NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Rahasia yang Terabaikan

BAB 23: Rahasia yang Terabaikan

​Ketegangan di dalam ruang kerja CEO itu semakin mencekik leher. Dika masih berdiri tegak, menolak untuk mundur meski tubuh tegap Devano telah menghalangi pandangannya dari Luna. Kedua pria itu saling melempar tatapan tajam, menciptakan medan pertempuran tak kasat mata yang sanggup membuat siapa saja gemetar ketakutan.

​Devano menipiskan bibirnya, senyuman tipis yang sangat kejam terukir di wajah tampannya. "Pak Manajer Dika, saya rasa Anda terlalu banyak membuang waktu produktif kantor hari ini. Jika Anda masih begitu bersikeras mencampuri urusan asisten pribadi saya, saya tidak akan ragu untuk menandatangani surat pemindahan tugas Anda ke kantor cabang pembantu di pedalaman Kalimantan sore ini juga. Mari kita lihat, apakah karier yang Anda bangun bertahun-tahun sebanding dengan rasa simpati murah Anda ini?"

​Dika tersentak. Rahangnya mengeras, menahan rasa dongkol yang luar biasa di dalam dadanya. Ancaman Devano bukan sekadar gertakan sambal; pria itu memiliki kuasa mutlak untuk menghancurkan masa depannya dalam sekejap mata.

​Melihat Dika terancam bahaya karena membelanya, Luna tidak bisa tinggal diam lagi. Dengan sisa-siga tenaga yang ada pada tubuhnya yang masih dirongrong demam tinggi, dia memaksakan diri untuk bersuara.

​"Pak Dika... tolong keluar," lirih Luna dengan suara yang sangat parau dan serak. Dia menggigit bibir bawahnya, terpaksa berbohong demi keselamatan karier pria baik itu. "Saya baik-baik saja di sini. Ini hanya urusan pekerjaan antara saya dan Tuan Devano. Tolong jangan membuat masalah semakin rumit... pergilah."

​Dika menoleh ke arah Luna, menatap wajah pucat gadis itu dengan pandangan penuh kekecewaan yang mendalam. Dika mengembuskan napas berat, merasa seluruh niat baiknya telah ditolak mentah-mentah. Dengan hati yang hancur, Dika menundukkan kepala kaku secara formal ke arah Devano, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan, menutup pintu jati besar itu dengan rapat.

​Setelah Dika pergi, keheningan yang canggung kembali menguasai ruangan. Luna memejamkan matanya sejenak, meratapi nasibnya yang kini benar-benar kehilangan satu-satunya orang baik di kantor ini. Dia menolak untuk menyerahkan sisa harga dirinya dengan menerima cek dari Devano, apalagi harus tinggal satu atap di apartemen pribadi pria itu.

​Dengan tubuh yang masih gemetar halus, Luna berniat mengemas barang-barangnya untuk bersiap pulang ke rumahnya sendiri. Dia membungkuk perlahan, berniat mengambil tas kain sederhana miliknya yang tergeletak di atas lantai marmer dekat kaki sofa.

​Namun, karena pandangan matanya yang masih agak berkunang-kunang akibat demam, tangan dingin Luna tidak sengaja menyenggol tas tersebut hingga posisinya terbalik.

​Sret... Brak.

​Seluruh isi tas kain itu berserakan di atas lantai marmer yang bersih. Beberapa lembar tisu, pulpen kantor, dan sebuah dompet kulit tua berwarna cokelat usang ikut terjatuh dalam posisi terbuka. Dompet itu adalah satu-satunya barang peninggalan almarhum ayahnya, Mahardika Maharani, yang paling dijaga oleh Luna.

​Akibat benturan dengan lantai, dari salah satu selipan kompartemen foto di dalam dompet tua itu, selembar kertas kecil yang sudah agak menguning dan robek di bagian bawahnya tergelincir keluar, berhenti tepat di dekat ujung sepatu pantofel mahal milik Devano.

​Devano yang berdiri tidak jauh dari sana refleks menundukkan pandangan mata elangnya. Sebelum Luna sempat membungkuk untuk meraih kertas tersebut, tangan besar Devano bergerak lebih cepat. Pria itu memungut kertas robek itu dengan gerakan yang anggun namun penuh rasa ingin tahu.

​Mata elang Devano yang kelam menyipit saat membaca untaian tulisan tangan yang agak gemetar di atas kertas menguning tersebut. Itu adalah tulisan tangan almarhum ayah Luna.

​"Luna, maafkan Ayah. Jika suatu hari perusahaan hancur dan Ayah sudah tidak ada, carilah keluarga Devano. Sebenarnya merekalah yang..."

​Kalimat di baris bawah kertas itu tampak terpotong kasar, robek menghilang entah ke mana, menyisakan misteri yang menggantung tanpa akhir.

​Devano mengernyitkan dahi tebalnya yang kokoh. Jantungnya berdenyut ganjil sesaat setelah membaca baris kalimat tersebut. Di dalam ingatan Devano yang dipenuhi kabut dendam, nama Mahardika adalah nama seorang pria penipu dan penjudi kelas kakap yang telah membuat keluarganya sendiri bangkrut melarat, berdasarkan tumpukan laporan dan cerita yang dibawa oleh Siska saat mereka masih menikah dulu.

​Namun, isi memo kecil ini justru terasa sangat kontradiktif. Kenapa seorang pria yang dituduh penipu justru menyuruh anak gadisnya mencari keluarga Devano saat dia kesusahan? Kenapa kalimat itu seolah mengisyaratkan bahwa keluarga Devano adalah pelindung, bukan korban dari kejahatannya? sebuah keraguan kecil mendadak terbit di sudut hati Devano.

​"T-Tuan... tolong kembalikan kertas itu kepada saya," cicit Luna dengan kepanikan yang luar biasa.

​Dengan air mata yang kembali berlinang di pipinya yang tirus, Luna langsung merebut kertas robek itu dari tangan besar Devano. Dia memeluk kertas kecil itu di depan dadanya dengan sangat erat, seolah-olah benda usang itu adalah seluruh harta paling berharga yang dia miliki di dunia ini. Tubuhnya gemetar hebat, takut jika Devano akan merobek atau membuang peninggalan terakhir ayahnya.

​Devano membeku di tempatnya berdiri, menatap tajam ke arah Luna yang merana di atas sofa. Gejolak rasa penasaran dan firasat aneh sempat merayap di dalam benak sang CEO.

​Namun, ego seorang alpha male yang tinggi serta rasa dendam yang sudah mengakar kuat selama bertahun-tahun di dalam dadanya langsung membisikkan prasangka buruk. Devano mendengus sinis di dalam hati, menepis jauh-jauh firasat anehnya tadi. Dia menganggap memo itu hanyalah bagian dari taktik usang seorang penipu masa lalu untuk memanfaatkan nama besar keluarganya demi mendapatkan keuntungan materi.

​Devano membalikkan tubuh tegapnya memunggungi Luna, melangkah kembali ke balik meja kerja megahnya dengan langkah yang dingin tanpa emosi sedikit pun.

​"Kemasi semua barang-barang kotormu itu, Asisten Luna, dan pulanglah ke rumahmu hari ini," ujar Devano dengan suara bariton yang berat, datar, dan sedingin es. "Namun ingat baik-baik kata-kata saya. Besok pagi tepat pukul tujuh, kamu harus sudah berdiri di ruangan ini untuk menyelesaikan seluruh laporan audit yang tertunda hari ini, tanpa ada alasan sakit atau bolos lagi. Pergilah."

​Luna mengembuskan napas pendek yang terasa sesak namun penuh rasa syukur karena dia tidak dipaksa ke apartemen pria itu malam ini. Dengan tangan yang masih dingin, dia buru-buru memasukkan kembali seluruh barangnya ke dalam tas, lalu melangkah keluar dari ruangan tertutup itu dengan tubuh yang menggigil menahan demam.

​Luna berjalan meninggalkan ruangan tanpa pernah menyadari, bahwa selembar kertas robek milik ayahnya baru saja mengulurkan sebuah benang rahasia masa lalu di antara mereka—sebuah bom waktu tersembunyi yang kini tinggal menunggu waktu untuk meledak dan menjerat kehidupan mereka berdua ke dalam pusaran takdir yang jauh lebih gelap.

1
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!