Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?
Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.
Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.
Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.
Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.
Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.
Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.
Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Perbuatan Rendah
Sengatan dingin merambat cepat dari pangkal leher Sumarni. Retinanya terasa kebas, seolah baru saja ditusuk jarum es.
Saat ia mengedipkan mata, dunia di sekitarnya mendadak berubah warna. Lapisan abu-abu transparan menutupi pemandangan normal di pelataran paviliun.
Di atas tanah berdebu, jejak sepatu menyala terang dengan pendar merah neon.
[Mode Detektif Aktif. Sisa waktu: 10 menit.]
Sumarni menarik napas panjang. Udara malam yang lembap mengisi paru-parunya. Pening di kepalanya perlahan memudar, digantikan kejernihan pikiran yang mematikan.
Ia menatap jejak merah menyala itu. Langkah kakinya bersilangan rumit, menembus kerumunan tamu dan mengarah lurus ke pintu kamarnya.
Rombongan istri saudagar itu berdesakan di depan paviliun belakang. Bau apak kayu lapuk dan lumut basah langsung menyambut hidung mereka. Beberapa nyonya segera menutupi hidung dengan saputangan renda sutra.
Sulastri berdiri paling depan dengan dagu terangkat tinggi. Matanya berkilat penuh kemenangan.
"Geledah semuanya sampai bersih," perintah Sulastri tegas. Suaranya menggema tajam. "Jangan sisakan satu sudut pun."
Dua pelayan pria berbadan tegap segera menerobos masuk. Terdengar bunyi bantingan kayu keras dari dalam. Pakaian-pakaian lusuh dilempar kasar ke atas lantai tegel yang dingin. Pintu lemari reyot milik Sumarni ditarik paksa hingga engsel karatannya berderit panjang.
Dimas yang berdiri di samping Sumarni mencengkeram erat lipatan gaun ibunya. Tubuh bocah kurus itu bergetar hebat mendengar suara pecahan barang dari dalam kamarnya.
Sumarni menunduk. Ia mengusap rambut Dimas dengan lembut. Tangan hangatnya berusaha menyalurkan ketenangan, meski dadanya sendiri sedang bergemuruh menahan amarah.
"Ini dia, Nyonya Besar!"
Seorang pelayan pria melangkah keluar dari paviliun. Tangannya mengangkat tinggi sebuah kotak beludru hijau tua. Kotak itu dihiasi ukiran kuningan di bagian pinggirnya.
Ibu-ibu arisan serempak berseru kaget. Bu Harun mundur selangkah dengan mulut terbuka. Bu Tejo menggelengkan kepalanya pelan, menatap Sumarni dengan pandangan kecewa.
"Astaga, ternyata benar," bisik Bu Harun keras.
Sulastri tersenyum lebar. Ia melangkah maju dan mengambil kotak beludru itu dari tangan pelayannya.
"Kamu mau menyangkal apa lagi, Marni?" Sulastri menepuk kotak itu dengan keras. Wajahnya dibuat sesedih mungkin. "Barang bukti ada di dalam lemarimu. Kamu tega mengkhianati Mas Harjono yang sudah memungutmu dari desa."
"Buka kotaknya," potong Sumarni datar. Nada suaranya sedingin angin malam.
Sulastri mendengus remeh. Ia membuka pengait kuningan itu perlahan. Di atas bantalan sutra putih, sebuah kalung berlian dan bros emas melati tergeletak utuh. Kilau perhiasan itu memantulkan cahaya lampu petromaks di pelataran.
Para tamu kembali bergumam riuh. Tuduhan itu kini menjadi fakta di mata mereka.
Namun, pemandangan di mata Sumarni sungguh berbeda. Di atas permukaan beludru hijau itu, cetakan lima jari bercahaya merah neon menempel sangat jelas. Jejak telapak tangan itu berukuran kecil. Sumarni mengalihkan pandangannya ke lantai.
Jejak sepatu merah itu meliuk keluar dari pintu kamarnya. Garis menyala tersebut membelah barisan pelayan, lalu berhenti tepat di bawah sepasang kaki yang gemetar.
Ningsih.
Pelayan muda itu berdiri menunduk di belakang punggung Sulastri. Wajahnya pucat pasi. Keringat dingin menetes membasahi kerah kebayanya.
Sumarni maju dua langkah. Ia mengabaikan tatapan sinis dari belasan tamu di sekelilingnya.
"Mbakyu," panggil Sumarni pelan, namun suaranya menembus keributan. "Silakan panggil polisi sekarang juga. Biar mereka yang memeriksa kotak itu."
Sulastri mengerutkan kening. Senyum kemenangannya luntur sedikit. "Kamu menantangku? Polisi akan langsung menyeretmu ke penjara, Marni."
"Polisi punya cara untuk melacak sidik jari pencuri yang asli." Sumarni memiringkan kepalanya. Ia menatap lurus ke arah Ningsih. "Dan mereka juga bisa memeriksa jejak lumpur merah di lantai kamarku."
Tubuh Ningsih mengejang kaku. Pelayan itu refleks memundurkan kakinya.
Sumarni tidak membuang waktu. Ia melangkah cepat melewati Sulastri dan langsung mencengkeram kerah kebaya Ningsih. Cengkeramannya begitu kuat hingga pelayan itu terseret maju ke tengah lingkaran tamu.
"Ndoro, ampun!" Ningsih berteriak panik. Matanya melotot ketakutan.
"Angkat sepatumu," perintah Sumarni dengan suara rendah yang mengancam.
Ningsih menggeleng kalap. Air matanya pecah seketika. Sumarni menendang pelan betis pelayan itu hingga ia jatuh berlutut di tanah berdebu.
Semua orang kini bisa melihat dengan jelas. Sepatu selop kain yang dipakai Ningsih berlumuran lumpur merah basah di bagian pinggirnya.
"Lantai kamarku penuh debu kering," ucap Sumarni lantang ke arah para tamu. "Taman samping dekat jendela kamarku baru saja disiram air tadi sore. Siapa pun yang menyelinap masuk lewat jendela pasti membawa lumpur merah itu ke dalam."
Ibu-ibu saudagar itu langsung mencondongkan tubuh mereka. Mata mereka terpaku pada sepatu kotor Ningsih. Bisik-bisik kini berbalik arah menampar pihak Sulastri.
"Tanganmu juga gemetar, Ningsih." Sumarni membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan pelayan yang sedang terisak itu. "Kotak beludru itu menyimpan aroma minyak serimpi milik Nyonya Besar. Jika aku yang mengambilnya, tanganku yang akan bau minyak itu. Tapi coba cium telapak tanganmu sendiri sekarang."
Logika yang ia susun berdasar petunjuk sistem bekerja dengan sempurna. Tuduhan itu rapat, masuk akal, dan disajikan dengan bukti fisik yang tidak bisa dibantah.
Ningsih menangis histeris. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Pertahanannya hancur lebur dihantam ketakutan.
"Ampun, Ndoro Marni. Ampun!" Ningsih bersujud mencium tanah. Suaranya pecah di antara isak tangis. "Saya hanya disuruh. Nyonya Besar yang memerintahkan saya menaruh kotak itu di lemari paviliun saat arisan sedang mulai."
Bagaikan bom yang meledak, pengakuan itu meruntuhkan sisa harga diri Sulastri.
Wajah istri pertama itu seputih mayat. Kotak beludru di tangannya jatuh berdebum ke tanah. Berlian dan emas warisan itu terlempar keluar, bercampur dengan debu kotor.
Bu Harun dan Bu Tejo menatap Sulastri dengan pandangan jijik yang tak ditutupi lagi. Bagi wanita kelas atas, menyiksa istri muda adalah hal biasa.
Namun, memfitnah dengan skenario murahan di depan tamu adalah perbuatan rendah yang menjijikkan.
[Misi Sampingan Selesai: Mengungkap pencuri asli.]
[Hadiah: 50 Poin Reputasi ditambahkan.]
Layar biru memudar dan menghilang dari pandangan Sumarni. Dunia kembali ke warna aslinya. Suhu tubuhnya berangsur normal. Ia berdiri tegak, merapikan lipatan gaun sutranya dengan anggun.
"Mbakyu." Sumarni menoleh pada Sulastri yang masih membeku. Nada suaranya datar dan mematikan. "Perjanjian kita tadi sangat jelas. Silakan berlutut dan minta maaf sekarang."
Bibir Sulastri bergetar hebat. Dadanya kembang kempis menahan sesak yang menyumbat tenggorokan. Disuruh berlutut di depan pelayan dan teman-teman arisannya adalah kematian sosial. Ia melangkah mundur, berniat melarikan diri ke dalam rumah utama.
Namun, langkahnya terhenti.
Suara deru mesin mobil menderu kasar dari arah pekarangan depan. Sorot lampu kuning menyapu taman samping. Pintu mobil sedan dibanting dengan keras, memecah keheningan malam yang tegang.
Langkah kaki berat berderap mendekat. Aroma khas tembakau cengkih kualitas tinggi langsung menguasai udara.
Sosok pria tinggi tegap dengan kemeja katun yang lengannya digulung asal berdiri di ambang jalan setapak. Garis rahangnya keras dan matanya sedingin dasar lautan. Harjono pulang lebih awal dari Kudus.
Pria itu menghentikan langkahnya. Matanya menyapu kotak perhiasan di tanah, istrinya yang pucat pasi, pelayan yang menangis bersujud, dan akhirnya terkunci pada satu titik.
Tatapan Harjono terpaku pada Sumarni yang berdiri anggun dalam balutan gaun sutra, dengan tangan mungil Dimas yang menggenggam erat jarinya. Udara di sekitarnya seolah berhenti mengalir.