Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ardi Kacau
"Berantakan banget lo?" tanya Dira pada Ardi yang terlihat kacau saat tiba di kantor. Ardi tersenyum kecut.
"Arumi pergi," kata Ardi singkat.
"Hah?! Pergi?!" tanya Dira heran. Ardi mengangguk lemas.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Katanya butuh waktu. Tanpa gue... Tanpa Kayla," jawab Ardi. Dira mengerutkan alisnya.
"Butuh waktu? Buat?" tanya Dira lagi. Ardi menaikkan bahunya.
"Gue nggak tau. Yang jelas, sejak kematian ibunya dia keliatan berubah banget," kata Ardi.
"Berubah?" tanya Dira.
"Lebih banyak diem, terkesan dingin meskipun gue udah mencoba bersikap lebih hangat ke dia, nggak pernah ngajak gue ngobrol lagi, ngomong cuma seperlunya aja," jelas Ardi.
"Lo nggak merasa pernah melakukan hal yang sama ke Arumi?" tanya Dira.
Ardi terlihat berpikir, mengingat-ingat apa saja yang dia lakukan pada Arumi. Bayangan dirinya bersikap dingin saat Arumi mencoba tetap bersikap seperti biasa terlintas di pikirannya. Ya. Ardi sadar dia telah melakukan hal yg sama. Kini dia tahu bagaimana persaan Arumi.
"Sebenernya, lo nikahin Arumi dulu tuh karena apa sih?" tanya Dira, heran bercampur gemas.
"Yaaa... gue emang belum nikah sih. Pacaran juga nggak pernah. Tapi..." kata Dira mencoba membuat Ardi paham apa esensi dari pernikahan.
"Yang gue tau, pernikahan itu janji sakral yang nggak cuma dilandasi oleh cinta," lanjut Dira.
"Tapi rasa saling percaya dan mengasihi satu sama lain," kata Dira.
Ardi termenung. Dia mencoba mengingat. Tak sekalipun Arumi memperlihatkan tanda-tanda mencurigainya. Jika Arumi bertanya kenapa dia pulang telat, wajah Arumi bukan diselimuti kecurigaan, melainkan kekhawatiran.
"Jadi... Kalo lo cuma modal cinta aja sih, gue rasa pernikahan lo cuma indah di awal aja," tutup Dira.
Kata-kata Dira seolah menghujam lurus ke hati Ardi. Ardi mencoba mundur, kembali ke tujuh tahun lalu saat dirinya melamar Arumi.
'Kenapa gue pengen nikah sama Arumi?'
***
Meeting pemantapan dengan PT. Sanjaya Abadi dan klien sudah dimulai. Seperti dugaan Ardi, Farida hadir bersama Damar. Farida bahkan lebih berani —mengenakan kemeja putih yang cukup menerawang hingga bra warna merah disebaliknya terlihat samar-samar. Ardi yang semula duduk di hadapan Farida meminta Dira untuk bertukar tempat duduk dengannya.
Sepanjang rapat, Farida tak henti-hentinya mencuri pandang pada Ardi. Ardi berusaha tak memperhatikannya. Dia benar-benar tak ingin terjebak jerat nafsu bersama Farida lagi.
Enam puluh menit meeting berlalu dengan lancar. Pihak klien sangat puas dengan revisi proposal dan kesiapan perusahaan Ardi dan PT. Sanjaya Abadi dalam melaksanakan proyek ini.
"Wah! Gila! Kek gini ternyata meetingnya," komentar Dira saat klien sudah pergi meninggalkan mereka.
"Bayangan lo kek gimana?" tanya Ardi sambil membereskan berkas di atas mejanya.
"Gue kira makan enak sambil ngobrol santai. Ternyata sama aja kek meeting di ruang meeting," kata Dira.
"Dih. Makan enak. Nggak ada anggarannya. Maksimal kopi sama snack," kata Ardi sambil terkekeh.
"Iya, Mbak. Kalo mau yang enak, ya pake uang kita sendiri," kata Farida sambil menatap Ardi dan tersenyum penuh makna. Ardi terlihat tak menghiraukan Farida. Dira mengerutkan alisnya.
"Mbak Dira satu divisi sama Mas Ardi?" tanya Farida pada Dira.
"Eh, iya. Kemarin diajakin. Katanya kliennya serem," kata Dira.
"Ooh... Kliennya serem. Padahal udah ada saya lho, Mbak. Mas Ardi ini berlebihan," kata Farida, lagi-lagi sambil menatap Ardi dan tersenyum dengan senyuman yang Dira tak bisa artikan.
"Farida ini emang jago bikin suasana cair, makanya selalu disuruh atasan buat ikutan meeting macem ini," jelas Damar. Dira manggut-manggut.
"Aku mau balik nih. Kamu bareng sekalian nggak?" tanya Damar pada Farida.
"Mmm..." Farida melirik Ardi yang terlihat sibuk dengan berkas-berkas.
"Aku nanti aja deh," kata Farida akhirnya. Tangan Ardi seketika berhenti bergerak. Dira menyadarinya.
"Ya udah kalo gitu aku duluan. Mari Mas Ardi, Mbak Dira," pamit Damar. Ardi dan Dira mengangguk sambil tersenyum.
"Mas Ardi abis ini ada acara?" tanya Farida tanpa merasa sungkan pada Dira. Dira menaikkan alisnya. Terkejut.
"Ada," sahut Dira cepat. Ardi menoleh ke arah Dira. Farida melirik ke arah Dira seolah merasa Dira mengganggu aksinya.
"Mau jemput anaknya. Isterinya baru sakit," kata Dira cepat.
"Mmm... Sayang ya. Padahal aku mau..."
"Udah selesai belum, Ar?" tanya Dira pada Ardi memotong kalimat Farida.
"Eh? Udah,"
"Yuk. Cus! Kayla udah nunggu," kata Dira sambil menyambar folder di depan Ardi dan menarik tangan Ardi. Farida menatap Dira dengan sengit.
Ardi berjalan cepat mengikuti Dira. Dia merasa keputusannya mengajak Dira memang tepat.
'Thanks, Ra,'
***
"Gila tuh cewek!" komentar Dira saat dia dan Ardi sudah di dalam mobil.
"Kenapa jadi gue yang marah sih? Gila!" Dira masih melampiaskan emosinya.
"Dia emang suka godain lo?" tanya Dira pada Ardi, to the point.
"Eh?"
"Gue risih banget. Udah dari pas meeting tadi dia kek yang berusaha banget godain lo," kata Dira. Ardi cukup terkejut. Ternyata Dira menyadarinya.
"Mana meeting pake baju kek gitu. Di Sanjaya Abadi nggak ada aturan baju kantor yang sopan apa? Gila!" Dira masih terus meluapkan emosinya.
"Dia sering ikut meeting kan? Berarti kalian nggak cuma sekali ini ketemu kan? Heran gue. Kok lo bisa betah sih sama cewek model gituan?" kata Dira membuat Ardi semakin tertohok.
Ardi tak dapat membayangkan bagaimana reaksi Dira kalau tahu apa yang sudah dia dan Farida lakukan. Sudah pasti Dira akan membantainya.
"Gue nggak bisa bayangin kalo Dito yang jadi perwakilan dari kita. Udah dimakan tadi si cewek. Yakin! Abis meeting mereka langsung check in di hotel ini trus gitu. Hiii! Merinding gue," kata Dira membuat Ardi susah payah menelan ludahnya.
"Untung lo ngajak gue. Kenapa kemarin lo nggak bilang kalo yang serem itu bukan kliennya, tapi dia? Hih! Masih gemes gue sama tuh cewek. Pengen jambak rambutnya," Dira masih mengomel sendiri. Ardi hanya sanggup diam. Dia tak ingin mengatakan apapun yang dapat membuat aibnya terbuka.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Dira khawatir.
"Lo pucet banget," kata Dira.
"Eh?"
Ardi ingat. Seharian ini dia belum makan sama sekali. Hanya minum air putih dan kopi saat meeting tadi.
Tiba-tiba kepala Ardi terasa pusing, pandangannya kabur.
"Lo bisa bawa mobil, Ra?" tanya Ardi.
"Bisa. Lo sakit? Sini gue aja yang nyetir," kata Dira.
Tanpa berkata-kata lagi, Ardi segera bertukar tempat dengan Dira. Dira menoleh ke arah Ardi yang sudah memejamkan matanya sambil menahan sakit di kursi penumpang.
'Tunggu, Ar. Gue anter lo ke rumah sakit,'
***