NovelToon NovelToon
Takdir Sang Penanda Langit

Takdir Sang Penanda Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Nama adalah hal yang sakral di dunia Haochun, Nama adalah berkah Dewa, nama adalah kekuatan. Manusia tanpa nama bukanlah siapa-siapa, semua manusia yang tak bernama hanyalah orang-orang buangan dan kriminal.

Karena hak pada Berkah dan Nama mereka dicabut.

Mereka akan dipanggil dengan sebutan apapun yang orang inginkan. Meskipun mereka bisa membuat nama sendiri, tetap saja itu tak memiliki makna apapun.

Nama lahir adalah kehormatan mutlak di dunia ini. Dan inilah kisah tentang anak Klan Bangsawan kelas satu. Dia memiliki Inti Spritual yang sangat buruk. Saking buruknya, bahkan tidak seorang pun sebelum dia di dunia Kultivasi yang memiliki Inti spritual seperti itu.

Sehingga dia dianggap sebagai aib keluarga. Berkah namanya miliknya dicabut layaknya hukuman bagi

penjahat keji.

Dimulailah kisah anak buangan yang membawa nasib baik dan buruk bersamaan.

Berjuang tanpa kekuatan Berkah Nama seperti yang dimiliki orang lain. Huang Kai yang berganti nama menjadi Feng Yan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Feng Yan Bertindak

Saat pandangan mereka mulai jelas, dan dibawah sinar bulan purnama terlihat seseorang bercaping berdiri tegak dengan memegang balok kayu besar yang memiliki gagang di satu ujungnya dan runcing di ujung lainnya, persis seperti pedang hanya saja ukurannya sangat besar dan bentuknya yang bundar. Kemudian ia menancapkan balok itu di depan badan. Melihat tekanan di tanah kemungkinan balok itu sangat berat.

Melihat senjata balok yang cukup besar itu anak buah bandit mulai ciut nyalinya. Dikalangan bandit perampok senjata itu sepertinya sudah tidak asing lagi. Salah satu dari bandit itu dengan suara bergetar menunjuk ke arah orang bercaping. " iii tuu Feng Yan yang menghancurkan kelompok Serigala Darah sendirian satu tahun yang lalu."

"Hooo, ternyata aku cukup terkenal juga, dan tampaknya ada satu serigala lagi yang akan mati malam ini." kata Feng Yang dengan senyum dingin pada para bandit.

Mendengar itu bos bandit bergetar nyalinya. Bos bandit Serigala Darah dan kawanan-nya jauh lebih kuat dari pada kelompok mereka. Dari cara Feng Yan menghancurkan serangannya sebelumnya sudah jelas kalau kekuatan nya jauh diatas dirinya. Dengan akal licik dia berniat kabur dengan mengorbankan anak buahnya. "Kalian semua serang dia! Dengan kekuatanku kita pasti bisa mengalahkan pemuda ini." ucapnya dengan mengepalkan tangan.

Mendengar itu Feng Yan sudah bisa menebak tujuan bos bandit tersebut. Ia menghentakkan senjata nya ke tanah dengan keras sambil berkata, "yang tidak menyerah akan mati!."

Tanpa sadar anak buah bandit terduduk lemas dan menjatuhkan senjata

Di tangan karena sudah sangat ketakutan. Bukan tanpa alasan mereka merasa seperti itu, saat gerombolan Serigala Darah dihancurkan hanya satu orang saja yang dibiarkan hidup.

"Ampuni kami tuan pendekar, biarkan kami hidup" ucap mereka bersamaan.

"Tong Fu apa yang kau lakukan!?

Kita berdua pasti bisa mengalahkannya." bentak Gao Jihen pada salah satu anak buahnya yang paling kuat.

Orang yang di sebut Tong Fu justru tidak bergeming. Ia justru bersujud dan meminta diampuni. Tentu saja ia sangat ketakutan, satu-satunya orang yang selamat saat pembantaian Serigala Darah adalah saudaranya sendiri. Dia sudah mengetahui apa yang terjadi saat kelompok bandit itu dihancurkan dari saudaranya itu.

Melihat Tong Fu yang sudah tidak bisa diharapkan, Gao Jihen hanya memiliki dua pilihan. Melawan seorang diri atau kabur dari sana secepat

Mungkin.

"Kalian ikat mereka semua!" perintah Feng Yan pada pengawal karavan yang tersisa. "Serigala ompong satu ini aku yang akan mengurusnya." Perintah Feng Yan sambil menunjuk Gao Jihen dengan senjata balok kayu nya.

"Bocah, jangan kau kira aku Gao Jihen takut padamu. Hari ini aku akan membunuh dan mencabik-cabik tubuhmu." Ucap Gao Jihen sambil menyiapkan jurus Serigala yang di gunakan sebelumnya.

"Tampaknya hanya itu saja teknik terkuat yang kau miliki, apa tidak ada yang lain." Ucap Feng Yan dengan nada mengejek.

"Jangan banyak bicara kau, rasakan ini kurang ajar." sambil berteriak penuh kemarahan Gao Jihen melepaskan Serigala energi itu ke arah Feng Yan.

Feng Yan hanya memiringkan tubuhnya ke samping sambil menarik

Kaki kanannya ke belakang. Ia-pun menarik pedang baloknya ke belakang bersiap memukul serigala energi tersebut. Ia mengalirkan esensi alam ke dalam balok sehingga balok tersebut terlihat diselimuti energi berwarna kehijau-an.

Saat berada pada posisi yang sudah tepat Feng Yan langsung memukul serigala energi itu dengan kekuatan penuh. Walau bisa menahan sesaat namun serigala itu lenyap oleh hantaman senjata balok tersebut.

Lalu pecah menghasilkan deru angin yg cukup kencang, bahkan caping bambu yang digunakan Feng Yan sempat terlepas, beruntung dia dengan gesit menangkapnya sebelum di terbangkan angin.

Setelah debu dan rerumputan yang di terbangkan angin menghilang, Gao Jihen ternyata sudah kabur melarikan diri dari pertarungan.

"Ciih, setelah semua yang dia katakan pada akhirnya kabur juga" umpat Feng Yan kesal. Lalu ia memasukkan senjata balok itu ke dalam cincin penyimpanan dan mengeluarkan sebuah busur tanpa benang pelontar.

Gao Jihen sudah berlari cukup jauh, ia terlihat mendekati dinding tebing yang curam. Feng Yan hanya tersenyum dingin melihat perbuatan yang menurutnya sia-sia. Ia membidik bos bandit kekar itu dengan busurnya. Kemudian mengaliri busur itu dengan esensi alam, busur itu terlihat memendarkan cahaya kehijauan yang terus mengalir keluar dari kedua ujungnya hingga membentuk benang pelontar dari esensi alam.

Feng Yan menarik benang energi itu sambil terus mengalirkan esensi alam ke dalam busur, dan terbentuklah sebuah anak panah yang sangat besar berwarna hijau.

Anak panah itu memiliki fluktuasi

Energi besar yang bisa menerangi tempat tersebut dengan cahaya kehijauan. Di Ujung anak panah itu muncul sebuah bola energi sebesar dua kali kepalan tinju orang dewasa.

"Bandit tua pergilah temui teman bandit mu dari Serigala Darah di neraka" setelah mengucapkan kalimat itu Feng Yan melepaskan anak panah itu dari busurnya.

Wussssss....

Bulu kuduk Gao Jihen yang hendak memanjat tembok tebing itu mendadak berdiri. Ketika menoleh kebelakang ia melihat sebuah serangan sudah sangat dekat dan tidak bisa dihindari.

"Tiiidaaaak"

Duarrr

Setelah ledakan energi itu mengenai tubuh bos bandit suasana berubah sunyi. Tidak ada satu orangpun disana yang mampu berkata-kata. Tong Fu dan sisa anak buahnya hanya bisa menelan ludah

Melihat bagaimana bos mereka mati begitu saja.

Padahal ia sudah lari begitu jauhnya, tapi tetap saja tidak bisa selamat dari kematian. Sementara para pengawal karavan dagang hanya bisa melongo melihat tindakan orang yang telah menyelamatkan mereka.

Tong Fu sedikit bernafas lega melihat kematian bos-nya tersebut, ditangkap setidaknya lebih baik daripada mati konyol.

"Apalagi yang kalian tunggu, cepat ikat mereka" tunjuk Feng Yan pada para bandit perampok yang tersisa.

"Baik tuan" kata salah satu pengawal sambil tergagap karena keterkejutan mendengar perintah orang yang telah menyelamatkan mereka. Segera mereka mengikat para bandit yang tersisa.

Feng Yan berjalan ke arah Bai Guo yang tidak sadarkan diri, ia sudah dipindahkan oleh anak buahnya ke dekat

Salah satu gerobak kuda. Ia memberikan sebuah pil penyembuh luka dalam pada pengawal yang menjaga Bai Guo.

"Berikan pil ini padanya, ia akan sadar setelah kalian memasukkan pil itu ke mulutnya.

"Terima kasih tuan pendekar" ucap pengawal dan langsung memasukkan pil itu kedalam mulut Bai Guo.

Feng Yan memandang wajah orang bernama Bai Guo itu, ia perhatikan pria itu setidaknya berumur sekitar tiga puluh tahun. Tak butuh waktu lama pria itu terbatuk dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.

"Anak buahmu sudah memberimu pil, seraplah untuk mempercepat reaksi obatnya" kata Feng Yan pada Bai Guo.

Sedikit kesulitan pria itu berusaha untuk duduk bersila dan dengan sigap anak buahnya tadi segera membantu." Terima kasih tuan pendekar" ucap Bai Guo dengan terbatuk-batuk.

"Tidak usah bicara, sembuhkan saja luka dalammu lebih dahulu. Bandit-bandit itu tak perlu kau pikirkan saat ini". Ucap Feng Yan setelah melihat Kepala pengawal itu melihat keadaan sekelilingnya.

Saat ini orang-orang dalam kereta kuda sudah berada diluar setelah melihat situasi tenang. Mereka segera mendekati Feng Yan dan memberi hormat sambil mengucapkan terima kasih.

Ada seorang pemuda yang sedikit lebih tua dari Feng Yan di antara mereka, ia bahkan tidak mau repot bahkan hanya untuk menatap orang yang sudah menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi Feng Yan tidak ambil pusing akan perilaku pemuda tersebut. Ia segera berlalu ke arah api unggun yang sudah dinyalakan oleh para pengawal sebelumnya.

Feng Yan teringat akan kuda yang belum ditambatkan, ia-pun bersiul cukup keras. Tak lama kemudian seekor

Kuda hitam datang berlari pelan, "Tampaknya kau sudah makan puas Qiangfeng," ucap Feng Yan sambil mengusap kepala kuda hitam itu.

Kuda itu seolah mengerti mengangguk-anggukan kepala sambil sedikit meringkik. Feng Yan mengeluarkan tempat minum dari kulit sapi dan meminumkan-nya pada kuda tersebut. " Setelah ini kau bisa beristirahat. Kita lanjutkan perjalanan besok setelah matahari terbit."

Setelah menambatkan kudanya Feng Yan kembali ke api unggun dan membakar daging sapi asap yang sudah ia beli di pasar kota Batu Besi. Sementara semua orang sibuk mengurus mayat-mayat dan juga para tahanan.

Tidak lama setelahnya tiga orang datang bergabung duduk di dekat Feng Yan. Salah satunya adalah kepala pengawal, seorang lagi kepala rombongan dagang dan juga pelayannya yang sudah cukup tua.

"Tuan pendekar, sekali lagi saya ucapkan terima kasih telah menyelamatkan nyawaku," ucap kepala pengawal sambil memberi hormat.

Saudagar yang kemudian diketahui bernama Hui Linsheng juga menyampaikan ucapan terima kasihnya.

"Kebetulan saja aku lewat sekitar sini, tidak ada salahnya sedikit membantu," ucap Feng Yan sedikit tersenyum.

Saat ia melepaskan caping bambunya, ketiga orang di dekatnya terkejut. Ternyata orang yang baru saja menyelamatkan nyawa mereka masih sangat muda, terlihat masih dibawah dua puluh tahun. Hanya saja perawakannya cukup tinggi dan kekar, ia juga sangat tampan walau ada luka gores di pipi kirinya.

"Hahaha, ternyata tuan yang jadi penolong kami masih sangat muda. Jenius sepertimu pastilah berasal dari

Salah satu sekte utama atau setidaknya berasal dari klan kelas satu." ucap Bai Guo dengan tatapan penuh kekaguman.

"Kalau boleh tahu tuan muda ini berasal dari mana?" tanya kepala rombongan.

"Namaku Feng Yan, aku hanyalah seorang kultivator bebas jadi tidak perlu sungkan," balas Feng Yan dengan ramah.

Mendengar hal itu kening semua orang berkerut, seorang kultivator pengembara tidak akan sekuat itu.

Bahkan bisa menghabisi gerombolan bandit Serigala Darah seorang diri, juga pemimpin bandit serigala buas memiliki ranah Master puncak. Para kultivator pengembara sangat jarang bisa menembus level Grandmaster, tapi bagaimanapun setiap orang memiliki rahasianya masing-masing.

"Tuan muda sungguh rendah hati, sangat jarang ada anak muda yang seperti itu," ucap kakek pelayan merasa

Feng Yan merahasiakan sesuatu.

"Panggil Feng Yan saja, sebutan tuan muda sepertinya tidak cocok untukku," balas Feng Yan seraya menyatukan tinju dan telapak tangan di depan dada sambil tersenyum.

Cukup lama mereka beramah tamah hingga akhirnya kepala rombongan itu pamit untuk mengurusi orang-orangnya.

"Saudara Feng, kalau boleh tahu pil apa yang kau berikan padaku? Entah kenapa aku merasa luka dalamku pulih lebih cepat dari biasanya." Bai Guo terlihat sangat penasaran.

"Oh itu, kebetulan aku hanya membawa Pil Raga," ucap Feng Yan santai sambil menyodorkan daging asap yang sudah dibakar pada kedua lawan bicaranya.

Mendengar ucapannya, Bai Guo terperangah. Pil Raga bukanlah pil penyembuhan biasa. Itu termasuk pil tingkat dua dan cukup mahal bagi orang-

Orang seperti dirinya.

"Pil Raga?" ucapnya kebingungan dan saling tatap dengan kakek pelayan.

"Saudara Feng, aku tidak tahu bagaimana harus membalasmu? Kau bahkan telah menyelamatkan nyawaku sebelumnya. Itu pil yang sangat mahal untukku."

"Hehehe, saudara Bai tidak perlu khawatir aku masih punya banyak." Timpal Feng Yan dengan santai. Ia hanya melanjutkan memakan daging bakar yg ditusuk kayu dengan sesekali meniupnya karena panas. Sedangkan teman bicaranya sudah tidak mampu berkata-kata setelah mendengar kata BANYAK barusan.

"Bocah ini pastilah bukan pemuda sembarangan, ia menganggap pil kelas dua hanyalah barang biasa dan punya banyak. Aku harus hati-hati dalam bersikap, orang seperti ini benar-benar tidak bisa disinggung," kata Bai Guo

Dalam hati.

Walaupun dia sebenarnya bingung kenapa ada bekas luka gores di wajah Feng Yan, padahal ia mempunyai banyak Pil Raga. Meminum pil itu pastilah akan menghilangkan bekas luka, sungguh pemuda misterius pikirnya.

"Omong-omong kakek ini namanya siapa?" tanya Feng Yan.

66 Oh maaf pendekar, sungguh kakek ini sudah sangat tidak sopan. Namaku Zhang Junda, pelayan di karavan ini. Kalau boleh tahu pendekar ini tujuannya kemana? Kalau kami dari kota Teratai Hijau menuju Awan Salju." Si kakek menjelaskan.

"Aku dari kota Batu Besi hendak ke Awan Salju juga, balas Feng Yan menjelaskan tujuannya.

"Omong-omong kenapa kalian lewat sini dari kota awan salju? Jalur ini memang lebih cepat, tapi sangat jarang rombongan pedagang mengambil rute

Ini, apalagi di malam hari." Feng Yan terlihat penasaran kenapa mereka terburu-buru.

Dua orang itu hanya bisa menghela nafas. Kemudian kakek Junda menjelaskan kalau sebenarnya bukan keinginan mereka melewati rute ini, tapi pemuda yang sedang duduk bersama kepala rombongan di dekat api unggun yang lain. Pemuda yang tadi tidak menghiraukan Feng Yan sama sekali.

"Biar kutebak, dia pastilah tuan muda keras kepala yang memaksa ikut pergi berdagang dan sudah tidak tahan berada di luar," ucap Feng Yan dengan senyum mengejek.

"Seperti yang saudara duga memang begitulah keadaanya, kami sudah tidak bisa melakukan apa-apa saat dia memaksa untuk melewati jalur ini." Ucap Bai Guo penuh penyesalan.

"Untunglah saudara Feng lewat sini saat kami diserang, kalau tidak kami

Semua tidak akan selamat." Ia hanya bisa menghela nafas lega setelah memikirkan kembali kejadian yang baru menimpa mereka.

Saat asik bercakap-cakap tiba-tiba tuan muda sudah berdiri di dekat mereka. Pemuda dengan pakaian mewah itu terlihat sangat arogan.

"Bai Guo, tampaknya kau sudah sembuh total dari lukamu. Ingatlah untuk tidak terlalu dekat dengan orang asing. Kau juga kakek Junda, bagaimana jika orang ini hanya pura-pura baik dengan kita. Aku yakin pria ini punya maksud tersembunyi, pakaianya tidak terlalu bagus, tapi lihatlah kuda yang ia bawa. Itu kuda mahal dan sangat terlatih, aku yakin ia pasti mencurinya."

Pemuda itu sungguh tidak masuk akal, bukan hanya tidak berterima kasih, tapi malah menuduh dan menghina penyelamatnya.

Mendengar ucapannya Bai Guo

Sampai terbatuk-batuk, dan kakek junda terlihat sudah gemetar ketakutan. "Saudara Feng mohon mengerti, tuan muda Hui Langtian tidak serius dengan ucapannya."

Dalam hati Bai Guo mulai mengutuk tuan muda brengsek ini yang selalu menyulitkannya dalam ekspedisi. " Sial, kalau pemuda ini marah kami semua bisa mati." Pikirannya sudah membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi.

Tanpa diduga Feng Yan malah berbaring sambil membersihkan giginya dari sisa makanan. Seolah tidak mendengar apapun. Sehingga Bai Guo dan Zhang Junda bisa sedikit bernapas lega.

Bai Guo memberikan kode pada kakek Junda agar segera membawa tuan muda Hui pergi, semakin lama Hui Lantian disana, semakin dia khawatir akan keselamatan mereka semua.

"Tuan mari saya tuangkan arak

Untukmu, malam dingin seperti ini minum arak pastilah menyenangkan," ucap kakek Junda sambil menarik lengan tuannya.

Saudara Feng, aku meminta maaf mewakili tuan muda Hui, tolong jangan masukkan ke hati semua ucapannya. Aku juga sebenarnya tidak terlalu suka dengan tingkahnya. Bocah manja itu selalu menyulitkanku, selama bekerja sebagai pengawal bayaran baru kali ini aku bertemu dengan orang seperti itu."

Bai Guo terdengar sangat kesal.

"Tidak perlu dipikirkan, anak ayam tidak akan membuat singa kenyang," balas Feng Yan sambil menambah kayu bakar pada perapian.

"Tunggulah di sini sebentar aku akan mengambil arak untukmu, kebetulan sekali arak keluarga Hui ini lumayan enak." Bai Guo segera pergi ke salah satu kereta kuda yang ada di sana.

"Seandainya aku masih menjadi

Tuan muda di keluarga itu, aku mungkin akan jadi seperti dia." Feng Yan bergumam sendirian. Ia pun hanyut dalam kenangan beberapa tahun sebelumnya.

1
Nanik S
Lanjutkan Tor .. walau sayang ada perjodohan
azizan zizan
alur yang membingungkan blok blak blok blak blok blak blok blak tak ada hujung pangkal tau2 cerita beralih ke padang dewa...lah 🤔🤔🤔 ini orang gila ka hapa yang buat novel Nih..
azizan zizan
ini cerita undur kembali kebelakang kah...pantasan like nol...
Nanik S
Kenapa mesti ada perjodohan masih kecil .. kadang cerita seperti ini amat membosankan
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Cukup menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!