NovelToon NovelToon
Di Balik Kilau Mutiara

Di Balik Kilau Mutiara

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:896
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Di bawah kilau kemewahan, Sherina Mutiara tetap berpijak sederhana, mengubur rasa cinta pada Darren Mahendra yang kandas oleh perbedaan. Ia lalu meniti jalan hidupnya sendiri di Mutiara Group, tempat ia bertemu Arsya Abrisam—pemuda jenius yang melepas jas dokter akibat luka masa lalu, dingin dan tertutup. Di antara tantangan kerja dan konflik perbedaan pendapat, benih rasa tumbuh di antara mereka, menyembuhkan luka dan mengajarkan arti bangkit. Namun, takdir membawa Darren Mahendra kembali dengan penyesalan, sementara Arsya diuji oleh pilihan tentang menegakkan keadilan atau tetap di tempat. Di persimpangan jalan, Sherina juga harus memilih: kembali pada mimpi lama, atau melangkah maju bersama sosok yang mengajarkannya bahwa cinta sejati adalah tentang tumbuh, bersinar, dan berani menjadi diri sendiri. Sebuah kisah tentang hati yang belajar memilih, dan jiwa yang menemukan cahayanya di balik luka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Sejak hari rasa cemburu itu menyadarkan hatinya akan perasaan yang sesungguhnya, sikap Arsya Abrisam berubah sepenuhnya menjadi jauh lebih lembut, hangat, dan penuh perhatian. Perubahan itu bukan lagi sekedar berhenti bersikap keras atau tidak lagi mencari kesalahan, melainkan hadir dalam tindakan-tindakan kecil yang halus namun sangat berarti, yang ia lakukan dengan sadar dan tulus setiap hari.

Bagi Arsya, merawat dan memperhatikan Sherina kini bukan lagi sekedar kewajiban sebagai pemimpin atau rasa terima kasih, melainkan menjadi kebutuhan hatinya sendiri, cara ia menunjukkan rasa sayang yang belum berani ia ucapkan dengan kata-kata.

Setiap pagi, saat ia tiba di ruangan kerja, hal pertama yang ia lakukan adalah melirik ke arah meja Sherina, memastikan gadis itu sudah hadir dan tampak segar. Jika udara pagi terasa dingin atau hujan turun, tanpa perlu diminta, Arsya akan memerintahkan agar suhu ruangan diatur lebih hangat, atau diam-diam meletakkan segelas minuman hangat di sudut meja kerja Sherina, seolah itu hanya sisa pesanannya sendiri.

Ia selalu memastikan gadis itu tidak bekerja terlalu lama di depan layar komputer, sesekali mengingatkan untuk beristirahat sejenak atau meregangkan otot tubuh dengan nada bicara yang lembut dan penuh perhatian.

Saat mereka sedang membahas pekerjaan, gerak-gerik Arsya pun berubah. Ia tidak lagi berdiri tegak di seberang meja dengan wajah kaku dan tangan tersembunyi, melainkan sering kali duduk di samping Sherina, cukup dekat namun tetap menjaga batas sopan santun, menunjuk catatan atau grafik dengan tangan kirinya yang kokoh namun gerakan yang sangat hati-hati. Ia sering kali membiarkan siku tangan kanannya yang cacat terlihat samar, seolah perlahan ia mulai berani membuka dirinya lebih banyak di hadapan gadis itu, percaya sepenuhnya bahwa Sherina tidak akan pernah menilai atau merendahkannya karena hal itu.

Tindakan-tindakan kecil itu terasa begitu wajar bagi mereka berdua, namun sangat jelas dan mencolok bagi mata orang lain di sekitar mereka. Para rekan kerja, staf pendukung, hingga sekretaris kantor, perlahan mulai menyadari perubahan besar ini.

Mereka masih ingat betul bagaimana dulu hubungan keduanya bagai api dan air, selalu bertentangan, penuh pertengkaran, dan ketegangan yang bisa dirasakan hingga ke seluruh penjuru ruangan.

Dulu, tak ada satu pun yang berani berada di dekat mereka berdua saat sedang berdiskusi, karena suasana panas dan penuh tekanan. Namun kini, pemandangan yang terlihat sangat berbeda. Terkadang senyum-senyum kecil yang saling dilemparkan, percakapan yang penuh tawa dan keakraban, serta pandangan mata yang saling bertukar arti yang dalam, seolah ada bahasa rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka berdua saja.

Gosip-gosip kecil dan kecurigaan-kecurigaan mulai menyebar perlahan di kalangan karyawan, namun tidak ada yang berani bertanya secara terang-terangan. Mereka hanya melihat, memperhatikan, dan diam-diam merasa senang melihat pemimpin yang dingin itu akhirnya menemukan kehangatan, serta gadis muda yang tegar itu akhirnya menemukan tempat yang aman untuk bersandar.

Dan benar saja, hubungan di antara Arsya dan Sherina sendiri pun telah mengalami perubahan besar. Dinding pemisah yang tinggi telah runtuh sepenuhnya, digantikan oleh jembatan kepercayaan dan kasih sayang yang kokoh. Mereka bukan lagi sekedar atasan dan bawahan, bukan lagi sekedar rekan kerja, dan tentu saja bukan lagi musuh yang saling bermusuhan. Kini, mereka telah menjadi teman dekat yang paling akrab, paling saling mendukung, dan paling saling mengerti satu sama lain.

Hari-hari berlalu dengan lembut, bagai aliran sungai yang tenang dan jernih. Hubungan antara Sherina Mutiara dan Arsya Abrisam kini tumbuh semakin dekat, hangat, dan penuh makna, meski belum ada satu pun kata cinta yang terucap secara terang-terangan di antara mereka. Keduanya saling memahami dalam diam, saling mengisi kekosongan hati masing-masing, dan saling menjadi sandaran teraman yang pernah mereka miliki.

Namun, takdir seolah suka sekali menguji kebahagiaan yang baru saja mulai tumbuh itu. Di saat hati Sherina sudah mulai beralih arah, sudah mulai melupakan masa lalu kelam, dan sudah mulai membangun harapan baru... sebuah kabar datang menyambar bagai petir di siang bolong, mengguncang seluruh isi hatinya hingga ke dasar yang paling dalam.

Pagi itu, suasana kantor pusat sedang sibuk seperti biasa. Sherina baru saja selesai mengikuti rapat koordinasi bersama para manajer divisi, dan sedang berjalan keluar ruangan bersama sekretaris direktur utama, Bu Rina, wanita yang sudah lama bekerja di sana dan tahu banyak hal mengenai urusan internal maupun eksternal perusahaan.

"Ada kabar besar , Nona Sherina," ucap Bu Rina dengan nada suara yang sedikit bersemangat namun juga penuh arti, sambil berjalan beriringan di lorong luas menuju lift.

"Bapak Direktur Utama baru saja menyetujui kerja sama strategis besar dengan perusahaan mitra dari luar negeri. Proyek bernilai sangat besar, dan rencananya akan berjalan panjang dalam beberapa tahun ke depan."

Sherina mengangguk pelan, wajahnya tenang namun penasaran. Ia memang mendengar sedikit desas-desus mengenai rencana kerja sama besar ini, namun belum mengetahui detail lengkapnya. "Iya, Bu. Saya dengar sih begitu. Katanya mitra dari Eropa ya? Atau dari Asia Tenggara?"

Bu Rina tersenyum, lalu mendekatkan sedikit tubuhnya, seolah ingin berbagi rahasia. "Bukan asal-usul perusahaannya yang jadi berita besar, Nona. Tapi orang yang akan ditunjuk sebagai kepala tim perwakilan mitra itu. Dia orang Indonesia lho, Bapak Hardian sendiri yang sangat mengagumi kemampuannya, sampai mengundang dia secara khusus untuk menangani proyek ini."

Jantung Sherina mulai berdebar pelan, ada firasat tidak enak yang tiba-tiba menjalar di dada, rasa dingin yang aneh merambat di sekujur tulangnya.

"Siapa namanya, Bu?" tanyanya pelan, suaranya sedikit bergetar tanpa ia sadari.

"Namanya Darren Mahendra," jawab Bu Rina dengan santai, namun kalimat itu bagai pukulan keras yang menghantam dada Sherina hingga napasnya tertahan.

"Kabarnya minggu depan dia sudah tiba di Jakarta, lalu akan langsung bergerak ke sini untuk penandatanganan kerja sama dan memimpin timnya. Wah, pasti akan seru ya kerjanya. Darren itu orangnya cerdas, cakap, dan katanya dulu dekat sekali dengan Anda, Nona. Ingat kan?"

Sherina tidak mendengar sisa kalimat itu lagi. Suara Bu Rina seolah menjauh, berubah menjadi gumaman samar yang tak jelas maknanya.

Dunianya serasa berputar terbalik, lantai di bawah kakinya terasa goyah dan tak lagi kokoh. Nama itu... nama yang sudah berusaha keras ia kubur dalam-dalam, nama yang menjadi sumber rasa sakit terdalam di hatinya, nama yang selalu terngiang setiap kali ia merasa dirinya hanyalah beban bagi orang lain kini kembali hadir, kembali menyapa, dan kembali merobek luka yang baru saja mulai mengering itu.

Darren... Darren akan pulang? Darren akan datang ke sini? Darren akan bekerja sama dengan Mutiara Group?

Pikiran-pikiran itu berputar liar, kacau, dan menyakitkan di dalam kepalanya. Kenangan-kenangan buruk yang sudah lama ia coba lupakan, kenangan yang ia kunci rapat di sudut paling gelap ingatannya, kini tiba-tiba terbuka paksa, mengalir deras kembali memenuhi seluruh isi kepala dan hatinya.

Ia teringat wajah pemuda itu, senyumnya yang dulu ia anggap paling indah, suara bicaranya yang dulu paling ia rindukan. Namun lebih dari itu, yang paling jelas dan paling menyakitkan yang teringat kembali adalah kata-kata tajam yang pernah Darren ucapkan dulu, kata-kata yang meremukkan harga dirinya hingga berkeping-keping.

Selama ini, ia sudah berjuang mati-matian untuk membuktikan bahwa ia bukan beban. Ia bekerja keras, ia berjuang keras, ia membuktikan kemampuannya. Ia menemukan dukungan dari Arsya, ia menemukan rasa percaya diri kembali, dan ia mulai merasa bahwa perlahan ia bisa melupakan semua rasa sakit itu.

Namun kini, kehadiran Darren yang akan datang ke sini seolah membatalkan semua perjuangannya. Kehadiran Darren seolah menjadi bukti kembali bahwa masa lalu itu nyata, bahwa rasa sakit itu ada, dan bahwa luka itu belum benar-benar sembuh.

Sherina tidak sadar kapan Bu Rina meninggalkannya, tidak sadar bagaimana caranya ia bisa kembali berjalan menuju ruang kerjanya.

Kakinya terasa berat, langkahnya gontai, dan pandangannya kabur. Di dalam hatinya, kekacauan terjadi. Di satu sisi, ada rasa takut, rasa malu, dan rasa sedih yang luar biasa. Takut bertemu kembali dengan orang yang pernah menghancurkan hatinya, malu mengingat betapa rendahnya harga dirinya dulu, dan sedih karena rasa sakit itu kembali hadir.

Di sisi lain, ada rasa bingung yang mendalam. Hatinya kini sudah beralih arah, sudah jatuh kepada Arsya, sudah merasa damai dan bahagia di dekat pemuda itu. Namun, kehadiran Darren yang tiba-tiba ini seolah mengguncang pondasi kebahagiaan barunya itu.

Saat ia masuk ke ruangan kerja proyek itu, Arsya sedang duduk di mejanya, sedang meneliti berkas-berkas dengan tenang. Begitu mendengar langkah kaki dan melihat wajah Sherina yang pucat pasi, matanya yang biasa tenang itu seketika berubah menjadi penuh kekhawatiran. Ia segera berdiri, berjalan cepat mendekati gadis itu.

"Sherina? Ada apa?" tanyanya pelan namun tegas, suaranya penuh perhatian. Ia melihat jelas perubahan drastis itu, wajah yang biasanya cerah kini pucat, bibirnya gemetar, dan matanya yang berbinar kini tampak kosong dan penuh kepedihan.

"Kau sakit? Atau ada sesuatu yang buruk terjadi?"

Sherina mengangkat wajahnya perlahan, menatap Arsya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia ingin sekali bercerita, ingin sekali membagi beban berat yang baru saja menimpanya ini.

Ia hanya menggeleng pelan, berusaha menahan air mata yang mulai menumpuk.

"Tidak apa-apa, Pak... Saya hanya... hanya kaget mendengar sebuah kabar."

"Kabar apa?" desak Arsya lembut, tangannya perlahan menyentuh bahu Sherina dengan hati-hati, berusaha memberikan kekuatan.

"Apa pun itu, katakan saja. Kau tahu kau bisa berbagi denganku."

Sherina menelan ludah yang terasa pahit, matanya kembali menatap manik mata Arsya yang penuh kepedulian itu. Hatinya bergetar hebat antara rasa takut, rasa sakit, dan rasa cinta yang mulai tumbuh.

"Darren... Darren Mahendra akan pulang, Pak," jawabnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar namun cukup jelas untuk masuk ke telinga Arsya.

"Dia akan datang ke sini. Dia akan bekerja sama dengan perusahaan kita."

Kalimat itu terucap, dan seketika itu juga, suasana di ruangan itu berubah hening dan berat. Arsya mengerti betul siapa Darren itu. Ia tahu betul siapa sosok yang dulu pernah mengisi hati Sherina, siapa sosok yang pernah meninggalkan luka paling dalam di sana, dan siapa sosok yang menjadi alasan utama mengapa Sherina berjuang sekeras ini membuktikan dirinya.

Wajah Arsya yang tadinya penuh kelembutan perlahan berubah, campuran antara kaget, kekhawatiran, dan ketegangan yang kembali hadir. Ia merasakan betapa hebatnya guncangan yang dialami gadis di hadapannya itu.

Ia tahu, kedatangan Darren bukan sekedar kedatangan rekan kerja baru. Itu adalah kedatangan masa lalu yang kelam, kedatangan rasa sakit yang tertutup, dan kedatangan ujian terberat bagi hati Sherina yang baru saja mulai sembuh dan beralih arah kepadanya.

Di detik itu, di tengah keheningan yang mencekam itu, kedua hati mereka sama-sama bergetar. Sherina karena rasa takut dan kenangan buruk yang kembali menyerbu, dan Arsya karena menyadari bahwa kebahagiaan yang baru saja mereka bangun bersama kini terancam oleh bayang-bayang masa lalu yang belum selesai itu.

1
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
Elisabeth Ratna Susanti
suka yang tegas dan berani seperti ini
Elisabeth Ratna Susanti
teduh banget pastinya kalau kita menatap wajahnya 🥰
Elisabeth Ratna Susanti
top banget👍
Elisabeth Ratna Susanti
aku suka bau tanah yang basah terkena hujan.....rasanya membawa damai 🥰 aku suka hujan🥰
Rocean: baunya enak memang kak. candu dan damai 😍
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
semakin seru👍
Siti Sarfiah
semangat bekerja , siapa tau di Divisi pembangun produk ada cowok yg naksir sherina🤭
Siti Sarfiah
bangkitlah dengan usahamu sendiri , tunjukkan pada nilai yg engkau capai semangat terus
Siti Sarfiah
wujudkan tekadmu , suatu saat akan terwujud apa yg engkau cita"kan , semangat💪
Siti Sarfiah
tunggu daren menyelesaikan pendidikannya d luar negri nanti kembali untuk sherina juga
Siti Sarfiah
sukses selalu , terus berjuang dan lanjut lagi ceritanya
Siti Sarfiah
tetap rendah hati dan semangat
Siti Sarfiah
masya Allah anak sultan yg rendah hati👍
namice
aku mampir kak
namice: 👍👍, semangat kak💪💪💪
total 2 replies
Elisabeth Ratna Susanti
keren banget pemilihan diksinya 🥰👍
Elisabeth Ratna Susanti
like plus subscribe plus iklan 👍
Rocean: mantappp🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!