NovelToon NovelToon
RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tanya Balik

masih up, cuma jarang!


Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.


Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19.

19.

Morline terbangun karena tubuhnya tak bisa lagi menahan cairan yang penuh di kandung kemih. Dengan hati-hati, Morline berguling ke sisi dipan dan beranjak tanpa menimbulkan suara sedikitpun.

Dia meraih lentera yang masih menyala di meja, membawanya di tangan kiri. Cahaya dari lentera itu seakan membentuk kubah kecil di sekeliling Morline, di sudut dinding bayangannya yang besar tampak seperti monster yang mengikuti. Namun rasa kantuk yang masih tersisa dan naluri tubuh untuk segera pergi ke kamar mandi tak membuat Morline memperhatikan sekitarnya.

Dia melangkah cepat ke pintu kecil yang tertutup, mendorong pintunya lalu masuk, dan menutupnya dengan suara blam! Yang cukup kencang.

Beberapa menit di dalam, Morline keluar dengan mata terbuka, seolah sisa kantuk pudar dalam sekejap. Lentera masih dia genggam di tangan kirinya, dan bayangannya masih mengikuti di belakangnya. Namun langkah Morline terhenti saat otaknya tiba-tiba memikirkan sistem.

Beberapa hari ini sistem tak bisa dibuka, bahkan suara magnetis perempuan itu tak terdengar lagi. Setiap kali Morline membuka sistem justru layar hitam yang muncul. Bahkan Morline tak bisa mengajukan protes atau reset ulang untuk memperbaiki bug itu.

Sekarang, Morline ingin mencoba membuka sistem lagi. Mungkin saja sistemnya sudah bisa diakses.

Mulai ulang...

Alis Morline bertaut membaca dua kata itu di layar hitam. Apakah sistemnya mengalami bug atau sesuatu seperti malware?

Loading...

Tulisan itu di sertai dengan animasi titik-titik yang muncul satu persatu kemudian layar berganti, menampilkan menu utama.

Morline langsung menekan menu cek poin, karena sejak beberapa hari yang lalu sebenarnya dia berencana untuk membeli bibit dari sistem, sayangnya sistem tak bisa dibuka dan justru mengalami bug parah.

"Dimana semua poinku!?" Morline hampir saja menjerit di tengah malam melihat jumlah poin hanya empat angka nol tanpa angka lainnya. "Aku ingat aku memiliki 100 poin, hilang kemana?"

Suara magnetis terdengar di kepalanya. (Terjadi bug dan terdeteksi Malware di sistem, untuk mencegah malware itu semakin menyusup ke dalam sistem, sistem melakukan riset otomatis. Itulah mengapa semua poin anda menghilang, akan tetapi ketentuan sistem, bahwa misi yang sudah dijalankan tidak dapat lagi di ulangi jadi anda tidak perlu memulai ulang misi.)

"Aku tidak peduli dengan misinya, aku hanya peduli pada poinku. Aku ingin semua dataku kembali, lakukan restore!"

(Anda tak bisa melakukan restore karena tidak memiliki data cadangan di sistem manapun)

Morline meremas kepalanya hingga rambutnya berantakan, dia menatap empat angka nol di layar dengan merana.

Semua poinku hilang dan aku tak bisa melakukan apapun selain merelakannya?

Bagaimanapun Morline tak bisa menerimanya, dia memaksa sistem untuk mengembalikan semua poinnya yang hilang, akan tetapi sistem tidak bisa melakukan itu karena sebagai besar data menghilang terkecuali data misi, karena data itu bersifat tetap sejak pengguna menjalankan misinya.

Morline menghembuskan nafas panjang, merasa percuma dia marah-marah pada sistem jika poinnya tak bisa kembali.

Misi Harian: Buat Karel tertawa 3 kali.

Batas waktu: 24 jam.

Konsekuensi kegagalan: Pengurangan vitalitas 15%.

Reward: 100 poin.

-12 jam, bonus : 100 poin.

Morline hampir tertawa gila saat mendengar sistem menyebutkan tentang misi baru itu. Sistem gila ini seolah sengaja mengerjainya, pertama; dia tak mengizinkan Morline membuka sistem. Kedua; dia sengaja menghilangkan poinnya dan ketiga; sistem ini sengaja memberinya misi saat dia sedang berduka kehilangan poin!

Benar-benar seperti budak korporat! Morline merasa memiliki sistem seolah di perbudak olehnya.

Namun meski dia mengeluh dan mengajukan protes, memaksa sistem ini. Tak ada yang berubah, terkecuali Morline menyadari bahwa dia hanya membuang tenaganya.

Morline menatap nama Karel di layar, dulu layar masih menampilkan nama Karel sebagai karakter tanpa nama dan setelah dirinya memberi nama Karel, sistem justru mampu memproses data saat tidak bisa di akses sebelumnya?

Itu berarti sistem masih bejalan saat dirinya tidak bisa mengakses sistem?

"Kenapa kau bisa menerima data nama Karel saat kau mati sebelumnya?"

(Saya tidak bisa menerima data saat proses reset, tapi saya menerima data saat ini. Karena jumlah data yang besar, mungkin saya akan mengalami bug lagi)

Morline meringis saat mendengar kata bug, dia takut jika sistem ini memulai ulang dan semua poinnya kembali hilang.

"Ya sudahlah, misi di mulai kapan?"

(Besok dalam kurun waktu 24 jam)

Morline mengangguk dua kali lalu menutup sistem. Dia kembali ke dipan tempat Karel sedang tertidur. Bocah itu tidur terlentang dengan kedua tangan di atas kepala, tampak nyenyak dan pulas.

Dengan hati-hati Morline naik ke dipan, tidur di samping bocah itu lagi. Saat berbaring, Karel bergerak dalam tidurnya, tangannya meraih pinggang Morline kemudian menetap di sana. Morline ragu untuk mengangkat tangan kecil itu dari pinggangnya, takut Karel terbangun jadi dia hanya membiarkannya di sana kemudian melanjutkan tidur.

Suara kokok ayam milik tetangga saling bersautan dengan suara burung yang terbang di langit rendah.

Awan-awan putih yang berkumpul berbentuk acak melayang pelan di udara, sinar mentari cerah lolos dari celah-celah awan. Sinarnya meluncur turun membentuk pilar-pilar miring yang indah. Menyorot langsung ke rumah hunian Morline, menjadikan rumah itu tampak hangat dan lebih terang.

Pintu terbuka, seorang gadis gemuk dengan wajah segar tersenyum menyambut pagi. Tubuhnya meregang ke kanan dan ke kiri untuk melenturkan otot-otot yang kaku. Nina menyusul kemudian bocah kecil itu.

Mereka siap pergi ke ladang pagi ini.

"Di mana Tande dan Gengi?" Morline bertanya saat menyadari mereka belum muncul.

"Sayapun tak tahu lady."

Berjalan ke arah hunian kedua pria itu, Morline mengetuk pintunya. "Apa kalian ada di dalam?"

Kemudian Tande keluar, lengkap dengan pakaiannya. "Saya di sini."

"Di mana Gengi?"

"Tuan Gengi memiliki urusan, jadi dia pergi tadi malam."

Menyadari bahwa Gengi pergi untuk sesuatu yang belum dia ketahui, Morline tak mau repot bertanya. Pria itu tak meminta izin padanya, itu berarti dia tak boleh mengetahuinya.

Morline mengajak Tande pergi bersama, di perjalanan mereka. Eddy dengan langkah tertatih menghampiri. Di tangan kiri pria itu ada bungkusan besar yang terbuat dari serat tumbuhan, Morline jelas penasaran apa yang pria itu bawa.

"Apa yang kau bawa?"

"Ah, ini kue yang aku beli dari kota. Semalam aku dan tetua dari sana. Kau mau?" Eddy membuka bungkusan di tangannya, dia mengambil kue dengan bentuk bunga berwarna merah muda, menyerahkannya pada Morline. "Ini, kalian juga bisa ambil."

Morline mengambil kue di tangan Eddy, kue itu tampak cantik dan harum. Dia mengigit, rasanya  manis dan sangat lembut. Morline suka tekstur dan harum kue bunga itu.

"Silahkan, ini untuk kalian." Eddy membagikannya untuk yang lain, bahkan Tande juga mendapatkan kuenya.

"Ini enak." Kata Nina, Tande setuju dengan anggukan kepala, mulutnya mengunyah satu kue.

Morline mengambil kue untuk Karel kemudian memberikannya pada bocah itu. Dia melirik Eddy lagi, lalu menatap bungkusan kue di tangan pria itu. Sebenarnya ingin memakan kue bunga itu lagi, tapi tak enak hati karena yang lain mendapatkan satu bagian jadi Morline hanya bisa menahan diri.

"Ayo pergi, kita mau ke ladang."

Eddy mengangguk. Kedua kakinya melangkah dengan tertatih di samping Morline, matanya melirik ke arah gadis itu lalu tersenyum samar. Setiap gerakan dan setiap lirikan mata Morline bisa Eddy tangkap dengan jelas, dia tahu bahwa gadis ini masih menginginkan kuenya. Namun meski dia masih memiliki kue di tasnya, Eddy tak berniat menyerahkan kue-kue itu pada Morline karena kue yang diberikannya pada Morline berbeda dengan kue yang dirinya berikan pada orang lain.

Kue itu spesial untuk Morline, hanya untuk gadis itu.

"Karel enak tidak kuenya?"

Bocah itu mengangguk, "Hem."

Bibir Morline tersenyum yang tidak sampai mata, anak ini masih selektif. Dia hanya bicara pada waktu-waktu tertentu saja ternyata.

Di ladang, Tande dan Eddy mengaduk kompos. Setelah itu, mereka berdiskusi mengenai warga yang tidak mau membuat sumur.

Eddy berkata, "mereka merasa kegiatan itu percuma, karena yakin tak akan mendapatkan air."

Morline sebenarnya memahami keputusasaan warga, mereka sudah lama mengalami kekeringan dan kesulitan. Membuat sumur untuk mencari air bagi mereka sesuatu yang tidak mungkin. Namun bagaimanapun, di Targus memiliki sungai, meski mengering karena kemarau berkepanjangan, tapi di dalam tanah pasti masih menyimpan air. Apalagi jika mereka menggali sumur di dekat sumber air, kemungkinannya besar bisa menemukan air.

Namun masalahnya di sini adalah, warga sekitar tak percaya bahwa mereka bisa menemukan air. Mereka cenderung putus asa.

"Mungkin kita ganti strategi saja, jangan buat warga mempercayai kita tapi buat mereka memiliki harapan. Dengan adanya harapan, mereka pasti memiliki keinginan." Kata Morline.

"Tapi bagaimana?" Tande bertanya.

Morline terdiam, dia juga belum mengetahui bagaimana membuat warga memiliki harapan. "Benar juga, bagaimana? Kita tak mungkin memberikan mereka janji-janji manis kan?"

Eddy terkekeh, "jangan lakukan itu jika tak yakin. Menjanjikan sesuatu yang belum pasti itu salah."

Morline menatap Eddy, "lalu bagaimana?"

"Kau bilang mereka harus punya harapan kan? Warga di sini sebenarnya juga punya harapan, harapan pada kerajaan, tapi sekian lama menunggu justru mereka tak datang membantu. Harapan mereka sedikit-demi sedikit terkikis. Jadi mungkin sulit bagi kita untuk menumbuhkan harapan mereka."

Morline menunduk, memainkan rumput kering di kedua tangannya. Merasa beban kasat mata menumpuk di pundaknya.

Dalam diamnya, Morline merenung.

Eddy bilang, mereka punya harapan pada kerajaan tapi sekarang mereka tak memilikinya lagi, jika aku mengungkapkan identitasku sebenarnya apa mereka akan berubah pikiran?

Tidak! Itu terlalu berbahaya, di Targus ada mantan pemberontak. Aku tidak bisa begitu saja mengungkapkan identitasku sebenarnya.

Apa aku harus minta bantuan Cedric? Mungkin itu satu-satunya pilihan.

"Morline." Panggil Eddy.

"Ah ya! Kenapa?"

"Kau melamun, memikirkan apa?"

"Tidak, hanya saja apa yang kita lakukan hari ini ya. Di ladang sudah tak ada kegiatan apapun. Bagaimana kalau kita bermain?"

Eddy mengangkat satu alisnya. "Bermain?"

Morline tersenyum, senyum yang memiliki makna tersirat. Mata hijaunya melirik Karel kemudian berdiri.

"Permainan apa yang cocok untuk dimainkan pagi ini?"

"Mungkin lempar bola, atau kejar-kejaran, bisa juga lompat satu kaki? Memangnya kau yakin ingin bermain?"

"Yap!"

Nina dan Tande saling menatap, keduanya merasa bahwa ratu muda ini semakin hari semakin aneh. Bermain? Mereka sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi. Kenapa bermain?

"Karel kau juga ikut ya."

Karel hanya menjawab dengan gerakan kepala seperti biasa.

Eddy merekomendasikan permainan yang sering di mainkan anak-anak di desa ini. Salah satunya adalah Curi balik, permainan kejar-kejaran, tapi mereka hanya boleh bermain di batas yang sudah di tentukan.

Tande membuat garis persegi panjang, memiliki lebar lima meter dan panjang 15 meter. Jika pemain keluar dari garis maka diskualifikasi, tidak bisa ikut bermain lagi.

Mereka hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi pencuri, dan sayangnya Morline yang harus menjadi pencuri.

"Boleh ulang tidak? Aku tak ingin jadi pencuri." Kata Morline menatap Tande, Eddy tidak bisa ikut bermain karena kondisi fisiknya. Dia hanya menonton mereka.

"Baik." Kata Tande. Dia tahu bahwa ratu muda ini tak ingin menjadi pencuri maka dia harus mengorbankan diri, toh hanya mengejar para pemain yang ikut.

Akhirnya Tande yang menjadi pencuri. Morline dan Nina berpencar, Karel yang tak tahu apapun kebingungan harus pergi ke mana.

"Sini, jangan sampai kau tertangkap Tande. Ingat cerita semalam yang aku ceritakan, anggap dia monster dan kau jangan sampai tertangkap ya!" Kata Morline setengah berteriak.

Karel membayangkan cerita Morline semalam, lalu menatap Tande. Wajah pria itu tiba-tiba berubah menjadi naga jelek yang ada di mimpinya semalam. Dia lari ke arah Morline, Tande mengejar membuat Karel panik dan semakin kencang berlari.

Morline hanya tersenyum, melihat wajah ketakutan Karel. Meski dia tak yakin Karel bisa tertawa dengan bermain seperti ini, tapi melihat Karel bisa berekspresi seperti itu Morline turut senang.

"Ayo Karel lari! Lari Karel!" Teriak Morline.

Tande mengejar, Karel yang berlari ke arah Morline. Morline menangkap tubuh Karel, mengangkatnya sedikit dan berlari menghindari Tande yang mendekati mereka.

Tande tahu bahwa gadis gemuk itu seorang ratu dan merupakan orang yang memiliki kekuasaan, Tande segan. Meski langkah dan lari Morline dapat dia kejar, tapi Tande tak langsung menangkapnya. Melainkan memilih mengejar Nina yang berdiri anteng di sudut garis. Melihat Tande mendekat, Nina berlari dan berteriak kencang!

"Ahahaha, lari Nina!" Morline justru tertawa melihat Nina berteriak ketakutan. Melihat wajahnya yang seperti di kejar monster, Morline tak bisa menahan diri untuk menertawakan.

Tawa Morline mereda, lalu menunduk menatap Karel kemudian berjongkok di hadapannya di tengah-tengah Nina yang sedang di kejar Tande. "Apa kau takut? Kalau kau takut tidak perlu ikut juga tidak apa-apa." Tanya Morline dengan lembut.

Karel menatap mata hijau Morline yang seperti batu zambrud terkena cahaya. "Tidak takut."

"Benar tidak takut?" Morline bertanya untuk memastikan, karena dia mengingat bahwa Karel memiliki ketakutan tertangkap oleh tuannya ketika bocah ini masih menjadi budak.

Karel menggeleng, "apa kau akan terus main?" Karel bertanya dengan suara kecil. Teriakan Nina terdengar di sela-sela pembicaraan mereka.

"Ya, aku akan terus main sampai pencuri itu menyerah! Kita juga bisa memenangkan permainan ini!" Morline menunjuk Tande yang masih mengejar Nina, kata-katanya penuh tekad dan ambisi untuk bisa mengalahkan Tande yang di bayangan Karel manusia berkepala naga jelek.

Eddy mendengarkan percakapan mereka, tatapan mata gelapnya terpaku pada sosok gemuk yang berjongkok di depan anak kecil itu.

Bibirnya yang tipis melentur membentuk senyuman. Dia benar-benar luar biasa. Batinnya.

"Ayo curi kembali barang yang pencuri itu ambil." Morline memberanikan diri mendekat, berlari dengan tubuh gemuknya. Karel mengikuti. Mereka mendekat ke belakang Tande yang sedang menghadang Nina. "Ayo ambil kainnya." Kata Morline pada Karel.

Dia menunjuk kain yang sengaja di gantungkan di pinggang Tande---bagian dari permainannya.

"Ayo ambil." Bisik Morline agar Karel mengambil kain itu, sengaja mendorong bocah itu untuk menjadi berani.

Karel menatap Morline dengan ragu, rasa takut menyergap dadanya. Dia takut ketika, dirinya meraih kain itu, Tande akan berbalik dan menangkapnya. Karel masih diam di tempatnya, tidak bisa kabur karena Morline menyuruhnya untuk mengambil kain di pinggang Tande.

Tande sebenarnya tahu bahwa bocah itu ada di belakangnya, akan tetapi saat dia hendak berbalik Morline memberi isyarat mata, melotot padanya lalu menggeleng.

"Ayo Karel jadilah berani, ambil kainnya." Bisik Morline berusaha mendorong keberanian Karel. "Pencuri itu telah mencuri barang kita, kita mempunyai hak untuk mengambilnya lagi. Ayo, ambil dan kita akan menang."

Dengan gerakan takut-takut, Karel mengulurkan tangannya, pelan mendekati kain yang berada di pinggang Tande. Lalu menyabet cepat hingga suara sreeet! Terdengar.

Karel berlari sekencang takut Tande akan menangkapnya, tanpa menatap kebelakang dia terus berlari dan berlari hingga menjauh dari garis. Saat teriakan Morline terdengar, barulah Karel berhenti dan berbalik. Dia terkejut saat menyadari bahwa dia telah berlari cukup jauh dari lapangan.

Semua orang menatapnya dengan mata tidak berkedip, lalu dia menatap Morline, melihat apakah gadis itu menganggapnya aneh atau tidak. Namun justru Morline bertepuk tangan dengan senyum di bibirnya.

Prok! Prok! Prok!

"Karel hebat! Bisa mendapatkannya lagi! Hebat!" Seru Morline sambil berjalan menghampiri. Dia berlutut, menyetarakan tinggi mereka lalu mengelus kepalanya. "Nah, begitu. Jadilah berani untuk jadi pemenang. Kau hebat, aku bangga padamu. Terimakasih sudah jadi berani ya."

Senyum Karel mengembang, lebar dan cerah. Morline tertegun karena baru pertama kali melihat bocah itu tersenyum bahkan selebar ini. Mata Morline menyipit, membentuk lengkungan sabit, salah satu pipi tembamnya cekung karena senyuman itu.

Karel mendekat, tiba-tiba memeluknya erat. Kain di tangannya terlepas begitu saja ke tanah lalu terhempas angin. Morline membalas pelukannya. "Kau anak yang baik, Karel. Tumbuhlah jadi pria yang tangguh di masa depan, ya." Bisik Morline.

...

Gengi menatap Bou yang baru saja keluar dari rumah seorang dokter, salah satu tangannya terbungkus kain kasa tebal.

Gengi mengikuti kemana pria itu yang ternyata masuk ke sebuah bar. Gengi segera mengubah penampilannya agar tak mencolok lalu masuk ke sana, dia melihat pria tinggi besar itu duduk di salah satu meja bersama dua orang lainnya.

Penampilan dua orang itu terlihat seperti cendekiawan dengan penampilan rapih dan tertutup. Di balik penutup kepalanya, alis Gengi mengernyit. Dia memasang pendengarannya baik-baik.

"Siapa yang membunuhnya Brox?"

"Akupun tak tahu, orang itu memakai penutup wajah dan hanya matanya saja yang terlihat, memiliki warna mata gelap dengan tatapan tajam."

"Ini aneh, siapa dia sebenarnya? Apa ini dari kelompok sosialis?"

"Tidak mungkin, para sosialis tidak akan bertindak seperti itu. Lagi pula untuk apa kelompok itu membunuh Brox?"

"Karena radikal?"

"Tsk, bukan itu maksudku. Brox adalah penghalang bagi sosialis, bagaimana kedua kubu memiliki tujuan yang sama yaitu mengubah sistem Hesperias! Tapi sosialis mungkin menganggap Brox sebagai penghalang terbesar mereka."

"Bisa jadi."

"Tapi menurut rekanku, orang itu ada disekitar kita karena dia menyuruhku untuk tidak mengusir para pelajar dari desa. Itu aneh kan? Dari mana dia tahu bahwa aku mengusir para pelajar itu? Apa alasannya?"

Kedua orang itu tampak merenung. "Benar juga katamu. Apa kau sudah menyelidiki para pelajar itu? Barang kali ada kaitannya?"

Bou menggeleng, "belum. Tapi aku menyakini mereka sama seperti Eddy. Dia juga pelajar sebelumnya, hanya saja memilih menetap di desa. Jadi mungkin mereka tak beda jauh dengan Eddy."

"Lebih baik kau selidiki mereka saja."

"Tapi pria misterius itu mengancamku untuk tidak menyentuh mereka. Aku heran apa kaitannya dengan mereka?"

"Benar-benar sulit di tebak. Pria misterius itu seakan tak mau para pelajar di desamu pergi. Mungkin dia salah satu dari mereka atau mungkin orang yang melindungi mereka."

Gengi yang mendengarkan percakapan mereka dengan baik. Dia membatin; melindungi kami? Siapa orang itu?

Setelah percakapan itu, obrolan mereka sudah tak menarik lagi bagi Gengi. Dia beranjak pergi dari sana dan segera kembali ke desa.

1
Uthie
Wahhh... ternyata Edy baik juga 😍👍👍
Uthie
Selalu setiap menanti kelanjutannya kembali 👍👍👍👍😍
Uthie
ditunggu Lagii 👍👍👍
kiu kiu
lanjut thor..jgn terlalu lama updatenya...
kiu kiu
kpn upnya thor
Tanya Balik
guys aku nulis tiap bab-nya minimal 2000 kata, banyak lho itu. Jadi maklum aja ya lama up-nya. 🙏🙏😄
kiu kiu
morline sangat baik terhadap karel.suatu saat karel akan tumbuh besar dan akan menjadi pelindung utk morlin...cerita ini mengisahkan kasih sayang ibu dan anak.tp berbeda dg apa yg di alami morline.yg sudah menganggapnya keluarga.
Uthie
lagiiii 🤩🔥🔥
kiu kiu
jgn terlalu lama updatenya thor...ak penasaran dg gadis gemuk ini.apa yg akan dia lakukan di daerah targus itu. apa lagi eddy selalu mengawasi.
Uthie
Ditunggu lagiiii 🔥🔥🔥
Uthie
Lanjutttt lagiii...
setia menunggu up berikut nya 😁👍
kiu kiu
lanjut thor...updatenya jgn jarang jarang.
Uthie
Di tunggu lagiii aksi nyata dari Ratu Morline 😍👍

lanjuuttttt lagiiii 💪💞
kiu kiu
masih update nggk thor...
Tanya Balik: masih, tapi up-nya memang jarang2 di tunggu aja ya😄🙏
total 1 replies
Uthie
Wahhhh.... lagi seru-serunya baca soal Morline... malah udahan aja 🤩🤩

Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
Uthie
Morline ratu yg baik 👍👍😇
Uthie
Sukkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍
Uthie
Sukkkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍👍
lanjut lagiiii 👍👍👍😍
Uthie
Wahhh... ada yg kesengsem sama Morline 😂👍
Uthie
seruuu 👍😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!