hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 36: BUNDA BERHARGA LEBIH DARI SEG
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"
BAB 36: BUNDA BERHARGA LEBIH DARI SEGALANYA
Sesampainya kami di rumah, suasana terasa sepi sekali, Bunda belum juga pulang dan tak kelihatan batang hidungnya. Hatiku mulai gelisah, aku mondar-mandir di beranda rumah, sesekali menengok ke jalan setapak berharap sosok Bunda segera muncul. Sementara itu Bagas asyik saja duduk di teras sambil mengemil ubi rebus yang ada di piring, seolah tak ada beban pikiran sama sekali. Abang Ardiansyah berdiri diam di dekat pintu, matanya ikut mengawasi ke arah jalan pulang.
"Abang... Ria mau cari Bunda ya... Gak tenang rasanya kalau Bunda gak ada di rumah dan lama begini Bang," kataku sambil sudah bersiap melangkah.
"Ya sudah Dik... Ati-ati ya. Abang juga akan cari Bunda, nanti Abang cek ke warung atau tanya tetangga, barangkali ada yang melihat beliau lewat," jawab Abang Ardiansyah mengerti kegelisahanku.
Aku pun berjalan menyusuri jalan setapak kecil, langkah kakiku mengarah ke sumber air, tempat biasa warga desa datang untuk mencuci atau mandi. Di sepanjang jalan itu, tak henti-hentinya bibirku berdoa memohon kepada Allah.
"Ya Allah... Hamba mohon dengan sangat, semoga Bunda tidak kenapa-napa ya Allah... Kami hanya punya orang tua tinggal satu di dunia ini, hanya Bunda... Jangan biarkan kami kehilangan Bunda, harta yang paling berharga bagi kami. Tak ada lagi yang lain selain Engkau ya Allah..."
Mata ini mulai berkaca-kaca, bayangan buruk sempat terlintas tapi langsung ku tepis jauh-jauh. Selama ini Bunda Maria tak pernah begini, kalau pun mau ke sumber air atau ke mana saja, beliau selalu menunggu salah satu anaknya untuk ikut atau sekadar pamit.
Ingatanku melayang sejenak pada cerita masa lalu yang sering Bunda sampaikan. Sebenarnya Bunda anak bungsu dari Kakek dan Nenek, beliau punya dua saudara laki-laki yang sampai sekarang masih tinggal jauh di daerah Jawa. Dulu, saat Ayah, Riswan, mengajak Bunda ikut program transmigrasi ke daerah Sumatera, keluarga besar Bunda sama sekali tidak setuju. Tapi Ayah pernah berkata tegas kala itu: "Kalau Maria tak mau ikut transmigrasi, saya kira kapan-kapan kita tak akan pernah pulang ke Jawa lagi."
Waktu itu mereka baru saja menjadi pengantin baru, baru lima bulan menikah. Akhirnya Bunda ikut saja, karena tak ingin dicap sebagai istri yang tidak setia. Meski Kakek, Nenek, dan saudara-saudaranya tidak setuju, mereka sadar sepenuhnya bahwa anak mereka itu sekarang sudah menjadi milik orang lain, sudah menjadi tanggung jawab suami.
Dulu sebelum berangkat, Kakek dan Nenek pernah berpesan serius pada Ayah. "Riswan... Kalau kamu sudah bosan, atau sudah tak sayang lagi sama Maria, tolong sekali-kali antarkan dia pulang ya. Dia anak baik, sama seperti kamu. Meskipun kami sudah tak ada di dunia ini, masih ada kakak-kakaknya di sini yang akan menjaga dia."
Tapi apa yang terjadi? Ayah ternyata jahat dan tidak pernah menepati janjinya. Bertahun-tahun lamanya kami tinggal di sini, Ayah tak pernah sekalipun pulang ke Jawa, tak pernah menengok orang tua Bunda, tak tahu apakah mereka masih ada atau sudah tiada. Puluhan tahun Bunda merantau jauh sendirian dengan segala keterbatasan, itulah cerita yang sering beliau tuturkan pada kami anak-anaknya. Makanya kami sangat menyayangi dan memuliakan Bunda, karena kami tahu betapa hebat dan kuatnya wanita ini. Sekeras apa pun cobaan, Bunda tetap kokoh seperti batu karang dihantam ombak.
Tak terasa langkah kakiku sampai di sumber air itu. Di sana ada aliran mata air yang keluar langsung dari dalam tanah, airnya bersih, jernih, berkilauan putih dan tak pernah berhenti mengalir.
Dari kejauhan aku melihat ada empat orang wanita sedang sibuk mencuci. Ada yang sedang mengerjakan potongan daging kambing. Mataku langsung menangkap sosok Bunda... Beliau sedang duduk membasuh dan membersihkan jeroan atau isi perut kambing yang kotor dan bau. Sementara Bu Warti dan Bu Umi, dua orang tetangga yang terkenal sombong itu, dengan santai dan enak-enakan hanya mencuci bagian daging dan tulang yang bersih dan mudah dikerjakan. Keringat bercucuran membasahi wajah Bunda, wajahnya memerah kepanasan terkena sinar matahari siang itu.
Aku pun langsung turun ke bawah, tempat aliran air yang berada di lereng tebing berbatu yang di sekelilingnya penuh rumput liar. Aku diam-diam mendekat, tak langsung memanggil.
"Assalamualaikum Bun... Ria tungguin di rumah lama banget, Bunda gak pulang-pulang. Ternyata bener ada di sini ya Bun... Udah lama Bunda pegang kotoran ini?" tanyaku langsung, pertanyaan yang selalu keluar begitu saja dari mulutku tanpa pakai rem.
"Waalaikumsalam Nak... Eh, Bunda kaget lho... Tiba-tiba sudah ada di sini aja. Iya nih Nak, tadi diajak bantuin sama Bu Warti sama si Umi itu. Katanya Pak Juadi kan mau menikahkan anak bungsunya, besok acaranya," jawab Bunda lembut.
Aku menarik nafas panjang, dadaku mulai sesak melihat pemandangan itu. "Bun... Kenapa gak mereka aja yang pegang ini? Kenapa Bunda yang mengerjakan bagian dalam kambing yang kotor, bau, dan susah dibersihkan begini? Terus mereka enak-enakan cuma cuci dagingnya aja? Apa karena kita miskin Bun... Jadi mereka-mereka ini seenaknya saja menyuruh Bunda gini? Padahal Bunda kan sudah tua, gak kasihan apa?"
Aku langsung menatap tajam ke arah Bu Warti dan Bu Umi. "Bunda udah tau kan kalau kelamaan jongkok begini nanti kakinya kambuh lagi sakitnya? Apakah mereka mau yang nanti gendong Bunda kalau beliau sakit? Apa mereka mau menyuapi Bunda kalau beliau gak bisa bangun untuk jalan? Gak mungkin kan Bun..."
Bu Warti dan Bu Umi yang mendengar perkataanku langsung bangkit emosi, wajah mereka merah padam menahan marah.
"Hei anak kemarin sore! Gak ngatur orang kamu ya! Kita tinggal di desa ini, emang harusnya begitu, kerja sama dan saling tolong menolong! Kenapa kamu mulutnya tajam banget sih ha?!" bentak Bu Warti.
"Betul itu! Kurang ajar banget ngomong sama orang tua!" sambung Bu Umi ikut-ikutan.
Sedangkan Bu Sudiana, wanita yang sedang mencuci baju bayi berumur 3 bulan di sisi lain, hanya diam saja. Beliau hanya melihat ke arah kami, tak berani bersuara. "Dari pada salah ngomong mending diam saja," begitu sepertinya isi pikiran Bu Sudiana.
Aku tak gentar sedikit pun, aku jawab balik dengan nada sarkas. "Ibu Wati yang baik hati dan tidak sombong... Atau emang aslinya sombong ya, cuma pura-pura baik? Hah maaf ya salah bicara... Maksud saya Ibu Wati yang suka menyuruh orang, tapi tak sadar diri. Kalau menyuruh orang itu lihat dulu dong, orangnya udah tua atau masih muda. Jangan dibalik keadaannya! Ibu Wati itu yang tak punya perasaan! Bunda ku udah tua! Kalian ingat gak waktu Bunda bantuin Bu Ayu waktu dia nikahkan anaknya, Roslan kan? Ingat kan waktu itu kalian semua menyuruh Bunda masak, menyuruh Bunda angkat beban berat-berat? Kalian cuma enak-enakan ngupas bawang merah sama kentang! Waktu Bunda minta tolong sedikit aja, kalian jawab 'gak bisa, gak sempat'. Kalian cuma bisa nonton!"
Emosiku memuncak, tak terima Bunda diperlakukan begitu. "Sejak saat itu lah anaknya positif sama Bunda mereka! Gak ada satu pun yang bantu Bunda waktu sakit dulu, cuma kami anak-anak lah yang berinisiatif sendiri bikin obat-obatan tradisional sampai Bunda sembuh! Ingat itu!"
"Ria.....!!" teriak Bu Warti meledak. "Kurang ajar kamu! Sombong banget sama orang tua! Kamu dasar orang miskin, dasar gak punya akhlak!" Bu Warti terus mengoceh panjang lebar seperti petasan yang meledak tak berhenti.
"Kalau dibiarin aja Bu Maria bantuin, nanti juga dapat uang buat makan kalian kan! Dasar anak kurang ajar! Lihat tuh badanmu Ria, udah kurus kering kaya jemuran aja! Biar Bu Maria jadi pembantu emang! Dasar ibumu itu orang miskin, gak bisa merawat suami makanya suaminya dibawa lari orang!" cibir Bu Warti pedas.
PLAK! Seperti ada yang menampar hatiku mendengar kalimat terakhir itu. "Apa...? Apa tadi Ibu Wati bilang? Ulangi sekali lagi kalau berani?!" Emosiku meluap tak terima. Biar aku saja yang dihina, dicaci maki, ditampar, asal jangan Bunda! Tapi kalau sudah menghina Bunda, apalagi masalah rumah tangga, aku tak bisa diam.
"Ibu menghina Bunda kami... Ngatain Bunda gak bisa ngurus suami?! Lah sampai sekarang Bunda punya anak 7 manusia, dari mana asalnya coba liat Bu Wati?! Ibu Wati yang sombong, yang suka ngomongin rumah tangga orang lain! Ibu Wati kan sudah menikah 9 tahun, tapi apa? Ibu Wati tak dikasih keturunan... Emang kenapa coba? Karena apa? Karena Allah gak ridho sama orang kaya Ibu, yang suka memfitnah, suka menjatuhkan orang tua yang sudah berbuat baik!"
Ternyata dari atas tebing, ada dua orang yang diam-diam melihat dan mendengar semua perdebatan itu. Itu adalah Abang Ardiansyah dan Pak RT. Tadi Abang Ardiansyah sempat bertanya pada warga tapi ada yang bilang tak tahu, untung Pak RT melihat Bu Warti dan rombongannya berjalan ke arah sumber air, makanya Pak RT mengajak Abang menyusul ke sini.
Di atas sana, Abang Ardiansyah meneteskan air mata, tak tahan melihat Bunda kami diperlakukan buruk dan diejek-ejek, tapi makin bangga melihatku berani membela Bunda dengan sekuat tenaga.
"APA KATAMU ANAK DURHAKA?! AKU ROBEK MULUT ITU KAMU!!" Bu Warti maju dengan wajah merah padam, tangan kanannya terangkat tinggi hendak menampar pipiku sekuat tenaga. Tapi belum sampai telapak tangannya menyentuh kulitku...
PLAK! Sebuah tangan besar dari arah belakang langsung menangkap pergelangan tangan Bu Warti dengan erat dan kuat. Itu tangan Abang Ardiansyah!
"Ibu mau menampar Ria?! Setelah Ibu mencaci maki Bunda kami dan Ria?! Coba saja kalau sampai kena!" bentak Abang Ardiansyah dengan suara bergetar menahan amarah. "Bu Warti... Orang desa sini semua tau kelakuan Ibu. Selama ini kami diam, bukan karena kami takut, atau karena kami salah, tapi karena kami hormat orang tua! Ibu mau lapor polisi? Mau lapor Pak Banusin? Oh silakan! Biar saya aja yang bicara kan semua keburukan Ibu selama ini di depan orang banyak! Pak Banusin suaminya Ibu itu orang baik, tapi sayang dia gak tau keburukan istrinya sendiri yang suka menindas tetangga!"
Bu Warti makin menjadi-jadi, matanya melotot. "DASAR KELUARGA MISKIN! DASAR GEMBEL SEMUA!!"
"Astaghfirullah Ibu Warti... Kami memang miskin, tapi kami miskin berkah! Kami gak pernah minta makan sama Ibu, gak pernah ngutang sama Ibu, camkan itu baik-baik!" jawabku tegas.
Di sudut sana, Bunda Maria hanya menangis tersedu-sedu. Ada rasa sesak, ada rasa bahagia, ada rasa haru luar biasa melihat perlindungan besar dari anak-anaknya. Walaupun beliau tak lagi mendapat perlindungan dari suaminya, tapi Allah ganti dengan perlindungan anak-anak yang berani berkorban apa saja demi beliau.
"SUDAH..... SUDAH!!" Pak RT turun ke bawah membubarkan keributan itu. "Ria, Ardiansyah, kalian bawa pulang Bunda mu sekarang juga! Kalau masih mau bantu-bantu, nanti di rumah Pak Juadi aja. Pak Juadi ini duda, umur beliau sudah 60 tahun lebih, mau menikahkan anak bungsunya yang ke-5. Sudah cukup bantuan kalian!"
Lalu Pak RT menatap tajam ke arah Bu Warti dan Bu Umi. "Dan Bu Warti, Bu Umi... Tolong jangan bikin masalah lagi ya! Itu tolong lanjutkan saja cuci isi perut kambingnya biar selesai. Dan Bu Umi bantuin Bu Warti, biar saya aja yang lanjut cuci dagingnya. Kamu Ria, Ardiansyah, bawah Bunda mu pulang... Kasihan sekali beliau, mukanya merah kepanasan dan lelah sekali."
Aku menghapus sisa air mata di pipiku, lalu menatap Pak RT sambil tersenyum tenang, senyum khas Ria yang suka bikin orang bingung. "Emang gak apa-apa Pak RT kalau kami pulang? Takutnya nanti ada yang meledak lagi nih... Takutnya ada yang marah karena Bunda gak jadi bantuin Ibu Wati yang terhormat itu... Haaaaa..." Aku tertawa renyah, tertawa melepas semua amarah tadi.
"ASTAGHFIRULLAH... DASAR ANAK INI UDAH SANA PULANG! HUSSS...!!" Pak RT geleng-geleng kepala lihat tingkahku yang masih bisa bercanda.
"Emang kami kambing ya Pak, kalau ditinggal terus meledak? Haaaaa..." Aku masih tertawa sambil menggandeng tangan Bunda pelan-pelan naik ke atas tebing bersama Abang Ardiansyah.
"Pak ati-ati ya... Jangan sampai meledak nanti tempatnya," seruku lagi sambil jalan.
"Ria.....!!" teriak Pak RT pura-pura marah.
"Haaaaaassaaaas... Santuy aja Pak..." jawabku santai sambil mengacungkan jempol ke arah Pak RT.
"Hati Bunda saya itu yang paling mahal harganya, saya gak liat orang menyakiti Bunda walaupun kami miskin... Tak apa yang penting Bunda sehat, gak sakit, dan tetap kuat," gumamku dalam hati.
Lalu aku berdoa lirih dalam hati, meminta maaf pada Allah. "Ya Allah... Maafin Ria ya... Hari ini Ria marah sama orang yang lebih tua dari Ria... Tapi ya Allah, Ria lakukan itu demi Bunda, demi membela nama baik Bunda... Semoga Engkau mengerti ya Allah..."
Kami bertiga berjalan pulang, meninggalkan sumber air itu dengan kepala tegak. Biarlah mereka yang kaya, biarlah mereka yang sombong, tapi kami punya Bunda, kami punya harga diri, dan kami punya Allah yang selalu melindungi kami dari kejahatan orang-orang yang berhati keras.