NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ilmu Kanuragan / Iblis
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Namun, sebelum Ki Bagaskara sempat melangkah untuk memulai ritualnya, Gandraka mengangkat tangannya. Bocah itu berdiri tegak di tengah halaman yang terpanggang panas, matanya menatap lurus ke arah matahari merah yang tak mau tenggelam itu tanpa berkedip.

​"Ayah, tunggu. Ini bukanlah sihir atau teluh biasa," suara Gandraka terdengar sangat tenang, namun membawa beban yang sangat berat.

​Ki Bagaskara menghentikan gerakannya, menatap putranya dengan dahi berkerut. "Apa maksudmu, Nak?"

​"Eyang Jagad Ireng telah menarik seluruh desa kita masuk ke dalam dunia ilusinya—sebuah Jagad Kelir yang ia ciptakan dari dendam," lanjut Gandraka sembari menunjuk bayangan mereka sendiri yang tampak aneh dan tidak bergerak mengikuti arah cahaya.

​"Matahari itu adalah matanya, dan langit ini adalah kurungannya. Ritual biasa tidak akan mempan untuk menghancurkan sihir ini, Ayah. Jika kita hanya menggunakan air garam dan doa penolak bala, kita hanya akan membuang tenaga sementara waktu di dalam sini terus berjalan tanpa henti. Kita tidak sedang berada di Mojorejo yang asli lagi."

​Jayantaka merinding mendengar penjelasan itu. Pantas saja luka di perutnya terasa semakin berdenyut, seolah-olah ilusi itu sedang menghisap sisa hidupnya.

​"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Nyai Lodra sembari mempererat genggamannya pada kendi yang ia bawa.

​Gandraka menoleh ke arah Jayantaka, lalu kembali ke ayahnya. "Kita harus menghancurkan titik tumpu ilusinya. Dan titik itu ada pada anak-anak yang kini sedang koma di balai desa. Mereka bukan sekadar korban, Ayah. Mereka adalah pasak yang menahan dunia ilusi ini agar tetap berdiri."

"aku merasakan Ada tujuh anak yang telah menjadi pasak ilusi ini," ucap Gandraka, suaranya terdengar jauh lebih dewasa dari usianya. Matanya yang hitam pekat menyapu cakrawala yang memerah.

​"Aku membutuhkan waktu untuk menyadarkan mereka satu per satu. Normalnya, satu anak membutuhkan satu hari untuk ditarik kembali sukmanya. Namun, aku akan berusaha melakukannya secepat mungkin, menembus batas waktu yang tersisa."

​Gandraka beralih menatap Ki Bagaskara dan Jayantaka dengan tatapan yang sangat serius. "Kita harus bergegas. Jika ketujuh pasak itu tidak segera kulepaskan, ilusi ini akan mengunci selamanya. Desa kita bukan lagi bagian dari dunia manusia, melainkan benar-benar akan berubah menjadi neraka yang abadi di bawah kendali eyang Jagad Ireng."

​Nyai Lodra tercekat, tangannya gemetar mendengar risiko yang harus dihadapi putranya. "Tujuh hari? Tapi matahari itu sudah membakar tanah ini, Gandraka. Kita tidak punya waktu selama itu!"

​"Maka dari itu," Gandraka melangkah menuju gerbang halaman, "Ayah dan Tuan Senopati harus menjagaku. Saat aku memasuki pikiran anak-anak itu, ragaku akan kosong. Itu adalah saat di mana eyang Jagad Ireng akan mengirimkan 'anjing-anjingnya' untuk menghabisi kita semua."

​Jayantaka mengertakkan gigi, berusaha mengabaikan rasa perih di lambungnya. Ia menghunus kerisnya yang berkilat memantulkan cahaya matahari merah. "Aku tidak tahu banyak soal dunia ilusi, tapi selama nyawaku masih melekat, tak akan kubiarkan satu bayangan pun menyentuhmu, Bocah."

Ki Bagaskara mengangguk mantap, meskipun ia tahu beban yang akan dipikul putranya sangatlah berat. Ia segera masuk ke dalam rumah dan keluar membawa sebuah tongkat kayu jati tua yang ujungnya dibalut kain hitam.

​"Bawa mereka ke balai desa sekarang," perintah Ki Bagaskara. "Kita tidak bisa membiarkan mereka tersebar di rumah masing-masing. Jika mereka adalah pasak, maka kita harus mengumpulkan pasak-pasak itu di satu titik agar kau bisa bekerja lebih cepat, Gandraka."

​Mereka segera bergerak menembus udara panas yang makin menyesakkan paru-paru. Sepanjang jalan menuju balai desa, pemandangan tampak mengerikan. Penduduk desa terlihat merayap di tanah, menjilati embun yang sudah kering, atau sekadar duduk melamun menatap matahari dengan mata merah yang mulai melepuh. Mereka seperti kehilangan akal sehat karena panas yang tak kunjung usai.

​Setibanya di balai desa, pemandangan di sana jauh lebih mencekam. Ketujuh anak itu—termasuk Nadi dan Boyo Jaya—dibaringkan melingkar di atas lantai panggung kayu. Tubuh mereka kaku, namun dari pori-pori kulit mereka keluar uap hitam tipis yang merayap naik menuju langit-langit, menyambung langsung dengan "matahari" di atas sana.

​"Lihat itu," Gandraka menunjuk uap hitam tersebut. "Itu adalah tali sukma yang sedang diperas energinya untuk memberi makan ilusi ini."

​Gandraka segera mengambil posisi di tengah lingkaran ketujuh anak itu. Ia duduk bersila, memejamkan mata, dan mulai merapal mantra yang suaranya terdengar seperti dengungan ribuan lebah.

​"Aku masuk sekarang!" seru Gandraka pelan.

​Seketika, tubuh Gandraka menegang, lalu kepalanya terkulai lemas. Raganya masih di sana, namun sukmanya telah melesat masuk ke dalam labirin pikiran anak pertama: Nadi.

​"Dia sudah mulai," bisik Nyai Lodra sembari mulai menaburkan butiran beras kuning di sekeliling lingkaran tersebut.

​Namun, baru saja Gandraka memulai perjalanannya, suhu di dalam balai desa mendadak turun drastis hingga menusuk tulang. Bayangan dari tiang-tiang bangunan mulai memanjang secara tidak wajar, meski matahari di langit tetap diam di tengah. Bayangan-bayangan itu mulai bangkit, berubah menjadi sosok-sosok hitam tanpa wajah yang membawa sabit besar.

​"Mereka datang," Jayantaka berdiri di depan tangga balai desa, kerisnya mengeluarkan aura kebiruan yang samar. "Ki Bagaskara, jaga Gandraka dari belakang! Biar yang di depan ini menjadi urusanku dan keris ini!"

​Dari kegelapan di bawah kolong balai desa, terdengar suara tawa melengking yang memekakkan telinga. Surya Pralaya baru saja dimulai, dan tujuh malam yang panjang kini harus mereka lalui dalam hitungan jam yang penuh darah.

Ki Bagaskara dan Nyai Lodra saling berpandangan, mata mereka menyiratkan pergulatan batin yang hebat. Jika saat ini mereka mengeluarkan kemampuan silat yang selama ini terkunci, rahasia besar yang mereka pendam bertahun-tahun akan terkuak lebar di depan mata Jayantaka. Namun, keselamatan Gandraka dan nyawa seluruh warga desa kini menjadi taruhan yang tak bisa ditawar lagi.

​Saat Ki Bagaskara mulai mengencangkan kuda-kudanya, Jayantaka yang memperhatikan gerak-gerik mereka akhirnya angkat bicara dengan suara yang tenang namun menusuk.

​"Sudahlah," ucap Jayantaka sembari menyeka darah di sudut bibirnya. "Tak perlu lagi kalian bersembunyi di balik topeng petani sederhana. Aku sudah tahu siapa kalian sebenarnya."

​Langkah Ki Bagaskara terhenti. Ia menoleh perlahan, menatap sang Senopati dengan pandangan waspada.

​"Kalian adalah dua jagal legendaris dari Klan Anggrek Hitam yang dikabarkan menghilang belasan tahun lalu," lanjut Jayantaka tegas. "Dan sosok yang sedang kita hadapi saat ini, Eyang Jagad Ireng, adalah ayah kalian sendiri—pria yang menyimpan dendam kesumat karena kalian telah membantai ribuan pengikut klan demi menyelamatkan bayi Gandraka dari cengkeramannya. Dia bukan sekadar iblis, dia adalah kakek dari bocah itu sendiri."

​Nyai Lodra mematung, wajahnya pucat mendengar rahasia paling kelamnya diurai begitu saja.

​"Jangan lupa, aku adalah Penyelidik Agung dari Trowulan," tambah Jayantaka sembari menghunus kerisnya. "Tebasan-tebasan senjata pada puluhan mayat yang kalian kubur secara rahasia di tengah hutan itu telah kuperiksa. Pola lukanya sangat khas; aku mengenali teknik pedang Anggrek Hitam di mana pun. Tak ada petani yang bisa membelah raga manusia seteliti itu dalam satu tarikan napas."

​Suasana mendadak menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Rahasia yang selama ini mereka tutup rapat dengan kehidupan desa yang damai kini terbongkar.

​"Jika hari ini kalian ingin bertarung sebagai jagal, bertarunglah," ucap Jayantaka lagi. "Aku tidak peduli siapa kalian di masa lalu. Yang aku peduli hanyalah memastikan bocah ini berhasil melepaskan pasak-pasak terkutuk itu. Sekarang, tunjukkan padaku kenapa Klan Anggrek Hitam begitu ditakuti di tanah Jawa!"

1
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg otorrrr
🆓🇵🇸 Jenahara
🔥🔥🔥
🆓🇵🇸 Jenahara
semakin seru 🔥
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll...
saniscara patriawuha.
ini Ra Kuti yang mana mang otor...
Semoli Ginon
waladalah. 👍👍👍
🆓🇵🇸 Jenahara
wah kaya pasukan es dari utara...
pendekar angin barat
patih Gajahmada mana....
saniscara patriawuha.
lama kalipun mang mada mendongolllll
🆓🇵🇸 Jenahara
mari beraksi 🔥
saniscara patriawuha.
nahhhhh iniiiii...... nihhhhh
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap.... Up
saniscara patriawuha.
gassssd pollllll....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
🆓🇵🇸 Jenahara
Up 🔥
saniscara patriawuha.
mantappppp polllllll...
👁Zigur👁: makasih b5 nya 🙏🏻
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassdddddd...
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkeunnnnn...
saniscara patriawuha.
mantapppppp..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!