Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Mengajak Gao Rui Keluar
Xu Qung dan Gao Rui melanjutkan langkah mereka menyusuri jalur batu di lereng sekte.
Setelah pembicaraan tentang Boqin Changing suasana di antara mereka justru terasa lebih hangat. Gao Rui kini sesekali bertanya tentang kisah-kisah gurunya di sana. Xu Qung pun dengan santai menceritakan beberapa hal, berdasarkan apa yang didengarnya.
Keduanya terus berjalan. Mereka melewati paviliun batu, kebun bambu, hingga tepi tebing tempat awan menggantung di bawah kaki. Angin pegunungan berembus lembut. Pagi yang semula dingin perlahan berubah hangat oleh cahaya matahari.
Mereka berbincang banyak hal. Tentang latihan. Tentang dunia luar. Tentang tanggung jawab besar yang kelak harus dipikul Gao Rui.
Xu Qung memberi banyak nasihat dan Gao Rui mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Hingga tanpa terasa matahari sudah naik cukup tinggi. Xu Qung akhirnya berhenti di persimpangan jalan setapak. Ia menatap Gao Rui dengan tatapan lembut.
“Sudah cukup jalan-jalannya hari ini.”
Gao Rui menangkupkan tangan hormat.
“Terima kasih... Tetua Agung.”
Xu Qung tersenyum kecil.
“Teruslah berlatih seperti tadi. Jangan pernah kehilangan hatimu yang sekarang.”
“Aku akan mengingatnya.”
Gao Rui mengangguk mantap.
Setelah itu keduanya pun berpisah. Gao Rui kembali ke kediamannya untuk melanjutkan latihan. Sementara Xu Qung melangkah santai menuju paviliun kediamannya di puncak sekte.
Namun baru saja Xu Qung sampai di halaman rumahnya, seorang pelayan tua bergegas datang sambil menangkupkan tangan.
“Tetua Agung.”
Xu Qung berhenti.
“Ada apa?”
Pelayan itu sedikit menunduk.
“Ada tamu yang sedang menunggumu di ruang tamu.”
Xu Qung sedikit mengernyit.
“Tamu?”
Biasanya tak banyak orang berani datang tanpa pemberitahuan ke kediamannya. Apalagi di pagi hari seperti ini. Tanpa banyak bicara, Xu Qung segera melangkah masuk.
Tak lama kemudian ia tiba di ruang tamu. Begitu tirai pintu dibuka matanya langsung menyipit tipis.
Di sana seorang wanita anggun duduk tenang sambil menikmati teh. Wajahnya cantik dan dewasa, auranya tenang namun berkelas. Meski usianya tak lagi muda pesonanya justru semakin matang.
Xu Qung tersenyum tipis.
“Ya’er.”
Wanita itu menoleh. Senyum lembut langsung menghiasi bibirnya.
“Kakak ipar.”
Xu Qung mendengus kecil sambil tertawa.
“Masih saja memanggilku begitu.”
Lan Suya ikut tersenyum.
“Memangnya salah?”
Xu Qung menggeleng pelan. Wajah tuanya tampak sedikit lebih santai.
Lan Suya memang bukan orang luar baginya. Wanita itu adalah adik iparnya dan juga pemimpin Kelompok Dagang Harta Langit. Sosok berpengaruh yang namanya cukup terkenal di Kekaisaran Zhou.
Xu Qung duduk di kursi seberangnya.
“Jarang sekali kau datang sendiri ke sini. Ada angin apa?”
Lan Suya meletakkan cangkir tehnya perlahan.
“Tak bolehkah aku datang hanya untuk menengokmu?”
Xu Qung mendengus pelan.
“Kalau orang lain mungkin iya. Tapi kau? Aku tahu betul… kau tidak pernah datang tanpa tujuan.”
Lan Suya tertawa kecil. Tawanya ringan namun matanya tajam.
“Kakak ipar tetap saja sulit dibohongi.”
Xu Qung menggeleng sambil tersenyum samar.
Beberapa saat mereka mengobrol basa-basi. Menanyakan kabar. Membicarakan keadaan kelompok dagang dan situasi sekte. Hingga akhirnya senyum Lan Suya perlahan memudar. Tatapannya menjadi lebih serius.
“Aku datang hari ini… memang ada maksud tertentu.”
Xu Qung menatapnya tenang.
“Aku sudah menduga.”
Lan Suya tidak berputar-putar lagi.
“Aku ingin mengajak Gao Rui keluar sekte. Menuju ibukota.”
Ruangan mendadak hening. Tatapan Xu Qung langsung berubah tajam.
“Untuk apa?”
Lan Suya menyandarkan tubuhnya santai… namun nada suaranya tetap serius.
“Ini untuk kepentingan Kelompok Dagang Harta Langit. Ada sesuatu di ibukota yang ingin kutunjukkan pada Gao Rui.”
Xu Qung langsung menggeleng.
“Tidak.”
Jawabannya tegas. Tanpa ragu sedikit pun.
Lan Suya mengangkat alis.
“Kau bahkan belum mendengar penjelasanku.”
“Aku tak perlu mendengarnya.” Xu Qung menatap lurus. “Gao Rui harus tetap berada di sekte. Fokusnya sekarang adalah berlatih.”
Xu Qung menyandarkan tubuhnya sedikit, suaranya makin dalam.
“Lagipula… patriak sekte sedang menjalani latihan tertutup. Tanpa izinnya… Gao Rui tidak bisa sembarangan keluar.”
Lan Suya justru tertawa kecil.
“Tetua Agung… kapan sejak kapan izin seorang murid harus selalu berasal dari patriak?”
Ia menatap Xu Qung dengan mata yang seolah menyimpan godaan.
“Izin seorang tetua saja sebenarnya sudah cukup. Apalagi… kalau yang memberi izin adalah dirimu.”
Xu Qung mendengus.
“Bujukanmu tidak akan berhasil.”
Lan Suya tetap tenang.
“Aku janji… Gao Rui akan kembali sebelum patriak keluar dari latihan tertutup.”
Xu Qung menggeleng lagi. Kali ini lebih tegas.
“Tidak.”
Matanya menyipit.
“Kau tahu sendiri situasi sekarang. Dunia persilatan sedang tidak tenang. Gao Rui bukan murid biasa. Namanya terlalu besar. Terlalu banyak mata mengawasinya.”
Lan Suya terdiam sejenak. Xu Qung melanjutkan.
“Apalagi sekarang… Tetua Bei juga sedang keluar sekte menjalankan misi. Satu-satunya tetua yang paling dekat dengan Gao Rui… sedang tidak ada.”
Ia menatap Lan Suya lurus-lurus.
“Aku sendiri tak bisa meninggalkan sekte. Patriak sedang latihan tertutup. Sekte ini butuh seseorang yang menjaganya.”
Suasana ruangan mendadak hening. Lan Suya menyandarkan dagu di jemarinya menatap Xu Qung beberapa saat. Lalu perlahan sudut bibirnya terangkat. Senyum tipis yang penuh arti.
“Kakak ipar…”
Nada suaranya lembut… tapi ada keyakinan aneh di sana.
“Aku sudah tahu kau akan menjawab seperti itu.”
Xu Qung sedikit mengernyit. Lan Suya tersenyum semakin dalam.
“Baiklah jika begitu....”
Lan Suya perlahan meletakkan cangkir tehnya di atas meja. Bunyi kecil porselen yang bersentuhan dengan kayu justru membuat suasana terasa makin tegang. Tatapannya yang semula santai kini berubah licin seperti rubah yang baru saja menemukan mangsa.
“Kakak ipar…” katanya lembut. “Kalau begitu… aku tak akan membahas Gao Rui dulu.”
Xu Qung menyipitkan mata. Ia tahu betul… nada seperti itu dari Lan Suya tak pernah membawa hal sederhana.
Wanita itu lalu bersandar anggun. Jemarinya memainkan ujung lengan bajunya.
“Ngomong-ngomong…” Lan Suya menatap sekeliling ruangan. “Di mana kakak perempuanku?”
Xu Qung sedikit mengernyit.
“Istriku?”
Lan Suya mengangguk santai.
“Aku ingin berbincang-bincang dengannya. Sudah lama kami tak duduk bersama seperti dulu.”
Entah kenapa mendengar kalimat itu, jantung Xu Qung justru berdegup sedikit lebih cepat. Seketika firasat buruk muncul di benaknya. Ia mengenal adik iparnya ini terlalu baik. Lan Suya bukan tipe orang yang datang hanya untuk bernostalgia.
Xu Qung menatapnya lebih dalam.
“Apa yang hendak kau bicarakan dengannya?”
Lan Suya tertawa kecil. Tawa yang ringan namun justru membuat kening Xu Qung mulai terasa dingin.
“Kenapa kau terlihat tegang begitu, kakak ipar?”
Xu Qung mendengus pelan.
“Aku hanya bertanya.”
Lan Suya tersenyum tipis.
“Aku hanya rindu pada kakakku. Sudah lama kami tidak berbincang. Aku ingin menceritakan pengalamanku selama berada di Sekte Pedang Langit.”
Xu Qung masih diam. Tatapannya tak lepas dari wajah wanita itu.
Lan Suya lalu mencondongkan tubuh sedikit. Sorot matanya berubah nakal.
“Banyak hal menarik yang kulihat di sana.”
Xu Qung mendadak merasa tengkuknya menegang. Lan Suya melanjutkan dengan santai seolah tak ada maksud tersembunyi.
“Termasuk… melihat kakak ipar berbincang hangat dengan Tetua Sekte Bunga Senja… Duan Yulin.”
Ruangan mendadak sunyi. Seakan angin pun berhenti berembus. Wajah Xu Qung yang tadi tenang langsung menegang. Untuk pertama kalinya pagi itu setitik keringat dingin muncul di pelipis Tetua Agung Sekte Bukit Bintang
Ia tentu ingat kejadian itu. Tetua wanita itu memang kenalan lamanya. Mereka hanya berbicara soal keadaan dunia persilatan tak lebih.
Namun masalahnya bukan di sana. Masalahnya adalahnistrinya. Istrinya sangat pencemburu. Bahkan mendengar nama wanita lain disebut di dekat Xu Qung saja sudah cukup membuat tatapannya berubah dingin selama berhari-hari. Apalagi jika mendengar ada “obrolan hangat” di tempat jauh.
Xu Qung menarik napas pelan mencoba tetap tenang.
“Suya…”
Lan Suya menatapnya polos.
“Hmm?”
Xu Qung menyipit.
“Kau sengaja, ya?”
Lan Suya mengangkat alis pura-pura bingung.
“Sengaja apa?”
Xu Qung mendesah dalam. Ia memandang adik iparnya di hadapan. Wanita ini memang cantik, anggun, dan elegan tapi juga licik luar biasa.
Lan Suya menahan senyum. Matanya berbinar geli melihat ekspresi kakak iparnya.
“Aku sungguh hanya ingin bercerita pada kakakku.”
Xu Qung mendengus pelan.
“Dan kau tahu persis… kalau kau menceritakan bagian itu, rumah ini akan ribut seharian.”
Lan Suya menutup mulutnya menahan tawa kecil.
“Siapa suruh kau berbincang terlalu lama dengan wanita secantik Duan Yulin?”
Xu Qung menatap langit-langit sejenak… seperti sedang menahan nasib.
“Aku hanya bicara soal urusan sekte.”
“Tapi tetap bicara hangat, kan?”
“Karena dia bertanya sopan!”
Lan Suya kini benar-benar tertawa. Tawanya renyah memenuhi ruangan.
Xu Qung menggeleng lelah. Dalam hati ia tahu dirinya sedang berada di posisi yang sangat buruk. Di hadapannya sekarang duduk seorang wanita yang memegang kelemahannya.
Lan Suya menatapnya sambil tersenyum manis.
“Nah… kakak ipar.”
Xu Qung memicingkan mata.
“Apa maumu?”
Lan Suya menyandarkan tubuh, wajahnya berseri puas.
“Sederhana saja.”
Ia mengangkat satu jari.
“Izinkan Gao Rui ikut denganku ke ibukota.”
Xu Qung langsung menatapnya tajam.
Lan Suya tersenyum makin lebar.
“Atau… mungkin aku sebaiknya mencari kakakku sekarang?”