Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arkan yang Berubah
Sudah tiga hari Arkan tidak pulang, tidak ada kabar, bahkan tidak ada pesan sama sekali. Hanya keheningan yang membuat mansion itu terasa semakin mencekam.
Biasanya Alya akan merasa lega, jika pria itu menghilang sementara. Namun entah sejak kapan, ketidakhadiran Arkan justru meninggalkan ruang kosong yang mengganggu pikirannya.
Pintu kamar diketuk pelan.
"Masuk," ucap Alya lirih.
Pintu terbuka, memperlihatkan Nyonya Isabella dengan tatapan tajamnya.
"Kamu belum tidur?"
Alya menggeleng pelan, wanita itu berjalan masuk sambil memperhatikan Alya dari atas sampai bawah.
"Kamu terlihat seperti istri yang sedang menunggu suaminya."
"Aku tidak menunggunya, aku hanya tidak bisa tidur," jawab Alya cepat.
Isabella tersenyum tipis, "Benarkah?"
Alya langsung memalingkan wajah, ia membenci fakta bahwa ucapan wanita itu terasa benar.
Sejak kejadian penyerangan minggu lalu, sesuatu berubah dalam diri Arkan. Pria itu masih dingin, masih sulit ditebak, tetapi kini ia mulai memperlihatkan hal-hal kecil tentang Alya.
Arkan mulai memastikan bahwa Alya makan tepat waktu, memerintahkan pengawal mengawasinya diam-diam. Bahkan pernah menghentikan rapat penting hanya karena Alya demam tinggi.
Perubahan itu membuat Alya takut, karena perhatian dari pria seperti Arkan, terasa lebih berbahaya dibanding kebenciannya.
"Aku hanya tidak ingin ada masalah di mansion ini," gumam Alya.
Isabella tertawa kecil, "Kamu terlalu polos jika berpikir bahwa putraku melakukan semua itu tanpa alasan."
Tatapan wanita itu berubah dingin, "Hati-hati, Alya. Pria Virello tidak pernah mencintai dengan cara yang normal," lanjutnya.
Setelah mengatakan seperti itu, Isabella pergi meninggal kamar.
Deg.
Perkataan itu terus terngiang di kepala Alya.
"Pria Virello tidak pernah mencintai dengan cara yang normal."
Jam menunjukkan pukul sebelas malam, ketika suara mobil terdengar memasuki halaman mansion, Alya yang masih terjaga langsung menoleh ke arah jendela.
Mobil hitam milik Arkan, tanpa sadar, langkah Alya bergerak keluar kamar. Lorong mansion tampak sepi dan remang-remang.
Saat ia menuruni tangga, pintu utama terbuka. Arkan masuk dengan jas hitam yang basah terkena hujan.
Tatapan tajam pria itu langsung berhenti pada Alya, tatapan mereka bertemu, dan hanya saling diam.
Lalu Arkan melepas sarung tangan kulitnya.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanyanya rendah.
Alya berusaha terlihat biasa saja, "Aku tidak bisa tidur."
Arkan berjalan mendekat, semakin dekat pria itu, Alya menyadari ada luka kecil di sudut bibirnya. Dan bercak darah samar du kerah kemejanya.
"Apa yang sudah terjadi?" tanya Alya.
Arkan menatapnya cukup lama, "Hanya masalah pekerjaan."
"Masalah pekerjaan, tapi sampai membuatmu terluka."
"Tidak apa-apa, ini hanya goresan kecil."
Namun Alya tahu itu bohong, tatapan Arkan malam itu terlihat lebih gelap dari biasanya. Seolah ada sesuatu, yang sedang menghancurkannya dari dalam.
Tanpa sadar, Alya mengulurkan tangan dan menyentuh luka di bibir pria itu.
Arkan langsung membeku, udara di sekitar mereka terasa berubah. Alya baru menyadari apa yang sudah ia lakukan, ketika tatapan Arkan turun pada wajahnya. Dalam, tajam, dan berbahaya.
"Alya," ucapnya pelan.
Jantung Alya berdegup dengan kencang, ia buru-buru menarik tangannya.
"A-aku hanya..."
Namun Arkan tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya, tidak kasar tapi cukup untuk membuat Alya tidak bisa pergi.
"Kenapa kamu peduli padaku?"
Pertanyaan itu terdengar aneh, bukan penuh amarah, melainkan seperti seseorang yang benar-benar ingin tahu.
Alya terdiam, karena ia sendiri tidak punya jawabannya.
Arkan tertawa kecil, "Jangan menunjukkan perhatian seperti itu padaku."
"Kenapa?"
Tatapan Arkan berubah gelap, "Karena aku bisa saja salah mengartikan perhatian itu."
Untuk pertama kalinya, Arkan terdengar rapuh, dan itu jauh lebih mengerikan dibanding saat pria itu marah.
Malam semakin larut, Alya duduk diam di sofa kamar Arkan, sambil membersihkan luka di tangan pria itu.
Arkan tidak banyak bicara, ia hanya memperhatikan Alya dalam diam.
"Apa semua dunia mafia memang seseram ini?" tanya Alya pelan.
Arkan menyandarkan kepalanya, "Bisa jadi mungkin lebih buruk."
"Lalu, kenapa kamu tetap bertahan di dunia gelap itu?"
Pria itu tersenyum miring, "Karena aku sudah lahir di dalamnya."
Alya menunduk, kadang ia lupa bahwa Arkan bukan sekedar pria dingin biasa. Ia dibesarkan di dunia penuh darah dan kekuasaan.
Mungkin itu alasan Arkan sulut mempercayai siapa pun.
"Dulu aku pernah percaya pada seseorang," ucap Arkan tiba-tiba.
Alya menoleh, "Lalu?"
"Dia sudah mengkhianati kepercayaanku. Sejak saat itu, aku berhenti percaya pada manusia."
Ruangan mendadak terasa sunyi, Alya tidak tahu kenapa, tetapi dadanya terasa sesak saat melihat raut wajah Arkan.
Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat lelah. Bukan karena sebagai bos mafia, bukan juga sebagai pria dominan yang ditakuti semua orang. Tetapi sebagai manusia yang sedang terluka.
"Aku tidak akan mengkhianatimu."
Kalimat itu keluar begitu saja, Arkan langsung menatap wajah Alya. Tatapan mereka bertemu cukup lama, degup jantung Alya semakin cepat.
Arkan bangkit perlahan, berjalan mendekat padanya. Kini jarak mereka sangat dekat, bahkan terlalu dekat.
"Alya," suara Arkan terdengar rendah.
Alya menahan napas, dan pria itu langsung mengusap pelan rambut yang menutupnya wajah Alya. Gerakannya lembut, sangat berbeda dari biasanya.
"Kamu membuatku ingin berubah."
Kalimat itu menghantam Alya tanpa ampun, karena untuk pertama kalinya, Arkan Virello menunjukkan sisi yang tidak pernah diperlihatkan pada siapa pun.
Namun justru itu yang paling berbahaya, sebab Alya mulai sadar, ia perlahan jatuh cinta pada pria yang seharusnya ia takuti.
Dan di dunia Arkan Virello, cinta sering kali berakhir dengan kehancuran.