Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Pagi itu, Gunung Sandaran tidak memberikan pelukan hangat. Kabut tebal merayap di sela-sela pepohonan purba, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang amis. Aku berdiri di sebuah lembah tersembunyi yang disebut Lembah Seribu Sisik. Tempat ini adalah wilayah terlarang, bahkan bagi para pemburu paling nekat sekalipun.
Aku baru saja menginjak usia delapan tahun, dan tubuhku terasa jauh lebih ringan setelah menembus Level 2 Kultivasi: Tahap Pemurnian Tulang. Namun, kekuatan fisik dan kecepatan kilat yang kupelajari dari petir seolah tidak ada gunanya hari ini.
"Duduk, Qinar. Jangan banyak gerak," perintah Ki Kusumo.
Beliau jongkok di depanku sambil memegang sebuah keranjang anyaman bambu yang terus bergoyang-goyang. Dari dalam keranjang itu, terdengar suara desisan yang membuat bulu kudukku meremang. Sssss... ssss...
"Ki, jangan bilang kalau ujian ketiga ini ada hubungannya dengan isi keranjang itu," kataku, mencoba tetap tenang meski jantungku berdegup kencang.
"Pintar! Hadiah ulang tahun kedelapanmu sedikit terlambat, tapi ini yang paling berharga," Ki Kusumo menyeringai jahat. Beliau membuka tutup keranjang itu sedikit.
Seekor ular kobra gunung berwarna hitam legam dengan tanda perak di kepalanya menyembul keluar. Matanya yang kuning vertikal menatapku dingin. Lidahnya yang bercabang menjulur-julur, mencicipi udara yang penuh dengan aroma ketakutanku.
"Ujian Ketiga: Lidah Kematian," ucap Ki Kusumo pelan. "Kau punya Kulit Besi, kau punya Napas Petir. Tapi itu semua tidak berguna kalau musuhmu menggunakan racun. Satu tetes bisa menghentikan jantungmu dalam hitungan detik. Maka dari itu, kau harus berteman dengan racun."
"Berteman? Maksudmu kau mau membiarkan benda itu menggigitku?!" teriakku. Aku refleks ingin melompat mundur, tapi sebuah tekanan Qi yang berat dari Ki Kusumo mengunci kakiku ke tanah.
"Jangan bergerak! Kalau kau lari, kau hanya akan mempercepat aliran darahmu, dan racunnya akan sampai ke otakmu lebih cepat," Ki Kusumo menangkap leher kobra itu dengan tangannya yang keriput. "Sekarang, berikan lengan kananmu."
Aku gemetar. "Ki, ini gila. Aku bisa mati!"
"Kau sudah sering 'mati', Qinar. Tapi hari ini, kau akan belajar cara hidup di dalam kematian," Ki Kusumo menarik lengan kananku.
Beliau menempelkan taring kobra itu ke kulit lenganku. Kobra itu tampak marah, lehernya mengembang lebar. Dan dengan satu sentakan cepat—Jleb!
"Aaakh!"
Aku memekik. Rasanya tidak seperti tusukan jarum, tapi seperti disiram air keras yang mendidih. Aku bisa merasakan dua taring tajam itu menembus lapisan Kulit Besiku yang biasanya keras. Ternyata, racun kobra gunung ini memiliki sifat korosif yang bisa melelehkan pertahanan Qi.
Ki Kusumo melepaskan ular itu kembali ke keranjang. "Diam! Jangan berteriak! Sekarang, meditasi! Putar Qi Level 2-mu. Jangan biarkan racun itu masuk ke jantung. Perangkap dia di lenganmu, lalu hancurkan molekulnya dengan panas petir yang kau miliki!"
Aku segera duduk bersila. Lengan kananku mulai membengkak hebat. Warnanya berubah dari merah, menjadi ungu, lalu hitam pekat dalam hitungan detik. Rasa sakitnya luar biasa; rasanya seperti lenganku sedang dikunyah oleh ribuan serangga api dari dalam.
Deg. Deg. Deg.
Pandanganku mulai mengabur. Kepalaku terasa sangat berat, dan rasa mual mulai mengocok perutku. Aku bisa merasakan "cairan hitam" itu merayap naik melalui pembuluh darahku, mencoba menuju ke arah jantung.
"Jangan menyerah, Bocah! Fokus ke tulangmu! Ingat, kau sudah di Tahap Pemurnian Tulang!" suara Ki Kusumo terdengar jauh, seperti dari balik tembok tebal.
Aku memejamkan mata. Di dalam kegelapan batinku, aku melihat aliran darahku yang merah cerah kini tercemar oleh noda hitam yang pekat dan ganas. Noda itu bergerak seperti parasit.
"Panaskan... aku harus panaskan darahku..." bisikku dalam hati.
Aku memanggil energi petir yang tersimpan di sumsum tulangku. Bzzzzzt... Percikan listrik kecil mulai berderak di dalam nadi lengan kananku. Aku membayangkan Qi-ku sebagai tungku api raksasa yang membakar segala kotoran.
Ssssshhhh...
Uap hitam berbau busuk mulai keluar dari pori-pori kulit lenganku. Keringat dingin bercampur lendir hitam menetes ke tanah. Rasanya perih sekali, seolah-olah dagingku sedang dicuci dengan cuka panas.
"Lebih kuat lagi! Tekan racunnya keluar!" teriak Ki Kusumo.
Aku mengerahkan seluruh sisa kesadaranku. Tanda merah di pergelangan tanganku mendadak panas membara, memberikan tambahan dorongan energi yang murni. Aku mendorong "cairan hitam" itu kembali ke ujung jari.
Croot!
Darah hitam kental muncrat keluar dari bekas gigitan ular tadi, menghantam tanah dan membuat rumput di bawahnya seketika layu dan kering.
Aku terengah-engah. Tubuhku lemas total, jatuh tersungkur di atas tanah lembap. Lengan kananku masih terasa kebas, tapi warna hitamnya perlahan memudar menjadi merah normal kembali.
"Hah... hah... aku... masih hidup?" tanyaku dengan suara serak.
Ki Kusumo mendekat, memeriksa bekas gigitan di lenganku. Beliau mengangguk-angguk kecil. "Selamat. Kau baru saja selamat dari satu gigitan. Tapi jangan senang dulu, Qinar. Besok, aku akan melepaskan lima ekor ular sekaligus."
Aku melotot. "Lima?! Kau mau membunuhku secara bertahap, ya?"
"Bukan membunuhmu, tapi membuat darahmu menjadi racun bagi musuhmu," Ki Kusumo nyengir. "Mulai hari ini, tubuhmu akan belajar mengenali segala jenis bisa. Dalam satu tahun ke depan, tidak akan ada racun di dunia ini yang sanggup menghentikan napasmu."
Beliau memberikan sepotong daging ular yang sudah dibakar. "Makan ini. Ini akan membantu memulihkan energimu. Besok adalah hari yang panjang."
Aku mengambil daging itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Aku menatap langit lembah yang tertutup kanopi pohon raksasa. Delapan tahun. Aku baru berumur delapan tahun, tapi tanganku sudah pernah menangkap petir dan darahku sudah bercampur dengan bisa ular.
Aku tidak tahu siapa aku, atau untuk apa semua kekuatan ini disiapkan. Tapi satu hal yang pasti, setiap kali aku melewati ambang kematian, aku merasa ada sesuatu yang besar sedang menungguku di luar Gunung Sandaran ini. Sesuatu yang sangat besar, dan mungkin... sangat berdarah.
"Terima kasih, Ki," bisikku pelan sebelum mulai mengunyah daging itu.
Ki Kusumo tidak menjawab. Beliau hanya menatap ke arah utara, ke arah kerajaan-kerajaan besar yang tersembunyi di balik cakrawala, dengan tatapan yang penuh rahasia.