Tujuh tahun pernikahan, tak pernah terbayangkan dirinya akan menjumpai hal yang paling menyakitkan dalam perjalanan hidupnya.
Arimbi, ia menemukan jejak wanita lain dalam biduk rumah tangganya. Bahkan wanita tersebut telah memiliki anak yang usianya sudah lebih dari setahun.
"Kita masih merintis usaha, jadi kita jangan punya anak dulu ya."
Ucapan sang suami terngiang begitu jelas di telinganya. Arimbi yang naif menyetujui. Namun itu jadi bumerang bagi dirinya karena oleh keluarga suami Arimbi di cap mandul.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, nama perusahaan yang didirikan suaminya ternyata ada unsur dari nama wanita itu.
Apakah Arimbi akan terpuruk? Atau dia akan bangkit dan membalas rasa sakit hatinya dan menemukan cinta lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesama Korban 30
"Begitu juga dengan kamu ... ."
Makna yang tersirat dari ucapan Arimbi jelas bisa dimengerti oleh Bhumi. Itu pasti menyangkut kejadian beberapa waktu lalu tentang penipuan yang dilakukan oleh Senia terhadapnya.
Jika boleh dibilang Bhumi dan Arimbi merupakan korban dari orang-orang yang tega terhadap mereka. Perasaan cinta yang tulus dan juga sepenuh hati, dengan teganya dibalas dengan pengkhianatan dan juga kebohongan yang sangat menyakitkan.
"Maaf kalau kesannya ngungkit, tapi gimana soal wanita itu, Mas? Apa mungkin ada ungkapan maaf dari dia dan juga keluarga?" tanya Arimbi.
Entah mengapa Arimbi jadi penasaran juga terkait wanita itu. Jika dulu dia tidak ingin bertanya karena merasa tak punya hubungan apapun dengan Bhumi, tapi sekarang Arimbi merasa bahwa mereka cukup dekat sebagai seorang partner kerja. Sehingga tak ada salahnya untuk sekedar bertanya.
"Nggak ada sih. Nggak ada maaf atau apa. Tapi ya nggak tahu juga. Soalnya aku udah ngeblokir semua kontak dia dan juga keluarganya. Lagian, permintaan maaf yang nggak tulus juga percuma kan?"
Jawaban dari Bhumi membuat Arimbi tersenyum kecut. Karena sampai sekarang pun dirinya juga tidak mendapat pernyataan maaf dari Amar ataupun keluarga Amar. Jadi rasanya jawaban yang Bhumi berikan berjalan lurus dengan keadaan dirinya.
"Lalu kamu sendiri bagaimana, Mbak? Apa mereka meminta maaf kepadamu dan keluarga mu?" Bhumi akhirnya bertanya hal yang sama dengan apa yang dikatakan Arimbi.
"Nggak, sama saja hahaha. Boro-boro minta maaf, yang ada juga sampai sekarang aku disalah-salahin. Ibu mertua aku baru aja mencak-mencak soal perusahaan yang dipecah."
Ya apa yang diaktakan Arimbi memang benar adanya. Yani mengiriminya pesan panjang lebar soal pecah kongsi FAE. Dia mendapatkan pesan itu ketika tengah rapat kecil bersama Farhan dan Tasya. Mungkin Yani baru saja mendapat ceritanya dari Amar, akan tetapi Arimbi tidak peduli. Dia bahkan hanya membaca sekilas dan langsung menghapusnya.
"Begitu ya. Kalau aku mungkin karena kami masih hanya sekedar akan bertunangan, ya kasarnya masih pacaran lah jadi mungkin nggak ngarep dia bakal minta maaf. Tapi kalau Mbak kan udah lama menikah. Dan yang mereka lakukan bener-bener keterlaluan. Seharusnya permintaan maaf itu dilakukan paling awal dan utama,"ucap Bhumi lirih.
"Itu kalau orang yang punya pikiran waras, Mas. Tapi nyatanya mereka nggak ada yang mikir sampai sana. Dan bahkan si gundik malah nuduh aku yang menyebabkan anak dia meninggal."
"Heeee apaaaa!!!!"
Dengan senyum kecutnya, Arimbi menceritakan tentang kejadian yang terjadi di pemakaman. Itu cukup membuatnya terguncang meski hanya sejenak.
Dia disini yang sangat sakit dan tentunya juga korban, tapi malah seolah-olah dirinya yang jadi tokoh antagonisnya. Arimbi benar-benar tidak mengerti, mengapa ada orang yang begitu tega dan jahat terhadap orang lain. Bukannya menyadari kesalahan, tapi malah mencari-cari kesalahan untuk dilemparkan kepada orang lain.
"Wah kalau itu gila sih. Kok bisa ada orang kayak gitu. Dia nggak sadar apa udah bikin orang sakit hati? Dia nggak sadar apa udah ngelakuin hal yang jaha? Dan bisa-bisanya malah semakin nyakitin kayak gitu?"
Bhumi benar-benar tidak tahu bahwa ada orang yang sedemikian. Di dalam lingkup keluarganya, tak ada yang seperti itu dan dia bersyukur akan hal tersebut.
Akan tetapi, Bhumi ingat bahwa beberapa dari sepupunya ada yang pernah mengalami hal serupa. Meski tidak separah ini. Bhumi juga ingat kakak sepupunya yang ada di luar kota bahkan luar provinsi, yang memiliki pendamping seorang korban dari bejatnya laki-laki.
Namun tetap saja Bhumi tidak habis pikir terhadap wanita yang sangat tega seperti Farrah ini, yang menyakiti sesama wanita bahkan sampai playing victim.
"Kamu beneran kuat, Mbak. Kamu hebat."
"Makasih Mas, alhamdulillah aku masih dikelilingi orang-orang yang baik dan salah satunya Mas Bhumi juga."
Bhumi tersenyum simpul dan mengangguk pelan. Dia merasa senang bisa membantu. Terlebih, ia merasa bahwa nasib mereka hampir sama. Sama-sama disakiti dan dikhianati, jadi rasanya senang bisa membantu sesama.
Bhumi juga tidak menyangka, dirinya bisa akrab dengan Arimbi. Selama ini, dia adalah pribadi yang sangat tertutup. Pemuda itu hanya mau bercerita dan mengobrol banyak kepada keluarganya dan juga segelintir orang. Mungkin karena menanggung rasa sakit yang sama, sehingga ia menjadi nyaman berbicara dengan Arimbi.
Pun juga sebaliknya, Arimbi yang selama ini tak memiliki teman menjadi senang karena akhirnya bisa banyak menceritakan tentang keluh kesahnya.
Keduanya mengobrol dengan sangat nyaman dan tentunya banyak. Tak hanya seputar perpisahan dan bisnis tapi juga tentang hal lainnya.
Drtzzzz
Ponsel Bhumi berdering, awalnya pria itu mengabaikannya. Namun karena sudah berbunyi lebih dari sekali, akhirnya Bhumi menjawab panggilan yang masuk itu.
"Ada apa?"
"A-anu Bos, i-itu."
Bhumi mengerutkan alisnya. Tidak biasanya Ibnu bicara tidak jelas seperti ini. Asistennya itu selalu lugas, meski banyak bercanda.
"Ngomong yang bener, Nu. Aku nggak ngerti kamu ini kenapa!" ucap Bhumi tegas. Ia bahkan juga langsung berdiri dari duduknya untuk sedikit menjauh dari Arimbi.
"Iya. Ini. A-ada tamu."
"Siapa?"
"Amar Subagyo."
Heh?
TBC
kya nya cocok 👏👏
Amar di Sini dia lom mrs bersalah ya nyakitin Arimbi segitunya...