Note: alur nya gak terlalu cepat, jadi buat yg enjoy ama alur yang meningkat sedikit demi sedikit aja ya guys
Hidup sebatang kara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah membuat Alvaro mau tak mau harus bisa terbiasa dengan yang namanya usaha dan kerja keras walaupun sering mengalami kegagalan.
karena ia tahu jika ia menyerah untuk berjuang maka itu berarti mengucapkan selamat tinggal bagi masa depannya dan berakhir hidup di bawah bayang bayang jembatan.
satu hal yang menjadi alasan mengapa dia tetap tak menyerah adalah karena ucapan almarhum ibunya ketika di ujung maut dahulu bahwa dirinya harus tetap berusaha dan tidak menyerah.
namun entah takdir mempermainkan dirinya atau apa, ia harus mengalami kejadian tragis ketika dalam perjalanan pulang selepas kerja..
bagaimana kelanjutan nya?, tetap ikuti cerita nya tak lain dan tak bukan hanya di novel saya "Sistem Kekayaan dan Kekuasaan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpion's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Luka dan Kenangan II
Di sebuah ruang operasi terlihat beberapa dokter bedah sedang menangani pasien dengan luka robek di bagian perutnya, pasien itu tak lain adalah ibu dari Alvaro yang mengalami luka tusukan di perut nya.
"Dokter kepala, kondisi organ dalam pasien cukup rumit." Ucap salah satu dokter pada pemimpin bedah.
"Ya aku juga sadar, kondisi organ pasien terlalu rapuh, bahkan sedikit kesalahan malah membuat luka robekan pada usus makin parah." Balas dokter kepala yang sedang menjahit usus pasien yang terkena senjata tajam itu.
Diluar nampak beberapa orang menunggu harap harap cemas, diantaranya nampak Bibi Arin yang mendampingi Alvaro yang sudah bangun dari tidurnya dan memaksa menemui sang ibu.
"Pak ini sudah operasi ke berapa kali?" Bisik bibi Arin pada suaminya pak Joko.
"Ini sudah kedua kalinya, menurut dokter luka sobek itu cukup rumit atau apalah aku juga bingung jelasin nya." Balas pak Joko.
"Gimana sih pak?" Tanya Bibi Arin kesal, namun akhirnya ia mendesah pasrah.
setelah beberapa saat lampu ruangan operasi mati diikuti dokter yang keluar dari ruangan, Alvaro yang melihatnya pun langsung berlari ke arahnya dengan cepat.
"Dok.. Bagaimana keadaan ibuku??" Tanya Alvaro langsung memegang lengan sang dokter.
"Oh itu.." Ia pun menoleh ke arah bibi Arin yang baru datang.
"Keadaan pasien untuk sementara sudah cukup stabil dan operasi berjalan cukup lancar." Ucap dokter yang langsung membuat Alvaro menangis lega, ia pun langsung memeluk Bibi Arin karena merasa lega.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ FlashBack Off ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadi bagaimana keadaan ibumu setelah itu?" Tanya seorang laki laki sebaya pada pemuda di depannya.
Keduanya tak lain adalah Alvaro dan dokter Tirta, sepertinya Alvaro memutuskan untuk menceritakan tentang asal usul luka di dadanya.
"Sebenarnya ibu saat itu sudah mulai stabil, namun entah kenapa pemulihannya terlalu lambat, bahkan beberapa kali ibu mengalami komplikasi dan pendarahan mendadak pada bekas jahitan." Ucap Alvaro sambil menunduk.
"Kenapa begitu?" Tanya Dokter Tirta bingung, mungkin jika sekali dua kali bisa dimaklumi, namun jika beberapa kali itu bisa cukup di curigai.
"waktu itu tidak ada yang tahu, saya sudah memberatkan keluarga Bibi berkali kali. bahkan hingga meminta bantuan ke kepala desa untuk membayar perawatan. Namun karena kondisi terlalu mepet saya sampai harus menggadaikan beberapa barang dan surat tanah warisan nenek." Ucap Alvaro, Dokter Tirta yang merasa pembahasan nya terlalu berat sedikit tidak enak hati apalagi melihat ekspresi Alvaro yang muram.
"Pada akhirnya ibu divonis tidak bisa bertahan lebih dari tiga bulan karena ibu ternyata mengidap penyakit Vascular EDS." Ucap Alvaro yang mulai menitikkan air mata nya.
Dokter Tirta yang mendengar nya langsung memeluk Alvaro untuk menenangkan nya, ia sedikit menyesal karena harus membuat Alvaro membuka kembali luka lama nya.
Namun di sisi lain ia berharap dari ia menceritakan nya, hal itu bisa membuat beban pikiran nya sedikit longgar.
...----------------...
Di ruang samping yang hanya di pisahkan sebuah gorden tipis, Nadine ternyata mendengar cerita Alvaro dari awal.
Ia meremas tangannya kuat kuat, ia bahkan nampak meneteskan airmata nya haru. Ia benar benar tak menyangka bahwa terdapat cerita yang sangat sedih di balik wajah Alvaro yang tenang itu.
Sebelumnya ia hanya sedikit tertarik pada Alvaro hanya karena ia adalah salah satu korban bully dari Rudi, bahkan ia tak tahu bahwa orang tua Alvaro ternyata sudah tidak ada.
Menurutnya Alvaro hanyalah korban bully karena ia adalah siswa miskin yang mengandalkan beasiswa untuk masuk ke sekolah ini yang merupakan sekolah faforit.
Namun mendengar cerita Alvaro yang bahkan rela mengalami luka besar di umurnya yang cukup muda waktu itu benar benar membuat posisi Alvaro di pikirannya berubah cukup besar.
"Aku harus membantunya." Fikir Nadine tegas.
Besoknya Alvaro datang ke sekolah cukup siang karena ia izin untuk melakukan kontrol ke puskesmas, namun ia tiba tiba di hentikan oleh seorang satpam.
"Alvaro berhenti dulu sebentar." Ucap satpam itu sambil tolah toleh ke kiri kanan.
"Eh, ada apa pak Prapto?" tanya Alvaro bingung.
"Kamu kemarin habis ngapain kok sampai membuat sekolah ribut ribut?" Tanya pak Prapto serius, sedangkan Alvaro sedikit ragu ragu ingin menceritakan nya.
"Jujur aja ke bapak gak papa." Ucap pak Prapto mendesak yang membuat Alvaro menghelakan nafas nya, lalu ia pun menceritakan kejadian mengenai perkelahian itu dari awal hingga akhir.
"Emang benar begitu?" Tanya pak Prapto serius.
"Iya pak, memang kenapa?" Tanya Alvaro bingung dengan reaksi pak Prapto.
"Hhh.. Jadi gini cerita yang kamu ceritakan dengan yang menyebar benar benar berbeda. Dan lagi bapak sarankan kamu pulang aja dulu soalnya wakil kepala sampai mengancam ingin melaporkan kamu dengan tuduhan kekerasan berat pada polisi." Ucap pak Prapto memberi saran.
"Lah tapi kan bukan saya yang salah, karena saya mencoba melindungi diri. Dan lagi kalau dengan polisi harusnya malah saya yang benar kan pak?" Tanya Alvaro lagi bingung.
"Hmm mungkin sih, tapi entah kenapa perasaan bapak gak enak." Ucap pak Prapto khawatir.
"Tenang saja pak, nanti jika terjadi kemungkinan terburuk sampai ada polisi saya akan menceritakan nya se jelas jelasnya." Ucap Alvaro menenangkan, akhirnya pak Prapto pun mengijinkan Alvaro masuk.
Alvaro pun berjalan santai menuju sekolah, ketika menuju lorong ia merasakan bahwa banyak murid murid berbisik bisik sambil melirik ke arahnya. Ia merasa risih sebenarnya, namun ia tahan dan tetap berjalan menuju kelasnya.
"Hei Alvaro, kemari kau!!" Tiba tiba terdengar teriakan seorang wanita dari belakangnya, setelah ia menoleh ia melihat seorang guru wanita sedang menatap tajam ke arahnya sambil menunjuknya.
"Eh i-iya Bu?" tanya Alvaro mendekati guru itu.
"Kau ini suka sekali buat masalah ya?, hanya karena kau sedikit di puji kepala sekolah sampai berani melakukan kekerasan berat, apalagi pada anak wakil kepala sekolah hahh.!!" Teriak guru itu yang membuat banyak siswa menolehkan pandangannya ke arah Alvaro, bahkan nampak beberapa siswa secara terang terangan mencemooh nya.
"Cih pasti si miskin sok tuh, berani sekali dia bertindak kriminal seperti itu. Bahkan ku dengar kondisi beberapa siswa cukup parah loh." ucap salah satu siswi pada teman teman nya cukup jelas yang mengundang perhatian siswa siswi lain.
Alvaro yang mendengar itu merasa cukup tersudut, saat ia melihat wajah siswi itu ia cukup terkejut karena ia ingat bahwa siswi itu adalah siswi bawahan Rudi yang ada pas waktu kejadian.
"Berani sekali kau memutar balikkan fakta seperti itu, bukankah bahkan kalian semua tahu bagaimana sifat Rudi itu hah!!?" Tanya Alvaro cukup emosi karena mulai banyak murid yang ikut ikut.
"Plakk...." Tiba tiba sebuah tamparan ia rasakan.
"Kau yang kenapa berani sekali!!... Bahkan kau di hadapan seorang guru berani berteriak dan mengancam seorang siswi hahh?.. Mau jadi kriminal kamu hahh!!??" Bentak guru wanita itu balik ke arah Alvaro.
kritik dan saran boleh kokk