Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.
Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.
Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.
Yang mengerikan bukan caranya membunuh.
Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.
Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Wanita Tua
Wei Mou Sha menangkap pergelangan tangan kanan pemuda itu, bukan dengan kekuatan, tapi dengan presisi, jari-jarinya menekan tepat di satu titik di antara dua tulang pergelangan tangan yang kalau ditekan dengan sudut yang benar akan...
Pemuda itu berhenti bergerak.
Wei Mou Sha melepaskan genggamannya dan mundur dua langkah.
"Lima menit selesai," katanya.
Pemuda itu berdiri dengan lengan kanan yang masih sedikit kesemutan, menatap Wei Mou Sha dengan ekspresi yang sudah sepenuhnya berbeda sejak tadi.
Ia bukan marah ataupun malu. Tetapi lebih dekat ke penasaran.
"Teknik apa itu?"
"Tidak punya nama."
"Dari mana kamu belajar teknik seperti itu?"
"Dari pengamatan."
Pemuda itu diam sebentar. Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak Wei Mou Sha duga, ia memberikan penghormatan kecil, tangan kanan di dada kiri, cara yang dipakai para kultivator Pedang Langit Utara untuk mengakui lawannya yang sepadan.
"Feng Bai," katanya. "Murid inti Sekte Pedang Langit Utara."
Wei Mou Sha menatap gestur hormat itu sebentar.
"Wei Mou Sha. Kultivator bebas?"
Feng Bai mengangguk pelan, ekspresinya menunjukan bahwa ia sedang menghitung ulang sesuatu. "Dua minggu lagi turnamen. Kalau kamu ikut, aku akan cari kamu di babak utama."
Wei Mou Sha tidak menjawab. Ia sudah berbalik dan jalan ke arah pintu keluar arena.
Feng Bai masih melihat punggungnya sampai Wei Mou Sha hilang di balik pintu, dua pengikutnya berdiri di belakang dengan ekspresi yang tidak tahu harus mengeluarkan ekspresi seperti apa.
"Senior Feng..." salah satu pengikut itu ragu. "Apakah tadi kita kalah?"
Feng Bai tidak langsung menjawab.
"Aku tidak tahu," katanya akhirnya, "Tapi sepertinya ia juga tidak tahu."
Wei Mou Sha jalan keluar dari arena ke arah jalan utama, menyortir data yang baru ia kumpulkan.
Hasilnya tidak menggembirakan.
Feng Bai, yang bahkan bukan murid terkuat Pedang Langit Utara berdasarkan komentar pengikutnya, sudah di tingkat yang butuh Wei Mou Sha untuk benar-benar memperhatikan. Kalau standar ini berlaku untuk semua peserta turnamen, maka cuma menghindar tidak akan cukup.
Ia perlu berkembang dalam pertarungannya.
Masalahnya, berkembang dalam konteks kultivasi formal butuh sesuatu yang tidak ia punya, yaitu fondasi teknik yang terstruktur. Titik qi yang ia hafal adalah pengetahuan anatomi, bukan teknik bertarung. Meditasi yang ia pelajari adalah untuk menstabilkan segel, bukan untuk bangun kekuatan kultivasi yang bisa dipakai dalam pertarungan sesungguhnya.
Ia butuh akses ke Perpustakaan Awan. Dan untuk itu, ia perlu menang dalam turnamen.
Lingkaran yang tidak efisien, catatnya.
Di tengah pikirannya yang sedang mengkalkulasi, sesuatu bikin langkahnya sedikit melambat.
Sebuah toko kecil di sisi jalan yang pintunya terbuka, dan dari dalamnya tercium sesuatu yang Wei Mou Sha tidak punya nama untuknya, sesuatu yang hangat dan sedikit manis, seperti kayu yang dipanaskan dengan tambahan sesuatu dengan bunga-bungaan.
Ia berhenti di depan pintu toko itu.
Di dalamnya, seorang wanita tua sedang mengatur pajangan ramuan dengan tangan yang bergerak pelan dan terbiasa. Toko kecil penuh dengan toples-toples kaca berisi bahan kultivasi kering, beberapa gulungan resep di rak, dan di sudut, sebuah tungku kecil yang menghasilkan asap tipis dengan bau yang ia cium tadi.
Wanita tua itu mendongak.
"Masuk atau tidak Nak? Angin akan masuk kalau pintunya dibiarkan terbuka."
Wei Mou Sha akhirnya masuk.
Ia tidak tahu mengapa.
Secara logis tidak ada alasan, ia tidak butuh ramuan, tidak butuh bahan kultivasi yang tidak bisa ia kenali, tidak butuh apapun yang dijual di toko ini.
Tapi ia sudah di dalam sebelum pikirannya selesai memperoses pertanyaan itu.
Wanita tua itu menatapnya dengan mata kecil yang tampak lebih jeli dari yang ia kira. "Kultivator muda. Tidak ada lencana. Mata yang tidak menunjukan apapun." Ia mengangguk pelan, seolah mengkonfirmasi sesuatu pada dirinya sendiri. "Pertama kali di Wanhua?"
"Ya."
"Apa ada yang dicari?"
Wei Mou Sha menatap toples-toples di sekitarnya. "Tidak tahu."
Wanita tua itu tertawa. "Jawaban yang jujur. Tidak banyak yang berani bilang tidak tahu."
Ia mengambil sesuatu dari bawah mejanya, yaitu sebuah kantong kain kecil yang dijahit rapat, dan di letakkan di meja di depan Wei Mou Sha.
"Coba ini. Gratis untuk yang pertama kali."
Wei Mou Sha menatap kantong itu. "Apa isinya?"
"Campuran herbal penenang. Untuk orang yang pikirannya terlalu sibuk." Wanita itu tersenyum. "Dari caramu berdiri, kepalamu tidak pernah berhenti bekerja."
Wei Mou Sha menatap kantong itu lebih lama dari yang seharusnya, diperlukan sesuatu untuk membuat keputusan sederhana.
Lalu ia mengambilnya.
Bukan karena ia pikir pikirannya terlalu sibuk. Tapi karena wanita tua ini, dengan matanya yang lebih tajam dari penampilannya adalah tipe sumber informasi yang sering diremehkan.
"Kamu tahu tentang Perpustakaan Awan?" tanya Wei Mou Sha.
Wanita tua itu mengangkat alisnya. "Yang tahu hal itu di Wanhua tidak banyak Nak. Yang berani tanya lebih sedikit lagi."
"Tapi kamu tahu."
"Mungkin." Wanita itu kembali mengatur toples-toplesnya dengan tangan yang tidak berhenti bergerak. "Perpustakaan Awan bukan sekadar tempat menyimpan catatan teknik. Ada bagian yang bahkan tiga sekte besar tidak punya akses ke dalamnya."
"Bagian apa?"
"Catatan sebelum tiga alam dipisahkan." Wanita itu berhenti sebentar. "Catatan dari era ketika langit, bumi, dan neraka masih satu."
Wei Mou Sha tidak menunjukkan reaksi di wajahnya.
Tapi di dadanya, segel berdenyut satu kali dengan tajam dan jelas, seperti sebuah konfirmasi.
"Terima kasih," katanya.
Ia meletakan dua keping perak di meja, lebih dari harga kantong herbal manapun yang wajar, dan ia berjalan keluar.
Wanita tua itu menatap punggungnya, ekspresinya berubah sedikit dari yang ia tunjukkan tadi.
Sesuatu yang lebih seperti mengenalinya.
Di luar toko, Wei Mou Sha jalan ke arah penginapannya dengan langkah yang tidak berubah.
Tapi di dalam kepalanya, potongan-potongan yang tadi belum terhubung mulai bergeser ke tempat yang lebih masuk akal.
Catatan sebelum tiga alam dipisahkan.
Segel yang bereaksi.
Kalimat dari catatan tua di laboratorium: kunci, bukan penjara.
Dan di suatu tempat di kota ini, sesuatu yang sudah meninggalkan jejaknya di mana-mana sedang menunggu.
Wei Mou Sha tidak tahu apa yang akan ia temukan di Perpustakaan Awan.