Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
Malam sudah cukup larut ketika mobil Bima akhirnya berhenti di depan rumah bibinya Aira. Lampu teras menyala redup, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan perasaan campur aduk di dalam hati Aira. Selama perjalanan, suasana di antara mereka tidak benar-benar tenang, tetapi juga tidak sepenuhnya tegang. Ada sesuatu yang menggantung, sesuatu yang belum selesai.
Sebelum Aira membuka pintu mobil, Bima lebih dulu bersuara.
“Aira.”
Aira menoleh pelan. “Apa?”
Bima menatapnya dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya. Tidak ada senyum iseng yang sering dia pasang. “Kembali kerja.”
Aira sedikit terdiam. Ucapannya singkat, tapi berat. Tangannya yang semula hendak membuka pintu berhenti di udara.
“Kamu serius?” tanyanya pelan.
“Serius.” Bima menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Aku tidak peduli alasan kamu keluar dulu. Tapi sekarang… kalau kamu masih mau, balik saja.”
Aira menggigit bibirnya. Ada keraguan yang jelas terlihat di wajahnya. “Aku… harus bicara dulu sama ibuku. Aku tidak bisa memutuskan sendiri.”
“Tidak masalah.” Bima mengangguk pelan. “Setidaknya kamu mau mempertimbangkan.”
Nada suaranya terdengar lebih lega dari yang ingin dia akui. Aira menyadarinya, dan itu justru membuatnya semakin gugup.
Beberapa detik hening.
Kemudian Bima melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih ringan, tapi tetap mengandung makna yang sama dalamnya. “Sekalian… pikirkan juga soal yang tadi.”
Aira langsung tahu maksudnya. Wajahnya memerah, dan dia buru-buru memalingkan pandangan.
“Aku…” dia ragu, lalu tersenyum kecil dengan canggung. “Aku belum bisa jawab sekarang.”
“Karena belum mau, atau karena belum berani?” tanya Bima santai.
Aira menatapnya, sedikit kesal. “Karena aku belum memaafkan diriku sendiri.”
Bima terdiam sejenak, lalu tersenyum. Kali ini bukan senyum jahil, tapi sesuatu yang lebih lembut.
“Kamu itu aneh,” katanya pelan.
“Aneh?”
“Iya. Kamu sibuk menyalahkan diri sendiri atas sesuatu yang bahkan aku sudah lepaskan sejak lama.”
Aira mengerutkan kening. “Maksudnya?”
Bima menatap lurus ke depan. “Yang meninggalkan aku dulu itu Aira yang lama. Yang sekarang… bukan orang yang sama.”
Aira tidak langsung menjawab. Kata-kata itu masuk perlahan ke dalam pikirannya.
“Jadi,” lanjut Bima, “daripada kamu terus merasa bersalah sama masa lalu, lebih baik kamu berdamai saja sama dirimu sendiri. Baru pikirkan mau mulai lagi atau tidak.”
Aira menunduk. Hatinya terasa hangat, tapi juga tidak nyaman.
Saat dia akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu mobil—
Klik.
Pintu tidak bisa dibuka.
Aira langsung menoleh. “Bima.”
Bima hanya tersenyum santai, tangannya masih di dekat tombol kunci.
“Buka.”
“Tidak.”
Aira menatapnya tajam. “Jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda.” Bima menyilangkan tangan. “Ada syaratnya.”
Aira menghela napas panjang, mencoba menahan kesal. “Apa lagi sekarang?”
Bima mendekat sedikit, wajahnya penuh ekspresi jahil yang sangat ia kenal. “Bilang ‘meong’.”
Aira terdiam beberapa detik, memastikan dia tidak salah dengar.
“Apa?”
“Meong,” ulang Bima dengan santai. “Seperti kucing.”
Aira langsung menarik napas tajam. “Kamu gila.”
“Mungkin.” Bima mengangkat bahu. “Tapi pintunya tetap terkunci.”
Aira mulai menarik-narik baju Bima dengan kesal. “Buka sekarang.”
“Meong dulu.”
“Aku tidak mau!”
Bima tetap santai, bahkan semakin menikmati situasi itu. “Sedikit saja. Tidak akan ada yang dengar.”
Aira mengguncang tubuhnya. “Kamu ini kenapa sih?!”
Bima tertawa kecil. “Aku cuma ingin dengar.”
“Aku tidak akan melakukannya!”
“Baik.” Bima menyandarkan kepala. “Berarti kamu tidur di sini malam ini.”
Aira menatapnya tidak percaya. “Serius?”
“Serius.”
Hening beberapa detik. Aira menggertakkan giginya, wajahnya sudah merah karena malu dan marah bercampur jadi satu.
Akhirnya—
“Meong!”
Suaranya keras, cepat, dan penuh emosi.
Bima langsung tertawa lepas.
“Bagus,” katanya puas.
Klik.
Pintu akhirnya terbuka.
Aira segera keluar dari mobil dengan wajah kesal, bahkan tidak mau melihat ke arah Bima lagi.
“Dasar menyebalkan!” gumamnya pelan.
Bima hanya melambaikan tangan dengan senyum lebar. “Hati-hati masuk rumah.”
Aira tidak menoleh sama sekali. Dia langsung berjalan cepat menuju pintu dan masuk ke dalam tanpa suara.
Dia tidak ingin memperpanjang apa pun malam itu.
—
Keesokan paginya, suasana sangat berbeda bagi Bima.
Dia bangun dengan perasaan ringan, sesuatu yang jarang dia rasakan. Biasanya wajahnya datar, senyumnya sekadar formalitas. Tapi hari ini… berbeda.
Dia terlihat seperti seseorang yang baru saja mendapatkan sesuatu yang sangat berharga.
Di kantor, perubahan itu langsung terasa.
“Pak Bima…?” salah satu staf menatapnya heran.
Bima hanya tersenyum. “Ya?”
“Tidak apa-apa, Pak…”
Semua orang menyadari, tapi tidak ada yang berani bertanya.
Bima duduk di kursinya, sesekali tersenyum sendiri saat mengingat kejadian semalam.
“Meong…”
Dia menahan tawa kecil.
Saat rapat dimulai, suasana justru bertolak belakang.
“Penjualan bulan ini turun drastis,” ujar salah satu petinggi dengan nada tegas.
“Ini bukan angka yang bisa kita anggap sepele.”
Beberapa orang tampak tegang, sebagian lagi kesal.
Namun di tengah suasana itu, Bima justru masih tersenyum tipis.
“Pak Bima?” seseorang akhirnya menegur.
Bima mengangkat kepala. “Ya?”
“Kita sedang membahas kerugian perusahaan.”
“Dan saya mendengarkan,” jawabnya tenang.
Tidak ada yang bisa membantah, tapi ekspresinya jelas tidak mencerminkan kekhawatiran.
Bagi Bima, hari itu… tidak ada yang cukup buruk untuk merusak suasana hatinya.
—
Sore harinya, begitu pekerjaan selesai, Bima langsung pulang.
Dia mengganti pakaian dengan sesuatu yang lebih santai. Tidak terlalu formal, tapi tetap rapi.
Di depan cermin, dia sempat memperhatikan dirinya sendiri.
“Lumayan,” gumamnya.
Kemudian tanpa banyak pikir, dia langsung pergi.
Tujuannya jelas.
Rumah bibinya Aira.
—
Namun, begitu sampai di sana, suasana yang dia temui… jauh dari yang dia bayangkan.
Pintu dibuka oleh paman Aira, dengan ekspresi yang tidak ramah.
“Kamu lagi,” katanya datar.
Bima tersenyum sopan. “Selamat sore, Om.”
“Masuk.”
Nada itu bukan undangan. Lebih seperti perintah.
Begitu masuk, Bima langsung merasakan suasana tegang. Bibi Aira juga ada di sana, duduk dengan wajah serius.
Dan Aira…
Dia duduk di sudut, terlihat tidak nyaman.
“Kamu tahu kenapa kami panggil kamu ke sini?” tanya pamannya langsung.
Bima menghela napas pelan. “Sepertinya… ada hubungannya dengan Aira.”
“Tentu saja,” sahut bibinya. “Dia terlihat seperti habis menangis semalam.”
Bima melirik Aira sekilas.
Aira langsung menggeleng cepat. “Aku sudah bilang, bukan karena dia.”
“Lalu karena siapa?” tanya pamannya tajam.
Aira terdiam.
Pamannya kembali menatap Bima. “Kami tidak bisa percaya begitu saja.”
Bima merasa situasi ini mulai berbahaya.
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba berpikir cepat.
Kalau dia jujur… situasinya bisa semakin buruk.
Kalau dia diam… juga tidak membantu.
Akhirnya—
“Saya melamar Aira semalam.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Hening.
Aira langsung menoleh dengan mata membesar. “Apa?!”
Bima tetap memasang wajah tenang, meskipun dalam hati dia sendiri sadar ini keputusan yang… sangat nekat.
“Dia terharu,” lanjutnya.
Aira menggeleng cepat. “Tidak! Itu tidak—”
Pamannya menatap Aira. “Benar?”
Aira panik. “Bukan seperti itu—”
“Jadi kamu menolak?” tanya bibinya.
Aira semakin bingung. “Aku tidak bilang menolak juga—”
Bima menahan napas, berharap situasi ini tidak semakin kacau.
Namun jelas, kebohongan yang dia buat barusan… sudah berkembang ke arah yang tidak bisa dia kendalikan lagi.
Pamannya menyilangkan tangan. “Kalau memang serius, ini bukan hal yang bisa dianggap main-main.”
Bima mengangguk. “Saya tahu.”
“Kamu siap bertanggung jawab?”
Pertanyaan itu membuat Bima terdiam sesaat.
Dia melirik Aira.
Aira juga menatapnya, campuran antara marah, malu, dan tidak percaya.
Lalu Bima kembali menatap pamannya.
“Kalau memang harus menikah dengan Aira…” katanya pelan, tapi jelas, “saya tidak keberatan.”
Aira langsung membeku.
Ruangan itu kembali hening.
Dan untuk pertama kalinya sejak dia datang—
Bima sendiri tidak yakin apakah dia baru saja menyelamatkan keadaan… atau justru menghancurkannya sepenuhnya.