No plagiat 🚫
" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.
Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salju yang Menyulut Emosi
Kereta kencana hitam yang ditarik oleh kuda-kuda bayangan itu kini telah meninggalkan perbatasan Lembah Sunyi yang lembap dan memasuki wilayah Dataran Salju Abadi, pintu masuk utama menuju jantung Kekaisaran Utara. Di sini, udara bukan lagi sekadar dingin yang menggigit, melainkan tajam menusuk hingga ke sumsum tulang, seolah-olah ribuan jarum es tak kasat mata sedang mencoba menembus pori-pori kulit.
Di dalam kereta, He Xueyi duduk meringkuk dengan tiga lapis jubah bulu rubah putih yang sangat tebal dan mahal—pemberian dari Raja Roh sebagai tanda terima kasih. Di pangkuannya, terdapat sebuah pemanas tangan dari kuningan yang diukir indah, berisi bara api abadi yang memancarkan panas konstan. Namun, meskipun sudah dikelilingi kemewahan, wajah He Xueyi terlihat sangat masam—lebih masam daripada jeruk nipis yang diperas tepat di atas luka terbuka.
"Bian Zhi," panggil He Xueyi, suaranya terdengar sedikit serak dan berat karena baru saja terbangun dari tidur manusia yang sama sekali tidak tuntas. "Secara logika, jelaskan padaku... kenapa manusia-manusia fana ini memilih membangun pusat peradaban dan kekaisaran di tempat yang bahkan air liur pun bisa membeku menjadi kristal sebelum sempat menyentuh tanah? Apakah nenek moyang mereka tidak punya peta untuk mencari tempat yang lebih ramah, seperti tepi pantai yang hangat atau setidaknya di dekat gunung berapi yang aktif?"
Bian Zhi, yang kini mengenakan jubah kulit beruang hitam yang gagah dan menutupi separuh wajahnya dengan syal wol, menoleh sedikit dari kursi kusir tanpa melepaskan kendali kuda. "Tuan, Kekaisaran Utara berdiri di titik ini justru untuk menjaga kuil suci Jantung Naga. Jantung itu adalah pusat energi elemen air bagi seluruh dunia. Jika mereka pindah ke tempat yang hangat, keseimbangan suhu naga itu akan terganggu, mencairkan es abadi, dan menenggelamkan separuh daratan. Itu adalah bentuk pengorbanan logis demi keberlangsungan hidup makhluk lain."
"Pengorbanan?" He Xueyi mendengus sinis, lalu menyesap teh jahe panasnya dengan gerakan yang kaku karena kedinginan. "Bagiku, ini bukan pengorbanan yang heroik. Ini adalah bentuk penyiksaan terencana terhadap tamu kehormatan. Lihatlah Xiao Bo, dia bahkan sudah berhenti bergerak dan hampir berubah menjadi es mambo di pojok kursi itu."
Memang benar, Xiao Bo tampak mematung dengan ujung hidung yang memerah terang. Roh kecil itu memeluk payung hitamnya erat-erat, sementara napasnya keluar dalam bentuk gumpalan uap yang langsung membeku di udara. "T-t-tuan Besar... k-k-kapan kita s-s-sampai? Xiao Bo mau j-j-jadi arwah bakar saja kalau begini... kaki Xiao Bo sudah tidak terasa lagi..."
Tiba-tiba, kereta kencana mereka berhenti mendadak dengan guncangan yang cukup keras. Suara ringkikan kuda bayangan yang nyaring memecah kesunyian padang salju yang tak berujung. He Xueyi hampir saja menumpahkan teh jahenya jika ia tidak segera menyeimbangkan diri dengan kekuatan energinya.
"Tuan, ada blokade militer di depan kita," lapor Bian Zhi dengan nada siaga. Tangannya sudah berada di hulu pedang hitamnya, siap menariknya dalam hitungan milidetik.
He Xueyi menyibakkan tirai kereta dengan gerakan malas yang dipaksakan. Di depan mereka, berdiri sekumpulan pendekar berbaju zirah perak yang mengkilap, memantulkan cahaya matahari pucat dengan sangat menyilaukan. Di tengah-paling depan rombongan itu, berdirilah seorang pemuda tampan dengan jubah biru kerajaan yang sangat kontras dengan latar belakang putih. Pemuda itu menunggangi kuda putih besar yang napasnya mendengus keras di udara dingin.
"Saya adalah Pangeran Ketujuh, Li Wei," ucap pemuda itu dengan nada suara yang sombong namun tetap menjaga tata krama kekaisaran. "Apakah saya sedang berhadapan dengan sosok legendaris dari Lembah Sunyi, Sang Penjaga Paviliun Lentera Abadi, Detektif He Xueyi?"
He Xueyi menghela napas panjang—napas yang membentuk uap putih tebal di depan wajahnya—lalu memutuskan untuk turun dari kereta. Setiap langkah kakinya yang mengenakan sepatu sulam indah di atas permukaan salju menimbulkan suara kruk-kruk yang tajam dan berirama. Ia merapatkan jubah bulunya, menatap sang pangeran dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menilai yang sangat dingin.
"Pangeran Li Wei... secara logika yang sehat," ucap He Xueyi tanpa sedikit pun membungkuk hormat, "jika Anda dan keluarga kekaisaran Anda memang benar-benar dalam keadaan darurat dan membutuhkan bantuanku, Anda seharusnya mengirimkan kereta pemanas, sepuluh lapis selimut sutra, dan sepanci besar sup jamur salju ke perbatasan. Bukannya berdiri di sini, menghalangi jalan orang, sambil pamer jubah biru yang—jujur saja secara estetika—warnanya terlalu norak dan merusak pemandangan salju putih yang sudah membosankan ini."
Para pengawal pangeran seketika tersentak kaget. Beberapa di antaranya bahkan sudah menggerakkan tangan menuju gagang pedang mereka, merasa terhina karena pangeran mereka diejek secara terang-terangan. Namun, Pangeran Li Wei justru tertawa kecil. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar pengawalnya tetap tenang dan tidak bertindak gegabah. Ia menatap He Xueyi dengan minat yang besar, seolah baru saja menemukan artefak kuno yang sangat langka.
"Rumor itu ternyata sangat akurat. Anda memang sangat... jujur dan blak-blakan, Nona He," ujar Pangeran Li Wei, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu. "Jantung Naga itu dicuri tepat tiga malam yang lalu dari Ruang Es Seribu Tahun yang paling rahasia. Semua penjaga elit ditemukan tidak sadarkan diri tanpa ada satu pun luka fisik di tubuh mereka. Saat mereka sadar, mereka hanya memberikan satu kesaksian yang sama: mereka melihat 'wanita tanpa wajah' yang berjalan menembus dinding baja seolah-olah dinding itu hanya terbuat dari asap tipis."
Mendengar kata 'wanita tanpa wajah' dan 'menembus dinding', He Xueyi terdiam sejenak. Logika detektifnya yang tajam langsung melompat ke sebuah kesimpulan yang sangat spesifik. Ia menoleh ke arah Bian Zhi, memberikan isyarat mata yang hanya dipahami oleh asisten setianya itu.
"Wanita tanpa wajah? Menembus dinding padat? Dan kau bilang tadi ada sisa energi Yin yang sangat tipis?" tanya He Xueyi, nada suaranya berubah menjadi lebih serius dan profesional.
"Benar, Nona He. Itulah sebabnya kami sangat membutuhkan keahlian Anda untuk memecahkan misteri ini sebelum elemen air di Utara menjadi liar," jawab sang pangeran dengan raut wajah yang kini tampak cemas.
He Xueyi mendekat ke arah Pangeran Li Wei. Saat jarak mereka hanya terpaut beberapa langkah, ia mengangkat lenteranya yang kini bersinar dengan cahaya emas-ungu yang tidak stabil. Tiba-tiba, cahaya itu bergetar hebat ketika bersentuhan dengan udara di sekitar sang pangeran. He Xueyi menyadari ada sesuatu yang tidak beres—sesuatu yang "menempel" secara halus di jubah biru sang pangeran.
"Pangeran Li Wei, jangan bergerak satu inci pun jika Anda masih menghargai nyawa Anda," perintah He Xueyi dengan nada memerintah. Ia mendekat, mengabaikan tatapan waspada para pengawal, lalu dengan gerakan tangan yang sangat cepat dan halus, ia memetik sebuah kelopak bunga es transparan yang terselip di lipatan kerah jubah sang pangeran.
Begitu kelopak bunga itu berpindah ke tangan He Xueyi, benda itu tidak mencair. Sebaliknya, kelopak itu berubah menjadi gumpalan asap hitam yang pekat dan membentuk simbol kecil yang sangat spesifik: Matahari Terbenam di Balik Bulan Sabit.
"Simbol ini..." Bian Zhi mendekat, matanya menyipit penuh kewaspadaan. "Ini adalah lambang dari Sekte Bayangan Tak Terlihat. Klan pembunuh roh yang seharusnya sudah musnah total dalam perang besar lima ratus tahun lalu, Tuan."
He Xueyi meremas asap hitam itu di dalam kepalannya sampai musnah tak berbekas. Kemarahannya yang tadi hanya disebabkan oleh kurang tidur, kini berganti menjadi kemarahan profesional yang dingin dan mematikan.
"Jadi, mereka benar-benar ingin bermain-main denganku?" gumam He Xueyi, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Mereka mencuri Jantung Naga hanya agar aku datang jauh-jauh ke tempat terkutuk dan dingin ini untuk memburu mereka? Mereka pikir aku akan terkesan dengan trik 'wanita tanpa wajah' itu?"
Ia menatap Pangeran Li Wei dengan tatapan tajam yang membuat sang pangeran sedikit bergidik. "Pangeran, aku akan mengambil kasus ini. Bukan karena aku peduli pada stabilitas elemen air di kekaisaranmu yang kaku ini, tapi karena aku sangat benci ada orang yang menggunakan teknik Yin murahan di depanku untuk mencari perhatian. Tapi ingat kontraknya secara logis: setiap jam aku berada di tempat sedingin ini, tagihanku akan bertambah sepuluh keping emas sebagai biaya 'kerusakan kulit' dan 'gangguan mental' akibat cuaca ekstrem. Apakah perbendaharaan istanamu cukup kaya untuk membayarku?"
Pangeran Li Wei tertawa lega, meskipun hatinya sedikit ngeri melihat binar di mata He Xueyi. "Setuju, Nona He. Apapun harganya, selama Jantung Naga itu kembali ke tempatnya sebelum gerhana salju tiba."
"Bagus. Bian Zhi, bawa keretanya ke istana utama sekarang juga. Aku ingin kamar yang paling hangat, bak mandi dengan air panas yang tidak boleh berhenti mengalir, dan aku ingin menu makan malam yang isinya protein murni tanpa sayuran hambar!" He Xueyi kembali ke keretanya dengan langkah angkuh, jubah bulunya berkibar seperti sayap malaikat maut. "Aku harus mengisi tenaga sebelum aku mencincang sekte bayangan itu menjadi serpihan es yang tidak akan pernah bisa mencair!"
Dengan gaya dominan yang tidak bisa dibantah, He Xueyi menutup tirai keretanya. Ia sudah tidak mengantuk lagi. Sekarang, "Singa Betina" dari Lembah Sunyi sudah mencium bau mangsa, dan di seluruh dunia persilatan, tidak ada yang lebih berbahaya daripada He Xueyi yang merasa kenyamanannya telah dihina secara sengaja.