Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.
Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.
Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.
Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
“Alhamdulillah,” lirihnya pelan. Lalu tanpa sadar, bibirnya bergerak. Ia bershalawat, sangat pelan, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. “Permisi, Bu.” Suara perawat memecah suasana.
Amira menoleh.
Perawat itu berdiri sedikit ragu, matanya sesekali melirik bayi yang masih tertidur di pelukan Amira. “Itu… bukan bayi Ibu.”
Amira berkedip pelan. “Bukan?”
Perawat mengangguk hati-hati, lalu melanjutkan, “Itu cucu Bu Nyai Salma. Baru lahir tiga hari lalu.”
Nama itu membuat Amira terdiam. Bu Nyai Salma. Baru saat itu kesadarannya benar-benar kembali seperti air dingin yang menyiram pelan-pelan.
Amira menatap bayi di pelukannya. Wajah kecil itu. Baju yang asing. Ruang yang bukan kamarnya. Dan perempuan paruh baya yang sejak tadi hanya diam memperhatikannya.
Pelan-pelan Amira menurunkan bayi itu dengan hati-hati, seolah takut membangunkannya. Tangannya bergetar sedikit. Astaghfirullah. Apa yang barusan ia lakukan? Wajah Amira langsung pucat. “Maaf…” suaranya hampir tak terdengar. “Saya… saya tidak tahu… saya kira…” Kata-katanya terputus. Ia menunduk dalam-dalam. “Maafkan saya, Bu Nyai… saya benar-benar tidak bermaksud lancang." Tangannya gemetar saat merapikan kain bayi itu, meski perawat sudah lebih dulu mengambil alih. “Maafkan saya…” ulangnya lagi, kali ini lebih pelan, lebih hancur.
Ruangan itu terasa sempit. Bukan karena marah. Tapi karena Amira baru saja sadar, dirinya terlalu terbawa sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan, naluri yang masih hidup di tubuhnya, meski hatinya baru saja kehilangan. Dan untuk pertama kalinya ia benar-benar merasa malu pada dirinya sendiri.
Ruangan itu masih terasa hangat oleh sisa tangis bayi yang baru saja reda.
Amira berdiri kaku di samping ranjang, kedua tangannya saling meremas, tidak tahu harus diletakkan di mana. Kepalanya masih menunduk sejak ia menyadari kesalahannya tadi.b“Maafkan saya, Bu Nyai…” ulangnya lagi, suaranya hampir hilang. “Saya benar-benar tidak sengaja…”
Perempuan paruh baya itu, yang tadi hanya diam, akhirnya melangkah mendekat. Tatapannya tidak marah. Justru lembut. “Sudah,” ucapnya pelan. “Tidak perlu terlalu menyalahkan diri.”
Amira mengangkat wajah sedikit, masih ragu.
Di saat itu, perawat yang berdiri di sisi ruangan menunduk hormat, lalu perlahan keluar memberi ruang.
Tinggal mereka bertiga di dalam ruangan itu.
Perempuan itu menatap Amira lebih lama sebelum akhirnya berkata, “Saya sudah dengar musibah yang menimpa panjenengan.”
Kalimat itu membuat dada Amira langsung mengencang. Amira menunduk lagi. Matanya mulai panas. “Iya…” jawabnya pelan.
Perempuan itu menghela napas kecil, lalu melanjutkan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah memberi kesabaran untuk panjenengan.”
Amira tidak mampu menjawab. Hanya anggukan kecil yang bisa ia berikan. Hening sebentar.
Sampai akhirnya perempuan itu berbicara lagi, kali ini lebih pelan namun tegas. “Panggil saya Umi Salma saja.”
Amira tertegun. “Umi…”
“Iya,” potongnya lembut. “Di sini, semua yang dekat dengan keluarga pesantren memanggil begitu.”
Amira mengangguk ragu. “Baik… Umi Salma.”
Umi Salma menatap bayi yang sudah tertidur di ranjang kecil itu, lalu kembali ke Amira. “Ada satu hal yang perlu saya sampaikan.” Nada suaranya berubah sedikit lebih serius.
Amira langsung menegang.
“Karena panjenengan tadi sudah menyusui cucu saya…” Kalimat itu menggantung di udara.
Amira menelan ludah.
Umi Salma melanjutkan, “Dalam keadaan seperti ini, ada konsekuensi yang harus dipahami.”
Jantung Amira langsung berdetak lebih cepat. “Konsekuensi… apa, Umi?”
Umi Salma menatapnya lurus. “Secara syariat, panjenengan sudah menjadi ibu susu untuk cucu saya.”
Kata-kata itu jatuh seperti batu di tengah ruangan. Amira membeku. “Ibu… susu?” ulangnya pelan, seolah tidak percaya.
Umi Salma mengangguk. “Betul. Dan itu bukan perkara kecil.”
Amira langsung merasa dadanya sesak. Bukan karena sakit fisik. Tapi karena ia baru saja menyentuh sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia pahami.
Ia mundur setengah langkah tanpa sadar. “Saya… saya tidak tahu…” suaranya gemetar. “Saya benar-benar tidak bermaksud…”
Umi Salma mengangkat tangan, menghentikan kalimat itu dengan lembut. “Saya tidak menuduh panjenengan.” Suasana kembali tenang. “Justru karena itu,” lanjut Umi Salma, “saya ingin panjenengan tetap berada di sisi bayi ini sementara waktu.”
Amira menatapnya kosong. Kalimat itu membuat dunia Amira terasa bergeser sedikit.
“Untuk cucu saya…” Umi Salma menatap bayi yang tertidur itu lagi, lalu berkata pelan, “Anak itu menerima jenengan.” Umi Salma menarik napas pelan sebelum kembali berbicara. Suaranya kali ini lebih rendah, seolah setiap kata yang keluar membawa beban yang sudah ia tahan sejak beberapa hari terakhir. “Panjenengan belum tahu semuanya,” ucapnya.
Amira menatapnya, masih berdiri kaku di tempat yang sama.
Umi Salma mengalihkan pandangannya ke arah bayi yang tertidur tenang di ranjang kecil itu. Wajahnya lembut, tapi di baliknya ada kelelahan yang tidak bisa disembunyikan. “Menantu saya…” ia berhenti sebentar, menelan sesuatu yang sulit diucapkan. “Wafat tiga hari lalu.”
Jantung Amira seperti diremas pelan.
“Setelah melahirkan bayi itu.”
Nama itu belum disebut, tapi Amira sudah bisa menebaknya. Bayi yang tadi ia gendong.
“Namanya Habibi,” lanjut Umi Salma. Suaranya sedikit bergetar di bagian akhir, tapi ia tetap melanjutkan. “Anak pertama dari cucu saya.”
Amira menunduk, tangannya mulai dingin.
Umi Salma mengusap pelan sisi ranjang bayi itu. “Sejak ibunya pergi… dia tidak berhenti menangis.” Hening sesaat. “Tidak mau susu formula. Ditolak terus.”
Amira mendengarkan tanpa berkedip.
“Kami sudah panggil beberapa calon ibu susu,” lanjutnya lagi. “Dari pesantren, dari kampung sekitar. Tapi Habibi tetap menolak.” Umi Salma tersenyum kecil, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Dia hanya menangis. Lalu diam sebentar. Lalu menangis lagi.”
Amira merasakan dadanya ikut sesak tanpa sebab yang ia pahami.
“Sudah tiga hari,” suara Umi Salma merendah. “Tiga hari dia tidak minum dengan baik.”
Kalimat itu membuat Amira refleks menoleh ke bayi itu lagi. Tiga hari. Di usianya yang masih sekecil itu.
“Dia seperti… puasa,” lanjut Umi Salma pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri. “Kami semua hanya bisa berdoa.”
Amira menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang tiba-tiba naik ke dadanya.
Umi Salma akhirnya menoleh kembali kepadanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak Amira masuk ruangan itu, tatapannya benar-benar dalam.
“Dan tadi…” Ia berhenti sejenak. “Allah jawab doa kami lewat panjenengan.”
Amira menggeleng pelan, hampir tidak sadar. “Umi… saya hanya,”
“Panjenengan hanya apa?” potong Umi Salma lembut, tidak kasar, tapi cukup membuat Amira diam. Umi Salma mendekat setengah langkah. “Habibi tenang di pelukan panjenengan. Dia minum dari panjenengan. Dia tertidur untuk pertama kalinya sejak ibunya pergi.”
Setiap kalimat itu membuat Amira semakin kehilangan kata. Karena semua itu bukan sesuatu yang ia rencanakan. Bukan sesuatu yang ia minta. Tapi terjadi begitu saja. Seolah tubuhnya masih mengingat sesuatu yang bahkan pikirannya sudah berusaha kubur.