NovelToon NovelToon
Sangkar Merah

Sangkar Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:644
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tunangan—24

Grand Ballroom Hotel Pagoda Mega Bintang malam itu diselimuti oleh kemewahan yang tak tertandingi. Dekorasi ruangan didominasi oleh rangkaian bunga mawar putih dan ranting-ranting kristal yang menjuntai dari langit-langit setinggi sepuluh meter. Dentingan selo dan biola dari orkestra simfoni mengalun anggun, mengisi setiap sudut ruangan yang telah dipadati oleh seribu tamu undangan. Mereka adalah jajaran menteri, petinggi korporasi, sosialita papan atas, hingga jurnalis dari puluhan media nasional yang berkumpul di area red carpet depan pintu masuk.

Di salah satu sudut meja VIP, sirkel kampus Aletha—Chelsea, Angelina, dan Electra—duduk dengan gaun terbaik mereka. Wajah mereka masih memancarkan ekspresi antara tidak percaya dan takjub.

"Gue masih berasa mimpi, anjir," bisik Electra sembari membenarkan posisi antingnya. Matanya mengitari ruangan. "Gue tahu Aletha itu jago soal ginian, tapi Tunangan sama anak dari keluarga Dirgantara? Ini beneran fiksi di dunia nyata!"

"Makanya, lo jangan ngeremehin radarnya Aletha," sahut Chelsea dengan senyum bangga. "Tapi jujur, gue seneng banget. Akhirnya setelah bertahun-tahun dia pakai baju hitam terus, hari ini dia beneran bersinar."

Di meja VIP utama, Pak Adinata duduk berdampingan dengan Om Pramoedya. Kedua pria paruh baya itu mengenakan setelan jas formal yang sangat berwibawa. Di seberang mereka, orang tua Danny—Pak Antonio Dirgantara dan Ibu Amara—tampak tersenyum semringah, menyapa beberapa rekan bisnis yang terus-menerus memberikan ucapan selamat.

Om Pramoedya melirik Pak Adinata, lalu menepuk bahu sahabat sekaligus iparnya itu pelan. "Kamu liat itu, Nat. Putri kecilmu yang dulu nangis di bawah shower rumah, sekarang udah mau jadi istri orang. Danny anak yang baik, dia punya mata yang tajam seperti kamu waktu muda. Dia bisa jaga Aletha."

Pak Adinata mengangguk perlahan, matanya berkaca-kaca menahan haru. "Aku tahu, Pram. Ini pertama kalinya aku liat Aletha senyum selepas itu setelah kepergian mamanya. Aku ngerasa... beban di pundakku berkurang satu."

TEEE-TEEET.

Suara terompet kecil dari arah panggung utama berbunyi, menandakan acara inti akan segera dimulai. Lampu ballroom mendadak meredup, menyisakan dua sorot lampu spotlight yang mengarah langsung ke pintu jati besar di ujung ruangan.

Cklek.

Pintu terbuka lebar. Atmosfer di dalam ballroom seketika senyap sebelum akhirnya meledak oleh gemuruh tepuk tangan dan decak kagum yang luar biasa.

Danny Atonio melangkah masuk dengan sangat gagah, mengenakan tuksedo hitamnya yang sempurna. Dan di sebelah lengannya, melingkar jemari lentik Aletha Adinata yang tampil luar biasa memesona dengan ballgown maroon miliknya. Kilau berlian di leher dan jemarinya memantulkan cahaya lampu, membuat penampilannya malam itu benar-benar mengintimidasi siapa saja yang berniat memandangnya sebelah mata. Senyum tipis yang penuh percaya diri terukir di wajah cantik Aletha, namun kali ini, ada binar ketulusan yang ikut terpancar dari matanya.

Mereka berjalan beriringan di atas karpet merah menuju panggung utama. Setiap langkah kaki mereka diiringi oleh jepretan kamera dari ratusan fotografer media yang berjejer di area pembatas.

Begitu tiba di atas panggung, pembawa acara langsung menyerahkan mikrofon kepada Danny. Pria jangkung itu memosisikan dirinya di tengah panggung, satu tangannya merangkul pinggang Aletha, sementara tangan lainnya memegang mikrofon. Aura berkuasa sang CEO langsung membungkam seluruh ruangan dalam hitungan detik.

"Selamat malam, para tamu undangan, rekan bisnis, dan rekan-rekan media yang saya hormati," buka Danny, suara baritonnya yang berat dan dalam menggema berwibawa melalui pengeras suara.

"Malam ini, di hadapan orang tua kami, keluarga besar, serta sahabat-sahabat terdekat, saya, Danny Atonio Dirgantara, secara resmi mengumumkan pertunangan saya dengan wanita di sebelah saya, Aletha Adinata."

Gemuruh tepuk tangan kembali pecah. Danny menoleh ke arah Aletha, menatap lekat mata gadis itu dengan sorot mata elang yang tidak lagi dingin, melainkan sarat akan janji perlindungan yang mutlak.

"Banyak spekulasi di luar sana yang mengatakan bahwa hubungan kami adalah bentuk dari ekspansi bisnis atau perjodohan," lanjut Danny, bibirnya membentuk seringai tipis yang menawan ke arah barisan wartawan. "Saya tegaskan di sini, malam ini... itu semua salah. Aletha adalah pilihan hidup saya. Dia adalah satu-satunya wanita yang berhasil membuat saya mengerti bahwa ada hal yang jauh lebih berharga untuk dilindungi daripada sekadar angka-angka di laporan keuangan perusahaan."

Aletha sempat tertegun mendengar kalimat yang tidak ada di dalam draf kesepakatan kontrak mereka. Ia mendongak, menatap samping wajah tegas Danny. 'Sialan, akting si Danny ini beneran halus banget atau dia beneran tulus?' batin Aletha, dadanya berdesir hebat menahan debaran yang semakin tidak karuan.

Danny kemudian menurunkan mikrofonnya sedikit, lalu mengambil kotak beludru hitam yang dibawakan oleh Cassandra dari arah belakang. Cassandra tersenyum lebar, mengedipkan matanya genit ke arah Aletha.

Danny mengambil sebuah cincin emas putih dengan berlian maroon langka di tengahnya—cincin yang mereka pilih di mal tempo hari. Ia meraih tangan kanan Aletha, menatap lurus ke dalam manik mata gadis itu.

"Aletha Adinata, lewat cincin ini, di depan dunia yang menyukai drama ini... apakah kamu siap untuk berjalan di samping saya, melewati semua kegilaan di depan sana?" bisik Danny dengan nada rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, sengaja menggunakan bahasa santai mereka di atas panggung megah.

Aletha tersenyum anggun, sebuah senyuman pemenang yang sangat memikat. "Gue udah bilang kan, Dan... hidup sama gue gak bakal semenyedihkan itu. Jadi, pasang cincin itu sekarang sebelum gue berubah pikiran buat nyari CEO yang lebih kaya dari lo."

Danny terkekeh pelan, lalu menyematkan cincin mewah itu ke jari manis Aletha dengan perlahan. Setelah itu, Aletha berganti menyematkan cincin emas putih polos ke jari manis Danny. Begitu kedua cincin terpasang, Danny mengecup punggung tangan Aletha dengan khidmat di hadapan ribuan pasang mata.

Sesi tanya jawab dengan media pun dibuka di area depan panggung. Puluhan lampu jepretan kamera menyala bergantian layaknya kilatan petir di malam hari.

"Pak Danny! Saya dari Kompas Media! Apakah pernikahan ini akan dilaksanakan dalam waktu dekat? Dan bagaimana tanggapan Anda mengenai rumor bahwa pertunangan ini untuk menutupi isu persaingan bisnis antara Dirgantara Group dan Adinata Energy?" tanya seorang wartawan pria dengan menggebu-gebu.

Danny memegang mikrofonnya kembali, wajahnya kembali datar namun tegas. "Pernikahan akan digelar dalam waktu tiga bulan ke depan. Dan mengenai isu persaingan bisnis... saya rasa Anda terlalu banyak menonton drama. Mulai malam ini, Adinata Energy dan Dirgantara Group adalah satu keluarga. Siapa pun yang berani mengusik keluarga Adinata, itu artinya mereka sedang menantang Dirgantara Group."

Jawaban tegas dan penuh ancaman tersirat dari Danny itu langsung membuat ruangan mendadak senyap. Para pebisnis di barisan belakang langsung menelan ludah—mereka tahu, Danny Antonio tidak pernah main-main dengan ucapannya.

Di sela-sela kilatan cahaya media yang terus membombardir panggung, Danny diam-diam merapatkan tubuhnya ke arah Aletha, membisikkan sesuatu tepat di telinga gadis itu.

"Tim gue udah mulai bergerak di Eropa buat buka berkas kasus kecelakaan nyokap lo, Tha. Gue bakal cari tahu siapa bajingan yang udah bikin lo pakai baju hitam selama dua tahun ini."

Aletha tersentak kecil, matanya melebar menatap Danny yang kini sedang kembali tersenyum formal ke arah kamera jurnalis. Rasa haru dan aman yang luar biasa pekat mendadak membungkus hati Aletha yang selama ini gersang.

Gadis itu mempererat gandengan tangannya di lengan kekar Danny, menyandarkan bahunya sedikit pada pria tegap di sebelahnya. Panggung sandiwara ini mungkin berawal dari sebuah kebohongan dan taruhan konyol di kampus, namun malam ini, di bawah kilatan cahaya seluruh Jakarta, Aletha tahu... dia telah menemukan tempat pulang yang sesungguhnya di dalam perlindungan sang penguasa bisnis. Permainan catur ini baru saja dimulai, dan mereka siap memenangkannya bersama.

1
azrinasarah
LANJUTT PLUSSS😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!