NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Karomah Sang Musafir Debu

Matahari membakar kulit Arjuna yang tanpa alas kaki. Sudah tiga hari ia berjalan menyusuri jalanan Pantura yang berdebu. Sarungnya sudah kusam, kaos kulinya sudah penuh keringat, tapi wajahnya justru makin bersih bercahaya. Tanpa uang sepeser pun di saku, Arjuna benar-benar mengandalkan "ATM Langit".

.

Di sebuah tikungan jalan yang sepi, Arjuna dihadang oleh tiga orang pemuda berambut gondrong dengan tato di sekujur lengan. Mereka memegang botol ciu dan parang yang mengkilap.

.

"Woi, gembel! Mandheg kowe! (Woi, gembel! Berhenti kamu!)" teriak salah satu preman yang hidungnya ditindik besar.

.

Arjuna berhenti pelan, wajahnya tenang banget kayak air di sumur tua. "Wonten nopo, Mas? (Ada apa, Mas?)"

.

Preman itu mendekat, baunya alkohol menyengat banget. "Kene, serahke tasmu! Paling ora kowe duwe dhuwit nggo tuku rokok, to? (Sini, serahkan tasmu! Paling tidak kamu punya uang buat beli rokok, kan?)"

.

Arjuna tersenyum kecut, ia merogoh saku sarungnya yang kosong melompong. "Ngapuro, Mas. Kulo niku mboten nggadhahi dhuwit sithik-sithik wae. (Maaf, Mas. Saya itu tidak punya uang sedikit pun.)"

.

"Halah! Rasah kakehan lambe! Buka tasmu! (Halah! Jangan banyak bicara! Buka tasmu!)" bentak preman satunya sambil mencoba menarik paksa ransel Arjuna.

.

Tiba-tiba... DESS!

.

Tangan preman itu terpental seolah-olah baru saja menyentuh kabel listrik tegangan tinggi. Ia jatuh terjengkang ke tanah sambil memegangi tangannya yang mendadak mati rasa.

.

"Astagfirullah! Kowe opo iki?! (Astagfirullah! Kamu apa ini?!)" teriaknya ketakutan.

.

Arjuna hanya diam, tapi di mata para preman itu, sosok Arjuna mendadak berubah. Tubuhnya yang tadinya kurus kering, tiba-tiba terlihat raksasa dengan bayangan Macan Putih besar yang berdiri tegak di belakangnya. Mata macan itu merah menyala, siap menerkam siapa saja.

.

"Walah... niki nopo malih? (Walah... ini apa lagi?)" gumam Arjuna sambil melihat para preman itu mendadak bersujud di tanah yang panas.

.

"Ngapuro, Gus! Ngapuro! Kulo mboten ngerti nek jenengan niku 'Wong Wingit'! (Ampun, Gus! Ampun! Saya tidak tahu kalau Anda itu 'Orang Keramat'!)" teriak si bos preman sambil gemetaran hebat.

.

Arjuna menghela napas panjang. Ia justru kasihan melihat mereka. "Sampun, Mas. Mpun wedi. Kulo namung numpang lewat. (Sudah, Mas. Jangan takut. Saya cuma numpang lewat.)"

.

Si bos preman buru-buru merogoh sakunya, mengeluarkan uang seratus ribuan hasil palakannya tadi. "Niki Gus... mbeto dhuwit niki nggo sangu! (Ini Gus... bawa uang ini buat bekal!)"

.

Arjuna menggeleng tegas. "Mboten, Mas. Jatah kulo niku namung mlaku, dudu dhuwit haram. Balekne dhuwit niku neng wong-wong sing mbok palak mau. (Tidak, Mas. Jatah saya itu cuma jalan kaki, bukan uang haram. Kembalikan uang itu ke orang-orang yang kamu palak tadi.)"

.

Arjuna kemudian melanjutkan langkahnya. Anehnya, meskipun ia berjalan pelan, dalam tiga langkah saja sosoknya sudah menghilang di balik tikungan jalan, seolah-olah bumi yang ia injak bergeser dengan cepat (Ilmu Lipat Bumi).

.

Para preman itu melongo. Mereka langsung membuang botol minuman kerasnya dan berjanji tidak akan malak lagi. "Iku mau malaikat opo menungso? (Itu tadi malaikat apa manusia?)"

.

Sementara itu, Arjuna sampai di sebuah mushola tua yang atapnya sudah hampir roboh di pinggir sawah. Di sana, seorang kakek tua sedang menyapu halaman dengan sapu lidi yang sudah tinggal batangnya saja.

.

"Mbah... kulo numpang ngiyup nggih. (Mbah... saya numpang berteduh ya,)" ucap Arjuna sopan.

.

Si kakek berhenti menyapu, menatap Arjuna dengan mata yang sangat jernih. "Wis teko kowe, Le? Aku wis nunggu kowe suwene petang puluh dino. (Sudah datang kamu, Nak? Aku sudah menunggumu selama empat puluh hari.)"

.

Arjuna terkejut bukan main. "Nunggu kulo? (Menunggu saya?)"

.

Kakek itu tersenyum misterius. "Iyo. Gusti Allah ngutus aku nggo menehi 'Kunci' sing arep mbok nggo mbangun Al-Hikam. (Iya. Allah mengutus aku buat ngasih 'Kunci' yang mau kamu pakai buat bangun Al-Hikam.)"

Arjuna mengikuti langkah si kakek tua masuk ke dalam mushola yang dinding kayunya sudah dimakan rayap. Bau kayu lapuk dan debu tercium menyengat. Namun, begitu kakinya melangkah melewati pintu kayu yang berderit, suasana mendadak berubah total.

.

"Lho... niki pundi, Mbah? (Lho... ini di mana, Mbah?)" tanya Arjuna terperangah.

.

Pandangan mata Arjuna tidak lagi melihat dinding kayu yang bolong-bolong. Ruangan itu mendadak meluas menjadi sebuah perpustakaan raksasa yang sangat megah. Ribuan kitab kuno berjajar rapi di rak-rak emas yang tingginya sampai ke langit-langit. Wangi cendana dan melati menggantikan bau debu tadi.

.

Si kakek tua tertawa pelan, tubuhnya yang bungkuk mendadak tegak dan mengeluarkan cahaya putih yang sejuk. "Iki jenenge Baitul Hikmah, Juna. Panggonan nggo nyimpen ilmu-ilmu sing ora saged diwoco menungso biasa. (Ini namanya Baitul Hikmah, Juna. Tempat buat menyimpan ilmu-ilmu yang tidak bisa dibaca manusia biasa.)"

.

Arjuna berjalan mendekati salah satu rak. Ia melihat kitab-kitab itu ditulis dengan tinta emas yang menyala. Ada kitab tentang rahasia langit, pengobatan batin, hingga kitab tentang cara menata hati agar selalu nyambung dengan Tuhan.

.

"Kowe mrene dudu nggo dadi wong sakti sing saged mabur utawa ngilang, Le. (Kamu ke sini bukan buat jadi orang sakti yang bisa terbang atau menghilang, Nak.)" Kakek itu mengambil sebuah kitab kecil bersampul kulit kijang hitam.

.

Kakek itu menyodorkan kitab itu pada Arjuna. "Gowoen iki. Iki isine donga-donga nggo 'Nukang' atine umat. Besok nek Al-Hikam wis dadi, kowe bakal nemoni wong-wong sing ragane sehat nanging jiwane mati. Kitab iki obate. (Bawalah ini. Ini isinya doa-doa buat 'Menukang' hatinya umat. Besok kalau Al-Hikam sudah jadi, kamu bakal menemui orang-orang yang raganya sehat tapi jiwanya mati. Kitab ini obatnya.)"

.

Arjuna menerima kitab itu dengan tangan gemetar. Begitu ia memegang sampulnya, seluruh isi kitab itu seolah-olah berpindah masuk ke dalam kepalanya secara gaib. Arjuna mendadak paham ribuan hadis dan tafsir yang sebelumnya tidak pernah ia pelajari.

.

"Matur suwun, Mbah. Nanging... kulo niki namung kuli, nopo pantes mbeto ilmu niki? (Terima kasih, Mbah. Tapi... saya ini cuma kuli, apa pantas membawa ilmu ini?)" tanya Arjuna merendah.

.

Si kakek menepuk pundak Arjuna. "Kuli kuwi kerjo nganggo otot nggo mbangun omah. Kowe kuwi 'Kuline Gusti Allah', kerjo nganggo ati nggo mbangun iman. Pangkatmu luwih dhuwur tinimbang menteri-menteri neng Jakarta kuwi. (Kuli itu kerja pakai otot buat bangun rumah. Kamu itu 'Kulinya Allah', kerja pakai hati buat bangun iman. Pangkatmu lebih tinggi daripada menteri-menteri di Jakarta itu.)"

.

Tiba-tiba, ruangan megah itu bergetar hebat. Suara adzan ashar sayup-sayup terdengar dari kejauhan.

.

"Wis titi wancine kowe budhal maneh. Jogoen kitab iki neng njero dadamu, ojo dipamerke neng liyan. (Sudah waktunya kamu berangkat lagi. Jagalah kitab ini di dalam dadamu, jangan dipamerkan ke orang lain.)" pesan si kakek.

.

BLAP!

.

Dalam sekejap, Arjuna sudah berdiri kembali di halaman mushola tua yang reot tadi. Si kakek tua sudah menghilang, menyisakan sapu lidi yang tergeletak di tanah. Arjuna meraba dadanya, ia merasa ada sesuatu yang hangat dan berat bersemayam di sana—ilmu Baitul Hikmah.

.

Arjuna kembali melangkah, menuju arah timur. Di tengah sawah, ia berpapasan dengan seorang petani yang sedang menangis karena padinya diserang hama wereng sampai habis.

.

Arjuna berhenti, ia teringat kitab gaib tadi. Ia mengambil segenggam tanah di pinggir sawah, membacakan sebaris doa dari kitab batinnya, lalu meniup tanah itu ke arah sawah si petani.

.

"Mbah, sampun nangis. InsyaAllah sesuk parine sae malih. (Kek, jangan nangis. InsyaAllah besok padinya bagus lagi,)" ucap Arjuna sambil tersenyum tenang.

.

Si petani hanya melongo melihat musafir dekil itu pergi. Keesokan harinya, seluruh desa geger karena sawah kakek itu mendadak hijau royo-royo dan hamanya hilang tak berbekas dalam semalam, sementara sawah lainnya tetap rusak. Nama "Gus Kuli" pun mulai jadi buah bibir di kalangan rakyat kecil Jawa Tengah.

Langkah kaki Arjuna membawanya masuk ke sebuah kota besar di Jawa Tengah. Suasana bising knalpot dan gedung-gedung kaca yang menjulang tinggi menyambut kedatangannya. Arjuna merasa sesak, hawa di kota ini terasa "panas" karena penuh dengan ambisi dan pamer kekayaan.

.

Di sebuah perempatan jalan utama, kerumunan orang terlihat sangat ramai. Ternyata ada acara peresmian sebuah gedung mal mewah yang baru saja selesai dibangun. Puluhan karangan bunga berjajar, dan seorang pejabat tinggi berpakaian necis sedang berdiri di panggung sambil memegang gunting pita.

.

"Gedung ini adalah bukti kemajuan kita! Tidak ada yang bisa merobohkan kemegahan ini!" ucap si pejabat dengan nada sombong yang meluap-luap.

.

Arjuna yang sedang berjalan di trotoar tepat di depan gedung itu, hanya menoleh sekilas. Ia melihat aura hitam pekat menyelimuti pondasi gedung itu. Rupanya, gedung itu dibangun di atas tanah sengketa yang rakyat kecilnya diusir paksa.

.

"Walah... niki nopo to, kok ambune mboten penak sanget? (Walah... ini apa sih, kok baunya tidak enak banget?)" gumam Arjuna sambil menutup hidungnya.

.

Arjuna baru saja melangkah tiga tindak tepat di depan pintu utama gedung itu. Tiba-tiba, cincin hitam di jarinya bergetar hebat. Kitab gaib yang ada di dadanya seolah memberikan "teguran" pada tanah yang dizalimi itu.

.

KRAAAAAKKK!

.

Tiba-tiba, suara retakan yang sangat keras terdengar dari arah pilar utama gedung. Keramik-keramik mahal di dinding gedung itu pecah berhamburan ke lantai.

.

"Lho! Ada gempa?! Gempa?!" teriak para pejabat di panggung panik.

.

Orang-orang lari berhamburan keluar. Padahal tidak ada gempa bumi sama sekali. Namun, tepat di jalur yang dilewati Arjuna, aspal jalanan sedikit ambles, dan tembok gedung yang dilewati bayangan Arjuna mendadak retak-retak seperti diguncang kekuatan raksasa.

.

Si pejabat tadi terjatuh dari panggung karena kaget. Ia melihat ke arah jalan raya, dan matanya tertuju pada sosok pemuda dekil bersarung yang berjalan tenang tanpa menoleh sedikit pun.

.

Di mata batin si pejabat yang kebetulan punya "pegangan" dukun, ia melihat Arjuna tidak berjalan sendirian. Di samping Arjuna, ada sosok Macan Putih yang cakarnya sesekali menggaruk aspal, menciptakan retakan-retakan itu.

.

"Woi! Gembel! Kowe lapo?! (Woi! Gembel! Kamu ngapain?!)" teriak ajudan pejabat itu mencoba mengejar Arjuna.

.

Arjuna berhenti sebentar, menoleh dengan tatapan yang sangat tajam sampai si ajudan mendadak kaku tidak bisa gerak. "Kulo mboten nopo-nopo, Mas. Gedunge jenengan niku sing nangis mergo pondasine nggo dhuwit haram. (Saya tidak apa-apa, Mas. Gedung kalian itu yang menangis karena pondasinya pakai uang haram.)"

.

Arjuna melanjutkan langkahnya. Begitu ia menjauh dari area gedung, retakan itu berhenti, tapi mal mewah yang baru mau diresmikan itu sudah hancur setengahnya di bagian depan. Acara peresmian itu pun batal total dan jadi aib nasional.

.

Arjuna masuk ke sebuah gang sempit di balik gedung-gedung tinggi itu. Di sana, ia melihat sekelompok kuli pelabuhan yang sedang duduk lesu karena seharian tidak dapat borongan kerja.

.

"Monggo, Mas... niki wonten sethithik nggo ganjel weteng. (Mari, Mas... ini ada sedikit buat ganjal perut,)" ucap Arjuna sambil menyodorkan sebungkus nasi jagung pemberian petani kemarin yang sebenarnya sudah dingin.

.

Anehnya, saat nasi jagung yang cuma sebungkus itu dibuka, isinya tidak habis-habis. Sepuluh orang kuli itu makan kenyang sampai bersendawa, tapi nasi di bungkus itu tetap utuh seolah-olah terus bertambah secara gaib.

.

"Lho, Mas... niki sego nopo kok mboten telas-telas? (Lho, Mas... ini nasi apa kok tidak habis-habis?)" tanya salah satu kuli heran.

.

Arjuna hanya tersenyum sambil menyumet rokok kreteknya. "Niku segone Gusti Allah. Nek dipangan bareng-bareng kanthi ikhlas, mboten bakal telas. (Itu nasinya Allah. Kalau dimakan bersama-sama dengan ikhlas, tidak akan habis.)"

.

Malam itu, di tengah kota yang sombong, Arjuna tidur pulas di emperan toko bersama para kuli. Ia merasa jauh lebih terhormat tidur di sana daripada di hotel bintang lima milik pejabat yang tadi gedungnya retak.

.

"Besuk kudu tekan perbatasan Jatim... (Besok harus sampai perbatasan Jatim...)" bisik Arjuna sebelum terlelap, sementara macan putihnya berjaga di ujung gang, membuat semua niat jahat orang yang lewat langsung hilang seketika.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!