Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Yang Tertinggal Tidak Sendirian
Tok.
Tok.
Tok.
Bukan lagi dari satu arah.
Bukan dari atas.
Bukan dari bawah.
Namun—
dari dalam.
Dari banyak tubuh.
Dari banyak dada.
Dari banyak… sisa.
Kinasih mundur.
Namun langkahnya terasa lambat.
Seperti dunia ini…
tidak sepenuhnya sinkron lagi.
Udara terasa kental.
Seperti bernapas lewat sesuatu yang bukan udara.
Dan setiap napas—
membawa sesuatu masuk.
Sesuatu yang tidak terlihat.
Namun—
hidup.
Di sekelilingnya—
tubuh-tubuh itu mulai berdiri.
Tidak sekaligus.
Tidak rapi.
Namun—
satu per satu.
Dengan cara yang salah.
Kepala yang terlalu cepat terangkat.
Leher yang berbunyi pelan.
Sendi yang bergerak tanpa urutan.
Dan mata—
mata mereka tidak lagi kosong.
Namun—
tidak benar.
Seperti ada sesuatu yang mengintip dari baliknya.
Bukan manusia.
Bukan jiwa.
Namun—
pengganti.
“Kita… bangun…”
Suara itu keluar.
Dari satu orang.
Namun—
diikuti oleh yang lain.
Sedikit terlambat.
Sedikit tidak sinkron.
Seperti gema yang rusak.
“Kita… bangun…”
“Kita… bangun…”
Kinasih menahan napas.
Karena—
suara itu tidak punya emosi.
Tidak punya tujuan.
Hanya—
mengulang.
Ia mencoba berlari.
Namun—
kakinya terasa berat.
Bukan karena lemah.
Namun—
karena sesuatu menahan.
Dari dalam.
Seperti—
bagian dirinya tidak ingin pergi.
Bagian yang tertinggal itu—
ingin tetap di sini.
“Jangan…”
bisik sesuatu di dalam dirinya.
Bukan suara lama.
Bukan yang dulu.
Ini—
lebih kasar.
Lebih dekat.
Lebih… pribadi.
“Kita di sini…”
Kinasih menggeleng keras.
“Bukan kita…”
Namun—
jawaban itu datang.
Cepat.
“…kamu bukan kamu lagi.”
Kalimat itu—
menusuk.
Karena—
ia tahu.
Itu tidak sepenuhnya salah.
Ia menatap tangannya.
Retakan itu—
lebih jelas sekarang.
Lebih lebar.
Dan di dalamnya—
tidak lagi hanya bayangan.
Namun—
gerakan.
Seperti sesuatu ingin keluar.
Namun—
masih tertahan.
Di sekelilingnya—
yang lain mulai bergerak.
Mendekat.
Pelan.
Tidak agresif.
Tidak menyerang.
Namun—
menarik.
Seperti—
ingin mengumpulkan.
Menyatukan.
“Kita sama…”
bisik mereka.
“…kita tertinggal…”
“…kita rusak…”
Suara itu bertumpuk.
Tidak sinkron.
Namun—
cukup untuk terasa.
Kinasih mundur lagi.
Namun—
ia sadar.
Ia tidak bisa menjauh.
Karena—
yang mereka rasakan—
ia juga rasakan.
Tarikan itu.
Dari dalam.
Yang sama.
“Kenapa…”
bisiknya.
“Kenapa kita masih hidup…”
Sunyi.
Lalu—
jawaban itu datang.
Bukan dari satu arah.
Namun—
dari banyak.
“…karena kita tidak selesai.”
Kinasih membeku.
Karena—
itu masuk akal.
Yang diambil—
yang lengkap.
Yang utuh.
Yang siap.
Yang tertinggal—
yang tidak sempurna.
Yang retak.
Yang… belum selesai.
Dan sesuatu yang belum selesai—
tidak bisa berhenti.
Di jalan—
lebih banyak tubuh bangkit.
Tidak seperti manusia.
Tidak seperti makhluk.
Namun—
sesuatu di antaranya.
Langkah mereka tidak stabil.
Namun—
arahnya sama.
Menuju Kinasih.
Ia mencoba berteriak.
Namun—
suara yang keluar—
bukan suaranya.
Lebih berat.
Lebih dalam.
Lebih… banyak.
“JAUH…”
Namun—
yang lain tidak berhenti.
Mereka hanya mendekat.
Dengan kepala miring.
Dengan mata yang terlalu fokus.
Dengan gerakan yang tidak alami.
“Kamu… pusat…”
bisik salah satu dari mereka.
Kinasih terdiam.
“Pusat…?”
“…yang paling banyak tertinggal…”
“…yang paling utuh…”
“…yang paling rusak…”
Semua suara itu—
mengarah ke satu hal.
Dirinya.
Dan saat itu—
sesuatu di dalamnya—
berdenyut lebih keras.
Seperti jantung.
Namun—
bukan jantung.
DUM.
DUM.
DUM.
Setiap denyut—
retakan itu melebar.
Setiap denyut—
sesuatu bergerak di dalamnya.
Lebih cepat.
Lebih kuat.
Kinasih jatuh berlutut.
Memegang dadanya.
Karena—
ia merasakan sesuatu naik.
Dari dalam.
Ke permukaan.
“Keluar…”
bisik suara itu.
“…biarkan keluar…”
Ia menggeleng.
“Tidak…”
Namun—
tubuhnya tidak mendengarkan.
Tangannya bergerak sendiri.
Mengarah ke dadanya.
Menekan.
Retakan itu—
terbuka.
Sedikit.
Dan dari dalamnya—
sesuatu terlihat.
Gelap.
Namun—
bergerak.
Seperti cairan.
Seperti bayangan.
Seperti sesuatu—
yang tidak punya bentuk tetap.
Dan saat itu—
yang lain berhenti.
Semua.
Serentak.
Menatap.
Ke arah Kinasih.
“Muncul…”
bisik mereka.
“…akhirnya…”
Kinasih menjerit.
Namun—
yang keluar bukan suara manusia.
Lebih seperti—
sesuatu yang terpecah.
Bergetar.
Dan dari dalam retakan itu—
sesuatu keluar.
Pelan.
Tidak meledak.
Tidak kasar.
Namun—
pasti.
Seperti—
kelahiran.
Namun—
bukan kehidupan.
Bentuknya tidak jelas.
Tidak utuh.
Namun—
hidup.
Dan saat ia keluar—
yang lain mundur.
Sedikit.
Seperti—
menghormati.
Atau—
takut.
Kinasih jatuh ke tanah.
Tubuhnya lemas.
Namun—
tidak mati.
Masih sadar.
Masih melihat.
Dan itu—
yang membuat semuanya lebih buruk.
Sesuatu itu—
melayang.
Tidak sepenuhnya terpisah.
Masih terhubung.
Dengan dirinya.
Seperti—
bagian dari dirinya—
yang keluar.
Namun—
masih miliknya.
“Apa itu…”
bisiknya.
Namun—
ia sudah tahu.
Itu—
yang tertinggal.
Yang paling dalam.
Yang tidak ikut diambil.
Yang tidak bisa diambil.
Karena—
itu tidak lengkap.
Tidak sempurna.
Tidak… cocok.
Dan sekarang—
itu bebas.
Yang lain mulai berlutut.
Satu per satu.
Tidak dipaksa.
Namun—
refleks.
Seperti—
mengakui sesuatu.
“Kita… ikut…”
bisik mereka.
“…kita bagian…”
Sesuatu itu bergerak.
Mendekat ke mereka.
Dan saat itu—
Kinasih merasakan semuanya.
Setiap sentuhan.
Setiap perubahan.
Setiap… penyatuan.
Yang tertinggal—
tidak lagi sendiri.
Mereka mulai terhubung.
Namun—
bukan seperti sebelumnya.
Tidak rapi.
Tidak stabil.
Namun—
hidup.
Dengan cara yang salah.
Kinasih mencoba bangkit.
Namun—
ia tidak lagi merasa sebagai pusat.
Sesuatu itu—
yang keluar darinya—
yang sekarang jadi pusat.
Dan ia—
hanya wadah.
Sisa.
“Ini salah…”
bisiknya.
Namun—
tidak ada yang peduli.
Karena—
tidak ada konsep benar atau salah lagi.
Hanya—
proses.
Dan proses itu—
berlanjut.
Langit tetap diam.
Tidak ada yang kembali.
Tidak ada yang melihat lagi dari atas.
Karena—
yang di atas sudah selesai.
Namun—
yang di bawah—
baru mulai.
Kinasih menatap makhluk itu.
Yang berasal dari dirinya.
Dan untuk pertama kalinya—
ia benar-benar takut.
Bukan karena ia akan mati.
Namun—
karena ia akan tetap hidup.
Sebagai bagian dari ini.
Selamanya.
Tok.
Satu ketukan.
Dari dalam makhluk itu.
Dan—
dibalas.
Oleh semua yang tertinggal.
Dan dunia—
yang kosong—
tidak lagi kosong.
Namun—
diisi oleh sesuatu—
yang tidak pernah seharusnya ada.