NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Samudera

Pendekar Pedang Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?

"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."

Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 : DIALAH KAKAKKU

Di atas dek kapal hitam, kepercayaan diri mengalir seperti udara, ada di mana-mana dan tidak ada yang mempertanyakannya.

Kapten Kapal Hitam berdiri di dek kemudi dengan tangan di belakang punggungnya, menatap kapal Long Yuan yang berputar ke arahnya, menonton benda kecil bergerak di kejauhan. Kapalnya tiga kali lebih panjang, dua kali lebih lebar, dan di sisi kanan dan kirinya moncong-moncong meriam tersusun dalam dua lapis yang membuat sisi kapal itu terlihat seperti rahang yang menunggu waktu yang tepat untuk menutup.

"Mereka mendekat," kata seorang perwira di sebelahnya.

"Aku bisa melihat itu sendiri." Kapten itu tidak mengubah posisinya. "Long Yuan tidak punya angkatan laut yang berarti. Kekaisaran terkuat di daratan Shenzhou, tapi di laut mereka tidak lebih dari pedagang yang belajar berlayar. Kapal itu hasil perbaikan darurat. Lihat bekas tambalan di lambungnya."

Perwira itu pun mengangguk setelah menarik keluar teropongnya untuk mengamati.

Kendati Long Yuan memang kekaisaran yang paling modern dan paling ditakuti di Shenzhou, semua reputasi itu dibangun di atas tanah, di antara gunung-gunung dan dataran yang membentang dari timur ke barat. Laut bukan ranah yang pernah menjadi prioritas mereka, dan itu terlihat dari cara kapal mereka bergerak, dari cara krunya berdiri, dari cara keputusan-keputusan taktis mereka selalu setengah detik lebih lambat dari yang seharusnya.

"Mereka mendekat sangat tajam," kata perwira itu lagi, kali ini dengan nada yang sedikit berbeda.

Kapten itu akhirnya meluruskan punggungnya. Kapal Long Yuan itu memang mendekat dengan sudut yang tidak seperti manuver defensif. Lebih seperti manuver serangan. "Putar kapal. Perlihatkan sisi kanan. Beri mereka semua meriam kita sekaligus."

Roda kemudi pun berputar. Kapal hitam itu mulai berputar.

Dan malah berhenti karena sesuatu yang tidak ada dalam pengalaman siapa pun di atas kapal itu. Getaran yang naik dari bawah lunas kapal, diikuti suara sesuatu yang sangat dingin sedang menggenggam sesuatu yang sangat besar dan tidak berniat melepaskannya.

"K-kapten." Suara dari bawah dek, naik melalui tangga dengan cepat. "Bagian bawah kapal kita... membeku."

Tak lama kemudian, Qinghan terlihat sedang berlari di atas permukaan laut.

Setiap langkah kakinya menyentuh air dan air itu menjadi es sebelum kakinya terangkat lagi, menciptakan jejak-jejak putih yang langsung retak dan tenggelam sesudahnya, tapi cukup padat untuk sepersekian detik yang dibutuhkan untuk mengalihkan berat tubuhnya ke langkah berikutnya. Caranya berlari di atas air menyerupai seseorang yang berjalan di atas batu-batu sungai yang tersembunyi, kecuali bahwa batu-batu itu adalah batu-batu yang dia ciptakan sendiri.

Sampailah Panglima Perang Long Yuan di lambung kapal hitam itu dalam waktu yang terlalu singkat untuk semua orang yang menyaksikannya sempat memproses apa yang sedang terjadi. Dia melompat, tangannya menangkap tonjolan baja di sisi lambung, dan dalam dua gerakan berikutnya sudah ada di atas dek.

Puluhan orang di dek itu jelas, langsung menghadapnya, sampai Qinghan mengangkat kedua tangannya.

Tombak-tombak es pun seketika muncul dari udara di sekelilingnya, belasan sekaligus, panjang dan runcing dengan ujung yang terlalu jernih untuk terlihat seperti sesuatu yang bisa dihentikan oleh tubuh manusia. Mereka melesat ke depan dalam waktu yang bersamaan, dan ketika semuanya selesai, dek itu memiliki dua belas orang lebih sedikit dari tadi.

Sementara sisanya mundur dengan tatapan ngeri ke genangan darah rekan-rekannya yang tewas.

Sedangkan Kapten Kapal Hitam akhirnya maju.

“Dasar Jalang! Kau akan menyesali perbuatanmu!” serunya sampai melotot.

Senjatanya adalah kapak bermata dua yang ukurannya menunjukkan bahwa penggunanya bukan orang yang terbiasa berhemat tenaga. Qi-nya memancar keluar dalam gelombang yang cukup untuk membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat. Tingkat enam, mungkin mendekati tujuh. Cukup untuk membuat hampir semua orang di lautan ini berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk bertarung dengannya.

Tapi Qinghan menunggunya dengan tangan di sisi tubuhnya.

Lalu saat kapak itu turun, Qinghan segera melangkah ke samping, es pun terbentuk di pergelangan tangannya, dan tangkisan yang menyusul mengirimkan kapak itu terpental ke atas. Kapten itu membalas dengan berputar melayangkan serangan horizontal, memaksa Qinghan mundur satu langkah dan es berbentuk perisai muncul di lengan kirinya untuk menahan momentum serangan itu. Hingga kapak itu membentur es samai retak meski tidak sampai ke kulit, Kapten itu menyerang lagi... dan lagi.

Pertarungan itu berlangsung dengan intensitas yang menunjukkan bahwa kapten itu adalah lawan yang sesungguhnya, setiap serangannya diperhitungkan, setiap celah dimanfaatkan. Tapi setiap serangan yang terasa hampir mengenai selalu berakhir setengah inci dari targetnya, dan setiap serangan balasan dari Qinghan mendarat dengan presisi yang tidak memberi ruang untuk kesalahan di sisi yang menerimanya.

Alhasil, kapak itu akhirnya jatuh ke dek.

Diikuti Sang Kapten Kapal Hitam yang berlutut dengan tangan Qinghan di bahunya, es melingkupi pergelangan tangannya dari belakang, dan ekspresinya adalah ekspresi seseorang yang sudah cukup lama menjadi kapten untuk tahu kapan pertarungan sudah selesai.

"Hentikan," katanya kepada krunya. "Turunkan senjata."

Qinghan melepaskan tangannya dan berdiri tegak. Di dek kapal Long Yuan yang kini sudah berjejer di sisi kapal hitam, para kru mulai merambat naik. Qinghan ketara sekali tidak berkeringat. Rambutnya sedikit berantakan karena angin laut, tapi selain itu tidak ada tanda fisik yang menunjukkan bahwa dia baru saja berlari di atas air dan melawan kapten bajak laut beserta pasukannya seorang diri.

Tak lama kemudian, Haifeng naik ke dek kapal hitam dengan kompas Dao di satu tangan dan ekspresi seseorang yang sedang memikirkan banyak hal sekaligus.

Dia berdiri di depan kapten yang masih berlutut seperti seseorang yang sudah memutuskan apa yang akan dilakukannya sebelum pertarungan selesai dan sekarang tinggal mengeksekusinya.

"Aku akan membiarkan kalian pergi," katanya. Cukup untuk didengar oleh semua orang di dek itu yang memang sedang mendengarkan. "Tapi dengan syarat. Serahkan semua senjata kalian. Lalu perbekalan kalian akan dibagi setengahnya untuk kami ambil. Dan yang terakhir, semua perlengkapan navigasi dan peta yang kalian miliki harus diserahkan." Pemuda itu berhenti sebentar. "Oh ya, ada satu lagi, informasi. Apa yang kalian ketahui tentang perairan antara pulau ini dan arah timur laut sejauh tiga hari pelayaran."

Kapten itu lantas menatapnya. "Kau memberikan pilihan."

"Benar. Aku memberikan dua jam setelah semuanya selesai. Setelah dua jam itu, kalian pergi ke arah mana pun yang kalian mau dan kami tidak akan mengejar."

Proses pengumpulan berlangsung lebih cepat dari yang biasanya mungkin karena tidak ada pihak yang ingin memperlambatnya. Senjata-senjata ditumpuk, peta-peta diambil, perbekalan dipindahkan dengan ember dan tali dalam ritme yang sudah teratur karena keduanya ingin itu cepat selesai. Kapten itu pun menjawab pertanyaan navigasi Haifeng dengan singkat tapi cukup, karena orang yang sudah kalah dan diberi pilihan untuk pergi biasanya memilih untuk tidak mempersulit kepergian mereka sendiri.

Tepat dua jam setelah semua syarat terpenuhi, kapal hitam itu mulai bergerak.

Haifeng duduk di dek kemudi kapal mereka sendiri, meletakkan kompas Dao-nya di samping, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa jam, pemuda itu dapat mengambil napas yang tidak harus digunakan untuk mengurus sesuatu.

Kemudian terdengar suara dari kejauhan.

Jelas sekali itu suara kayu yang kehilangan argumennya melawan sesuatu yang lebih keras, diikuti oleh suara air yang masuk ke tempat yang tidak dipersiapkan untuk air, diikuti oleh teriakan yang semakin menjauh karena sumbernya semakin turun.

Haifeng segera berdiri untuk melihat cakrawala. Melihat bagaimana kapal hitam itu turun ke dalam air dengan cara yang paling buruk.

Dan di sekitar lambungnya, sangat jelas bahkan dari jarak ini, warna putih yang terlalu familiar. Naga Es raksasa.

Lantas Haifeng berbalik.

Qinghan sedang duduk di bangku di sisi dek dengan belati kecil di satu tangan dan apel di tangan lainnya, mengupas kulitnya dengan tenang untuk seseorang yang baru saja mengirim naga es ke kapal yang sudah sepakat dibiarkan pergi.

"Kak." Haifeng mendekatinya. "Itu tidak—"

"Manusiawi?" Qinghan mengalihkan tatapannya dari apel sebentar. "Mereka sudah mencoba membunuh adikku."

"Mereka sudah menyerah. Aku sudah memberi mereka syarat dan mereka memenuhinya."

"Aku tidak memberi mereka syarat apa pun."

"Kakak!"

Qinghan menggigit potongan apelnya dan mengunyah dengan tenang. "Haifeng." Suaranya tidak berubah nada selain malas. "Siapa pun yang mengangkat tangan untuk menyakitimu, aku tidak akan biarkan mereka pergi dengan dua tangan yang sama." Matanya kembali ke apelnya. "Biasakanlah mulai sekarang, mengerti?"

Haifeng hanya bisa menatap kakaknya. Menatap apel itu. Menatap punggung kakaknya yang sudah berbalik dengan sangat penuh keyakinan bahwa percakapan itu sudah selesai.

1
Ilham Akbar
Mantap thor, apalagi kalo cerita ini sampai finish💪👍
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Ilham Akbar
Mampus lu,, dasar betina rakus🤭
DanaBrekker: /Smirk/
total 1 replies
GFR31
top 👍
DanaBrekker: terima kasih. sangat disarankan juga buat ikutin kisah Ji Zhen di novelku yang berjudul Lahirnya Kultivator Naga Keabadian 🙏
total 1 replies
DanaBrekker
Selamat datang di karya baru author semoga kalian suka.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Bisa terus kasih dukungan demi kelanjutan karya-karya author, dan kalau tidak suka jangan dipaksa 🤭🙏🤣
DanaBrekker: semoga cocok 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!