NovelToon NovelToon
Kanvas Di Balik Baluwarti

Kanvas Di Balik Baluwarti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi / Kerajaan
Popularitas:996
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebelum Badai Mengetuk Pintu

Di saat dinding-dinding keraton bergetar oleh amarah Ibu Suri dan rencana gelap Nastiti, kedamaian semu masih menyelimuti toko “Warna Sekar”. Bagi Sekar, dunia tetaplah sebatas kanvas, senyum anak-anak didik, dan aroma tanah basah setelah hujan. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa pria yang sering singgah dan mencicipi masakan sederhananya adalah matahari bagi negeri ini—puncak tertinggi dari hirarki yang kini tengah mengincarnya.

Malam itu, Arya datang dengan beban yang tampak lebih nyata di pundaknya. Jubah penyamarannya basah oleh embun, dan matanya memancarkan kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan lagi.

Sekar menyambutnya seperti biasa, dengan secangkir wedang jahe hangat dan senyum yang mampu meruntuhkan dinding kegundahan hati Arya. Namun, kali ini Arya tidak langsung duduk. Ia menatap Sekar cukup lama, seolah sedang merekam setiap inci wajah itu ke dalam memorinya sebagai bekal untuk menghadapi pertempuran esok hari.

“Sekar,” panggil Arya, suaranya rendah dan sarat akan emosi. “Jika suatu saat dunia berubah menjadi tempat yang sangat asing bagimu… jika orang-orang yang tidak kau kenal mulai menghujatmu, berjanjilah bahwa kau akan tetap menjadi Sekar yang kukenal sekarang.”

Sekar mengerutkan kening, meletakkan cangkir jahe itu di atas meja. “Kenapa Mas bicara seolah-olah akan ada badai besar yang akan datang? Hidup saya memang kecil, Mas, tapi saya tidak takut pada perubahan selama hati saya tetap tenang.”

Arya meraih tangan Sekar, menggenggamnya erat. “Badai itu mungkin akan segera mengetuk pintumu, Sekar. Dan aku ingin kau tahu, bahwa aku akan melakukan apa pun untuk menjadi payung bagimu.”

Arya menarik napas panjang, lalu mengajukan pertanyaan yang telah ia simpan sejak pertemuannya dengan Ibu Suri. Pertanyaan yang akan menjadi pondasi bagi keputusannya di depan dewan adat nanti.

“Sekar… menurutmu, apa arti sebuah pernikahan bagi seorang wanita seperti dirimu? Apakah itu tentang penyatuan dua nama, atau tentang suatu yang lain?”

Sekar terdiam sejenak. Ia menatap ke arah kebun melatinya yang gelap di luar jendela. Keanggunannya terpancar saat ia mulai berbicara dengan nada yang tenang namun dalam.

“Bagi saya, Mas… pernikahan adalah tentang dua orang yang sepakat untuk menjadi ‘rumah’ bagi satu sama lain. Sebuah tempat di mana kita bisa melepas semua topeng dan beban dunia, lalu duduk bersama sambil berbagi secangkir teh tanpa perlu merasa dihakimi atau tidak nyaman.”

Sekar menatap mata Arya dengan kejujuran yang menggetarkan. “Pernikahan adalah janji untuk saling menjaga warna di dalam jiwa masing-masing agar tidak pudar oleh waktu. Tidak peduli apakah mereka tinggal di gubuk atau di istana, jika tidak ada ketulusan di sana, maka itu hanyalah sebuah penjara yang indah.”

Jawaban Sekar menghantam Arya tepat di relung jiwanya. Ia menyadari bahwa Nastiti menawarkan “takhta” sementara Sekar menawarkan “rumah”. Di tengah desakan Ibu Suri yang mengagungkan tradisi, kata-kata Sekar memberinya kekuatan baru untuk melawan.

“Rumah,” bisik Arya pelan. “Ya, aku baru saja menemukan rumahku.”

Arya mendekat, menyentuh kening Sekar dengan lembut. “Terima kasih, Sekar. Kamu baru saja memberiku senjata yang paling ampuh untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi besok.”

Sekar tersenyum bingung, belum mengerti makna di balik kata-kata “Mas Arya”. Ia hanya merasakan kehangatan yang tulus dari pria itu. Ia tidak tahu dalam waktu dekat, ia harus membuktikan kata-katanya sendiri tentang “menjaga warna jiwa” saat seluruh keraton mencoba mengubahnya menjadi abu-abu.

Malam itu berakhir dengan keheningan yang syahdu, sementara di kejauhan, petir mulai menyambar di atas atap keraton—pertanda bahwa badai yang di ramalkan Arya telah mulai bergerak menuju toko kecil yang harum melati itu.

Racun di Balik Senyum Pualam

Pagi itu, langit di atas Baluwarti tampak mendung, seolah turut merasakan ketegangan yang merayap. Sekar sedang merapikan dagangannya ketika sebuah kereta kuda mewah dengan ukiran teratai perak berhenti tepat di depan tokonya. Pintu kereta terbuka, dan sosok Raden Ajeng Nastiti melangkah turun dengan keanggunan yang terasa tajam dan mengancam.

Nastiti masuk ke dalam toko “Warna Sekar” dengan sapu tangan sutra menutupi hidungnya, seolah aroma melati dan cat minyak di sana adalah polusi bagi pernapasannya.

“Jadi, ini ‘permata’ yang diceritakan orang-orang?” Suara Nastiti memecah kesunyian, dingin dan penuh penghinaan.

Sekar membungkuk hormat, instingnya mengatakan bahwa wanita di depannya bukan sekedar pengunjung biasa. “Sugeng enjang, Raden Ajeng. Ada yang bisa saya bantu?”

Nastiti berjalan mengelilingi toko, jemarinya yang mengenakan cincin berlian menyentuh lukisan-lukisan Sekar dengan rasa jiji. “Jangan berpura-pura naif, gadis desa. Aku tahu siapa yang sering menyelinap ke sini tiap malam. Pria yang kau sebut ‘Mas Arya’ itu… dia bukan milikmu. Dia adalah matahari Amarta, Gusti Prabu Arya Wijaya. Dan aku adalah calon Permaisurinya.”

Dunia Sekar seakan runtuh. Nama “Arya Wijaya” menghantam jantungnya seperti petir. Pria yang memuji masakannya, yang membantunya mengangkat beras, yang berbicara tentang “rumah”… ternyata adalah Sang Penguasa Takhta.

“Gusti Prabu…?” Bisik Sekar, wajahnya seketika pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat saat kenyataan pahit itu meresap ke dalam kesadarannya.

Nastiti mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Sekar. “Kau hanyalah kerikil di jalan menuju singgasanaku. Jika kau tidak segera menghilang dari kota ini, jangan salahkan nasibmu berakhir seperti bunga yang diinjak di lumpur.”

Nastiti memberikan isyarat kecil dengan tangannya saat ia berbalik menuju kereta. Begitu kereta itu mulai bergerak menjauh, dua pria bertubuh kekar dengan wajah tertutup kain muncul dari balik bayang-bayang rumah tetangga. Di tangan mereka, kilatan belati perak mencuat, siap menghujam dada Sekar yang masih terpaku dalam kenyataan yang mengguncangnya.

Salah satu pria itu melompat maju, mengarahkan senjatanya ke leher Sekar. Sekar hanya bisa memejamkan mata, memasrahkan nyawanya pada takdir yang baru saja ia ketahui begitu kejam.

Tring!

Bunyi logam beradu memekakkan telinga. Sekar membuka mata dan melihat sebuah keris hitam telah menangkis belati si pembunuh. Dua pria berpakaian hitam polos—Seno dan salah satu pengawal Jagabaya Sandi—muncul secepat kilat dari atap toko,

“Sentuh dia, dan kalian akan tahu bagaimana rasanya neraka di bumi!” Geram Seno.

Pertarungan singkat namun mematikan terjadi di halaman toko. Orang-orang bayaran Nastiti bukanlah tandingan bagi pasukan elit pilihan Arya. Dalam hitungan detik, kedua pembunuh itu berhasil dilumpuhkan dan diseret kedalam kegelapan sebelum penduduk pasar menyadarinya.

Seno berlutut dihadapan Sekar yang masih terduduk lemas di lantai kayu. “Nimas Sekar, jangan takut. Kami diperintah langsung oleh Gusti Prabu untuk menjagamu. Beliau sudah mengantisipasi bahwa keselamatanmu akan terancam.”

Sekar menatap Seno dengan mata yang berkaca-kaca. “Jadi benar… dia adalah sang Raja?”

Seno mengangguk pelan. “Benar, Nimas. Namun bagi beliau, Nimas adalah satu-satunya alasan kenapa takhta itu masih layak untuk dipertahankan.”

Sekar menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah. Ia merasa dikhianati oleh sebuah rahasia besar, namun di saat yang sama, ia menyadari betapa besarnya cinta Arya hingga pria itu menempatkan orang terbaik keraton untuk melindunginya.

Di kejauhan, Nastiti yang melihat kegagalan rencananya dari balik tirai kereta, mengepalkan tinjunya hingga kukunya melukai telapak tangannya. Ia menyadari bahwa Arya tidak hanya mencintai Sekar dengan hati, tetapi juga dengan kekuatan penuh miliknya. Badai kini telah benar-benar pecah, dan Sekar Arum, meski terguncang, kini tahu bahwa ia bukan lagi sekedar pelukis biasa—ia adalah jantung dari sebuah revolusi yang tengah diperjuangkan oleh sang Raja.

1
Ganendra Dimitri
bagus banget thor ceritanya
NP: Makasih ya kak
total 1 replies
Ganendra Dimitri
ceritanya menyentuh banget thor.... kapan negriku punya pemimpin kayak di cerita ini😍😍
NP: Semoga ya kak, suatu saat nanti ada pemimpin negeri yg lebih mencintai rakyatnya
total 1 replies
Esti 523
sepertinya bagus nih
NP: Semoga suka ya kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!