NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: CAHAYA BARU YANG MENGHANGATKAN

Kehadiran Arfan Ganendra Wijaya membawa warna baru yang begitu cerah bagi seluruh keluarga. Rumah besar yang tadinya sudah cukup ramai dengan kehadiran Arka dan Aira, kini menjadi jauh lebih hidup dengan suara tangisan mungil dan rengekan manja bayi yang terdengar di setiap sudut ruangan.

Seminggu setelah melahirkan, Kirana dan Arfan sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Suasana penyambutan di rumah terasa sangat meriah. Bunga-bunga segar memenuhi ruang tamu, dan aroma masakan lezat menguar dari dapur.

Mobil mewah Arga berhenti di halaman. Pintu belakang dibuka, dan Arga turun dengan langkah sangat hati-hati sambil memangku sebuah buntalan kecil berbalut selimut biru. Wajahnya tampak begitu serius dan penuh tanggung jawab, seolah-olah ia sedang memegang piala dunia yang paling berharga.

"Pelan-pelan Tuan... hati-hati tangga nya," ingat Bi Sumi.

"Iya Bi... ini bayi paling mahal di dunia, nanti kalau goyang sedikit aja rasanya deg-degan," jawab Arga sambil tertawa kecil, matanya tak lepas menatap wajah mungil putra ketiganya yang sedang tidur pulas.

Setelah Arfan ditaruh dengan aman di dalam kamar khusus yang sudah disiapkan sangat nyaman, giliran Arga membantu Kirana turun dan berjalan masuk.

"Ayo Sayang... pelan-pelan. Taruh berat badanmu ke bahu Ayah," kata Arga lembut sambil memapah istrinya berjalan.

"Iya... badan rasanya masih lemes semua ya," keluh Kirana sambil tersenyum lemas. "Tapi senang rasanya bisa pulang dan tidur di kasur sendiri."

"Ya sudah, kamu istirahat dulu ya. Biar Ayah yang jaga Arfan sebentar. Nanti kalau dia bangun dan haus, baru panggil kamu," sahut Arga penuh perhatian.

Dan benar saja, Arga benar-benar menjadi 'Ayah Sempurna'. Hampir separuh harinya ia habiskan di kamar, duduk di samping buaian bayi Arfan. Ia tak bosan-bosannya menatap wajah itu, mengelus pipi gembilnya yang merah merona, atau sekadar mendengar suara napas bayi yang teratur.

"Kamu ini ya... bikin Ayah nggak bisa kerja tenang," bisik Arga pelan sambil tersenyum. "Tapi gapapa... Ayah rela nunda semua pekerjaan demi liat kamu tumbuh besar."

 

Tiga bulan berlalu. Arfan kini tumbuh menjadi bayi yang sangat sehat, gemoy, dan sangat aktif. Badannya montok, pipinya tembem, dan matanya selalu berbinar ceria setiap kali melihat orang tuanya.

Suatu pagi yang cerah, suasana di ruang keluarga sangat hangat.

Kirana duduk di sofa panjang sambil menyusui Arfan dengan penuh kasih sayang. Wajah ibu muda itu bersinar, terlihat lebih cantik dan berisi setelah melahirkan.

Di sebelahnya, Arga duduk sangat dekat, satu tangannya melingkar di bahu istrinya, sementara tangan lainnya mengelus punggung kecil Arfan yang sedang lahap menyusu.

"Lihat deh dia makannya lahap banget," komentar Arga sambil terkekeh. "Kayaknya nanti gedeannya bakal kekar kayak Ayah deh."

"Kan emang bapaknya juga dulu bayi doyan makan," jawab Kirana sambil tersenyum bangga. "Tapi matanya ini lho... matanya tajam banget, persis kayak kamu pas lagi marah-marah di kantor."

Arga tertawa lebar. "Wah, berarti ini calon pemimpin masa depan dong. Nanti Ayah ajarin bisnis dari kecil ya, Nak."

Tiba-tiba dari arah tangga terdengar langkah kaki kecil berlari.

"IBUUUU!!! AYAHHH!!!"

Aira dengan gaun tidur pinknya berlari menghambur ke sofa, diikuti oleh Arka yang berjalan lebih tertib dan sopan di belakangnya.

"Eh... ini siapa yang bangun pagi udah berisik nih?" goda Arga sambil membuka tangan lebar-lebar.

"Aira mau liat Adik Arfan!" seru Aira sambil memanjat naik ke sofa dengan hati-hati. "Wah... adiknya makin gendut aja ya! Aira boleh pegang tangannya nggak Yah?"

"Boleh dong... tapi pelan-pelan ya, tangannya masih kecil dan lembut," jawab Arga mengizinkan.

Aira pun dengan sangat hati-hati memegang jari-jari mungil adiknya. "Halo Dek Arfan... Aira kakak cantik lho. Nanti kita main bareng ya."

Arka yang berdiri di samping ayahnya pun tersenyum melihat adik bayinya. "Dia makin ganteng Yah. Nanti kalau dia bisa jalan, Arka ajakin main bola ya."

"Pasti dong Nak. Nanti kita jadi tim bola keluarga Wijaya. Ayah kiper, Arka striker, Arfan bek, terus Aira jadi wasitnya cantik," imajinasi Arga membuat semua orang tertawa bahagia.

Melihat interaksi ketiga anaknya yang begitu rukun dan penuh kasih sayang, hati Kirana terasa begitu penuh dan damai. Ia menatap suaminya dalam-dalam.

"Kita berhasil ya, Ar..." bisiknya pelan.

Arga menoleh, menatap mata istrinya. "Maksud kamu?"

"Kita berhasil bangun keluarga yang utuh dan bahagia. Dulu aku cuma gadis desa sederhana yang nggak tahu apa-apa, sekarang aku punya segalanya. Punya suami yang hebat, dan tiga malaikat pelindung," jawab Kirana tulus.

Arga tersentuh mendengarnya. Ia mendekatkan wajahnya, lalu mengecup kening istrinya lembut di depan anak-anak.

"Bukan kamu yang beruntung, Sayang. Tapi Ayah yang jauh lebih beruntung. Kamu yang rubah hidup aku yang dulu gelap dan sepi jadi secerah ini. Kamu ratu di hati aku selamanya."

 

Seiring berjalannya waktu, Arfan mulai tumbuh besar. Di usianya yang menginjak satu tahun, ia sudah bisa berjalan tertatih-tatih, dan suaranya sangat lantang. Sifatnya unik, ia mewarisi ketegasan dan keberanian dari Ayahnya, namun juga mewarisi sifat pendiam, pengamat, dan sangat manja pada ibunya seperti Kirana.

Arfan adalah tipe anak yang kalau diam saja bisa terlihat sangat serius dan galak, tapi kalau sudah diajak main atau dimanja, ia akan tertawa dengan suara yang sangat menular.

Suatu sore, Arga sedang duduk santai membaca koran di teras. Tiba-tiba ia merasakan ada yang memeluk kakinya dari belakang.

"Yah... yah..." panggil suara kecil Arfan yang cadelnya masih sangat lucu.

Arga menoleh, tersenyum lebar. "Eh... Pangeran Kecil. Mau apa?"

Arfan mengangkat kedua tangannya meminta digendong. "Gendong... yah gendong..."

"Ayo sini!" Arga langsung mengangkat tubuh montok itu ke pangkuannya. "Gemes banget sih anak Ayah ini. Badannya padat gitu."

Arfan hanya tertawa renyah, lalu ia membenamkan wajahnya di dada bidang ayahnya, memainkan kemeja yang dikenakan Arga. Ia sangat suka berada di pangkuan ayahnya, merasakan kehangatan dan rasa aman yang luar biasa.

"Sayang sama Ayah nggak?" tanya Arga lembut.

"Sayang... sayang Ayah... sayang Ibu... sayang Kakak..." jawab Arfan pelan tapi jelas, matanya yang bulat menatap wajah ayahnya dengan polos.

Hati Arga meleleh seketika. Ia mengecup puncak kepala anaknya berkali-kali. "Ayah juga sayang banget sama kamu, Nak. Kamu harus tumbuh jadi anak sholeh, pinter, dan kuat ya. Nanti kamu yang jaga Ibu, jaga Kakak Aira, dan bantuan Kakak Arka."

"Iya..." jawab Arfan mengangguk-angguk kecil seolah mengerti.

Di dalam rumah, Kirana yang melihat pemandangan itu dari balik jendela hanya bisa tersenyum haru. Kehidupan mereka terasa begitu sempurna dan utuh.

Namun, waktu tidak pernah berhenti. Tahun demi tahun terus bergulir dengan cepat. Anak-anak yang dulu masih bayi dan balita, kini perlahan mulai tumbuh dewasa.

Arka yang kini sudah menginjak usia remaja awal menjadi sosok yang sangat tampan, cerdas, dan berwibawa, sangat disegani di sekolahnya. Aira tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik jelita, manja namun sangat pintar dan lincah. Dan Arfan, si bungsu yang menjadi kesayangan seluruh keluarga, kini menjadi anak yang aktif, pemberani, dan sangat menyayangi kedua kakaknya.

Mereka semua tumbuh besar di bawah naungan cinta kasih kedua orang tuanya. Arga dan Kirana berhasil menanamkan nilai-nilai kebaikan, agama, dan sopan santun yang kuat pada ketiga anak mereka.

Tapi, masa remaja dan masa depan tentu saja menyimpan cerita-cerita baru. Tentang sekolah, tentang pergaulan, tentang cita-cita, dan mungkin nanti tentang cinta.

Akankah keluarga Wijaya ini tetap seharmonis ini selamanya? Tentu saja akan tetap demikian, karena pondasi cinta yang mereka bangun sejak awal begitu kuat dan kokoh, tak tergoyahkan oleh apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!