Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.
Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.
Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.
Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.
Tapi mereka lupa satu hal.
Dia bukan korban.
Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.
Termasuk dirinya.
Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.
Kakaknya menginginkan kematiannya.
Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.
Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.
Dunia mengira Sabrina akan tunduk.
Mereka salah.
Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...
dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.
Membunuh… atau kehilangan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Kontrak
Suara Adrian memecah keheningan ruangan persis seperti ketukan palu direksi. Angkuh dan mengikat.
Map tebal bersampul kulit hitam itu mendarat sedikit kasar di pangkuan Sabrina. Bobotnya langsung menekan area panggulnya yang bengkak. Rasa perih luar biasa menyengat pusat sarafnya secara instan. Sayatan jalan lahirnya berdenyut protes akibat pergerakan tiba-tiba tersebut. Sabrina membiarkan rasa sakit itu membakar batas kewarasannya tanpa menunjukkan seringai kesakitan di wajahnya.
"Itu adendum baru dari kontrak pernikahan kita," ucap Adrian.
Pria itu menarik kursi berbahan kulit di samping ranjang medis, lalu duduk menyilangkan kaki dengan keanggunan seorang predator yang sedang mengawasi hasil buruan di dalam kandang. Jas hitamnya jatuh rapi membalut postur tubuhnya yang tegap.
"Baca baik-baik," perintahnya mutlak.
Tangan kiri Sabrina meraba permukaan map yang dingin. Ia membuka sampul hitam tersebut. Kertas tebal beraroma kayu pinus menyapa indera penciumannya, bercampur dengan bau klorin rumah sakit dan parfum musk mahal milik sang suami.
Matanya menyapu deretan kalimat legal yang dicetak rapi. Susunan katanya kaku, penuh perangkap finansial, dirancang murni untuk mencekik kebebasan pihak kedua.
Hak asuh mutlak atas ahli waris berada di tangan pihak pertama.
Pengalihan penuh hak suara direksi Tanjung Group.
Pembatasan akses komunikasi eksternal.
"Kau bergerak sangat cepat," tanggap Sabrina datar. Jarinya mengetuk pelan baris cetakan klausul ketiga. "Istrimu nyaris kehabisan darah di jalan raya Puncak, dan kau sudah menyiapkan kertas sampah ini di dalam bagasi mobilmu?"
"Aku pebisnis, Sabrina." Adrian bersandar santai ke punggung kursi. "Antisipasi risiko adalah keahlian utamaku. Kania Tanjung menghancurkan skenario awal kita. Dia berani mengirim anjing-anjing preman untuk memburu pewarisku. Aku butuh jaminan ekstra untuk memastikan seluruh asetku aman malam ini."
"Hak asuh penuh." Suara Sabrina merendah, menyayat dingin udara steril. "Kau berniat merampas anakku dariku?"
"Aku mengamankan pewarisku," koreksi Adrian tajam. "Lihat kondisimu sekarang. Tubuhmu hancur berantakan. Bergerak dari atas kasur saja panggulmu berdarah lagi. Kau sedang menjadi target utama pembunuhan klan keluargamu sendiri. Anak itu butuh benteng baja Halim Group, bukan dekapan ibu rapuh yang tidak punya kuasa finansial maupun militer."
Sabrina memutar lehernya lambat-lambat. Tatapan mata hitamnya menabrak manik mata pria arogan di depannya secara konfrontasional.
Di dalam struktur saraf pusatnya, Maureen sang pembunuh bayaran melakukan kalkulasi tempur ekstra cepat. Evaluasi logistik dan aset pertahanan. Fisik Sabrina ini hancur total. Berjalan tiga langkah sudah memicu pendarahan aktif yang bisa merenggut nyawa. Membawa bayi merah lari menembus malam ini sama persis dengan tindakan bunuh diri konyol. Ia tidak punya amunisi, tidak punya suplai uang tunai, tidak punya tempat persembunyian steril.
Sebuah momen hening menyusup pelan masuk ke dalam ruangan.
Sabrina memejamkan mata sesaat. Suara ritmis monitor elektrokardiogram di sebelahnya terdengar menenangkan. Bayangan inkubator kaca di ujung lorong luar sana memenuhi kapasitas visual otaknya. Sebastian. Bayi bermata heterokromia itu sedang tidur nyenyak di bawah lampu penghangat. Aman dari terjangan angin es gunung. Terlindungi oleh barisan pengawal bersenjata otomatis Halim Group di setiap sudut koridor bunker.
Anak itu sangat membutuhkan fasilitas super steril ini agar tetap bernapas. Anak itu butuh waktu untuk membesarkan tulangnya. Dan ibunya butuh ruang waktu yang cukup untuk menyembuhkan luka robek persalinan ini agar bisa kembali membantai musuh secara leluasa.
Sabrina membuka matanya perlahan. Rasionalitas tempur membekukan sisa amarahnya.
"Kau pikir selembar kertas legal ini bisa menahanku?" tantang Sabrina pelan.
Adrian condong ke depan. Jarak wajah mereka menipis menembus batas privasi. "Bukan kertas ini yang menahanmu. Tapi anak di dalam ruang NICU itu."
Skakmat. Atau begitulah yang dipikirkan sang kepala patriarki.
"Tanda tangani kontrak itu," lanjut Adrian memukul telak tepat sasaran. "Tunduk mutlak pada aturanku mulai malam ini. Serahkan sisa hak suaramu padaku. Sebagai imbalannya, anak itu mendapat akses medis VIP terbaik yang bisa dibeli dengan uang di negara ini. Kau mendapat penjagaan lapis baja dari sisa pasukan Kania. Tolak syarat ini, dan aku akan mencabut semua perlindunganku sepuluh detik dari sekarang."
Pemerasan emosional tingkat paling kotor. Pria ini menggunakan keselamatan nyawa bayi merah sebagai alat tawar menawar utama di atas meja negosiasi. Taktik picik khas mafia berdasi.
"Ketundukan mutlak," eja Sabrina di ujung bibir. Ia sengaja membiarkan sisa nada suaranya terdengar sedikit bergetar, murni memainkan peran istri terpojok dengan sangat sempurna. "Apa definisi ketundukan itu di dalam kepalamu, Adrian?"
"Sangat sederhana." Adrian tersenyum puas melihat reaksi penolakan semu istrinya. Ilusi kemenangan sudah tergenggam penuh di telapak tangannya. "Kau tidak melangkah keluar dari fasilitas medisku tanpa kawalan pengawalku. Kau memutus semua kontak dengan orang-orang Tanjung. Kau menyerahkan stempel direksimu kepadaku secara sukarela besok pagi menjelang matahari terbit."
"Lalu anakku?" tuntut Sabrina menahan emosi.
"Kau boleh merawatnya," jawab Adrian pelan. Pria itu bangkit berdiri merapikan lipatan jasnya yang sempurna. "Di bawah pengawasanku secara langsung. Di dalam sangkar emas yang aku buat."
Sabrina menunduk menatap deretan kertas tebal tersebut. Taktik mundur sementara. Dalam kurikulum pelatihan Ordo Sutra, mundur selangkah ke belakang untuk mengasah bilah pisau jauh lebih mematikan dampaknya daripada menerjang barisan musuh dengan kepalan tangan kosong. Membiarkan musuh merasa menang telak adalah jebakan psikologis paling fatal bagi lawan yang meremehkan.
Tangan kiri Sabrina meraih pena emas yang terjepit manis di antara halaman terakhir. Logam dingin bersuhu ruang itu terasa pas mengisi sela jemarinya. Beban massanya tidak seberat belati tempur, tapi ujung tintanya sanggup mengalirkan darah yang jauh lebih banyak ke lantai bursa.
"Pena ini berat," keluh Sabrina pelan. Jarinya memutar batang pena tersebut, seakan mengeluhkan paksaan ini.
"Berat tanggung jawab untuk bertahan hidup memang tidak pernah mudah, istriku." Adrian melipat tangannya pongah di depan dada. "Selesaikan bagianmu cepat. Dokter bedah vaskuler sudah menunggumu sepuluh menit dari sekarang untuk menjahit ulang panggulmu yang hancur terbengkalai itu."
"Kau sangat peduli pada panggulku rupanya malam ini."
"Aku murni peduli pada alat produksiku."
Kalimat itu seharusnya menyakiti hati seorang istri normal sampai menangis tersedu. Tapi bagi Sabrina, rangkaian kalimat itu adalah bahan bakar dendam kental yang akan ia gunakan untuk membakar pria ini hidup-hidup di kemudian hari. Tidak ada kata maaf untuk perendahan martabat.
Sabrina membuka lembar demi lembar perjanjian itu lambat-lambat.
"Klausul tujuh koma dua," sebut Sabrina memecah kesunyian ruangan steril. Matanya mengunci satu paragraf tersembunyi. "Pengalihan seluruh dana hibah atas nama Sabrina Tanjung kepada Halim Group secara otomatis dalam kondisi darurat medis."
"Itu hanya klausul prosedur standar keamanan aset," kilah Adrian tanpa beban.
"Darurat medis." Sabrina memutar pelafalan dua kata itu di lidahnya. "Artinya, jika aku mati mendadak di atas meja operasi bedah malam ini akibat pendarahan parah, kau akan mewarisi tahtaku besok pagi sebelum Kania sempat menyadari absensiku."
Adrian tidak membantah klaim tersebut. Pria itu hanya menatapnya lurus ke depan, bangga atas kelihaian draf hukumnya.
"Kau bukan murni pebisnis, Adrian," lanjut Sabrina dingin. "Kau lintah pemakan bangkai."
"Dan kau sangat butuh lintah ini untuk menutupi biaya inkubator bayimu." Adrian menekan telunjuknya kuat ke atas tumpukan kertas itu, tepat sejajar di samping jari Sabrina.
"Berhentilah bermain keras kepala malam ini. Kau kalah. Terima kenyataan itu secara logis dan selamatkan sisa nyawamu."