NovelToon NovelToon
Checkpoint

Checkpoint

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.

Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.

Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.

Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Dalam Mobil

Haze menyambar ponsel Aiena begitu layar terkunci terbuka, jempolnya bergerak liar menyisir setiap pesan masuk, daftar panggilan, hingga galeri foto. 

Keheningan di dalam mobil itu terasa mencekik, hanya interupsi suara napas Haze yang memburu dan geraman rendah setiap kali ia menemukan nama yang tak ia kenal atau nomor asing.

“Bersih,” desis Haze akhirnya. Ia melemparkan kembali ponsel itu ke jok belakang. “Kalau aku nemuin satu aja pesan dari bos mudamu itu, kamu nggak akan lolos dari hukuman hari ini.”

Aiena hanya mematung, menatap kosong ke arah kaca depan yang tertutup embun tipis. Ia tahu fase intimidasi verbal sudah usai, dan fase berikutnya akan segera dimulai. Haze menggeser tubuhnya lebih dekat, menghimpit Aiena hingga punggungnya menempel keras pada pintu mobil. Tangan pria itu bergerak turun, menggerakkan tuas hingga sandaran jok yang diduduki Aiena turun drastis.

Sesuatu yang sama seperti yang dilakukan Shane kemarin. Hanya saja tujuannya berbeda. Shane melakukannya untuk melindungi. Sedangkan Haze melakukannya untuk mengambil apa yang dimau tanpa peduli bahwa itu menghancurkannya. 

“Kamu punyaku kan, Aiena?” Haze berbisik tepat di telinganya, hembusan napasnya berbau kopi yang terasa memualkan bagi Aiena.

“Aku punyamu, Haze,” jawab Aiena datar, suaranya hampa seperti robot. Ia memejamkan mata rapat-rapat, memilih untuk mematikan seluruh sensor perasa di tubuhnya. Ia tahu jika ia melawan, lebam di tubuh akan didapatkannya. Sebaliknya, jika ia menurut, semua ini akan selesai lebih cepat.

Haze tertawa penuh kemenangan, sebuah suara yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Aiena. Dengan satu tangan yang masih mencengkram rahangnya, Haze menggunakan tangan lainnya untuk menyingkapkan rok Aiena dan melepaskan kain di dalamnya. Gerakannya kasar, tidak ada kelembutan, hanya nafsu yang dibalut obsesi untuk menandai wilayah. 

Aiena merasakan dinginnya udara AC mobil menyentuh kulit pahanya yang terekspos, begitu kontras yang tajam dengan tangan Haze yang panas dan berkeringat. 

Tanpa melepaskan pandangan dari wajah Aiena yang terpejam, Haze menurunkan celananya sendiri sebatas lutut dengan gerakan serampangan di ruang yang sempit itu. Ia berpindah ke atas tubuh Ainea. 

Jok samping pengemudi itu berderit saat berat tubuh mereka menyatu. Aiena menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga bibirnya berdarah. Sekuat tenaga menahan erangan yang bukan karena kenikmatan, melainkan karena rasa hina yang merayap dari ujung kaki hingga kepala.

Di dalam mobil yang terparkir di jalan sepi itu, di bawah bayang-bayang ruko terbengkalai, Aiena membiarkan dirinya hancur berkeping-keping. Ia membiarkan Haze mengambil apa yang ia mau, berharap dengan memberikan tubuhnya, ia bisa menyelamatkan sisa-sisa nyawanya untuk satu hari lagi. 

“Bersuara, Sayang,” perintah Haze sambil terus menggerakkan tubuhnya di atas tubuh kekasihnya. 

Aiena tahu, ia tidak boleh membantah. Harus menurut agar semuanya cepat selesai. Dengan terpaksa ia bersuarah, meski hatinya menolak.

“Haze… Ayo terus Haze…,” ucapnya tanpa ketulusan di dalamnya. Kemudian kembali terdiam lagi selama beberapa saat.

Haze bergerak semakin liar, napasnya memburu di ceruk leher Aiena yang kini sudah basah oleh sisa air liur saat pria itu terus mencoba membuat tanda kepemilikan baru di atas kulit pucat tersebut. 

“Bersuara, Na! Aku mau dengar suaramu!” desisnya, suaranya parau karena nafsu yang meluap-luap.

Aiena terpaksa membuka mulutnya lagi, mengeluarkan desahan lirih yang dipaksakan atas perintah pria di atasnya. Setiap suara yang keluar dari tenggorokannya terasa seperti duri yang menyakitkan, sebuah pengkhianatan terhadap dirinya sendiri. Namun, bagi Haze, suara itu adalah bensin yang menyulut api kegilaannya. Ia merasa menang, merasa benar-benar memiliki wanita di bawahnya ini seutuhnya.

Kebrutalan pria itu mencapai puncaknya saat tangannya yang besar terangkat, lalu mendarat dengan telak menghantam pantat Aiena. Suara tamparan itu menggema keras di ruang sempit tersebut, meninggalkan rasa panas yang membakar kulit.

“Aaakh!” Sebuah pekik kesakitan lolos dari bibir Aiena, tubuhnya melengkung refleks karena kejutan rasa sakit yang menyengat.

Tangisan yang sedari tadi ditahannya pecah, namun Haze justru menyeringai puas melihat air mata itu. Baginya, rasa sakit Aiena adalah bukti bahwa ia berkuasa. Gerakannya menjadi semakin cepat dan tak terkendali, mengabaikan rintihan lirih wanita itu yang memohon agar semuanya segera berakhir. Haze mencengkram bahu Aiena dengan kuku yang menancap dalam meski masih terbungkus kain kemeja, matanya terpejam erat saat ia mencapai titik puncaknya.

Keheningan yang mengerikan seketika menyergap setelah Haze mengeluarkan erangan panjang. Semuanya tertumpah di dalam tubuh Aiena, sebuah tanda kepemilikan yang seolah menginjak harga diri Aiena. 

Haze ambruk di atas tubuh kecil itu selama beberapa detik, membiarkan berat badannya menekan napas Aiena, sebelum akhirnya ia menjauhkan diri dengan wajah yang tampak sangat tenang, seolah-olah ia baru saja melakukan tindakan kasih sayang yang benar.

Aiena tetap berbaring di jok samping pengemudi yang kini berantakan, menatap langit-langit mobil dengan mata kosong. Ia merasa seperti wadah yang baru saja dicemari, sebuah barang yang telah digunakan dan diletakkan kembali begitu saja. 

Sementara Haze mulai merapikan pakaiannya sendiri dengan santai, tanpa sedikitpun rasa bersalah, sementara Aiena masih berjuang untuk sekadar menarik napas di tengah sisa-sisa aroma obsesi yang menyesakkan itu.

***

1
Wid Sity
eaaa, ngobrol apa tu
Wid Sity
pantesan gerak-geriknya Shane aneh
Quoari: Iya, mengganggu konsentrasi
total 1 replies
Wid Sity
ngakak banget salah nyebut panggilan 🤣
Quoari: Untung yang lain nggak ngeh
total 1 replies
Wid Sity
ternyata matanya Shane plus
Quoari: Minus
total 1 replies
Wid Sity
ternyata Shane grogi juga
Quoari: Iya, setelah semalam keceplosan
total 1 replies
Wid Sity
Halah, ngeles aja pak
Quoari: Masih malu malu dia 🤭
total 1 replies
Wid Sity
aw, jadi tersipu malu 🤭
Wid Sity
kayaknya takut dilacak oleh Shane, makanya menghilang dan ganti nomer
Quoari: Iya, melarikan diri dari shane
total 1 replies
Wid Sity
harusnya lega dong. Ini kenapa perasaanmya jadi kosong, jangan2 Aiena masokis ya
Quoari: Karena udah lama sama haze, udah sayanf sbenernya
total 1 replies
Wid Sity
kalian kepo ya kalo ada orang berantem
Quoari: Iya, apalagi bosnya sendiri yang berantem
total 1 replies
Quoari
Memang segitu redflagnya
Quoari
Makanya Aiena nurut biar cepet
Quoari
Iya, udah berapa kali
Wid Sity
lama juga menghilangnya, untung gak dipecat
Quoari: Sembuhnya lama. Ga dipecat karena shane
total 1 replies
Wid Sity
hey, sadar Na. Kamu kesakitan kan gara2 Haze. Jangan luluh
Wid Sity
harusnya kamu minta maaf utk hal lain sat. Gak sadar diri salahnya apa
Quoari: Emang gitu dia. Pinter manipulasi perasaannya aiena
total 1 replies
Wid Sity
tapi kalo kamu meninggal duluan gara2 melakukan hal aneh2. Ortumu lebih terpukul lagi, Na
Quoari: Untungnya nggak terjadi
total 1 replies
Wid Sity
kok Aiena gak mau cerita ya? Kalo cerita kan bisa dibantu. Kalo dipendem sendiri, selamanya akan terjerat dengan Haze dong
Quoari: Percuma, haze yang dibela
total 1 replies
Wid Sity
Haze tu tampang malaikat tapi berhati iblis
Quoari: Betul
total 1 replies
Wid Sity
Haze gila ya, cemburu sama darah daging sendiri. Enggak mau ada anak. Kalo gak mau ada anak, harusnya jangan kawin, sat. Doyan kawin doang, gak mau anaknya
Quoari: Emang egois dan posesif
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!