NovelToon NovelToon
Tumbal Di Akar Randu

Tumbal Di Akar Randu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Suara deru mesin mobil tua Pak Kromo perlahan menghilang, digantikan oleh simfoni jengkerik dan gesekan daun bambu yang tertiup angin malam. Yogyakarta menyambut mereka dengan aroma tanah basah dan ketenangan yang tidak pernah mereka temukan di Jakarta. Sebuah rumah kecil berdinding kayu jati tua di pinggiran desa menjadi pilihan mereka jauh dari kebisingan kota, namun cukup dekat untuk memulai hidup baru.

Bagi Arka, rumah ini terasa "ramai". Sejak penglihatan hijaunya pecah dan berganti menjadi penglihatan 'aneh', dunia tidak pernah benar-benar sunyi. Di sudut teras, ia melihat sesosok bayangan putih yang duduk tenang, seolah sedang menjaga gerbang. Di bawah pohon beringin tua di depan rumah, ada sosok-sosok kecil yang berlarian. Arka tidak lagi melihat aliran energi tumbuhan, tapi ia melihat penghuninya.

"Mereka tidak mengganggu Nir." bisik Arka sambil menurunkan barang dari bagasi. "Hanya penasaran siapa yang datang."

Nirmala turun dari mobil dengan langkah yang masih sedikit ragu. Baginya, tantangannya berbeda. Sejak kutukan Sandiwayang luruh, batinnya menjadi sangat peka. Saat kakinya menginjak tanah desa, ia seolah mendengar gema memori dari tanah itu sendiri, tawa anak-anak dari masa lalu, hingga tangis seorang ibu yang pernah tinggal di sana.

"Terlalu banyak suara Arka" gumam Nirmala sambil memijat pelipisnya.

Minggu-minggu pertama adalah masa pembelajaran yang berat. Nirmala sering terbangun di tengah malam karena ia "mendengar" mimpi buruk orang-orang di sekitar desa. Kemampuannya membaca hati sering muncul tanpa kendali. Saat ia pergi ke pasar bersama Ibu Lastri, Nirmala harus menahan napas karena ia bisa merasakan kesedihan mendalam dari seorang penjual sayur yang anaknya sedang sakit, atau kemarahan terpendam dari seorang pembeli yang sedang berselisih.

Arka menyadari hal itu. Suatu sore, saat mereka duduk di ambang pintu, Arka menggenggam tangan Nirmala.

"Fokus pada sentuhanku Nir" ucap Arka lembut. "Gunakan aku sebagai jangkar. Jangan biarkan pikiranmu meluas ke mana-mana."

Nirmala memejamkan mata. Benar saja, saat kulit mereka bersentuhan, kebisingan di kepala Nirmala perlahan meredup. Kehadiran Arka yang stabil dan penuh cinta bertindak sebagai pelindung.

"Terima kasih" bisik Nirmala. "Dulu aku takut karena aku merasa monster. Sekarang aku takut karena aku merasa... terlalu terbuka."

"Kita akan belajar bersama" sahut Arka. Ia menunjuk ke arah sumur tua di belakang rumah. "Tadi aku melihat sesosok wanita tua di sana. Dia penunggu rumah ini. Dia sepertinya sakit, atau setidaknya energinya redup. Maukah kau mencoba sesuatu?"

Nirmala ragu, namun rasa ingin tahunya lebih besar. Mereka berjalan menuju sumur tua itu. Di mata Arka, sosok wanita tua itu terlihat membungkuk, wajahnya pucat dengan aura keabu-abuan yang menyelimuti punggungnya. Bagi manusia biasa, tempat itu hanya terasa sedikit lebih dingin.

"Letakkan tanganmu di udara, di sini" Arka membimbing tangan Nirmala ke arah di mana sosok itu berada.

Nirmala memejamkan mata. Ia tidak melihat sosok itu secara visual seperti Arka, tapi ia merasakan adanya gumpalan dingin yang menyakitkan di depannya. Lewat kepekaan batinnya, ia mendengar suara parau yang meminta tolong, bukan lewat kata-kata, tapi lewat rasa sesak.

Nirmala menarik napas panjang. Ia mengumpulkan niat baik dari lubuk hatinya yang paling dalam, menyalurkan kehangatan yang ia rasakan sejak "kelahirannya kembali" di pantai. Sebuah cahaya putih lembut, setipis uap air, mengalir dari ujung jari Nirmala.

Seketika, hawa dingin di sekitar sumur menghilang. Di mata Arka, aura keabu-abuan pada sosok itu luruh, berganti menjadi pendaran putih yang jernih. Sosok wanita tua itu berdiri tegak, menatap mereka dengan senyum yang sangat damai sebelum akhirnya menghilang ke dalam udara.

"Dia sudah tenang." gumam Arka takjub. "Kau baru saja menyembuhkan sesuatu yang bukan lagi raga."

Nirmala menarik tangannya, napasnya sedikit terengah namun hatinya terasa sangat lapang. "Rasanya seperti... aku baru saja mencuci kotoran dari selembar kain putih. Hangat sekali, Arka."

Kabar tentang "orang pintar" baru di desa itu mulai tersebar secara halus, berkat cerita Ibu Lastri kepada teman-temannya. Suatu malam, saat hujan rintik membasahi Yogyakarta, seorang pria paruh baya mengetuk pintu rumah mereka. Wajahnya kuyu, matanya merah karena kurang tidur.

"Saya dengar... di sini bisa menolong orang yang sakitnya tidak wajar?" tanya pria itu dengan suara gemetar.

Arka mempersilakannya masuk. Saat pria itu duduk di kursi kayu ruang tamu, Arka segera melihat sesosok makhluk kecil berkulit hitam legam dengan mata merah yang sedang bertengger di bahu pria itu, sebuah kiriman jahat yang sengaja diletakkan untuk menghisap rezeki dan kesehatan.

Sementara itu, Nirmala yang duduk di hadapan pria tersebut, langsung tersentak. Begitu matanya bertemu dengan mata pria itu, ia mendengar suara batin yang penuh ketakutan, Tolong aku... aku tidak kuat lagi... kenapa kakakku tega mengirim ini padaku Nirmala menatap Arka, memberikan kode lewat tatapan mata. Arka mengangguk, ia melihat titik di mana makhluk itu mencengkeram leher si pria.

"Pak, boleh saya letakkan tangan saya di bahu Bapak?" tanya Nirmala lembut.

Pria itu mengangguk pasrah. Begitu tangan Nirmala menyentuh bahunya, ruangan itu seolah-olah dipenuhi oleh energi yang bergetar. Arka melihat makhluk hitam itu menjerit tanpa suara saat cahaya putih dari tangan Nirmala membakar tangannya. Dengan satu sentakan niat, Nirmala mengalirkan energi penyembuhnya.

Wuuusshhh!

Makhluk itu terpental dan lenyap menjadi asap hitam yang tipis. Pria itu tiba-tiba menarik napas dalam, seolah beban seberat satu ton baru saja diangkat dari dadanya. Wajahnya yang tadinya kuyu perlahan kembali berseri.

"Gusti... ringan sekali" isak pria itu. Ia langsung bersujud syukur di depan mereka.

Setelah pria itu pulang dengan perasaan lega, Arka dan Nirmala duduk di teras sambil menyesap teh hangat. Malam semakin larut, namun batin mereka justru semakin terang.

"Kita tidak bisa benar-benar hidup normal, ya?" tanya Nirmala sambil menatap bintang di langit yang cerah.

Arka merangkul bahu Nirmala. "Normal bagi orang lain mungkin adalah ketidaktahuan. Tapi bagi kita, normal adalah membantu mereka yang terjepit di antara dua dunia ini. Kau adalah penawarnya, Nir. Dan aku adalah matamu."

Nirmala tersenyum manis, sebuah senyum yang kini penuh dengan tujuan hidup yang baru. Ia menyadari bahwa kekuatannya kini bukan lagi kutukan dari Biji Purba atau Pohon Randu, melainkan amanah untuk menjadi penyembuh.

"Besok kita pasang papan nama kecil di depan?" tanya Arka bercanda.

"Jangan dulu" tawa Nirmala pecah. "Biar orang tahu dari mulut ke mulut saja. Aku masih ingin bisa belanja ke pasar tanpa semua orang minta dibacakan hatinya."

Namun, di tengah tawa mereka, Arka tiba-tiba terdiam. Matanya menatap ke arah gerbang kayu di depan rumah. Di sana, ia melihat sesosok bayangan berpakaian kuno sedang berdiri mematung, memegang sebuah bungkusan kain kafan yang masih basah dengan tanah kuburan. Sosok itu tidak mendekat, hanya berdiri menunggu.

"Ada tamu lagi?" tanya Nirmala, yang mulai merasakan aura dingin yang sangat pekat di depan rumah.

"Sepertinya begitu" jawab Arka, wajahnya kembali serius. "Dan yang ini... sepertinya bukan sekadar gangguan tetangga. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih tua."

Nirmala yang berdiri di samping Arka, bersiap menghadapi apa pun yang dibawa oleh bayangan itu. Perjalanan mereka sebagai penyembuh baru saja dimulai, dan tantangan yang sebenarnya sedang menunggu di balik gelapnya malam Yogyakarta.

1
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Aku gak bisa kalo kek gini😭😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: alur akhirnya blm. diputuskan jujur🤣
total 5 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Tuhhhh kan, ayo nir, siapkan jaket... kita ke dokter bareng
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: bahayaaa😭😭😭 kedokter bersama dan periksa bersamaaaa🤣🤣
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Antara aku atau nirmala nih yangg duluan ke psikolog. kejadian itu halusinasi atau nyata ya
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: aku juga heran menurutmu itu beneran atau hanya halusinasi 🙄
total 3 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Astaghfirullah, aku kalau gini kayaknya dah pingsan, trauma sama bayi sendiri😭😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: bayinya lbh seram dari hantu😭😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
ngebayangin nanti Ku yang ingin makan bayi itu, tapi tiba2 dia jadi kayu, terus gigi kurangnya copot semua😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: tunggu tunggu gimana konsep dari memakan bayi😑😑😑😑
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Hahhhh tak melesetttttt😭😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: kerbak ya😭🤣🤣🤣
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Jadi makin curiga dia hamil pohon Randu😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: 🤣🤣🤣🤣 bahaya gk sih😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
ASTAGAAAAAAA, Sumpahhh kaget banget kuyangnya, kak Mei Tegaaaaaa😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: kenapa ini🤣🤣🤣🤣 ishh ishhh🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Hanya kau Nir yang ngidamnya pengen cium aroma tanah basah dari gunung. Untung bukan tanah kuburan ya🤦‍♀️🤦‍♀️
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: 🤣🤣🤣🤣 serem dong
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
kira2 keluarnya nanti pohon nggak ya🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: pohon apa nih🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
/Facepalm//Facepalm/Ketika suami biasanya menghadapi hal mistis, seketika istri hamidun pun di kait2 dengan makhluk halus
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: mmg menyeramkan 😭🤣
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Bisa-bisanya ku baca "Selamat datang di TIKTOK Nirmala😭"
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: lah bijimane konsepnya 😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Gak kebayang kalo aku yg ada diposisi Nirmala, tidak gila saja rasanya sudah bersyukur🤧
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: dia adalah jalan pintasku ketika otakku merasa buntu 🤣
total 5 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Semoga ada jalan keluar tanpa harus ada yg menjadi korban dalam hal ini😭
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Ternyata oh ternyata/Facepalm/
total 5 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Ikut nyesek dan bingung🤧
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: jnagan bingung tenang tenang semua akan ketemu jalan keluarnya
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Aku kecewa, Arka tidak sepenuhnya percaya pada Nirmala😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: arka hanya tkt kl nirmala sakit
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Apa lagi sekarang😭 kalo Arsen ada dikamar, lantas siapa yg tadi Nirmala lihat diluar🤧
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Terus aku nanya siapa lg dong?
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Ayo cerita Nir, jangan terus²an kamu pendam masalah ini sendirian😭 jika Arka tulus mencintaimu, dia tidak akan menganggapmu gila ataupun halusinasi😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: heiii kl aku baik maka ceritanya tak akan menarik😑
total 5 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Ya Allah, Arsen😭😭 apa yg sebenarnya terjadi sama kamu, sayang
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: huhuhu seyam ya😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Pernah di rumah kejadian kek gini, sampe ku omeli tu lampu saking jengkelnya😒
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: wkakakaka🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!