NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 Perubahan Kecil

Hutan di pinggir kota Arvandor tidak pernah benar-benar berubah. Udara tetap lembap dengan aroma tanah basah yang menempel di setiap tarikan napas, sementara suara serangga dan gesekan daun terus mengisi kesunyian yang terasa hidup. Namun bagi Alverion Dastan, ada sesuatu yang tidak lagi sama, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan hanya dengan kata-kata sederhana.

Ia berdiri diam di antara pepohonan, menatap kedua tangannya dengan sorot mata yang lebih tajam dari sebelumnya. Gerakan jari-jarinya terasa lebih ringan saat ia mengepalkan lalu melepaskannya perlahan, seolah ada kekuatan kecil yang menopang setiap gerakan itu. Otot di lengannya tidak lagi terasa kaku seperti dulu, dan napasnya mengalir lebih dalam dengan ritme yang lebih teratur.

“Ini karena sistem...” gumamnya pelan.

Ia tidak perlu waktu lama untuk memanggil tampilan transparan yang kini terasa semakin familiar. Dengan sedikit fokus, statusnya muncul seperti biasa, melayang tipis di hadapannya tanpa suara.

[Status Pengguna]

Nama: Alverion Dastan

Level: 1

Energi: 5

Stabilitas Tubuh: 41%

Alverion menatap angka-angka itu dengan ekspresi datar, tetapi pikirannya bekerja jauh lebih cepat dari yang terlihat. Nilainya memang kecil jika dibandingkan dengan standar kekuatan yang pernah ia dengar, namun perbedaan antara tidak memiliki apa-apa dan memiliki sedikit kendali terasa sangat jelas baginya. Ia tidak hanya melihat angka, ia merasakannya secara langsung melalui tubuhnya.

“Refleksku meningkat,” bisiknya sambil mengingat pertarungan sebelumnya.

Jika kejadian itu terjadi satu hari lebih awal, sebelum sistem muncul, ia tidak yakin bisa menghindari serangan pertama. Tubuhnya saat itu terlalu lambat dan pikirannya sering tertinggal setengah detik dari situasi yang berubah cepat. Sekarang, meskipun masih belum sempurna, ia mampu merespons dengan cukup baik untuk bertahan.

Ia menarik napas dalam dan menutup mata, mencoba kembali mengingat sensasi yang tadi ia rasakan. Deskripsi skill yang ia dapatkan terlalu singkat, seolah sistem sengaja tidak memberikan petunjuk lengkap agar ia mencari jalannya sendiri.

“Kalau ini soal aliran energi...” ucapnya lirih.

Ia mulai memusatkan perhatian pada sensasi hangat yang samar di dalam tubuhnya. Awalnya tidak ada perubahan berarti, hanya perasaan kosong yang hampir membuatnya mengira semuanya hanyalah sugesti. Namun beberapa detik kemudian, kehangatan itu mulai bergerak perlahan, mengikuti jalur yang terasa alami meskipun asing.

Alverion membuka mata dengan sedikit terkejut saat merasakan perubahan itu menjadi lebih jelas. Napasnya menahan sejenak, lalu ia mencoba mengarahkan aliran tersebut menuju lengannya dengan lebih sadar.

“Aku bisa mengendalikannya...” katanya, suaranya rendah tetapi pasti.

Saat energi itu mencapai lengannya, ia merasakan otot-ototnya mengencang secara halus. Tidak ada lonjakan kekuatan besar, tetapi cukup untuk membuat perbedaan kecil yang terasa nyata. Ia langsung mengayunkan tangannya ke depan, dan gerakan itu meluncur lebih cepat dari yang ia perkirakan.

Tubuhnya sedikit goyah karena tidak siap dengan perubahan itu, membuatnya hampir kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya ia menahan diri.

“Terlalu cepat,” gumamnya sambil menatap tangannya lagi.

Ia tidak berhenti di situ dan mencoba sekali lagi dengan pendekatan yang lebih hati-hati. Kali ini ia menjaga aliran energi tetap stabil tanpa memaksanya bergerak terlalu cepat. Hasilnya lebih baik, meskipun masih terasa kaku seperti mengendalikan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.

Alverion menghembuskan napas panjang dan menurunkan tangannya perlahan. Ia menyadari bahwa kemajuan ini masih jauh dari kata sempurna, tetapi perbedaan kecil itu sudah cukup untuk memberinya arah.

“Masih belum rapi,” katanya pelan, meskipun ada kepuasan yang tidak bisa ia sembunyikan.

Beberapa saat kemudian, ia mulai bergerak lebih dalam ke dalam hutan. Langkahnya terasa lebih ringan, dan meskipun ia tetap waspada, keraguan yang sebelumnya mengikat setiap gerakannya mulai berkurang sedikit demi sedikit. Ia tidak lagi hanya bereaksi terhadap lingkungan, tetapi mulai membaca tanda-tanda kecil di sekitarnya.

Sebuah ranting jatuh dari atas, dan kepalanya sudah menoleh sebelum suara itu benar-benar jelas terdengar. Angin yang berhembus dari samping membuatnya otomatis menggeser posisi, seolah tubuhnya mulai belajar merespons tanpa perlu perintah sadar.

Ia berhenti ketika menemukan sebuah area terbuka kecil dengan tanah yang lebih kering. Bekas jejak terlihat samar di permukaan, cukup jelas untuk menarik perhatiannya. Ia berjongkok dan mengamati lebih dekat, memperhatikan bentuk dan kedalaman jejak tersebut dengan serius.

Jejak itu lebih besar dari makhluk yang ia lawan sebelumnya, dan tekanannya terlihat lebih dalam, menandakan bobot yang lebih berat. Alverion menyipitkan mata sambil mencoba memperkirakan jenis makhluk yang meninggalkannya.

“Ini bukan yang tadi,” gumamnya.

Secara logika, mundur adalah pilihan yang lebih aman. Kondisinya belum stabil, dan kemampuannya masih dalam tahap awal. Namun ia tidak bergerak menjauh, seolah ada dorongan yang menahannya untuk tetap di tempat.

“Kalau terus menghindar, aku tidak akan berkembang,” ucapnya pelan.

Ia berdiri dan mengaktifkan kembali aliran energinya, menjaga ritmenya tetap stabil tanpa terburu-buru. Setiap langkah yang ia ambil terasa lebih terkontrol, meskipun ketegangan di dalam dirinya perlahan meningkat.

Suara gesekan terdengar dari balik semak di depan, lebih berat dan lebih jelas dibandingkan sebelumnya. Alverion langsung menghentikan langkahnya dan bersiap, fokusnya mengarah ke sumber suara itu.

Seekor makhluk muncul perlahan dari balik semak, bentuknya menyerupai serigala tetapi dengan tubuh yang lebih kekar dan bulu hitam kusam yang terlihat kasar. Matanya memancarkan cahaya redup yang tidak biasa, membuat suasana di sekitarnya terasa lebih dingin.

Makhluk itu berhenti dan menatap Alverion tanpa bergerak, menciptakan jeda singkat yang dipenuhi ketegangan. Alverion tetap diam, tetapi seluruh tubuhnya sudah dalam kondisi siap.

Geraman rendah terdengar sebelum makhluk itu bergerak tiba-tiba. Serangannya cepat dan langsung mengarah ke tubuh Alverion tanpa memberi waktu untuk berpikir panjang.

Alverion mengaktifkan energinya dan menghindar ke samping, berhasil mengurangi dampak serangan meskipun tidak sepenuhnya lolos. Cakar makhluk itu masih menyentuh bahunya, meninggalkan goresan panas yang langsung terasa perih.

Ia mundur beberapa langkah sambil menahan rasa sakit, matanya tetap fokus pada lawan di depannya. Kecepatan makhluk itu berada di atas perkiraannya, memaksanya untuk lebih berhati-hati.

Makhluk itu kembali menyerang tanpa jeda, memanfaatkan tekanan untuk menjaga kendali pertarungan. Alverion mencoba membaca gerakannya sambil mencari celah, tidak hanya bertahan tetapi juga mulai mencari kesempatan untuk menyerang balik.

Saat kesempatan itu muncul, ia mengayunkan tangannya dengan energi yang diperkuat, tetapi timing-nya sedikit terlambat. Serangannya hanya mengenai sisi tubuh makhluk itu tanpa memberi dampak berarti.

Pertarungan berubah menjadi tarik ulur yang melelahkan. Makhluk itu terus menyerang dengan pola yang konsisten, sementara Alverion berusaha bertahan sambil mempelajari ritmenya. Napasnya mulai berat, dan tubuhnya terasa semakin terbebani seiring waktu berjalan.

Namun di tengah tekanan itu, ia mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tidak ia sadari. Gerakan makhluk itu tidak sepenuhnya acak, ada pola yang berulang meskipun tersembunyi di balik kecepatan dan agresinya.

Alverion menarik napas dalam dan menenangkan pikirannya, memilih untuk tidak memaksakan kekuatan yang belum ia kuasai. Ia menjaga aliran energi tetap stabil, mengikuti ritme yang lebih halus tanpa mencoba melampaui batasnya.

Ketika makhluk itu melompat lagi dengan arah yang lebih lurus, Alverion bergerak sedikit lebih awal. Ia menggeser tubuhnya ke samping dengan perhitungan yang lebih tepat, membuat serangan itu meleset tipis.

Tanpa membuang waktu, ia memutar tubuhnya dan mengarahkan serangan ke titik yang sama seperti sebelumnya. Kali ini gerakannya lebih terkontrol, dan aliran energi mengikuti tanpa gangguan.

Serangan itu mengenai leher makhluk tersebut dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Alverion langsung melanjutkan dengan serangan kedua yang lebih mantap, tidak memberi ruang bagi lawannya untuk pulih.

Makhluk itu jatuh ke tanah dengan gerakan yang melemah, berusaha bangkit tetapi gagal. Alverion berdiri di depannya dengan napas berat, memastikan bahwa ancaman itu benar-benar berakhir sebelum akhirnya mengakhiri pertarungan.

Keheningan kembali menyelimuti hutan, hanya menyisakan suara napasnya yang masih belum stabil. Tubuhnya penuh luka kecil, tetapi ia tetap berdiri tanpa jatuh.

Tampilan sistem muncul kembali di hadapannya.

[Musuh dieliminasi]

Alverion tidak langsung merespons dan hanya menatap makhluk itu dalam diam. Ia mencoba memahami apa yang baru saja terjadi, menyadari bahwa ia telah mengalahkan sesuatu yang sebelumnya berada di luar kemampuannya.

Ia menghembuskan napas panjang dan tertawa kecil, bukan karena merasa hebat tetapi karena sulit mempercayai kenyataan itu.

“...ternyata aku bisa,” katanya pelan.

Tangannya terangkat perlahan, merasakan sisa aliran energi yang masih bergerak di dalam tubuhnya. Sensasinya belum stabil dan masih terasa kasar, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa perubahan itu nyata dan terus berkembang.

Kali ini, ia tidak lagi meragukannya.

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!