Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎
Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.
Dulu dipuji, kini dihina.
Dulu didekati, kini dijauhi.
Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima Hari Terakhir
Fajar hari pertama dari lima hari terakhir pertarungan menyingsing dengan warna merah tua di atas Laut Selatan.
Langit yang biasanya memudar dari hitam ke biru, lalu ke jingga sebelum menjadi putih terang, hari ini memilih jalur yang berbeda. Merah yang dalam dan kaya—seperti darah yang diencerkan oleh cahaya—mewarnai seluruh cakrawala timur dan memantulkan dirinya di permukaan laut yang tenang, hingga seluruh lautan di bawah Tebing Tujuh Roh terlihat seperti hamparan batu permata rubi yang tersebar tanpa tepi.
Xiao Ba masih berdiri di puncak tebing yang sama tempat ia duduk semalam.
Ia tidak tidur.
Bukan karena tidak membutuhkan istirahat, melainkan karena seluruh malam itu ia habiskan dalam keadaan yang berada di antara tidur dan terjaga—kondisi di mana tubuh beristirahat, namun kesadaran tetap aktif pada level yang lebih dalam dari kesadaran biasa.
Kondisi yang hanya bisa dicapai setelah alam kultivasi menembus batas yang cukup besar.
Malam itu adalah malam pertamanya sebagai seorang Prajurit Surgawi.
Dan pagi ini adalah pagi pertamanya dengan mata yang melihat dunia melalui cara yang sedikit berbeda dari kemarin.
Setiap helai angin yang berhembus melewatinya terasa membawa informasi yang lebih kaya dari sebelumnya. Aroma garam dari laut, kelembapan batu karang yang basah oleh embun, jejak sisa energi dari puluhan kultivator yang tersebar di kawasan bawah—semuanya terasa lebih jelas, lebih berlapis, lebih hidup.
Indra seorang Prajurit Surgawi memang berbeda dari indra seorang kultivator alam Pengumpulan Qi.
Namun yang paling ia rasakan bukanlah peningkatan indra spiritual atau sensitivitas terhadap energi di sekitarnya.
Yang paling ia rasakan adalah sesuatu yang jauh lebih tenang dari semua itu.
Sebuah kemantapan baru.
Seperti fondasi yang baru saja selesai dibangun dan kini sudah cukup kuat untuk menopang beban yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskannya perlahan.
Kemudian ia mulai menyusun rencana untuk lima hari terakhirnya di kawasan ini.
Prioritas pertama adalah menstabilkan alam barunya.
Menembus batas alam adalah satu hal.
Menstabilkannya adalah hal lain yang tidak kalah penting.
Alam kultivasi yang belum stabil ibarat rumah yang baru selesai dibangun namun semen dan pondasinya belum benar-benar mengering—terlihat kokoh dari luar, namun masih rentan di dalam.
Prioritas kedua adalah menyelesaikan pengumpulan Kristal Roh Laut.
Dari kalkulasinya, jumlah yang sudah ia kumpulkan telah jauh melampaui siapa pun di kawasan ini. Namun masih ada beberapa lokasi tersembunyi yang belum ia kunjungi karena sebelumnya tidak bisa dijangkau.
Dan sekarang, dengan kemampuan manifestasi Qi eksternal milik seorang Prajurit Surgawi, beberapa tempat yang dahulu mustahil baginya kini menjadi mudah.
Prioritas ketiga—dan ini yang paling tidak terduga dalam daftar itu—adalah menyelesaikan satu bintang di lautan kesadarannya yang sejak dua hari lalu berkilat dengan cara berbeda dari bintang-bintang lain.
Bintang yang belum pernah ia sentuh.
Yang terasa seperti sedang menunggu sesuatu.
Dan dari cara bintang itu berkilat sejak ia memasuki alam Prajurit Surgawi, seperti lampu yang baru saja tersambung ke sumber energinya dan mulai menyala penuh, Xiao Ba tahu bahwa saat yang tepat akhirnya telah tiba.
Ia turun dari puncak tebing dan mulai bergerak.
Hari itu ia habiskan dengan melakukan dua hal sekaligus.
Berlari melalui celah-celah tebing yang sudah ia hafal seperti telapak tangannya sendiri, sambil mempertahankan aliran Teknik Kultivasi Kaisar Langit pada intensitas rendah yang bertujuan untuk menstabilkan, bukan menerobos.
Seperti seseorang yang selesai berlari jauh lalu memilih berjalan perlahan agar tubuhnya menyesuaikan diri secara bertahap.
Di sela-sela pergerakannya, ia mengunjungi tiga lokasi Kristal Roh Laut yang sebelumnya tidak bisa ia capai.
Lokasi pertama adalah sebuah ceruk di sisi tebing yang menghadap langsung ke laut.
Tempat itu hanya bisa dicapai dengan melompat dari tonjolan batu di atasnya dan mendarat tepat di mulut ceruk—gerakan yang membutuhkan presisi luar biasa dan kontrol Qi di udara yang sebelumnya mustahil baginya.
Namun sekarang, dengan alam Prajurit Surgawi, gerakan itu terasa semudah berjalan biasa.
Lokasi kedua adalah celah sempit di bagian bawah Tebing Tiga yang terendam saat air laut pasang dan terbuka ketika surut.
Berbeda dari gua di balik air terjun, tempat ini tidak menyimpan energi luar biasa.
Namun kristal yang tumbuh di dindingnya jauh lebih besar dan padat dibanding apa pun yang pernah ia temukan sebelumnya.
Lokasi ketiga membuat langkahnya berhenti sejenak ketika indra spiritualnya mendeteksinya.
Di balik formasi batu karang yang mencuat dari dinding Tebing Lima seperti bahu seseorang yang sedang membungkuk, tersembunyi sebuah ruang kecil yang seluruh dindingnya dipenuhi Kristal Roh Laut.
Namun bukan itu yang membuatnya berhenti.
Di tengah ruang itu terdapat satu kristal yang ukurannya jauh berbeda dari semuanya.
Sebesar kepalan tangan orang dewasa.
Warnanya bukan biru kehijauan biasa, melainkan biru tua dengan inti putih bercahaya samar ketika terkena sinar matahari.
Xiao Ba berdiri diam di depan kristal itu selama beberapa saat.
Ini bukan sekadar Kristal Roh Laut biasa.
Ini adalah sesuatu yang jauh lebih langka.
Dari salah satu bintang di lautan kesadarannya, ia pernah membaca tentang benda seperti ini.
Inti Roh Samudra.
Kristal yang terbentuk selama ribuan tahun di titik tertentu kawasan pesisir yang memiliki konsentrasi energi tertinggi, tempat energi laut, batu karang, dan langit bertemu lalu berfusi selama waktu yang sangat lama.
Berbeda dari Kristal Roh Laut biasa yang digunakan sebagai mata uang atau bahan dasar pil dan senjata, Inti Roh Samudra dapat digunakan langsung oleh kultivator untuk mempercepat peningkatan alam kultivasi secara drastis.
Nilai satu Inti Roh Samudra bahkan melampaui seluruh Kristal Roh Laut yang telah ia kumpulkan selama sebulan terakhir.
Digabungkan.
Xiao Ba meraihnya dengan hati-hati.
Kristal itu terasa hangat di tangannya.
Namun bukan hangat seperti batu biasa.
Melainkan hangat seperti sesuatu yang hidup dan telah menunggu sangat lama untuk disentuh oleh tangan yang tepat.
Ia menyimpannya secara terpisah dari kristal-kristal biasa.
Sore hari kedua dari lima hari terakhir itu, ketika cahaya matahari mulai miring dan bayangan tebing memanjang ke arah timur, Xiao Ba duduk di dalam ceruk kecil di sisi Tebing Empat dan membuka lautan kesadarannya.
Ia menemukan bintang yang telah dua hari berkilat berbeda itu dengan cepat.
Bintang yang terasa seperti sedang menunggu.
Ia memusatkan kekuatan jiwanya ke arah bintang itu dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.
Bukan menarik bintang itu mendekatinya.
Melainkan membiarkan dirinya yang bergerak mendekati bintang itu.
Seperti seorang tamu yang mendatangi tuan rumah, bukan sebaliknya.
Dan bintang itu menyambutnya.
Informasi yang mengalir masuk kali ini berbeda dari sebelumnya.
Bukan teknik.
Bukan pengetahuan yang bisa langsung dipahami dan dipraktikkan.
Melainkan sesuatu yang terasa seperti percakapan.
Sebuah ingatan yang disimpan bukan sebagai data, tetapi sebagai pengalaman.
Sesuatu yang hanya bisa dipahami sepenuhnya oleh seseorang yang telah mencapai tingkat tertentu.
Tingkat yang baru ia capai semalam.
Ingatan itu mulai terbuka.
Xiao Ba melihat sang Kaisar Langit bukan seperti dalam ingatan sebelumnya—bukan saat duduk di singgasana, dan bukan pula ketika melarikan diri sambil menggendong seorang anak perempuan kecil.
Melainkan saat ia masih muda.
Jauh lebih muda.
Seorang pemuda yang usianya tidak berbeda jauh dari Xiao Ba sekarang, berdiri di suatu tempat yang tidak bisa dikenali, menatap cakrawala dengan ekspresi yang terasa sangat familiar.
Tekad yang tenang.
Bukan tekad membara yang membutuhkan pengakuan dunia.
Melainkan tekad yang telah berakar begitu dalam hingga tidak lagi membutuhkan kata-kata untuk membuktikan keberadaannya.
Pemuda dalam ingatan itu berdiri sendirian.
Tidak ada siapa pun di sekitarnya.
Dunia di dalam ingatan itu terasa seperti berada di titik awal dari sesuatu yang sangat panjang, sebelum semua kejayaan, pengkhianatan, dan tragedi yang kemudian menjadi bagian dari kisah hidup sang Kaisar Langit.
Hanya seorang pemuda yang berdiri sendiri dan menatap ke depan.
Dan dari dalam ingatan itu, meskipun tidak ada satu kata pun yang diucapkan, Xiao Ba bisa merasakan sesuatu yang melampaui bahasa.
Sebuah pesan tanpa suara.
Bahwa jalan yang sedang ia tempuh sekarang adalah jalan yang sama yang pernah ditempuh sang Kaisar Langit di awal hidupnya.
Bahwa kesepian yang ia rasakan ketika melangkah melampaui pemahaman orang-orang di sekitarnya adalah bagian dari jalan itu, bukan penghalang bagi jalan itu.
Bahwa bintang-bintang di lautan kesadarannya bukan sekadar kumpulan teknik dan pengetahuan.
Melainkan warisan dari seseorang yang pernah berjalan di jalan yang sama dan ingin memastikan penerus berikutnya tidak perlu memulai semuanya dari nol.
Ingatan itu perlahan menghilang.
Xiao Ba duduk diam di dalam ceruk itu selama beberapa waktu, membiarkan semua yang baru saja ia terima meresap ke dalam dirinya.
Lalu perlahan, satu demi satu, pertanyaan yang sebelumnya terasa seperti teka-teki tanpa jawaban mulai menemukan tempatnya.
Mengapa Akar Spiritual Kaisar—sesuatu yang melampaui seluruh pemahaman dunia bawah—bisa muncul dalam tubuh seorang anak dari keluarga kecil di kota terpencil.
Mengapa manik peninggalan ibunya menyimpan warisan yang bahkan melampaui pemahaman siapa pun di Benua Yancun.
Mengapa ia bisa berdiri tanpa bergerak di bawah tekanan aura Prajurit Surgawi Tingkat 9 saat dirinya masih berada di alam Pengumpulan Qi.
Semua itu bukan kebetulan.
Semua itu adalah bagian dari sebuah rencana yang telah dimulai ribuan tahun sebelum ia lahir.
Xiao Ba menutup matanya sejenak.
Di luar ceruk, suara ombak terdengar berirama seperti biasa. Angin laut membawa aroma garam yang sudah menjadi bagian dari napasnya selama sebulan terakhir.
“Aku mengerti...” gumamnya pelan.
Bukan kepada siapa pun di sekitarnya.
Namun terasa seperti ditujukan kepada seseorang yang sangat jauh.
Ia membuka matanya kembali.
Lima hari.
Empat hari tersisa setelah hari ini.
Di berbagai kawasan lain dalam Tebing Tujuh Roh, pertarungan antarjunior keluarga mulai semakin intens seiring mendekatnya akhir kompetisi. Suara bentrokan yang sebelumnya hanya sesekali terdengar kini semakin sering dan semakin keras.
Semua orang mulai menggunakan seluruh kemampuan mereka karena semua orang tahu bahwa waktu hampir habis.
Namun bagi Xiao Ba, empat hari terakhir ini bukan lagi tentang bersaing dengan siapa pun.
Jumlah kristal yang ia miliki sudah jauh melampaui semua peserta lain.
Alam kultivasinya telah melampaui siapa pun di dalam kawasan ini.
Dan teknik tingkat langit yang mulai ia kuasai cukup untuk menghadapi ancaman yang jauh lebih besar dibanding apa pun yang ada di Tebing Tujuh Roh.
Empat hari terakhir ini hanya tentang satu hal.
Mempersiapkan diri untuk apa yang menunggunya di luar.
Dan dari informasi yang ia dapatkan dari bintang yang baru saja terbuka, ditambah semua fragmen informasi yang ia kumpulkan selama sebulan terakhir, Xiao Ba tahu bahwa apa yang menunggunya di luar bukan sekadar upacara kemenangan.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak.
Dan empat hari adalah waktu yang cukup untuk memastikan dirinya siap ketika saat itu akhirnya tiba.
Di puncak Tebing Tujuh yang kini mulai diselimuti cahaya sore keemasan, angin laut terus berhembus membawa bisikan dari Laut Selatan, bisikan yang tidak pernah berhenti berbicara kepada mereka yang cukup diam untuk mendengarkannya.
lanjut teruss
pertahankan👌