Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Percakapan dengan Ratih
Percakapan dengan Ratih
Jantung Mona langsung menegang mendengar permintaan itu.
“Saya boleh bicara sebentar dengan Mona?”
Suasana balkon mendadak terasa jauh lebih dingin. Mona refleks menoleh ke arah Wira, sementara pria itu langsung mengernyit tipis.
“Ibu mau bicara apa?”
Ratih menatap putranya santai. “Kenapa? Takut aku memakan dia?”
Wira tidak menjawab dan diamnya itu justru membuat Ratih tersenyum kecil.
Mona sendiri mulai gugup. Entah kenapa, berbicara empat mata dengan ibu Wira terasa jauh lebih menegangkan dibanding menghadapi meeting besar di kantor.
“Aku ikut,” ujar Wira akhirnya.
“Tidak,” potong Ratih tenang. “Aku hanya ingin bicara sebentar.”
Tatapan mereka bertemu beberapa detik. Dua orang keras kepala dan Mona bisa merasakan itu dengan jelas, namun akhirnya Wira menghela napas kecil.
“Mona, kalau tidak nyaman, kamu tidak perlu—”
“Tidak apa-apa, Pak.” Meski sebenarnya jantungnya sudah mau copot.
Ratih mengangguk pelan. “Bagus. Temani saya jalan sebentar.”
***
Halaman belakang rumah Aditama ternyata jauh lebih indah dari yang Mona bayangkan. Lampu taman menyala lembut di sepanjang jalan setapak. Kolam kecil di tengah taman memantulkan cahaya bulan, namun Mona terlalu gugup untuk menikmati semua itu.
Ratih berjalan tenang di sampingnya, sementara Mona sibuk memikirkan kemungkinan terburuk di kepalanya.
Apa beliau mau menyuruhku menjauh dari Wira?
Atau bilang aku tidak pantas?
Mona diam-diam menggenggam jemarinya sendiri.
“Aku tidak segalak itu,” ujar Ratih tiba-tiba.
Mona langsung tersentak. “Hah?”
“Kamu terlalu tegang.”
Mona langsung salah tingkah. “Maaf…”
Ratih tertawa kecil dan untuk pertama kalinya, wanita itu terlihat lebih hangat dibanding biasanya.
“Kamu tahu?” katanya pelan. “Dulu Wira juga sering memasang wajah seperti itu.”
Mona berkedip bingung. “Maksudnya?”
“Kalau gugup.”
Mona langsung sulit membayangkannya. Wira? Gugup? Pria itu lebih sering membuat orang lain gugup.
Ratih berhenti di dekat bangku taman, lalu duduk perlahan.
“Mona, duduk.”
“Iya, Bu.”
Mona duduk dengan posisi masih sangat kaku.
Ratih memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya berkata,
“Kamu menyukai anak saya.”
Deg
Mona langsung membeku. Wajahnya memanas dalam hitungan detik.
“S-Saya…”
“Kamu tidak perlu menyangkal. Terlihat jelas.”
Mona langsung menunduk malu dan entah kenapa, ia merasa seperti anak kecil yang ketahuan menyembunyikan sesuatu.
Ratih tersenyum tipis melihat reaksinya. “Aneh juga.”
Mona mengangkat wajah perlahan. “Hah?”
“Sudah lama sekali aku tidak melihat Wira seperti sekarang.” Tatapan wanita itu perlahan melembut. “Dia lebih hidup.” lanjutnya.
Kalimat itu membuat dada Mona terasa hangat, namun bersamaan dengan itu, rasa takutnya kembali muncul.
“Tapi…” Mona menggigit bibir pelan. “Saya rasa saya bukan orang yang tepat untuk beliau.”
Ratih tidak langsung menjawab. Angin malam berhembus pelan di antara mereka.
“Karena perbedaan status?”
Mona tersenyum kecil pahit. “Itu kenyataannya.”
Ratih menatap lurus ke depan. “Waktu muda dulu, aku juga bukan berasal dari keluarga kaya.”
Mata Mona langsung membesar. “Hah?”
Ratih tertawa kecil melihat reaksinya. “Kamu pikir aku lahir langsung jadi nyonya Aditama?”
Mona benar-benar tidak menyangka. Selama ini Ratih terlihat begitu elegan dan berkelas sampai terasa seperti berasal dari dunia berbeda.
“Ayah Wira yang membangun semuanya dari nol,” lanjut Ratih pelan. “Dan aku ada di sampingnya sejak sebelum keluarga ini sebesar sekarang.”
Mona terdiam.
“Karena itu…” Ratih akhirnya menoleh padanya. “Aku tidak pernah menilai seseorang dari uang.”
Mona langsung merasa malu pada pikirannya sendiri. “Tapi keluarga besar Bapak Wira…”
“Mereka memang rumit.” Jawaban jujur itu justru membuat Mona sedikit terkejut.
Ratih menghela napas kecil.
“Di keluarga besar seperti ini, semua orang merasa punya hak ikut menentukan hidup orang lain.”
Tatapan wanita itu berubah lebih serius. “Dan kalau kamu benar-benar masuk ke hidup Wira, tekanan itu akan datang ke kamu juga.”
Deg
Mona menunduk perlahan.
“Nah…” Ratih tersenyum tipis. “Kamu mulai takut lagi.”
“Saya hanya realistis, Bu.”
“Tidak. Kamu terlalu banyak memikirkan orang lain.”
Mona terdiam karena ucapan itu terasa tepat sasaran.
Ratih memperhatikan wajah Mona beberapa detik, lalu tiba-tiba bertanya, “Wira pernah cerita tentang ayahnya?”
Mona menggeleng. “Tidak pernah.”
Tatapan Ratih sedikit berubah. “Ayahnya meninggal saat Wira masih muda.”
Mona langsung menoleh pelan. Selama ini Wira hampir tidak pernah bicara soal keluarganya.
“Setelah itu dia berubah,” lanjut Ratih lirih. “Dia memaksa dirinya jadi kuat terlalu cepat.”
Mona mendengarkan diam-diam.
“Dia mengambil alih banyak tanggung jawab sebelum waktunya,” kata Ratih lagi. “Dan sejak saat itu… dia jarang benar-benar dekat dengan seseorang.”
Suara wanita itu terdengar lebih lembut sekarang. “Sandra hampir berhasil masuk ke hidupnya. Tapi mereka sama-sama keras kepala.”
Mona menggenggam ujung gaunnya pelan.
“Lalu sekarang ada kamu.”
Deg
Jantung Mona kembali tidak tenang.
Ratih tersenyum kecil. “Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun… aku melihat anakku takut kehilangan seseorang.”
Kalimat itu membuat mata Mona sedikit membesar. Karena ia langsung teringat ucapan Wira waktu itu.
"Aku lebih takut kalau suatu hari kamu pergi seperti Sandra."
“Mona.”
“Iya, Bu?”
“Kalau kamu tidak serius, lebih baik mundur sekarang.”
Mona langsung membeku.
Ratih menatapnya lurus. “Karena Wira mungkin terlihat kuat.” Suaranya pelan tapi tegas. “Tapi sekali dia benar-benar membuka hati… dia akan jatuh sangat dalam.”
Hening.
Mona tidak tahu harus menjawab apa dan Ratih kembali melanjutkan,
“Aku tidak melarang kalian.”
Mata Mona langsung terangkat sedikit.
“Tapi aku ingin tahu satu hal.”
“Apa, Bu?”
Ratih tersenyum tipis. “Kamu sanggup tinggal di sisi anakku?”
Pertanyaan itu sederhana, namun terasa jauh lebih berat daripada apa pun malam ini. Karena untuk pertama kalinya… Mona sadar bahwa hubungan mereka bukan lagi sekadar rasa suka.
Ini sudah mulai menjadi sesuatu yang nyata. Sesuatu yang mungkin mengubah hidup mereka berdua.