NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Yatim Piatu / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 : BENTANG JARAK YANG MULAI HILANG

Hujan sore itu turun lebih cepat dari biasanya, seolah langit Jakarta memang sudah lama menahan beban yang belum juga jatuh. Kirana berdiri di bawah atap lobi gedung PT. Harsono Group sambil memeluk map biru tua berisi laporan keuangan cabang Bekasi. Pikirannya masih penuh dengan angka dan grafik yang tadi pagi membuat kepalanya hampir pecah. Di sampingnya, Arga berdiri tegap dengan payung hitam di tangan. Kemeja putihnya sudah sedikit basah di bagian bahu kiri karena tetesan hujan yang menyelinap masuk, tapi ia tidak bergerak sedikit pun. Posturnya tetap tenang, seperti tembok yang tidak akan goyah meskipun angin menerpa.

Pak Harsono tadi pagi memang sudah berpesan kalau Arga harus mengantar Kirana pulang setiap hari selama satu bulan pertama. Alasannya sederhana, supaya Kirana terbiasa dengan rute dan ritme kerja di kantor. Tapi bagi Kirana, perintah itu terasa seperti rantai yang mengikat kebebasannya. Ia terbiasa mandiri, terbiasa pulang sendiri dengan taksi online atau sesekali Ia membawa mobil sendiri. Kehadiran Arga yang terus mengikuti seperti bayangan membuatnya tidak nyaman. Apalagi setelah kejadian di ruang makan tadi siang, ketika Arga menyebut dirinya sebagai suami. Dua kata itu masih menggema di kepala Kirana dan membuatnya tidak bisa berpikir jernih.

“Kita jalan sekarang, Nona. Hujan sepertinya akan semakin deras,” ujar Arga pelan sambil membuka payung lebih lebar agar Kirana bisa masuk ke bawahnya tanpa basah. Suaranya datar seperti biasa, tapi ada kehati-hatian yang terselip di dalamnya. Kirana mengangguk kecil tanpa menjawab. Ia melangkah keluar dari lobi, merasakan dinginnya udara sore yang bercampur dengan bau tanah basah.

Langkahnya hati-hati di atas lantai marmer yang licin karena air hujan. Arga berjalan di sampingnya dengan jarak satu langkah, tidak terlalu dekat tapi juga tidak terlalu jauh. Seperti selalu menjaga tapi tidak ingin mengganggu.

Mobil hitam milik Pak Harsono sudah terparkir tepat di depan pintu lobi. Sopirnya hari ini berhalangan karena sakit, jadi Arga yang mengambil alih tugas menyetir. Kirana menatap sekilas sosok Arga yang hari ini terlihat berbeda. Kemeja putih yang rapi, dasi hitam yang tersimpul sempurna, dan rambut yang disisir rapi membuat Arga terlihat seperti seorang profesional sejati, bukan lagi supir yang biasa ia lihat di rumah. Perubahan itu membuat Kirana sedikit canggung. Rasanya seperti melihat dua orang yang berbeda dalam satu tubuh. Pagi tadi Arga adalah mentor yang tegas dan dingin. Sekarang Arga adalah pria yang dengan sabar memayunginya agar tidak kehujanan.

Ketika Kirana masuk ke dalam mobil, AC yang dingin langsung menyambutnya. Ia duduk di kursi penumpang sambil meletakkan map laporan di pangkuannya. Arga menutup pintu dengan pelan lalu berlari kecil ke sisi pengemudi. Dalam hitungan detik, ia sudah duduk di kursi kemudi dan menyalakan mesin. Suara wiper mobil bergerak cepat menyapu kaca depan yang mulai dipenuhi air hujan. Jalanan di luar terlihat padat, kendaraan bergerak merayap karena hujan membuat banyak pengendara mengurangi kecepatan.

“Kamu tidak basah, Arga?” tanya Kirana tiba-tiba.

Pertanyaan itu keluar begitu saja tanpa ia sadari. Ia melihat bahu kiri kemeja Arga yang mulai basah dan menempel di kulit. Arga hanya melirik sekilas melalui kaca spion lalu menjawab dengan nada tenang. “Tidak apa-apa, Nona. Saya laki-laki.”

Jawaban singkat itu membuat Kirana mengerutkan dahi. Laki-laki atau tidak, tetap saja ia manusia yang bisa kedinginan dan sakit. Tapi Kirana memilih diam. Ia tidak ingin terlihat terlalu peduli, apalagi pada seseorang yang sejak awal ia anggap hanya bawahan ayahnya.

"Cih.... ngapain juga gue peduli sama dia. " Gumam Kirana dalam hati dengan sedikit kesal.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa hening. Hanya ada suara wiper dan deru mesin yang menemani. Kirana sesekali melirik Arga dari sudut matanya. Ia memperhatikan cara Arga menggenggam kemudi dengan tenang, cara Arga menyesuaikan kecepatan mobil saat melewati genangan air, dan cara Arga sesekali menghela napas ketika ada pengendara motor yang tiba-tiba memotong jalur. Semua hal kecil itu membuat Kirana sadar kalau Arga adalah orang yang sangat teliti dan bertanggung jawab. Tidak heran kalau ayahnya mempercayakan posisi Asisten Manajer Operasional kepada pria itu hanya dalam waktu beberapa minggu.

“Arga,” panggil Kirana lagi.

Suaranya kali ini lebih lembut dari sebelumnya. Arga menoleh sedikit tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. “Iya, Nona.” Jawab Arga.

Kirana menggigit bibirnya sebentar sebelum akhirnya bertanya.

“Kamu selalu sedekat ini sama semua orang yang kamu bantu?” Pertanyaan itu sebenarnya sudah lama mengganjal di pikirannya. Sejak pertama kali Arga datang ke rumahnya bersama Papanya 10 tahun lalu, pria itu selalu bersikap sopan dan perhatian. Tapi perhatian Arga terasa berbeda. Tidak berlebihan, tidak dibuat-buat, tapi tulus.

Arga terdiam sejenak sebelum menjawab.

“Tidak, Nona. Hanya untuk orang yang penting.” Jawaban itu membuat jantung Kirana berdetak lebih cepat.

Orang yang penting. Apakah itu berarti dirinya? Kirana tidak berani bertanya lebih lanjut. Ia takut jawaban Arga akan membuatnya berharap sesuatu yang belum pasti. Ia menunduk dan memandang map di pangkuannya. Angka-angka di dalamnya sekarang terasa tidak penting dibandingkan dengan kata-kata Arga tadi.

Hujan semakin deras ketika mobil mereka berhenti di lampu merah. Air hujan turun dengan derasnya menghantam kaca mobil dan menciptakan suara gemuruh yang menenangkan. Kirana merasakan hawa dingin mulai merayap masuk ke dalam tubuhnya. Tanpa diduga, Arga melepas jas hitamnya dan menyampirkannya ke bahu Kirana. Gerakan itu cepat tapi lembut, seolah Arga tidak ingin membuat Kirana merasa terkejut. “Nanti masuk angin, Nona,” kata Arga pelan.

Kirana menatap jas itu. Hangat. Ada sisa panas tubuh Arga yang masih menempel di sana. Bau sabun ringan yang biasa ia cium di rumah kini terasa lebih dekat.

Kirana tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa menatap Arga dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi ia merasa kesal karena Arga selalu bertindak tanpa izin. Di sisi lain, ia merasa hangat karena ada seseorang yang benar-benar peduli padanya.

“Arga… kamu ini serius apa bercanda sih?” tanya Kirana pelan, hampir berbisik. Arga tidak langsung menjawab. Ia menggenggam kemudi lebih erat seolah sedang menahan sesuatu. Setelah beberapa detik, ia berkata dengan suara yang lebih dalam dari biasanya. “Saya tidak pernah bercanda dengan keselamatan orang yang saya sayang, Nona.”

Kalimat itu menghantam Kirana seperti petir di siang bolong. Orang yang saya sayang. Tiga kata itu membuat napas Kirana tercekat. Ia tidak berani menatap mata Arga. Ia takut kalau ia melihat ketulusan di sana, ia tidak akan bisa menyangkal perasaan aneh yang mulai tumbuh di dalam hatinya.

Selama ini Kirana selalu menganggap pernikahannya dengan Arga hanya sebagai kontrak bisnis yang diatur oleh ayahnya. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban. Tapi sekarang, di tengah hujan sore yang dingin ini, batas itu mulai kabur.

“Jangan panggil aku Nona terus, Arga,” ujar Kirana tiba-tiba. Suaranya pelan tapi tegas.

“Panggil aku Kirana saja.” Arga terdiam.

Tangan yang menggenggam kemudi sedikit mengendur. Ia menoleh ke arah Kirana dan menatapnya dalam-dalam. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Arga tidak melihat Kirana sebagai anak CEO atau sebagai istri kontraknya. Ia melihat Kirana sebagai seorang wanita biasa yang sedang mencoba kuat di tengah tekanan yang tidak ia mengerti. “Baiklah… Kirana,” jawab Arga pelan. Nama itu keluar dari bibirnya dengan lembut, seperti sebuah janji yang tidak akan pernah ia ingkari.

Kirana merasakan pipinya sedikit memanas. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke luar jendela. Lampu merah sudah berubah menjadi hijau dan mobil kembali melaju pelan di tengah hujan. Kirana tidak tahu kenapa hatinya terasa lebih ringan setelah mengucapkan kalimat itu. Mungkin karena ia akhirnya berani meminta sesuatu untuk dirinya sendiri, bukan untuk citra perusahaan atau untuk ayahnya. Mungkin juga karena ia ingin menghapus jarak yang selama ini selalu Ia buat.

Perjalanan pulang ke rumah tidak terasa lama. Ketika mobil berhenti di depan pintu masuk, hujan sudah mulai reda. Tetesannya hanya tinggal rintik-rintik kecil yang jatuh perlahan dari langit. Kirana membuka pintu mobil dan turun dengan hati-hati. Jas hitam Arga masih melingkar di bahunya, memberikan kehangatan yang tidak ingin ia lepaskan. “Jasnya…” kata Kirana sambil melepas jas itu dari bahunya.

"Nanti saja Kirana, pake dulu aja udara nya masih dingin banget. " Ucap Arga pelan.

Kirana menatap Arga dengan bingung.

“Tapi kamu sendiri bagaimana? Kamu bisa sakit.” Arga hanya tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali ia tunjukkan.

“Saya tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa.” Jelas Arga.

Jawaban itu membuat dada Kirana terasa sesak. Ia tidak suka melihat Arga selalu mengutamakan orang lain sementara dirinya sendiri diabaikan. Tapi ia juga tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa khawatirnya tanpa terlihat terlalu peduli.

“Terima kasih, Arga,” ucap Kirana pelan.

Ia tidak tahu kata lain apa yang bisa ia ucapkan selain itu. Arga hanya mengangguk kecil. “Sama-sama, Kirana. Sekarang Istirahatlah. Besok kita mulai lagi.”

Kirana melangkah masuk ke dalam rumah. Lampu-lampu kristal di ruang tamu menyala temaram, menciptakan suasana yang hangat dan tenang. Bi Rina yang sudah menunggu di dalam langsung menghampiri Kirana begitu melihatnya masuk. “Ya ampun, Non. Kok basah-basahan begitu? Cepat ganti baju, nanti masuk angin.” Bi Rina mengambil jas hitam dari tangan Kirana dan mengernyit ketika melihat itu jas milik Arga. “Ini jas Mas Arga, Non? Kok bisa di Nona?”

Kirana hanya tersenyum kecil tanpa menjawab. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa. Ia hanya tahu kalau malam ini rasanya berbeda. Lebih hangat. Lebih aman. Ia menaiki tangga menuju kamarnya dengan langkah yang lebih ringan dari pagi tadi. Di belakangnya, Arga berjalan dengan jarak beberapa langkah, seperti biasa. Seperti pengawal. Tapi juga… seperti suami.

DI RUANG MAKAN

Makan malam kali ini sedikit berbeda dengan yang kemarin. Kirana dan Arga makan malam bersama Papanya. Kirana tak lagi menjaga jarak dengan Arga, dia duduk di samping Arga. Bahkan tak menolak saat Arga menyiapkan makanan untuk. "Terimakasih.. " ucap Kirana pelan.

"Sama sama Sayang... " balas Arga sambil mengulum senyum.

Kirana menatap Arga, jantungnya seakan mau copot saat mendengar Arga mengucapkan kata Sayang. Dia hanya diam menahan rasa malunya. Pak Harsono yang menyaksikan nya hanya bisa tersenyum bahagia.

"Kirana sedikit demi sedikit kamu pasti akan menyadari ketulusan Arga, Alasan papa memilih Arga buat jaga kamu. " ucap pak Harsono dalam hatinya.

"Kirana gimana kerjaan di kantor apa kamu sudah mempelajarinya..?? " Tanya pak Harsono.

"Sudah Pah... Arga juga sudah mengajariku"

Entah kenapa dia malah menyebut Arga. Arga yg mendengar hanya tersenyum kecil.

"Baguslah... memang tidak salah Papa memilih Arga buat jadi mentormu.. " Pak Harsono merasa lega.

"Bukan apa apa Tuan saya.... " jawab Arga terpotong.

"TUAN... TUAN... APANYA YANG TUAN ARGA." Potong Pak Harsono. "Hemmm.. Kamu sekarang adalah anaku Arga sama seperti Kirana. Jadi mulailah panggil saya seperti Kirana memanggilku. " Pak Harsono sedikit tegas.

"Ma..maaf.. Pah saya tidak bermaksud menyinggung Papa.. saya hanya belum terbiasa.. " Jawab Arga kikuk.

Kirana yang melihat Arga dimarahin Papa nya Sedikit tersenyum hampir tidak terlihat siapapun.

DI KAMAR

Malam itu, Kirana tidak bisa tidur. Setiap kali Kirana menutup matanya bayangan Wajah Arga selalu muncul dan dia teringat kembali pada kata-kata Arga tadi sore. "Orang yang saya sayang". Apakah Arga benar-benar menyayanginya? Atau itu hanya ucapan sopan seorang asisten kepada atasannya? Kirana tidak tahu. Tapi satu hal yang ia yakini, hatinya tidak bisa lagi berpura-pura tidak peduli.

Arga Masuk kamar setelah agak larut, hatinya masih tak siap kalau harus bertemu Kirana setelah apa yg ia ucapkan di meja makan tadi

"sama sama Sayang". Ia membuka pintu kamar perlahan ia membuka pintu. terlihat Kirana sudah tidur. Arga mendekati Kirana merapikan selimutnya lalu, Jari Arga berhenti sejenak diatas selimut Kirana. Ia ingin mengelus pipi Kirana, tapi ia segera menarik tangannya. " Jangan Arga, jangan melewati batasanmu" Arga segera berbalik berjalan menuju sofanya.

Di atas sofa yang letaknya tidak jauh dari ranjang kasur Kirana, Arga juga tidak bisa tidur. Ia merebahkan tubuhnya diatas sofa sambil menatap langit-langit kamar. Jasnya sudah ia gantung rapi di lemari, tapi ia masih bisa merasakan kehangatan tubuh Kirana yang tertinggal di sana. Ia menutup matanya dan teringat pada tatapan Kirana ketika ia menyebut nama Kirana tanpa embel-embel Nona. Ada getaran kecil di mata Kirana saat itu. Getaran yang membuat Arga yakin kalau hatinya tidak salah memilih.

Arga tahu sejak awal kalau pernikahan ini tidak akan mudah. Kirana adalah anak seorang CEO yang hidup dalam kemewahan, sementara ia hanya anak Panti Asuhan yang secara kebetulan dianggap keluarga oleh Pak Harsono. Jarak status sosial mereka seperti langit dan bumi.

Tapi sejak hari pertama ia melihat Kirana 10 tahun yang lalu. Hatinya terasa hangat. Batin Arga selalu menyuruhnya untuk melindungi nona kecilnya, diluar maupun di rumah. Arga sudah berjanji dalam hati bahwa ia akan melindungi wanita itu dengan segala cara. Bahkan jika itu berarti ia harus menyembunyikan perasaannya sendiri.

Hujan di luar sudah berhenti sepenuhnya. Arga menarik napas dalam-dalam lalu berbisik pelan seolah Kirana bisa mendengarnya. “Tidur yang nyenyak, Kirana. Kali ini, biar aku yang jaga kamu lebih dekat lagi. "

[BERSAMBUNG... ]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!