"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"
Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.
Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: RESONANSI DUA DUNIA
Udara di dalam brankas bawah tanah Sentosa Cove mendadak menjadi statis. Arka, dalam identitas Satria Erlangga merasakan bulu kuduknya berdiri.
Bukan karena takut, tapi karena lonjakan energi dari jantung mekanik yang dipegang Rendra Adiningrat menciptakan distorsi elektromagnetik yang mengacaukan indera Segel Bumi-nya.
"Siska, menjauh!" bentak Arka.
Siska masih mematung, pistolnya bergetar. Rendra tertawa, suara tawa yang terdengar seperti logam yang digerus.
"Dia tidak akan bisa menjauh, Arka. Dia adalah saksi bagaimana aku akan merobek topengmu dan mempersembahkan kepalamu pada ayahnya."
BOOM!
Rendra bergerak. Kecepatannya tidak masuk akal untuk ukuran manusia. Ia tidak berlari, ia seolah-olah "tergelincir" melewati ruang kosong. Ini adalah teknik Langkah Tanpa Bayangan.
Arka tidak sempat menghindar. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mengaktifkan Segel Bumi 20% secara instan.
DUAK!
Pukulan Rendra menghantam lengan Arka. Suara benturannya seperti dua bongkahan granit yang diadu. Arka terpental sejauh lima meter, menabrak lemari kaca anti-peluru hingga retak seribu. Rasa panas menjalar di tulangnya.
“Kekuatannya... ini bukan tenaga dalam biasa. Dia menggunakan energi kinetik dari luar dimensi,”batin Arka sambil menyeka darah di bibirnya.
Rendra tidak memberi napas. Ia melompat, kakinya menerjang ke arah leher Arka. Arka berguling ke samping, lalu menghantamkan telapak tangannya ke lantai baja brankas.
“Getaran Inti: Peredam!” Arka mengirimkan gelombang getaran ke seluruh lantai brankas.
Logika fisika mengatakan baja itu keras, tapi di tangan Arka, atom-atom baja itu dipaksa bergetar dalam frekuensi rendah, menciptakan efek "lumpur" yang membuat langkah Rendra yang tadinya licin menjadi terhambat.
"Teknik murahan!" Rendra meraung. Ia menghantamkan jantung mekaniknya ke lantai. Sebuah ledakan energi hitam terpancar, menetralkan getaran Arka.
Di tengah kekacauan itu, Arka melirik ke arah Keris Kyai Sangga Buwana. Keris itu kini bergetar hebat di dalam wadahnya. Cahaya hijaunya mulai sinkron dengan denyut jantung Arka yang semakin cepat.
“Arka... ambil kerisnya!” suara Siska memecah kesunyian. Siska melepaskan tembakan ke arah Rendra untuk mengalihkan perhatian.
BANG! BANG!
Peluru itu memantul di kulit Rendra yang kini tampak seperti dilapisi sisik hitam samar. Rendra menoleh ke Siska dengan tatapan haus darah. "Kau berani menembak suamimu sendiri, Siska?!"
Rendra mengangkat tangannya, hendak mencekik Siska dari jarak jauh dengan energi hitamnya.
"Lawanmu aku, Rendra!" Arka melesat. Kali ini ia tidak menahan diri. Ia menggunakan 5% Segel Udara yang tersisa untuk menambah akselerasi tubuhnya yang berat.
Arka meraih gagang keris Kyai Sangga Buwana.
Seketika, sebuah ledakan informasi dan rasa sakit menghantam otak Arka. Ia melihat bayangan badai besar di lautan selatan. Ia mendengar suara angin yang merintih di puncak-puncak gunung Jawa.
[SINKRONISASI ELEMEN UDARA: 15% BERHASIL]
Belenggu kedua di punggung Arka retak. Arka merasakan tubuhnya mendadak menjadi seringan bulu, namun otot-ototnya sekeras baja. Ia mencabut keris itu. Cahaya hijau zamrud menyelimuti seluruh ruangan.
Rendra terhenti. Matanya membelalak melihat keris itu di tangan Arka. "Tidak mungkin... Hanya keturunan Adiningrat yang bisa mencabutnya!"
"Tanah ini mengenal siapa tuannya, Rendra," ucap Arka. Suaranya kini berlapis, seolah ada suara angin yang ikut bicara.
Arka mengayunkan keris itu secara horizontal. Bukan tebasan fisik, tapi sebuah tekanan udara yang begitu tipis dan tajam hingga membelah sisa-sisa asap di ruangan itu menjadi dua.
Rendra mencoba menangkis dengan energi hitamnya, namun tebasan angin Arka melewatinya begitu saja, merobek jas mahalnya dan meninggalkan luka sayatan panjang di dadanya yang hitam.
"Argh!" Rendra mundur, wajahnya penuh amarah dan kebingungan.
Tiba-tiba, suara alarm gedung berbunyi. Di layar monitor brankas, tampak pasukan elit Singapura dan agen The Sovereign mulai mengepung kediaman Sentosa Cove.
"Kita harus pergi, Arka! Ayahku sudah mengaktifkan protokol pembersihan!" teriak Siska sambil menarik lengan Arka.
Arka menatap Rendra yang sedang memulihkan lukanya dengan cepat. Ia tahu, duel ini belum selesai. Tapi jika ia tertangkap di sini, misinya di Singapura akan gagal total.
"Ini belum berakhir, Rendra. Simpan nyawamu untuk titik meridian berikutnya," ucap Arka.
Arka menusukkan kerisnya ke lantai, bukan untuk merusak, tapi untuk menciptakan ledakan tekanan udara ke arah atas.
BOOM!
Lantai brankas meledak ke arah atas, menembus ruang tamu Haris Adiningrat.
Arka memeluk Siska, lalu menggunakan dorongan angin untuk melompat keluar dari lubang tersebut, menembus atap kaca mansion dan mendarat di hutan kecil di pinggiran Sentosa Cove.
Di belakang mereka, Rendra berdiri di tengah reruntuhan brankas, menatap ke langit dengan mata merah yang menyala. "Lari sesukamu, Arka. Selama kau membawa keris itu, kau hanyalah mercusuar bagi kematianmu sendiri!"
Arka berhasil mendapatkan elemen udara, tapi kini ia dikepung di negara asing bersama Siska. Di saat yang sama, Haris Adiningrat muncul di layar helikopter yang mengejar mereka, memberikan satu perintah singkat:
"Hancurkan mereka, jangan biarkan aset berhargaku dibawa pergi oleh tikus itu."
***
Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.