NovelToon NovelToon
25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Beda Usia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Di dalam keheningan kamar mandi VIP yang bernuansa marmer putih mewah, Luna berdiri mematung di depan cermin raksasa.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Luna perlahan membuka topeng hitam berhias brokat dari wajahnya, lalu meletakkannya di tepi wastafel.

Begitu topeng itu terlepas, pertahanan yang sejak tadi ia bangun runtuh seketika.

Air mata Luna mengalir membasahi pipinya, merusak sedikit riasan wajah yang telah ia persiapkan dengan hati-hati sejak sore.

Rasa sesak yang teramat sangat menghimpit dadanya, mengingat bagaimana wanita cantik bernama Diana itu memeluk tubuh suaminya dengan begitu mesra di tengah kerumunan pesta.

Luna mencengkeram tepi wastafel, menundukkan kepalanya dalam-dalam sembari memejamkan mata.

Ia membiarkan air matanya luruh selama beberapa saat, meluapkan rasa sakit hati dan cemburu yang tiba-tiba datang menghantam.

Setelah beberapa menit, Luna membasuh tangannya dengan air dingin, lalu menyeka sisa air mata di pipinya menggunakan tisu dengan sangat hati-hati.

Ia menatap tajam pantulan dirinya di cermin, mencoba mencari sisa-sisa kekuatan di dalam sepasang netranya.

Ia menarik napas dalam-dalam, menahannya sejenak, lalu mengembuskannya perlahan untuk mengatur ritme napas dan detak jantungnya yang sempat berantakan.

"Kamu harus profesional, Luna," bisik Luna pada dirinya sendiri dengan nada suara yang ditegaskan.

"Malam ini adalah tentang kontrak besar perusahaan. Jangan biarkan perasaan pribadi merusak kerja keras yang sudah kamu bangun bersama Pak Dika."

Luna mengambil kembali topeng hitamnya dari tepi wastafel.

Dengan gerakan yang anggun namun sarat akan ketegasan baru, Luna kembali memakai topengnya, menyembunyikan rapat-rapat kesedihan dan kerapuhan di balik kemegahan ornamen brokat tersebut.

Setelah memastikan penampilannya kembali sempurna, Luna membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar dengan dagu tegak.

Ia berjalan membelah koridor sunyi dan kembali ke dalam riuhnya ballroom utama, berjalan lurus menuju tempat Pak Dika yang sudah menunggunya dengan cemas.

Lampu di dalam ballroom utama Dirgantara Holdings perlahan meredup, menyisakan sorot lampu kuning keemasan yang terpusat ke arah panggung utama.

Suara denting gelas berhenti seiring dengan pengumuman dari pembawa acara bahwa momen krusial malam ini telah tiba—penandatanganan kontrak kerja sama strategis.

Luna berjalan anggun mendampingi Pak Dika menuju meja yang telah disiapkan di depan para saksi dan petinggi perusahaan.

Di seberang meja, sosok Mahendra berdiri tegak dengan aura kepemimpinan yang mutlak.

Di balik topeng misteriusnya, sepasang netra tajam sang Titan Bisnis langsung mengunci pandangan pada Luna, menyadari kehadiran istri kecilnya yang tampak begitu memukau malam ini.

Prosesi berjalan khidmat. Pak Dika mulai menandatangani berkas kontrak tersebut dengan guratan pena yang mantap, disusul oleh Mahendra yang membubuhkan tanda tangannya di samping dokumen tersebut.

Riuh tepuk tangan seketika menggema di seluruh penjuru ruangan, menandai resminya kerja sama besar bernilai miliaran rupiah itu.

Begitu urusan bisnis selesai, alunan musik orkestra kembali mengalun, kali ini dengan ritme waltz yang lambat dan romantis—menandakan dimulainya acara dansa bersama untuk seluruh tamu undangan.

Para tamu mulai berpasangan dan turun ke tengah lantai dansa.

Mahendra, yang sejak tadi tidak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari Luna, langsung melangkah lebar membelah kerumunan.

Ia mengikis jarak hingga berdiri tepat di hadapan Luna, lalu mengulurkan tangan kekarnya yang terbalut tuksedo mahal dengan gestur yang sangat jantan.

"Sayang, mau berdansa denganku?" bisik Mahendra.

Jantung Luna berdesir mendengar suara itu. Namun, tepat sebelum ia sempat merespons, dari sudut matanya, Luna melihat siluet Diana yang kembali datang mendekat ke arah mereka dengan senyum percaya diri, siap untuk merebut perhatian Mahendra lagi.

Rasa perih di kamar mandi tadi seketika bangkit, memicu harga diri Luna sebagai seorang istri sah yang terluka.

Dengan gerakan yang tenang namun sarat akan penolakan dingin, Luna mundur satu langkah, mengabaikan uluran tangan suaminya.

"Maaf, saya akan berdansa dengan pasangan saya malam ini," sahut Luna formal, suaranya terdengar begitu datar dan asing bagi Mahendra.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Mahendra untuk memprotes atau menjelaskan apa pun, Luna langsung berbalik, meraih dan menggenggam erat tangan Pak Dika yang berdiri di sampingnya.

Pak Dika sempat terkejut, namun sebagai pria yang peka, ia langsung menuntun Luna dengan sopan menuju ke tengah lantai dansa.

Luna dan Pak Dika mulai berdansa mengikuti alunan musik waltz, membiarkan tubuh mereka berputar di antara pasangan lain.

Di tepi lantai dansa, Mahendra berdiri mematung dengan tangan yang masih menggantung di udara.

Rahang tegasnya mengeras, dan sepasang netra di balik topeng misteriusnya seketika menggelap laksana badai, menatap lurus ke arah istrinya yang kini berada di dalam dekapan pria lain karena kesalahpahaman yang belum sempat ia luruskan.

Diana segera memanfaatkan kesempatan itu. Melihat Luna pergi menjauh bersama Pak Dika, ia merangsek maju dan langsung meraih lengan kekar Mahendra yang masih membeku di udara.

Dengan senyum manis yang dipaksakan, ia bergelayut manja di tubuh sang Titan Bisnis.

"Daripada memikirkan wanita tidak sopan itu, lebih baik kita berdansa, Mahendra," ajak Diana dengan nada suara yang dibuat se-manja mungkin, mencoba menuntun Mahendra ke tengah lantai dansa.

Namun, Mahendra sama sekali tidak bergerak. Tatapannya masih terkunci pada siluet gaun hitam Luna yang berputar anggun di bawah lampu ballroom.

Diana yang merasa diabaikan mulai merasa kesal.

Ia melirik tajam ke arah punggung Luna yang kian menjauh.

"Sebenarnya siapa wanita sombong itu? Kenapa kamu sampai menawarkannya dansa, Mahendra? Dia bahkan berani menolakmu di depan umum," tanya Diana penuh selidik, menyembunyikan rasa cemburu di balik topeng mewahnya.

Sentuhan Diana di lengannya terasa seperti duri bagi Mahendra.

Dengan gerakan kasar namun tetap terkendali, Mahendra menarik lengannya hingga cengkeraman Diana terlepas seketika.

Tatapan matanya di balik topeng mendadak berubah menjadi sedingin es, menusuk langsung ke relung nyali Diana.

"Berdansa lah dengan yang lain," jawab Mahendra .

Tanpa memedulikan wajah Diana yang seketika memerah padam karena malu, Mahendra membalikkan tubuh tegapnya.

Langkah kakinya yang lebar membawa postur kokohnya menjauh dari area panggung, berjalan lurus menuju ke bar eksklusif yang berada di sudut ballroom.

"Berikan aku sampanye," titah Mahendra dingin kepada barista yang berjaga.

Setelah menerima segelas cawan kristal berisi cairan emas bergelembung itu, Mahendra bersandar pada meja bar marmer yang gelap.

Ia tidak meminumnya sekaligus, melainkan hanya memutar-mutar gelas tersebut dengan jemari kekarnya yang gemetar menahan letupan emosi.

Sepasang netranya yang menggelap laksana badai malam kembali terarah lurus ke tengah lantai dansa, menatap dengan api cemburu yang membakar dada saat melihat tangan Pak Dika bertumpu sopan di pinggang ramping Luna, mengiringi sang istri kecil yang berdansa menjauh dari rengkuhannya.

Di tengah alunan musik waltz yang masih mengalun megah, Luna sedari tadi bisa merasakan tatapan intens yang menghunjam punggungnya.

Melalui sudut matanya, ia melirik ke arah bar eksklusif dan mendapati Mahendra sedang berdiri di sana, memegang gelas sampanye dengan rahang mengeras, menatap lurus ke arahnya dengan pandangan yang sarat akan api cemburu yang membakar.

Rasa sesak dan lelah mendadak kembali menghimpit dada Luna.

Berada di satu ruangan yang sama dengan suaminya dan wanita bernama Diana itu membuat pertahanannya terkikis habis. Ia tidak bisa lagi berpura-pura profesional.

"Pak Dika, saya permisi pulang duluan," ucap Luna lirih, menghentikan langkah dansanya secara tiba-tiba.

Pak Dika menatap Luna dengan raut wajah cemas, menyadari ada ketegangan yang tidak beres antara rekan bisnisnya ini dengan sang Titan Bisnis.

"Aku antar kamu pulang, Luna. Di luar sepertinya sudah mulai larut," tawar Pak Dika sigap.

Luna menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak usah, Pak. Saya bisa pulang sendiri. Terima kasih untuk malam ini," tolak Luna dengan nada halus namun tegas.

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Luna meraih tali topeng hitam berhias brokat di wajahnya, lalu melepaskannya begitu saja hingga memperlihatkan sepasang matanya yang kembali berkaca-kaca.

Dengan langkah seribu, ia berjalan cepat membelah kerumunan tamu, mengabaikan kemegahan pesta dan langsung melangkah keluar menuju lorong lobi yang sepi.

Melihat istrinya melepas topeng dan melarikan diri, Mahendra langsung meletakkan gelas sampanyenya dengan dentuman keras di atas meja bar.

Dengan langkah lebar dan aura dominasi yang meledak-ledak, sang Titan Bisnis mengejar siluet gaun hitam istrinya.

Tepat di koridor lobi yang agak temaram, Mahendra berhasil menyusul.

Dengan satu gerakan cepat, tangan kekarnya maju dan mencengkeram erat pergelangan tangan Luna, menghentikan langkah gadis itu seketika.

"Lepaskan!!" jerit Luna meronta, mencoba menarik tangannya dengan napas yang memburu menahan tangis.

"Lepaskan aku, Tuan Mahendra!"

"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Luna!" bentak Mahendra dengan suara bariton yang rendah namun sarat akan emosi yang menggelegar.

Tatapan matanya laksana badai yang siap menggulung apa saja, mengunci pergerakan Luna sepenuhnya.

Tanpa memedulikan penolakan dan rontaan lemah istrinya, Mahendra menarik tubuh Luna dengan satu sentakan kuat menuju ke arah mobil Rolls-Royce-nya yang sudah terparkir siaga di depan pintu lobi.

Dengan gerakan yang cepat, posesif, dan dominan, Mahendra membuka pintu kabin belakang lalu mendorong tubuh istrinya masuk ke dalam mobil mewah tersebut, sebelum akhirnya ia ikut masuk dan mengunci pintu dari dalam, memotong habis jalan lari bagi istri kecilnya.

1
tiara
semoga tuan Mahendra dapat diselamatkan,
Mundri Astuti
tendang sekalian duo ular itu Mahendra
Mundri Astuti
tuh kannn mang dah ada rasa si Mahendra..tapi gpp lun, daripada dpt cere, mending yg ini y lun kakap sekalian 😄
my name is pho: 🤭🤭heheh iya kak
total 1 replies
Mundri Astuti
modus aki" 😄

terimakasih thor dah double up 🙏❤️
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Mundri Astuti
lah si Mahendra...itu yg dikirim ke tim IT kau video asli istrimu loh, kamu ga risih...napa bukan byr perempuan lain aja si yg mirip gitu lantas di edit
Mundri Astuti
coba kaya apa y pembalasan mahendra🤔
Mundri Astuti
Alhamdulillah....
tiara
Semoga Mahendra selamat,dan cepat mencari yang menyebabkan dirinya pingsan
Mundri Astuti
mudah"an selamat Mahendra...
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
Fitra Sari
lanjut KK
Mundri Astuti
wayolohhh lunaa
Ita Putri
dih....amnesia anda ya
kan sudah buang Azura anda faizan
Mundri Astuti
ayo Luna tunjukkan klo kamu tuh bisa Badas...
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi
Mundri Astuti
ya ampun Mahendra ...tua" keladi ni mah 😄, bucin abis romannya😛
tiara
terlambat pa Dika,kalah cepat sama ayahnya Fauzan
tiara
Luna sudah mulai merasa nyaman tuh dengan pa suami
Mundri Astuti
Luna dah mulai da rasa ni
Ros 🍂
lanjut Thor 💪🏼
Ros 🍂
pengen getok Mila Thor 🤭
Ros 🍂
Hadirrr Thor, Semangat 💪🏻💪🏻
Ros 🍂: sama-sama kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!