Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
POV: Leon
Saat pintu kamar itu di buka, aku melihatnya dengan degup jantung yang tidak beraturan. Aku meliriknya dari ujung kaki hingga kepalanya. Perempuan ini, kenapa selalu terlihat cantik di setiap waktu?
Dan senyuman itu, senyuman yang selalu berhasil membuatku merasa senang, senyuman yang selalu ditunjukkan setiap melihatku, membuatku merasa menjadi istimewa.
"Ayo masuk," ucapnya sambil meraih tanganku menuntun masuk ke kamarnya.
"Dev?"
"Dia masih di kantor, akan pulang malam," jawabnya dengan cepat.
Kami duduk di karpet bulu berwarna soft pink. Beberapa saat kami hanya saling memandang, tidak ada suara, hanya angin sejuk yang masuk lewat jendela.
"Bagaimana rasanya menjadi seorang istri?" tanyaku memecah keheningan.
Bukannya menjawab, dia malah memasang wajah cemberut. "Menjadi istri dari Tuan Devandra Han, itu..."
Dia berpikir sejenak, lalu tiba-tiba mengerjap kaget. "Kalau begitu, aku menjadi nyonya Han, dong." Kemudian tertawa cekikikan.
Tingkah itu, masih saja konyol.
"Tapi tetap saja," nadanya berubah rendah. "Aku tidak merasa sebahagia dan seberuntung itu."
"Kenapa?"
Dia merebahkan tubuhnya di karpet, "aku selalu merasa tidak pantas."
Aku ikut merebahkan tubuhku di sampingnya, satu tangan menahan kepalaku.
"Tapi mungkin, aku terlihat pantas jika bersamamu," katanya tiba-tiba.
Deg. Jantungku ingin melompat.
"Kalau begitu, denganku saja." Aku menggodanya.
"Caranya?"
Aku berpikir sejenak, bola mataku menatap langit-langit kamar. Kemudian kembali padanya, dia masih menunggu jawabanku, wajahnya terlihat begitu polos. Tanganku terangkat menyentuh helai rambut di pipinya.
Sebenarnya aku ragu. Tapi aku terlalu merindukannya untuk menjaga jarak lebih lama. Bibir pink itu terlihat begitu dekat, seolah diam-diam memintaku untuk mendekat. Aku mencondongkan wajah perlahan hingga napas kami saling bersentuhan. Aroma susu coklat yang samar dari napasnya membuat jantungku kembali berdegup tidak tenang.
Dia tidak mundur, matanya terus menatap mataku dengan lekat. Aku akhirnya mengecup bibir itu dengan lembut dan manis.
Nara terlihat menikmatinya. Aku menempelkan dahiku pada dahinya sambil menghembuskan napas pelan, berusaha menahan perasaan yang perlahan semakin sulit dikendalikan.
Ah sial. Ini istri orang, istri sahabatku sendiri.
Sadar, Leon.
Aku langsung menghentikan semuanya saat bayangan Devandra tiba-tiba muncul di kepalaku. Rasa bersalah itu datang terlalu cepat hingga membuat dadaku mendadak sesak.
Nara terlihat masih berusaha mengatur napasnya. Bibirnya tampak sedikit basah akibat kecupan kami barusan. Tanpa sadar aku mengusap sudut bibirnya perlahan dengan ibu jariku. Tatapan kami sempat bertemu beberapa detik sebelum aku buru-buru menjauhkan diri, mencoba kembali mengendalikan pikiranku yang mulai kacau.
"Maaf, tidak seharusnya aku melakukan ini," ucapku.
Dia hanya diam tidak menatapku.
"Nara,"
Dia menoleh.
"Apa kamu mencintai Devandra?"
"Entahlah."
Jawabannya ambigu, kenapa dia tidak tahu tentang perasaannya sendiri? Itu membuatku tidak bisa mengambil keputusan.
"Nara, itu bukan jawaban. Kalau kamu tidak mencintainya lalu kenapa tidak meninggalkannya?"
"Aku takut, dia menyakiti dirinya sendiri, karenaku."
"Jadi kamu bertahan hanya karena, terpaksa?"
"Aku pernah mencintainya, mengaguminya dan menginginkannya."
Dadaku terasa nyeri seperti sedang dijatuhkan dari atas gedung.
"Makanya aku masih tidak tahu dengan perasaanku sendiri, untuk saat ini." Lanjutnya.
Aku benci pengakuan itu, mungkin Nara masih sedikit menyimpan rasa pada Dev, tapi kali ini aku tidak ingin mengalah seperti waktu itu. Jika aku melihat perempuan yang teramat aku cinta, terluka karena pemiliknya. Aku tidak segan-segan untuk mengambilnya kembali.
Devandra, kali ini aku tidak ingin mengalah darimu.
"Aku mau ganti baju." Nara bangkit dari tidurnya lalu berjalan menuju lemari pakaian di sudut kamar. Ia membukanya pelan, jemarinya sibuk memilih pakaian yang ingin dikenakan. Setelah menemukan pilihannya, perempuan itu langsung masuk ke kamar mandi yang berada di samping kamar.
Beberapa menit kemudian ia keluar dengan penampilan yang berbeda. Rambut panjangnya digelung dengan jepit berbentuk bunga, ia memakai dress maroon yang membentuk lekuk tubuhnya, walaupun ia mengenakan pakaian, namun lekuk itu masih bisa terlihat dengan jelas dan menonjol.
Dress itu sedikit memperlihatkan belahan dadanya yang terlihat sesak. Mataku merayap ke bagian bawah, melihat gundukan lemak yang menonjol dari belakang tubuhnya.
Tiba-tiba aku merasa suasana kamar menjadi sedikit lebih panas. Atau mungkin Nara memang sumber panasnya.
Belum sempat pikiranku tenang, perempuan itu tiba-tiba membungkuk di depan ranjang. Tubuhnya sedikit menungging saat ia sibuk mencari sesuatu di bawah kolong kasur. Cahaya senter kecil menyapu bagian bawah ranjang yang gelap.
Sementara aku di belakangnya hanya bisa memejamkan mata sebentar sambil mengusap wajah kasar. Sial, kadang Nara benar-benar tidak sadar seberapa berbahayanya dia bagi kewarasanku sendiri.
“Kamu cari apa?” tanyaku.
“Jepit rambut. Kemarin jatuh, kayaknya masuk ke bawah.”
Nara masih sibuk menyorotkan senter kecil ke kolong ranjang sambil meraba-raba lantai di bawah sana. Dan sialnya, pemandangan itu justru membuatku semakin gelisah. Posisi itu terlalu berbahaya untuk seseorang yang hanya sedang mencari jepit rambut. Aku berusaha mengalihkan pandangan beberapa kali, tapi tetap saja mataku kembali jatuh padanya.
“Kenapa semua jepitku hilang satu-satu sih...” gerutunya kesal.
Beberapa detik kemudian ia menoleh ke arahku, menangkap tatapanku yang sejak tadi diam-diam memperhatikannya.
“Kenapa diam?” tanyanya curiga.
Aku langsung tersadar dari lamunan kacau di kepalaku sendiri.
“Nggak... nggak apa-apa,” jawabku cepat sambil berdeham pelan dan buru-buru mengalihkan pandangan.
Aku segera tersadar dari imajinasi liarku.
“Makan siang, yuk,” ajaknya pelan.
Nara beranjak menuju pintu. Namun sebelum tangannya sempat memutar gagang, aku lebih dulu menahannya. Gerakannya langsung terhenti. Ia menoleh sedikit ke arahku.
“Kenapa?” tanyanya bingung.
Aku tidak langsung menjawab. Tanganku perlahan melingkar di pinggangnya dari belakang, menarik tubuh itu mendekat hingga punggungnya menempel di dadaku. Aku memejamkan mata sesaat, menghirup samar aroma tubuhnya yang selalu berhasil membuat pikiranku kacau.
“Leon...” panggilnya lirih.
“Aku masih cinta sama kamu, Nara.”
Seketika suasana menjadi sunyi. Tidak ada jawaban, aku memutar tubuhnya perlahan hingga kini ia menghadap tepat ke arahku. Tatapan matanya terlihat goyah.
“Aku cuma pengen dengar sekali aja... kalau kamu juga cinta sama aku.”
Namun Nara tetap tidak menjawab, ia malah memelukku erat. Lagi-lagi seperti itu. Selalu menghindari jawaban yang paling ingin kudengar.
“Kita nggak boleh lama-lama di sini, nanti ada setan," bisiknya pelan sambil masih memelukku.
Aku terkekeh kecil mendengar alasannya yang terdengar asal, tapi justru terasa seperti cara Nara menyelamatkan kami dari situasi yang semakin berbahaya.
Beberapa detik kemudian ia melepaskan pelukannya, buru-buru membuka pintu lalu pergi keluar tanpa berani menoleh lagi. Sementara aku hanya bisa berdiri diam di tempat, menghembuskan napas panjang sambil mencoba menenangkan perasaan yang sejak tadi semakin sulit kukendalikan.
Kami menghabiskan waktu bersama dengan melakukan kegiatan kecil, membaca buku, bermain game, atau hanya sekedar merebahkan tubuh di taman sambil menatap langit jingga sore hari. Bersamanya, hariku terlewati dengan sempurna. Tawanya, senyumannya, selalu berhasil membuatku bahagia. Walau aku tahu kebahagiaan itu tidak bertahan lama, aku harus kembali sebelum tuan rumah ini muncul dengan tatapan sinisnya.