius dengan nama akun Son_Roger.
Kingsley, yang baru saja kembali dari misi berdarah di luar negeri, terobsesi dengan detail taktik dalam tulisan Faelynn yang terlalu akurat.
Berawal dari debat teknis hingga gombalan tak terduga, Kingsley mulai memasuki hidup Faelynn, membawa bahaya nyata yang selama ini hanya Faelynn tulis di Novelnya.
.
.
Happy reading dear 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Langit di atas pangkalan udara militer tampak kelabu, tertutup oleh deru mesin pesawat kargo C-130 yang siap lepas landas. Di dalam barak yang bising dengan suara radio dan denting senjata, Kingsley Emerson duduk di sebuah sudut remang-remang. Di depannya bukan peta strategi atau laporan intelijen, melainkan dua lembar kertas putih dan sebuah pena hitam yang tinta hijaunya hampir habis.
Ini adalah protokol standar. Sebelum dikirim ke zona merah dengan tingkat keberhasilan yang rendah, setiap agen diminta menulis "surat wasiat terakhir". Biasanya, Kingsley menulisnya dengan dingin—hanya instruksi aset dan salam singkat untuk orang tuanya. Namun kali ini, jemarinya terasa berat.
Ia baru saja menyelesaikan surat untuk ayah, ibu, dan Nazela. Ia meyakinkan mereka bahwa ia sedang berada di pertemuan diplomatik penting dan mencintai mereka. Namun, masih ada satu lembar kertas kosong lagi. Lembar untuk Faelynn Yosephine.
Kingsley menatap kertas itu cukup lama. Ia tidak pernah bertemu gadis itu, namun rasanya seolah ia telah mengenal Faelynn seumur hidupnya. Ia mulai menulis, perlahan, membiarkan kejujuran seorang pria yang mungkin sedang menatap kematiannya mengalir begitu saja.
"Halo, Penulis mungil berkaki pendek (aku tahu kau akan cemberut membaca ini).
Jika surat ini sampai ke tanganmu, itu berarti aku gagal memenuhi janjiku untuk melihat apakah kepalaku benar-benar menabrak pintu apartemenmu. Itu berarti, kencan pertama kita resmi dibatalkan, dan aku minta maaf karena tidak bisa membayarmu dengan kopi terbaik di Los Angeles.
Ini aneh, bukan? Kita baru saling mengenal lewat layar ponsel. Tapi Faelynn, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun aku memegang senjata, tanganku gemetar. Bukan karena takut mati—aku sudah sering mencium aroma kematian—tapi karena aku berat untuk melangkah. Aku terus berpikir: 'Bagaimana jika aku tidak bisa mendengar suaramu lagi?'.
Apa ini yang namanya jatuh cinta, Faelynn? Jika iya, rasanya sangat menyebalkan. Ini lebih sakit daripada luka tembak di rusukku. Aku benci fakta bahwa aku harus meninggalkanmu di tengah drama tetangga dan kebohongan tentang 'kekasihmu' ini. Maafkan aku karena membuatmu harus benar-benar menjanda sebelum kita sempat menikah.
Di dalam amplop ini, aku menyertakan sebuah kalung. Itu adalah kalung pemberian ibuku saat aku pertama kali lulus dari 'Spy School'. Dia bilang, kalung ini akan menuntun pemiliknya pulang. Karena aku mungkin tidak punya jalan pulang lagi, aku ingin kau yang menyimpannya. Pakailah, agar setidaknya ada bagian dari diriku yang benar-benar bisa berada di dekatmu, di apartemen lantai empat itu.
Jangan menangis terlalu lama. Kau harus tetap menulis. Jika kau rindu, tuliskan aku sebagai karakter utama di novelmu. Jadikan aku pria yang selalu menang, pria yang tidak perlu mati di akhir bab. Dan tolong, sampaikan pada ibumu, bahwa 'King' sangat mencintainya meskipun dia belum pernah mencicipi masakan beliau.
Selamat tinggal, Sayang. Maaf aku hanya bisa menjadi 'Ay' yang meninggalkanmu.
Selamanya milikmu, Kingsley Emerson."
...****************...
Seminggu Kemudian: Apartemen Lantai Empat
Angin sore berhembus kencang, membawa aroma hujan yang belum jatuh. Faelynn baru saja pulang dari toko swalayan bersama ibunya. Matanya lelah karena seminggu ini ia hampir tidak tidur, terus menatap ponsel yang tak kunjung aktif. Tidak ada pesan, tidak ada telpon, tidak ada "Ay" yang mengganggunya.
"Fae, ada surat untukmu di kotak pos," ujar Melinda, menyerahkan sebuah amplop tebal berwarna biru tua dengan stempel resmi yang tampak asing.
Faelynn menerima amplop itu dengan jantung yang tiba-tiba berdetak tidak beraturan. Ia melihat nama pengirimnya. Tidak ada nama Kingsley, hanya nomor unit militer, namun alamat tujuannya tertulis dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali dari foto kartu identitas yang pernah dikirim pria itu.
Faelynn masuk ke kamar, mengunci pintu, dan duduk di lantai. Tangannya bergetar hebat saat merobek segel amplop tersebut. Sebuah benda logam jatuh dari dalamnya—sebuah kalung perak dengan liontin kecil berbentuk kompas yang indah.
Dan kemudian, ia mulai membaca.
Kata demi kata, kalimat demi kalimat. Faelynn membaca bagaimana pria itu mengejek tingginya, bagaimana pria itu mengakui rasa takutnya untuk pertama kali, dan bagaimana pria itu mempertanyakan tentang "jatuh cinta".
Air mata pertama jatuh tepat di atas kata "Penulis mungil". Kemudian, tangisan itu pecah. Faelynn mendekap kertas itu ke dadanya, terisak hingga bahunya berguncang hebat.
"Kau bodoh, Kingsley... kau pria paling konyol yang pernah kukenal," bisiknya di sela tangis.
Dunia yang selama ini ia anggap fiksi—dunia agen rahasia, paspor palsu, dan misi berbahaya—tiba-tiba menghantamnya dengan realitas yang sangat menyakitkan. Kingsley benar-benar ada. Dia bukan hanya karakter yang ia ciptakan di kepalanya. Dia adalah pria yang rela membocorkan identitasnya, pria yang mencemaskan biaya sekolah keponakannya, dan pria yang kini mungkin telah tiada di suatu tempat yang tak terjangkau.
Faelynn meraih kalung itu, menggenggamnya kuat-kuat hingga telapak tangannya terasa perih. Ia teringat kebohongannya pada Anna dan ibunya. Kini, kebohongan itu terasa seperti kutukan. Ia telah mengatakan pada dunia bahwa dia memiliki kekasih bernama King, dan sekarang, King benar-benar pergi meninggalkannya sebelum mereka sempat bertemu.
Malam itu, Faelynn tidak menulis satu kata pun. Ia hanya duduk di balkon, memakai kalung kompas itu, menatap langit malam Los Angeles yang sama dengan yang Kingsley lukiskan dalam pesannya.
"Kembalilah, Ay... Aku belum sempat memanggilmu sayang secara langsung," rintihnya pada kegelapan.
Di bawah cahaya rembulan, Faelynn menyadari satu hal pahit: Ia tidak lagi butuh laki-laki sempurna di dalam novelnya. Ia hanya butuh Kingsley Emerson, dengan segala luka dan identitas palsunya, untuk kembali mengetuk pintu apartemennya.