Katarina terjebak dalam raga seorang gadis malang yang tinggal di panti asuhan, Karina Putri.
Namun sebuah takdir mempertemukannya dengan seorang wanita kaya raya yang tiba-tiba mengangkat Karina sebagai putri angkatnya.
Tetapi bukan itu masalahnya, melainkan tiga kakak angkat Karina yang ternyata adalah tokoh utama dalam novel yang pernah dibacanya. Lalu takdir ketiga kakak angkatnya tidaklah baik, mereka akan mati ditangan tokoh utama wanita.
Namun, Karina tidak akan membiarkan hal itu terjadi, ia akan mengubah takdir ketiga kakak angkatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Karina baru selesai belajar di dalam kamarnya, ia juga sudah menyelesaikan tugas dari gurunya. Jadi, gadis itu akan memutuskan untuk bersantai sambil menunggu Jevan yang katanya akan pulang saat jam makan siang.
Jujur saja, gadis itu sedikit mengkhawatirkan kakak ketiganya. Namun Karina berharap kalau kejadian di dalam novel tidak akan pernah terjadi lagi, cukup kejadian yang menimpa Jemian… yang lain jangan.
“Haus, tapi air di botol sudah habis,” gadis itu beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya.
Karina akan turun ke bawah untuk pergi ke dapur dan mengambil air lagi, karena ia memang sangat suka minum air dingin kalau sedang belajar.
Ting!
Baru saja gadis itu hendak keluar dari lift, ia sudah melihat pemandangan yang membuatnya sangat terkejut.
“Kak Jevan kenapa?” Tanyanya kepada Joshua dan seorang pria yang merupakan manajer Jevan, Marcel.
Joshua menoleh sekilas, sebelum kembali fokus membersihkan luka di perut adiknya. “Diserang sama penggemarnya waktu keluar dari apartemen Marcel.”
Karina mendekat dan menatap wajah kesakitan Jevan, lalu pandangannya terjatuh kepada Marcel yang juga menatapnya dengan penasaran.
“Gadis cantik ini siapa?” Tanya Marcel sambil menunjuk Karina yang kembali fokus melihat cara Joshua mengobati luka Jevan.
“Adik angkat kami,” Joshua yang menjawab.
Saat ini mereka berada di ruang tengah, Jevan diobati di sofa panjang. Luka tusukannya tidak terlalu dalam, tetapi Joshua tetap menjahit lukanya agar tidak semakin parah.
“Kenapa Jevan tidak pernah cerita? Apa kamu sengaja menyembunyikan adikmu yang cantik ini?” Marcel berdecak kesal.
Jevan menahan geramannya. “Pulanglah! Kamu sangat berisik!” Usirnya.
Marcel tidak akan mau pulang, apalagi setelah mengetahui keberadaan Karina. Joshua menggeleng pelan, ia baru sadar kalau ternyata Jevan begitu posesif kepada adik angkat mereka.
“Karina, nanti kamu bisa bantu Kakak untuk mengobati luka Kak Jevan kalau seadanya mengeluarkan darah lagi?” Joshua mendongak dan menatap adik angkatnya.
“Iya!” Jawab gadis itu dengan cepat.
“Baiklah, kalau begitu kamu perhatikan cara Kakak membersihkan darah dan menutup kembali jahitannya!” Joshua mulai menjelaskan satu persatu kepada adik angkatnya.
Joshua juga tidak bisa menjaga Jevan, karena ia pasti akan disuruh ke rumah sakit… meskipun sudah meminta libur sehari saja.
“Sudah mengerti?” Tanya Joshua.
“Sudah,” jawab Karina yang sudah mengingat apa saja yang harus ia lakukan.
“Aku sudah mengabari Papa dan Mama, jadi kamu akan bekerja di rumah sampai lukanya sedikit kering. Kamu tidak boleh banyak gerak dulu!” Kata Joshua kepada Jevan yang tengah memejamkan matanya.
Karina sedang pergi ke dapur untuk mengambilkan minum, Marcel hendak menyusul… tetapi langsung ditahan oleh Joshua.
“Dan apa yang terjadi kepada Jevan, ini juga tanggung jawabmu!” Joshua menatap Marcel dengan tajam.
“Iya-iya, aku mengerti. Nanti aku akan menemui si penusuk itu!” Kata Marcel yang tidak akan melepaskan pelaku yang sudah menusuk artis kesayangannya.
“Diminum dulu!” Karina kembali bersama dua pelayan yang membawakan minuman dan camilan.
“Kak Jevan jangan duduk dulu, sini aku bantu minum!” Karina langsung menahan kakak ketiganya yang hendak bangun, padahal luka diperutnya masih basah.
Jevan menurut dan ia minum melalui sedotan, ternyata ada hikmahnya juga tertusuk… karena Karina akan merawatnya seperti ini.
“Enaknya punya adik perempuan, apalagi kalau secantik Karina,” celetuk Marcel yang membuat dada Jevan terasa panas.
“Marcel pergi! Kau sangat berisik!” Marah Jevan yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
Marcel sebenarnya tidak ingin pergi, tetapi kalau Jevan sudah mengeluarkan kata KAU maka Marcel harus segera pergi agar kepalanya tidak botak seperti tahun kemarin.
“Karina, Kak Marcel tampan pulang dulu!” Pamitnya kepada Karina yang hanya tertawa kecil mendengar kalimat konyol pria itu.
Jevan menahan geramannya, ia tidak suka melihat gadisnya tertawa oleh pria lain… apalgi Marcel yang merupakan Playboy kelas kakap.
“Jangan dekat-dekat dengan Marcel!” Kata Jevan kepada sang adik.
“Kenapa?” Tanya Karina yang ingin mengetahui alasannya.
“Karena Marcel adalah pemain, dia tidak cukup dengan satu wanita. Jadi, demi kebaikanmu… lebih baik menjaga jarak dengan Marcel,” jelas Jevan yang diangguki oleh sang adik.
Karina akan menjaga jarak dengan Marcel yang memang terlihat sangat pandai mencairkan suasana.
“Kak Jo harus kembali ke rumah sakit, nanti Jevan akan dibantu bodyguard ke kamar. Untuk hari ini dan besok, Jevan tidur di kamar tamu lebih dulu. Kamu bisa menggunakan kotak obat ini!” Joshua menyerahkan kotak obat yang tadi dipakainya.
“Aku mengerti,” jawab gadis itu.
Joshua sedikit menundukkan kepalanya dan mengecup kening sang adik, sebelum berlalu pergi dari ruang tengah.
Jevan memejamkan matanya, pria itu sudah tahan lagi melihat pemandangan Joshua mencium kening gadisnya.
“Karina, menunduklah!” Pinta Jevan yang dituruti oleh sang adik.
Kedua mata cokelat Karina membulat sempurna, saat bibir dingin Jevan menyentuh keningnya cukup lama.
“Ambilkan Kakak makan!” Pria itu memalingkan wajahnya, agar Karina tidak tahu kalau saat ini wajahnya memerah.
Gadis itu mengangguk dan berlalu pergi untuk mengambilkan Jevan makan siang, meskipun jantungnya berdebar sangat kencang.
Tidak seperti saat Joshua mencium keningnya, Karina merasakan jantungnya akan meledak saat kakak ketiganya mencium keningnya.
“Diamlah! Nanti Kak Jevan bisa mendengarnya!” Gadis itu menyentuh dadanya yang masih berdebar sangat kencang.
“Nona baik-baik saja?” Tanya kepala pelayan yang melihat Karina terus memegangi dadanya.
“Aku baik-baik saja. Bibi, minta tolong siapin makan siang untuk Kak Jevan, soalnya Kak Jevan sudah lapar,” ujar gadis itu.
“Saya yang akan mengantarnya ke ruang tengah, apa Nona juga ingin makan sekarang?” Tanya kepala pelaya.
“Iya.”
Setelah menjawab, Karina kembali ke ruang tengah. Gadis itu takut kakak ketiganya membutuhkan sesuatu, tetapi ia malah melihat Jevan menutupi wajahnya dengan bantal sofa.
“Kakak baik-baik saja? Apa lukanya masih sakit?” Tanya Karina yang mencoba mengusir rasa gugupnya.
Jevan menyingkirkan bantal sofa dan menatap gadisnya yang terlihat mengkhawatirkannya.
“Masih sakit, dan Kakak takut lukanya akan kembali terbuka kalau tidur sendirian,” pria itu melancarkan aksi modusnya.
“Aku akan menemani Kak Jevan, Kakak tenang saja!” Karina menarik pelan baju yang dipakai kakak ketiganya untuk memastikan kalau lukanya tidak mengeluarkan darah lagi.
“Itu artinya kamu akan tidur dengan Kakak?”
Pertanyaan itu membuat Karina membeku, gadis itu tampak mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Jevan.
“Baiklah, nanti aku tidur di sofa,” jawab Karina yang tidak ingin meninggalkan kakak ketiganya.
Jevan berdecak di dalam hati, ternyata gadisnya tidak peka. Namun kalau dirinya terang-terangan meminta Karina tidur di sebelahnya, pasti gadis itu akan mencurigainya…
Bersambung!
semangat thor 💪💪