NovelToon NovelToon
Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Transmigrasi ke Dalam Novel / CEO / Anak Genius / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
​Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
​Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
​Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
​Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
​Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Gengsi yang Runtuh di Warung Sate

"Jadi, Tuan Besar Alexander Group rela mengotori sepatu kulitnya yang seharga satu unit mobil hanya untuk mencariku di pinggir jalan seperti ini?"

Suaraku terdengar renyah, kontras dengan deru napas Liam yang masih tidak beraturan. Aku menyesap es jeruk di gelas plastik besar dengan santai, mengamati sosok suamiku yang berdiri kaku di antara meja-meja kayu panjang. Jas mahalnya tampak sangat tidak selaras dengan aroma asap arang dan bumbu kacang yang menyeruak di udara.

Liam tidak menjawab. Matanya yang tajam menyapu meja kami, menatap piring-piring sate yang sudah habis dan wajah Axelle yang tampak sangat puas melihat ayahnya menderita.

[Dia terlihat sangat bahagia... Kenapa dia terlihat lebih bersinar di tempat kumuh ini daripada di restoran bintang lima yang kupesan? Apa aku sekecil itu di matanya? Blair, jantungku rasanya mau copot saat tahu kau benar-benar pergi tanpa menoleh sedikit pun. Tolong, jangan buat aku terlihat seperti orang bodoh di depan Axelle.]

"Duduklah, Pa. Jangan berdiri di sana seperti penagih hutang. Orang-orang melihat kita," celetuk Axelle sambil menyodorkan kursi plastik merah yang sedikit goyang ke arah ayahnya.

Liam ragu sejenak, namun akhirnya ia duduk. Lututnya yang panjang tampak canggung di bawah meja yang rendah. Ia menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, penuh dengan kerinduan yang tertahan.

"Blair, aku minta maaf," bisik Liam parau. "Aku... aku tidak bermaksud membiarkan Mama melakukan itu tadi."

"Membiarkan?" aku meletakkan gelas plastiku, menatapnya dengan satu alis terangkat. "Liam, kau tidak 'membiarkan'. Kau 'memilih'. Kau memilih untuk diam saat ibumu menghinaku, dan kau memilih untuk tetap di sana saat dia memintamu makan sup jagung itu."

"Aku hanya tidak ingin dia jatuh sakit lagi, Blair! Kau tahu dia baru saja kembali—"

"Kembali dari mana, Liam? Dari naskah yang ditulis Elodie?" potongku tajam. Suaraku pelan agar tidak didengar pelanggan lain, namun intonasinya sangat menusuk. "Dia kembali untuk memisahkan kita, dan kau membantunya dengan cara menjadi anak yang terlalu berbakti sampai lupa punya harga diri sebagai seorang suami."

Liam terdiam, rahangnya mengeras. Ia membuang muka ke arah jalanan yang ramai.

[Dia benar. Sial, dia benar! Aku pengecut. Aku takut pada hantu masa lalu sampai aku menyakiti wanita yang ada di depanku sekarang. Apa yang harus kukatakan? Aku mencintainya, tapi kenapa lidahku rasanya seperti terikat?]

"Kalau Papa memang lebih sayang Nenek dan Adeline, kenapa Papa ke sini?" tanya Axelle dengan nada menyelidik. "Mama sudah bilang tadi, Papa silakan bersenang-senang dengan mereka. Kami tidak butuh Papa untuk bisa makan enak."

Liam menatap Axelle, lalu beralih padaku. Matanya mulai berkaca-kaca—sebuah pemandangan yang membuat dadaku sedikit sesak. Si CEO es ini benar-benar sedang hancur.

"Karena aku tidak bisa bernapas tanpa kalian," ucap Liam dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Rumah itu... mansion itu terasa seperti kuburan saat kalian tidak ada. Aku tidak peduli dengan sup jagung itu, aku tidak peduli dengan Adeline. Aku hanya ingin bersama kalian."

"Tapi kau membiarkan Adeline masuk ke kamar mandi pribadimu, Liam," ingatkanku dengan nada dingin. "Itu batas suci bagiku. Jika kau tidak bisa menjaga pintu rumahmu sendiri, jangan harap kau bisa menjaga hatiku."

Liam tiba-tiba meraih tanganku di atas meja, mengabaikan noda kecap yang mungkin menempel di tangannya. Genggamannya sangat erat, seolah-olah jika dia melepas sedikit saja, aku akan terbang menghilang.

"Aku sudah mengusirnya, Blair. Aku bersumpah dia sudah keluar dari rumah itu sebelum aku berangkat ke sini. Dan besok... besok aku akan membawa pengacara untuk membuat dokumen perlindungan aset atas namamu. Tidak ada yang bisa mengusirmu, bahkan Mama sekalipun," ucap Liam dengan mata yang berkilat penuh tekad.

[Tolong percayalah padaku sekali lagi... Aku akan melakukan apa pun. Aku akan melawan dunia, aku akan melawan Mama jika perlu. Hanya jangan tinggalkan aku dengan kesunyian itu lagi. Aku takut... aku sangat takut kau akan benar-benar menceraikanku.]

Aku menatap tangannya yang menggenggamku, lalu menatap wajahnya yang penuh kerentanan. Strategi tarik ulurku tampaknya bekerja terlalu baik. Liam sudah berada di titik nadir egonya.

"Mama, apa kita harus memaafkannya?" tanya Axelle, mencoba mencari persetujuanku.

Aku menghela napas panjang, memberikan sedikit kelonggaran pada tali yang kutarik. "Hanya jika dia yang membayar semua tagihan sate ini, dan dia yang harus mencuci piring di rumah nanti karena Bi Inah sudah tidur."

Liam tertegun, lalu sebuah senyuman tipis namun sangat lega muncul di wajahnya. "Aku akan mencuci seluruh piring di mansion jika itu yang kau mau, Blair."

[DIA MEMAAFKANKU?! Oh Tuhan, terima kasih! Aku ingin memeluknya sekarang juga! Tapi... cuci piring? Bagaimana cara memakai sabun pencuci piring? Ah, tidak peduli! Aku akan belajar di YouTube nanti!]

Aku tertawa kecil melihat ekspresi paniknya saat memikirkan pekerjaan rumah tangga. "Ayo pulang. Bau asap sate ini sudah menempel di rambutku."

"Ayo," Liam berdiri dengan sigap, seolah-olah dia baru saja memenangkan tender triliunan rupiah. Ia membukakan pintu mobil untukku dengan sangat sopan, mengabaikan supirnya yang hanya bisa melongo melihat tuannya makan di pinggir jalan.

Saat kami di dalam mobil, Axelle sudah tertidur di kursi belakang karena kekenyangan. Liam menyandarkan kepalanya di bahuku sejenak sebelum menyalakan mesin.

"Blair," bisiknya.

"Ya?"

"Jangan pernah pergi tanpa memberitahuku lagi. Hatiku tidak sekuat itu," ucapnya jujur.

Aku mengusap rambutnya yang rapi dengan lembut. "Tergantung perilakumu, Tuan Alexander. Tergantung perilakumu."

Malam itu, di bawah temaram lampu jalanan Bekasi, aku menyadari bahwa meskipun naskah Elodie semakin gila, aku telah berhasil menjinakkan badai terbesar di dalam hati Liam. Namun, aku tahu... Nyonya Lily tidak akan tinggal diam melihat putranya menyerah pada "wanita durhaka" sepertiku.

1
umie chaby_ba
jadi mau Lo apa heh maxim??? kudu nya si Blair Sama Liam gituan didepan mata Lo?
Ariska Kamisa: oopsss.. 🤭🤭🤭🤭
sabar kak.. maxim lagi menguji kesabaran Blair dan Liam 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kan ga jadi cerai iiihh... Maxim ngeselin!
Ariska Kamisa: iyah Maxim ini resek yaa 🤭🤭🤭
total 1 replies
Ariska Kamisa
ceritanya ini tentang transmigrasi gitu yaa...
semoga bisa menghibur semuanya...
umie chaby_ba
waduh... ada LG aja nih musuhnya /Shy/
umie chaby_ba
kasian banget nasib penulis 🤣🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
good job Axelle👍👍👍👍👍
umie chaby_ba
Elodie pengen banget si Blair mati kayanya 🫣
umie chaby_ba
Axelle lucu nih pembela mama nya banget
umie chaby_ba
ngeselin Liam /Panic/
umie chaby_ba
sweet banget🤭🤭🤭
umie chaby_ba
bagus Blair....
umie chaby_ba
bagus Axelle 👍👍👍
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/
umie chaby_ba
Adeline pelakor
umie chaby_ba
dih bimbang sih Liam /Sleep/
umie chaby_ba
penulis emang seenaknya sih 🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: aku dong....🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
wow ada karakter baru nih
umie chaby_ba
sang penulis dibuat ketar-ketir 🫣
Ariska Kamisa: iyah hehehe
total 1 replies
umie chaby_ba
so sweet😍
umie chaby_ba
penulisnya kewalahan
Ariska Kamisa: terimakasih kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
wwiihh keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!