Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Akademi Sihir Hanberg
Setelah berjalan menyusuri jalanan batu Hanberg, langkah kaki Luvya dan Sellia akhirnya terhenti di depan sebuah struktur yang membuat mereka mendongak takjub. Di hadapan mereka berdiri gerbang raksasa setinggi lima meter, terbuat dari besi hitam yang dihias dengan ukiran emas berbentuk rasi bintang.
Akademi Sihir Hanberg.
Pagar-pagarnya menjulang tinggi, dihiasi lampu-lampu kristal yang berpendar kebiruan, bukan sebagai penerang, melainkan sebagai pusat energi sihir. Dari sela-sela jeruji pagar, Luvya bisa melihat taman-taman mewah dengan bunga-bunga yang mekar abadi dan bangunan-bangunan megah bergaya gotik di kejauhan.
"Kau bisa merasakannya?" bisik Sellia, suaranya gemetar. Ia menatap udara kosong di depan gerbang.
Luvya menyipitkan mata. Ia tidak memiliki bakat sihir murni sehebat Sellia, namun ia bisa melihat distorsi tipis di udara, seperti riak air yang menyelimuti seluruh area gerbang.
"Itu adalah pembatas sihir," gumam Sellia. "Penjagaannya... mereka tidak butuh banyak prajurit jika sihirnya sekuat ini."
Namun, di balik lapisan sihir itu, tepat di depan pintu masuk utama, terlihat segerombolan orang berpakaian sangat rapi. Mereka mengenakan jubah panjang berwarna biru tua dengan lencana perak di dada. Mereka berdiri dengan angkuh, memegang papan catatan sihir dan sesekali memeriksa orang-orang yang lewat.
Luvya tahu, mereka bukan sekadar penjaga. Mereka adalah para asisten atau staf administrasi Akademi yang memiliki otoritas untuk memberikan akses masuk. Tanpa izin mereka, pembatas sihir itu akan menghanguskan siapa pun yang mencoba melompatinya.
"Persetan dengan kemegahan ini," gumam Luvya pelan, nyaris tak terdengar. Perutnya kembali mulas, bukan karena haid, tapi karena ia melihat betapa sulitnya menembus tempat ini.
Luvya melirik Sellia yang tampak menciut. Gadis berambut merah muda itu mencengkeram tasnya erat-erat, matanya menatap kerumunan orang berpakaian rapi itu dengan ketakutan. Penampilan mereka yang penuh debu wol dan baju kusam benar-benar terlihat seperti pengemis di depan gerbang emas ini.
"Ingat rencana kita, Sellia," bisik Luvya, mencoba menguatkan. "Kau punya nama pamanmu. Kau punya hak untuk berada di sini. Jangan biarkan jubah-jubah mahal mereka membuatmu takut."
Luvya menyadari, ini adalah momen penentuan. Jika mereka gagal melewati gerbang ini sekarang, mereka akan terjebak di jalanan Hanberg saat malam tiba, saat para pengejar dari Kuil mungkin sudah menyisir penginapan.
"Ayo," ajak Luvya sambil melangkah maju lebih dulu, mencoba memasang wajah dingin khas bangsawan meskipun ia mengenakan baju rakyat jelata. "Kita harus bicara dengan salah satu dari mereka."
Luvya melangkah mendekati garis pembatas, namun belum sempat kakinya menyentuh area sihir, salah satu staf berjubah biru tua itu menoleh. Pria itu memperbaiki letak kacamatanya, menatap Luvya dan Sellia dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan merendah.
"Berhenti di sana, anak-anak jalanan," suara pria itu dingin dan tajam. "Gerbang ini bukan tempat untuk meminta sedekah. Pergi ke panti asuhan di distrik selatan kalau kalian lapar."
Sellia langsung menunduk, wajahnya memerah karena malu dan takut. Tangannya gemetar hebat saat memegang catatan pamannya. Namun, Luvya justru menegakkan punggungnya. Ia melepaskan tudung mantelnya, memperlihatkan rambut pirang pucatnya yang meskipun sedikit berantakan, tetap memancarkan aura kelas atas.
"Kami tidak sedang meminta sedekah," ucap Luvya dengan nada bicara yang sangat formal dan tenang, membuat pria itu sedikit tersentak. "Temanku adalah kerabat dari salah satu profesor di akademi ini. Kami menempuh perjalanan jauh untuk menemuinya karena sebuah urusan darurat."
Pria itu tertawa remeh, melirik teman-temannya yang lain. "Setiap hari ada saja yang mengaku sebagai kerabat profesor agar bisa masuk. Profesor siapa yang kalian maksud? Profesor Sihir Hitam? Atau jangan-jangan Kepala Sekolah?"
Sellia memberanikan diri maju satu langkah, ia mengeluarkan catatan kusam yang ia bawa. "P-profesor Hadelon. Dari departemen riset tanaman sihir. Beliau adalah paman saya."
Mendengar nama Hadelon, tawa pria itu sedikit menyurut. Hadelon bukan profesor sembarangan, beliau cukup disegani. Namun, melihat penampilan Sellia yang seperti pengungsi, pria itu tetap ragu.
"Hadelon? Profesor Hadelon tidak pernah menyebutkan punya kerabat dari desa kumuh," ujar pria itu skeptis. "Tunjukkan bukti bahwa kau tidak berbohong, atau aku akan memanggil penjaga untuk mengusir kalian dari sini."
Luvya melirik Sellia. Ini saatnya. Luvya tahu Sellia punya liontin itu, tapi ia juga tahu di dalam tasnya sendiri ada emas murni dan dokumen Marquess Rigel. Luvya harus memastikan Sellia yang mengeluarkan buktinya lebih dulu agar fokus mereka tetap pada sang Pemeran Utama Wanita, bukan pada dirinya yang seorang pelarian kuil.
Sellia dengan tangan gemetar merogoh balik jubahnya dan mengeluarkan kalung berliontin permata biru itu. Begitu permata itu terkena cahaya matahari Hanberg, pendaran biru yang jernih dan kuat terpancar keluar, seolah merespons energi sihir yang menyelimuti gerbang akademi.
Staf berkacamata yang tadinya ketus itu membeku. Ia mendekat dengan wajah pucat, matanya tidak lepas dari kerangka perak yang mengikat permata tersebut.
"Ya ampun... ini benar-benar pusaka sihir," gumamnya dengan suara gemetar.
Rekan-rekannya yang lain ikut mengerumuni, raut wajah angkuh mereka runtuh seketika. "Dan simbol kerangkanya... ini adalah lambang kuno kekuatan sihir penyembuhan. Segelnya masih aktif!"
Suasana langsung berubah 180 derajat. Pria itu membungkuk dalam-dalam, keringat dingin tampak di pelipisnya.
"Nona, mohon maafkan kelancangan kami! Kami benar-benar tidak tahu," ucapnya dengan nada yang sangat sopan, hampir memohon.
"Akhir-akhir ini banyak sekali penipu yang mencoba menyusup ke akademi, jadi kami harus bersikap tegas. Tolong, silakan masuk. Kami akan segera mengantarkan Anda menemui Profesor Hadelon."
Luvya hanya berdiri diam di samping Sellia, memperhatikan perubahan sikap mereka dengan tatapan datar.
Yah, tetap saja ada orang yang tidak ramah dan berkata ketus kepada anak-anak yang sopan seperti ini, batin Luvya sinis. Setidaknya mereka masih punya otak untuk meminta maaf setelah melihat buktinya.
Mereka berdua kemudian dipersilakan melewati pembatas sihir yang tadinya terlihat mengancam. Saat melangkah masuk, sensasi hangat dan menggelitik menyelimuti kulit Luvya, menandakan ia telah berada di dalam zona perlindungan paling aman di kekaisaran.
Salah satu staf dengan sigap berjalan di depan mereka sebagai pemandu. Begitu melewati koridor utama menuju area taman dalam, pemandangan di depan mereka membuat napas tertahan. Akademi ini jauh lebih megah dari yang digambarkan di novel.
Di lapangan luas yang ditata sempurna, Luvya melihat gerombolan siswa-siswi yang sedang bercengkerama atau membawa buku-buku tebal. Mereka mengenakan seragam akademi yang terlihat sangat keren dan berkelas, jubah berwarna biru gelap dengan sulaman perak dan emas yang menunjukkan tingkatan kelas mereka. Aura mereka sangat berbeda, mereka semua memancarkan kepercayaan diri khas anak-anak dari keluarga bangsawan terkemuka.
Luvya merapatkan mantel abu-abunya yang kusam. Di tengah kerumunan siswa berseragam mewah itu, ia dan Sellia terlihat sangat mencolok, seperti dua noda kecil di atas kain sutra putih.
"Luvya, lihat," bisik Sellia, matanya yang hijau berbinar takjub sekaligus minder. "Mereka semua terlihat sangat hebat."
Luvya mengangguk singkat. "Jangan terintimidasi, Sellia. Kau juga punya darah mereka. Sekarang, fokuslah bertemu pamanmu."
Pemandu itu berhenti di depan sebuah pintu kayu ek yang berat dan mengetuknya tiga kali. Tanpa menunggu jawaban yang jelas, ia membukakan pintu itu untuk Luvya dan Sellia.
"Profesor Hadelon, ada tamu untuk Anda," ucap pemandu itu singkat sebelum membungkuk dan pergi.
Begitu melangkah masuk, aroma kertas lama, tinta, dan tanaman herbal menyambut indra penciuman mereka. Namun, pandangan Luvya langsung terpaku pada sosok pria di depan sana. Seorang pria dengan rambut merah yang berantakan sedang berdiri membelakangi mereka, tangannya bergerak cepat mencoret-coret papan tulis besar yang memenuhi satu sisi dinding.
Luvya menyipitkan mata, mencoba melihat apa yang sedang dikerjakan pria itu. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, bukan karena sihir, melainkan karena rasa tidak percaya.
Di papan tulis itu, Profesor Hadelon sedang berkutat dengan rumus-rumus rumit. Bagi orang-orang di dunia ini, itu mungkin terlihat seperti kode sihir kuno yang sangat kompleks. Namun bagi Luvya atau lebih tepatnya Lily dari dunianya dulu, itu adalah soal matematika tingkat SMA yang sangat ia kenali.
Itu kan... persamaan kuadrat dan integral dasar? batin Luvya terperangah.
Ia melihat Hadelon mencoret satu baris rumus, lalu mengacak-acak rambut merahnya dengan frustrasi. Pria itu tampak sedang mengalami kebuntuan pada sebuah variabel yang sebenarnya sangat mudah diselesaikan dengan metode eliminasi sederhana.
"Argh! Kenapa variabel energi alaminya tidak mau stabil saat dikalikan dengan koefisien pertumbuhan?" gumam pria itu dengan nada suara yang serak dan terobsesi.
Sellia berdiri mematung, matanya berkaca-kaca melihat sosok yang ia yakini sebagai pamannya itu. "Paman... Hadelon?" panggilnya dengan suara yang sangat kecil dan bergetar.
Mendengar suara itu, pria berambut merah itu berhenti mencoret. Ia terdiam sejenak, lalu perlahan membalikkan tubuhnya. Sepasang mata yang senada dengan warna rambutnya menatap kedua gadis kumuh di depan pintunya dengan ekspresi bingung, sebelum pandangannya jatuh pada wajah Sellia yang sangat mirip dengan saudarinya.
Luvya, di sisi lain, masih terjebak dalam pikirannya sendiri. Melihat soal matematika itu di dunia fantasi ini membuatnya sadar bahwa mungkin sistem sihir di Akademi ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan logika sains dari dunianya dulu.
Kalau soal seperti itu saja dianggap sulit oleh seorang profesor di sini, pikir Luvya dengan kilatan licik di matanya, berarti aku punya kartu as yang lebih besar dari sekadar emas atau dokumen.