"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.
Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"
"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"
"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."
Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.
Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Langkah kaki Amieyara Walker yang teratur di atas lantai pualam koridor Fakultas Hukum mengaburkan gemuruh amarah yang sedang bergolak hebat di dalam dadanya.
Di balik kacamata berbingkai tipis itu, sepasang matanya menatap lurus ke depan, mengabaikan setiap pasang mata mahasiswa yang menatapnya dengan pandangan menjijikkan seolah-olah dia adalah seonggok rongsokan moral yang baru saja dipamerkan di etalase UKS.
Yara mempercepat langkahnya menuju area parkir khusus dosen di sisi barat gedung. Tangannya merosot ke dalam saku blazer, dan jemarinya merasakan logam dingin yang familier—kunci mobil sedan miliknya.
Setelah sempat panik karena mengira benda itu hilang dan dia akhirnya menemukan kunci itu terselip di kompartemen rahasia tas kerjanya.
Tujuannya siang ini sudah bulat. Dia harus segera meninggalkan area kampus sebelum gosip menjijikkan ini bertransformasi menjadi keributan fisik. Dia akan pergi ke apartemen pribadinya terlebih dahulu untuk membersihkan diri dan menata kembali emosinya yang porak-poranda.
Setelah itu, barulah dia akan mendatangi penthouse mewah milik si bocah birahi, Maximilian Valerio, untuk menuntut balas atas kelancangan bibir pemuda itu yang telah menyeret namanya ke dalam skandal paling memuakkan abad ini.
Yara menekan tombol unlock pada kunci elektroniknya. Mobil sedan hitamnya merespons dengan kedipan lampu pendek.
Namun, baru saja jemari Yara menyentuh gagang pintu mobil, ponsel pintar di dalam tasnya bergetar konstan, menampilkan sebuah nama kontak yang seketika membuat perutnya mual karena rasa muak yang tak tertahankan.
"Father"
Yara menatap layar datar itu selama beberapa detik dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Sebuah senyuman sinis tanpa suara terukir di bibirnya yang masih sedikit mati rasa akibat ciuman brutal Max tadi.
Dia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya, bersiap memasang topeng kepatuhan fiktif yang biasa dia gunakan.
"Ya, Ayah? Selamat siang," sapa Yara, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar tenang, datar, dan patuh, tanpa menyisakan riak kecurigaan sedikit pun.
"Yara, anakku sayang," suara bariton di seberang telepon terdengar begitu hangat, penuh dengan intonasi kebapakan yang sangat manipulatif—suara yang dulu selalu Yara puja, namun kini terdengar tak lebih dari desis ular beludak yang siap menyuntikkan racun.
"Ayah baru saja pulang ke mansion dan pelayan mengatakan kau tidak pulang sejak semalam. Kenapa kau tinggal sendiri di luar, hm? Mansion terasa sangat sepi dan tidak ada kehangatan kalau tidak ada dirimu di sini, Sayang. Kembalilah ke rumah, kita bisa membicarakan kelanjutan kariermu dengan David secara baik-baik."
CUIH.
Yara benar-benar ingin meludah ke atas aspal parkiran mendengar untaian kalimat suci yang keluar dari mulut pria munafik itu.
Mansion sepi? Kehangatan? Pria tua bangka itu hanya sedang panik karena kehilangan salah satu 'aset pertukaran' berharganya untuk memuluskan kerja sama bisnis ilegalnya. Dia merindukan Yara bukan karena kasih sayang seorang ayah, melainkan karena dia takut Yara melarikan diri dari skema prostitusi terselubung yang telah dia rancang bersama bersama.
Namun, Yara adalah seorang lulusan terbaik hukum yang tahu kapan harus menyerang dan kapan harus bertahan. Dia memilih untuk bermain aman sebelum ayahnya menyadari bahwa seluruh kedok busuknya telah telanjang bulat di mata Yara.
"Aku hanya ingin mencari suasana baru untuk fokus menyusun silabus materi semester depan, Ayah," jawab Yara dengan nada suara yang dibuat sedikit manja namun tetap profesional. "Apartemen lamaku dekat dengan kampus, jadi aku tidak perlu membuang waktu di jalanan Los Angeles yang macet. Ayah tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja di sini."
"Ah, begitu rupanya... kau memang anak Ayah yang paling berdedikasi," suara di seberang sana terdengar sedikit lega, meskipun nada menyelidik masih tersisa. "Baiklah, istirahatlah yang cukup. Tapi ingat, jangan putus komunikasi dengan David. Dia masih suamimu yang sah di mata hukum."
"Tentu, Ayah. Aku mengerti," ucap Yara dingin sebelum memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Begitu panggilan terputus, Yara mencengkeram kemudi mobilnya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya mendidih, namun sedetik kemudian sebuah senyuman penuh kemenangan yang dingin muncul di wajah cantiknya.
Pria tua itu tidak pernah tahu bahwa semalam, sebelum Yara melangkah keluar dari mansion terkutuk itu, dia telah menyalin seluruh rekaman CCTV tersembunyi yang dia temukan di balik cermin wastafel, mengamankan dokumen transaksi keuangan ilegal ayahnya, serta rekaman suara konspirasi pembagian aset.
Semua bukti itu telah dia serahkan pagi-pagi sekali kepada tim hukum independen di luar sirkel keluarganya.
Hari Senin depan, kasus pelanggaran privasi tingkat berat, pemerasan, dan konspirasi korporat itu akan resmi dinaikkan ke meja hijau. Yara sudah tidak sabar untuk menyaksikan bagaimana wajah angkuh ayahnya dan ibu tirinya hancur berkeping-keping di pengadilan.
Sementara itu, di dalam area ruang loker Fakultas Bisnis yang mulai lengang karena jam istirahat hampir usai, Maximilian Valerio berdiri bersandar pada salah satu loker besi.
Sepasang matanya menatap kosong ke arah deretan sepatu di lantai, namun pikirannya masih tertancap kuat pada untaian kalimat yang dilontarkan oleh Demon dan Carter di UKS tadi.
Penyakit? Gadis panggilan?
Kata-kata itu berputar di dalam otaknya laksana kaset rusak yang menjengkelkan. Max mendengus pelan, sebuah kerutan halus muncul di keningnya yang tertutup beberapa helai rambut acak-acakan. "Itu benar-benar terdengar seperti rumor murahan yang dibuat oleh orang-orang yang tidak punya kerjaan," gumam Max dengan suara bariton yang sangat rendah.
Max tahu betul bagaimana membedakan respon tubuh seorang wanita yang sudah terbiasa menjual dirinya dengan wanita yang masih menjaga kehormatannya.
Ciuman Yara di UKS tadi—meskipun wanita itu mencoba menutupinya dengan tatapan dingin—terasa begitu kaku, canggung, dan dipenuhi oleh keraguan yang polos.
Tidak ada teknik manipulatif, tidak ada nafsu liar yang biasa dipamerkan oleh para wanita penghibur kelas atas yang pernah dia temui di kelab malam. Yara adalah wanita yang rapuh, terluka, namun memiliki ego yang luar biasa kokoh untuk melindungi dirinya dari dunia luar yang kejam.
"Ada yang tidak beres dengan semua gosip di kampus ini," batin Max.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sudut lain Fakultas Bisnis, tepatnya di dalam ruang tunggu mahasiswa lantai tiga yang menghadap langsung ke arah pelataran parkir utama, suasana hati Cinmocha Walker.
Caca sedang berada di titik nadir. Wajah cantiknya yang biasa dipenuhi oleh senyuman manja kini tampak distorsi oleh rasa kesal dan amarah yang teramat sangat pekat.
Ponsel di genggamannya bergetar, menampilkan foto buram yang sedang menjadi perbincangan hangat di seluruh forum kampus—foto di mana kakak tirinya, Amieyara Walker, sedang dipeluk posesif dan dicium oleh Maximilian Valerio di atas ranjang UKS.
"Bisa-bisanya... bisa-bisanya pelacur sialan itu mendapatkan Maximilian Valerio?!" desis Caca dengan suara yang bergetar hebat karena menahan amarah yang mendera dadanya. Buku-buku jarinya menekan layar ponsel hingga memutih.
Bagi Caca, nama keluarga Valerio bukanlah sekadar nama asing yang lewat di majalah bisnis. Keluarga Valerio adalah definisi dari sebuah dinasti kaya raya turun-temurun yang kekuasaan dan asetnya tersebar di seluruh penjuru kota Los Angeles hingga ke pantai timur.
Mereka adalah aristokrat modern yang sirkel pertemanannya tidak bisa ditembus oleh sembarang orang kaya baru, termasuk keluarga Walker.
Ingatan Caca seketika terlempar kembali pada masa-masa mereka di high school dulu.
Caca tahu betul betapa sulitnya dia hanya untuk sekadar mendekati Emmeline Valerio—adik perempuan kembar dari Maximilian.
Semasa sekolah menengah atas, Emmeline adalah sosok nomor satu, ratu bully yang paling ditakuti sekaligus dipuja di seluruh sekolah. Pembawaannya yang angkuh, kejam, dan dominan membuat siapa pun harus berlutut jika ingin bertahan di lingkaran sosialnya.
Caca mengingat dengan jelas bagaimana rendahnya harga diri yang harus dia pertaruhkan dulu demi bisa masuk ke dalam lingkaran pertemanan Emmeline.
Dia rela menjadi pesuruh, membawakan tas, membelikan minuman, bahkan ikut membantu skema perundungan yang dirancang oleh Emmeline hanya agar dia bisa mendapatkan akses untuk melihat Maximilian Valerio dari dekat.
Berbeda dengan Emmeline yang urakan dan meledak-ledak, Maximilian di masa high school adalah sosok pria yang diam, dingin, sangat berwibawa, dan memancarkan aura ketampanan yang teramat sulit digapai.
Pemuda itu adalah cinta sepihak Caca sejak mereka masih remaja—sebuah obsesi rahasia yang dia simpan rapat-rapat di dalam lubang hatinya.
Caca tahu betul bahwa Maximilian baru saja pindah dan berkuliah di kampus ini sejak seminggu yang lalu di Fakultas Bisnis.
Berada di fakultas yang sama membuat Caca merasa sangat dekat dengan dunia Max, namun realitanya, pemuda itu tetaplah sosok yang tidak bisa digapai oleh jemarinya.
Selama seminggu ini, Caca hanya bisa menikmati wajah sempurna Maximilian dari kejauhan, menatap siluet tegapnya di antara kerumunan mahasiswa tanpa pernah memiliki keberanian untuk melangkah maju dan menyapa.
Dan sekarang... melihat rumor bahwa Maximilian meniduri anak haram di keluarganya dengan begitu mudah di UKS, membuat amarah di dada Caca membakar seluruh warasnya. Tubuhnya bergetar hebat karena rasa cemburu yang luar biasa gila.
"Dia hanya anak haram! Wanita murahan yang sudah dibuang oleh David Joseph! Kenapa harus dia yang disentuh oleh Max?!" teriak Caca tertahan di dalam hatinya, matanya memerah menahan air mata frustrasi.
Caca menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gemuruh di dadanya. Pemikiran otaknya perlahan beralih pada sosok Emmeline Valerio.
Setahunya, kembaran Maximilian yang kejam itu saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Kedokteran—sebuah gedung fakultas yang letaknya cukup jauh di ujung utara kompleks universitas ini. Entah bagaimana kabar si ratu bully itu sekarang setelah Dua tahun tidak bertemu.
Sebuah seringai licik dan jahat perlahan muncul di bibir Caca di tengah rasa sakitnya. Jika Emmeline tahu bahwa saudara kembar yang sangat dia jaga reputasinya kini sedang diseret ke dalam lumpur skandal oleh seorang wanita yang dicap sebagai 'gadis panggilan kampus', Emmeline dipastikan tidak akan tinggal diam.
"Aku akan menemui Emmeline nanti siang setelah kelas selesai," gumam Caca dengan nada suara yang teramat sangat dingin, menatap tajam ke arah mobil sedan Yara yang perlahan mulai bergerak keluar dari area parkir kampus.
"Mari kita lihat seberapa lama kau bisa mempertahankan wajah angkuhmu itu setelah seluruh sirkel Valerio menghancurkan hidupmu, Yara."