“Ayam kecil, berhenti berlari dan kembalikan buah persikku!”
Ladang herbal memenuhi lereng gunung sementara asap putih mengepul dari dapur-dapur besar di berbagai area. Aroma daging panggang memenuhi udara dan di kejauhan ratusan hewan spiritual terlihat berkeliaran bebas di padang rumput pegunungan.
“Mulai hari ini kandang ayam spiritual bagian timur menjadi tanggung jawabmu.”
Di sisi lain, Suara pisau, dentuman panci, dan teriakan para murid dapur bercampur menjadi satu seperti pasar pagi yang kacau. Aroma makanan memenuhi seluruh udara pegunungan.
“Adik kecil! Cepat potong sayuran itu!”
“Siapa yang membakar daging bagian utara?!”
“Tambahkan garam spiritual ke sup nomor tiga!”
Ini adalah kehidupan yang tenang dan penuh kejadian dramatis tak terlupakan dari Sekte Forgotten Blade. Kehidupan beternak ayam Bai Fengxuan sebelum ia tahu kebenaran pahit dari dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LEVIATHAN_M.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 24 - Paviliun Kitab Awan
Kabut pagi perlahan bergerak turun dari puncak gunung ketika lonceng besar Puncak Awan Pengembara akhirnya berbunyi panjang di seluruh lereng sekte Forgotten Blade. Suara dentangnya menggema berat di antara lautan awan dan hutan bambu, membuat para murid luar yang masih mengantuk langsung bergerak lebih cepat dibanding biasanya.
Namun pagi itu suasananya berbeda. Tidak ada wajah lelah dan tidak ada keluhan soal kandang atau pekerjaan.
Sebaliknya, hampir seluruh murid luar di Puncak Awan Pengembara terlihat bersemangat sejak matahari bahkan belum sepenuhnya terbit. Beberapa sudah berkumpul di dekat aula distribusi sambil berbicara keras, sebagian lain sibuk menghitung-hitung pengeluaran bulan lalu dengan wajah penuh harapan.
Karena hari ini adalah hari gajihan.
Udara pagi terasa lebih hidup dibanding biasanya. Aroma roti kukus dari dapur umum memenuhi lereng gunung sementara suara percakapan dan tawa terdengar dari mana-mana.
Xu Liang termasuk orang yang paling heboh pagi itu. Ia bahkan datang lebih awal dari biasanya dengan rambut yang sudah disisir rapi dan pakaian murid luar yang tampak sedikit lebih bersih.
“Bulan ini pasti besar!” katanya penuh keyakinan sambil berjalan bersama Bai Fengxuan menuju aula distribusi. “Produksi kandang timur meningkat hampir dua kali lipat sejak musim penetasan dimulai.”
Han Gu yang berjalan di belakang mereka hanya mendengus kecil sambil menggigit bakpao hangat di tangannya.
“Kalau tidak dipotong karena ayam hilang, mungkin memang besar.”
Mendengar itu, wajah Xu Liang langsung berubah gelap.
“Hantu ayam sialan itu…” gumamnya kesal. “Kalau aku menangkapnya suatu hari nanti, akan kuikat dia di depan kandang selama setahun.”
Bai Fengxuan yang berjalan di sampingnya langsung ikut mengangguk dengan ekspresi serius.
“Benar. Benar-benar keterlaluan.”
Han Gu langsung batuk keras untuk menahan tawanya.
Namun belum selesai Xu Liang mengutuk “hantu ayam”, seorang murid lain dari kandang babi ikut menyela dari belakang.
“Bukan cuma hantu ayam! Roh api penunggang babi itu juga sama gilanya!”
“Benar!” sahut murid lain dengan emosi. “Seekor babi spiritual hilang begitu saja! Bahkan sampai sekarang penjaga malam masih trauma!”
Suasana langsung berubah ramai. Sebagian murid mulai ikut mengeluh. Sebagian lagi mulai membesar-besarkan rumor tersebut.
Ada yang bilang roh api itu setinggi tiga zhang. Ada yang mengaku mendengar suara tawa iblis di lereng utara malam itu. Bahkan seorang murid bersumpah bahwa roh tersebut memiliki mata merah menyala seperti monster gunung.
Dan di tengah semua itu—
Bai Fengxuan ikut menghela napas panjang dengan wajah penuh rasa kesal palsu.
“Benar-benar terlalu berlebihan…”
Han Gu hampir tersedak bakpaonya sendiri mendengar itu.
Tak lama kemudian mereka akhirnya tiba di aula distribusi.
Bangunan batu besar itu berdiri di lereng tengah Puncak Awan Pengembara dengan bendera Forgotten Blade berkibar di atas atapnya. Puluhan murid luar sudah berbaris cukup panjang di depan meja distribusi sambil membawa token identitas masing-masing.
Di depan aula, beberapa kakak senior bertugas membagikan kantung kecil berisi batu spiritual kepada para murid berdasarkan kontribusi kerja bulan ini.
Suasana semakin hidup setiap kali seseorang menerima gajinya.
“HAH?! Kenapa punyaku dipotong sebanyak ini?!”
“Itu karena kandangmu kehilangan sepuluh ayam!”
“Bajingan hantu ayam…”
Keluhan terdengar di mana-mana. Namun meskipun banyak yang mengeluh, hampir semua murid tetap terlihat cukup puas karena produksi bulan ini memang jauh lebih baik dibanding biasanya.
Ketika giliran Xu Liang tiba, ia menerima kantung kecilnya lalu langsung membukanya dengan penuh harapan. Beberapa detik kemudian ekspresinya berubah campur aduk.
“Lumayan…” gumamnya. “Tapi tetap dipotong…”
Han Gu menerima bagiannya tak lama kemudian. Karena statusnya sebagai kakak senior kandang timur, jumlah yang ia terima jelas jauh lebih besar dibanding murid biasa.
Namun yang cukup mengejutkan adalah gaji Bai Fengxuan ternyata lebih tinggi dibanding sebagian besar murid luar lain. Bahkan Zhao Lei sempat mengangkat alis ketika melihat jumlah kontribusinya.
“Kerja bocah ini memang gila…” gumamnya sambil tertawa kecil.
Bai Fengxuan menerima kantung batu spiritualnya dengan cukup hati-hati. Begitu membukanya, ia melihat beberapa puluh batu spiritual tingkat rendah tersusun di dalamnya.
Kristal-kristal kecil itu memancarkan cahaya lembut kebiruan seperti pecahan es bercahaya. Qi spiritual murni mengalir samar dari permukaannya hingga bahkan telapak tangan Bai Fengxuan terasa sedikit hangat saat memegangnya.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar memegang batu spiritual miliknya sendiri.
Perasaan itu cukup aneh. Benda kecil di tangannya sekarang adalah mata uang dunia kultivasi. Dengan itu seseorang bisa membeli pil, teknik, senjata, formasi, bahkan jasa kultivator lain.
Han Gu melirik kantungnya lalu tersenyum kecil.
“Lumayan untuk murid luar baru.”
Xu Liang yang melihat jumlah milik Bai Fengxuan langsung memekik protes.“Kenapa punyamu lebih banyak dariku?!”
Han Gu langsung menjawab santai. “Karena Adik Bai benar-benar bekerja.”
Xu Liang tampak tersinggung.
“Aku juga bekerja!”
“Kau tidur di gudang pakan dua kali minggu lalu.”
“Itu kultivasi ketenangan!”
“Itu malas!”
Suasana di sekitar mereka kembali dipenuhi tawa.
Tak lama kemudian para murid mulai bubar satu per satu sambil membicarakan rencana mereka menggunakan batu spiritual tersebut. Sebagian besar memang langsung berencana turun ke pusat sekte.
Xu Liang bahkan sudah berbinar sejak tadi.
“Aku mau beli jimat baru.”
Han Gu langsung mendecakkan lidah.
“Kau masih percaya benda itu?”
“Tentu saja!” Xu Liang terlihat serius. “Kalau roh api penunggang babi muncul lagi bagaimana?”
Han Gu buru-buru memalingkan wajahnya sambil menahan tawa.
Sementara itu Bai Fengxuan masih memperhatikan batu spiritual di tangannya dengan rasa penasaran. “Kakak Han,” tanyanya pelan, “apa batu spiritual ini benar-benar bisa dipakai berkultivasi?”
Han Gu mengangguk. “Tentu saja. Qi spiritual di dalamnya cukup murni.”
“Kalau begitu kenapa kita tidak langsung memakainya?”
Han Gu tertawa kecil sambil menunjuk seluruh area Puncak Awan Pengembara.
“Karena qi spiritual di gunung ini sendiri sudah sangat murni.” Ia mengangkat salah satu batu spiritual lalu memutarnya pelan di bawah cahaya matahari pagi. “Untuk murid luar tahap rendah seperti kita, menyerap qi dari lingkungan sekte saja hampir sama dengan batu spiritual tingkat rendah.”
Tatapan Bai Fengxuan sedikit berubah mengerti. “Jadi biasanya batu ini digunakan untuk…”
“Membeli sesuatu.” Han Gu menyeringai kecil. “Senjata. Manual kultivasi. Pil. Teknik. Atau makanan enak kalau kau cukup bodoh.”
Xu Liang langsung mengangkat tangan.
“Aku memilih makanan enak.”
“Karena itu kau tetap miskin.”
Mereka bertiga mulai berjalan menuruni jalan batu menuju pusat utama Forgotten Blade. Kabut pagi perlahan mulai menipis dan untuk pertama kalinya Bai Fengxuan benar-benar melihat bagian utama sekte dengan jelas. Dan pemandangan itu membuatnya sedikit terdiam.
Di kejauhan berdiri bangunan-bangunan besar bergaya kuno yang tersebar di antara tebing dan lautan awan. Jembatan batu panjang menghubungkan beberapa puncak gunung sementara burung spiritual sesekali melintas di langit.
Murid-murid dari berbagai puncak lalu lalang di jalan utama. Sebagian mengenakan jubah putih perak milik Puncak Pedang.
Sebagian berjubah biru tua dari Puncak Formasi Langit.
Ada juga murid berjubah hijau dari Puncak Alkimia yang membawa kotak pil dan aroma herbal di tubuh mereka.
Untuk pertama kalinya, Bai Fengxuan benar-benar merasa Forgotten Blade adalah dunia besar yang hidup.
Dan di tengah dunia itu ia hanyalah murid luar kecil dari Puncak Awan Pengembara.
“Kau mau ke mana?” tanya Han Gu.
Bai Fengxuan berpikir sejenak lalu jawabannya muncul dengan alami.
“Perpustakaan.”
Han Gu mengangguk puas.
“Itu pilihan bagus.”
Xu Liang langsung terlihat kecewa.
“Aku kira kau akan membeli makanan…”
Tak lama kemudian mereka berpisah di jalan utama pusat sekte. Xu Liang pergi menuju area pasar kecil murid luar, sedangkan Han Gu menuju paviliun alat karena katanya ingin “melihat harga pisau dapur spiritual”.
Dan Bai Fengxuan akhirnya berjalan sendirian menuju perpustakaan utama Forgotten Blade. Nama tempat itu adalah—
Paviliun Kitab Awan.
Bangunan tujuh lantai megah itu berdiri di kaki gunung utama sekte seperti menara kuno yang menembus lautan kabut. Dindingnya terbuat dari batu putih kebiruan dengan ukiran awan dan pedang di setiap pilar besar.
Atapnya bertingkat tujuh dengan lonceng kecil menggantung di setiap sudut. Setiap kali angin gunung bertiup, suara loncengnya terdengar lembut dan tenang.
Bai Fengxuan langsung berhenti beberapa saat di depan tangga batu besar paviliun itu.
Matanya sedikit membesar.
Tempat ini terasa jauh lebih megah dibanding bangunan mana pun yang pernah ia lihat sebelumnya. Puluhan murid keluar masuk setiap saat. Dan yang paling menarik perhatian Bai Fengxuan adalah—
warna jubah mereka.
Ada murid luar seperti dirinya.
Namun ada juga murid dalam dengan aura jauh lebih kuat dan tatapan lebih tenang. Sebagian bahkan membawa pedang spiritual di punggung mereka.
Di depan pintu masuk utama berdiri dua murid penjaga berjubah abu gelap. Keduanya memegang tombak panjang dan berdiri lurus seperti patung batu.
Bai Fengxuan menarik napas pelan sebelum akhirnya masuk ke dalam. Dan begitu melangkah melewati pintu utama aroma kertas tua dan kayu cendana langsung memenuhi udara.
Interior Paviliun Kitab Awan terasa sangat tenang. Rak-rak kayu besar tersusun rapi hingga jauh ke dalam ruangan. Gulungan kitab, manual teknik, dan buku-buku kuno memenuhi hampir seluruh lantai pertama.
Cahaya matahari masuk dari jendela tinggi dan menerangi debu halus yang melayang tenang di udara.
Tidak ada suara ribut.
Hanya langkah kaki pelan dan suara halaman kitab dibalik.
Di dekat pintu masuk duduk seorang tetua tua berjanggut panjang mengenakan jubah coklat tua. Matanya setengah tertutup seperti orang yang sedang tidur.
Saat Bai Fengxuan masuk tatapan sang tetua perlahan terbuka.
Dan entah kenapa, Bai Fengxuan langsung merasakan tekanan samar yang jauh lebih berat dibanding Tetua Ji. Ia buru-buru membungkuk hormat.
“Salam tetua.”
Tetua tua itu hanya mengelus janggutnya pelan.
“Murid luar?”
“Benar.”
Tatapan sang tetua bergerak sebentar ke token identitas di pinggang Bai Fengxuan sebelum akhirnya mengangguk kecil.
“Ada yang ingin kau cari?”
Bai Fengxuan ragu beberapa saat sebelum menjawab jujur.
“Manual kultivasi.”
Tetua tua itu tertawa kecil.
“Bagus. Setidaknya masih ada murid luar yang datang kemari bukan untuk membaca novel romantis.”
Wajah Bai Fengxuan langsung sedikit kaku.
Tetua itu perlahan menunjuk ke arah tangga kayu besar di tengah paviliun.
“Lantai pertama untuk murid luar.” Suaranya tenang namun jelas. “Lantai kedua dan seterusnya hanya bisa dimasuki murid dalam atau mereka yang memiliki izin khusus.”
Tatapan Bai Fengxuan tanpa sadar naik ke atas.
Tujuh lantai.
Dan setiap lantai terasa seperti dunia yang jauh dari jangkauannya saat ini.
Tetua itu kembali berbicara.
“Kalau ingin meminjam buku, lihat harga sewanya di rak.” Ia menunjuk ke arah meja dekat pintu masuk yang dijaga beberapa murid perempuan berjubah luar. “Bayar di sana sebelum keluar.”
Bai Fengxuan mengangguk hormat. Lalu perlahan berjalan masuk lebih dalam ke antara rak-rak kitab Paviliun Kitab Awan.
…