NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:523
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Jalan depan bar hening.

Tak ada tawa.

Tak ada sorakan.

Hanya suara debu yang jatuh perlahan.

Semua mata menatap sosok yang baru datang.

Siapa dia?

Para dwarf saling berbisik.

Para petualang menelan ludah.

Bahkan Theros, Kairos, dan Darios pun menatap tajam.

Mereka belum pernah melihat seseorang datang secepat itu.

Dan menendang mereka seperti sampah.

Grachius berdiri tenang.

Punggungnya menghadap Daji.

Ia menoleh ke depan.

Tatapannya bergerak satu per satu.

Theros.

Kairos.

Darios.

Diam.

Lalu ia bicara.

“Sepertinya…”

“…kalian sudah bersenang-senang dengan temanku.”

Sunyi sesaat.

Daji membelalak.

"Teman…?"

Ia menatap punggung Grachius.

Tak menyangka kata itu keluar dari mulut pria dingin tersebut.

Helga mengangkat alis.

Beberapa dwarf tersenyum kecil.

Grachius melanjutkan.

Nada suaranya datar.

“Sekarang…”

Ia melangkah maju satu langkah.

“…giliran kalian bertiga bersenang-senang denganku.”

Rocky mundur refleks.

Kairos menyeringai marah.

“Bocah sok hebat.”

Theros meretakkan lehernya.

“Kita patahkan dia.”

Darios memutar pedangnya.

“Aku ambil kepalanya.”

Grachius tidak menjawab.

Ia hanya mengepal kedua tangan.

Perlahan.

Urat di lengannya menegang.

Qi mengalir deras dari pusat tubuhnya.

Turun ke bahu.

Ke siku.

Masuk ke kedua tinju.

Cahaya mulai muncul.

Kuning.

Lalu bercampur merah.

Seperti bara matahari menjelang senja.

Kedua tinjunya diselimuti energi menyala.

Beberapa penonton mundur karena tekanan auranya.

Daji menatap terpaku.

"Qi sepadat itu…"

"Dia benar-benar berubah setelah meditasi."

Angin sore berembus.

Debu berputar di antara dua kubu.

Tiga bersaudara mengangkat senjata.

Grachius menurunkan tubuh sedikit.

Kuda-kuda mantap.

Tatapan tajam.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu—

BOOM!

Tanah retak saat Grachius melesat ke depan.

Grachius melesat lebih dulu.

Batu jalan pecah di titik pijaknya.

Tubuhnya meluncur lurus ke arah Theros.

Yang terbesar.

Yang paling kokoh.

Tinju kanan Grachius menyala kuning kemerahan.

Theros mengangkat kedua lengan untuk menahan.

DOOOOM!

Benturan membuat udara bergetar.

Theros mundur tiga langkah.

Sepatu botnya menyeret batu jalan.

Retakan panjang muncul di tanah.

Para penonton terperangah.

Seseorang sebesar Theros—

terdorong oleh satu pukulan.

Namun Grachius belum selesai.

Ia memutar pinggang.

Tinju kiri datang dari samping.

Kairos sudah menyambar lebih dulu.

Pedangnya menebas ke arah leher.

Grachius menunduk tipis.

Bilah pedang melewati rambut putihnya.

Ia membalas dengan siku ke perut Kairos.

BAM!

Kairos terlempar ke belakang.

Namun sebelum jatuh—

Darios datang dari kanan.

Pedangnya menusuk cepat.

Grachius memutar tubuh.

Bilah itu hanya menggores bajunya.

Ia menangkap pergelangan tangan Darios.

Mencoba melemparnya.

Tetapi Theros sudah kembali.

Tubuh raksasanya menghantam seperti banteng.

BOOM!

Grachius terdorong beberapa meter.

Debu naik.

Daji yang masih duduk bersandar mulai tersenyum.

Grachius keluar dari debu.

Tanpa luka berarti.

Ia menepuk bahunya sendiri.

“Lumayan.”

Kairos mendecak.

“Dia cepat.”

Darios menambahkan.

“Dan keras.”

Theros menyeringai.

“Bagus.”

“Sudah lama tak ada lawan menarik.”

Ketiganya bergerak bersamaan.

Kini mereka lebih serius.

Kairos menusuk dari depan.

Darios menebas kaki.

Theros mengepung jalur mundur.

Formasi rapi.

Presisi.

Grachius melompat ke atas.

Kairos sudah menduga.

Pedangnya mengikuti ke udara.

Namun Grachius menapak pada sisi bilah pedang itu.

Menggunakannya sebagai pijakan.

Lalu berputar.

Tendangan tumit menghantam rahang Kairos.

CRACK!

Kairos terpental memuntahkan darah.

Penonton bersorak.

Tetapi di saat bersamaan—

Darios menusuk punggung Grachius dari bawah.

Grachius memutar tubuh di udara.

Ujung pedang hanya menggores lengan kirinya.

Darah tipis keluar.

Theros menangkap kaki Grachius saat mendarat.

“Dapat!”

Ia mengangkat tubuh Grachius.

Lalu membantingnya ke tanah.

DOOOOM!

Jalan batu hancur membentuk kawah kecil.

Beberapa orang mundur ketakutan.

Rocky tertawa keras.

“Itu dia!”

Namun tawa itu berhenti cepat.

Dari kawah—

Grachius bangkit sambil memegang pergelangan tangan Theros.

Masih dalam genggaman.

Ia tersenyum tipis.

“Terima kasih.”

Lalu menarik Theros ke bawah.

Dan lututnya menghantam wajah raksasa itu.

BAM!

Theros oleng.

Grachius memutar tubuh—

melempar Theros ke arah Darios.

Keduanya bertabrakan.

Kairos menyeka darah di bibir.

Tatapannya berubah tajam.

“Jangan beri dia ritme.”

Darios bangkit sambil mengumpat.

Theros menggeram.

Kini mereka menyebar.

Membentuk segitiga.

Mengurung Grachius di tengah.

Grachius melirik sekeliling.

Menilai.

Menghitung jarak.

Angin sore makin kencang.

Debu berputar di arena.

Daji merasakan tekanan Qi meningkat.

"Mereka mulai serius…"

Grachius mengepalkan tangan lagi.

Aura kuning-merah menyala lebih terang.

Ia tersenyum kecil.

“Akhirnya.”

“Sekarang mulai menyenangkan.”

Tresaders menyerbu bersamaan lagi—

Tak ada aba-aba.

Tak ada hitungan.

Hanya tiga niat membunuh—

dan satu ketenangan mematikan.

Theros menyerbu dari depan.

Kairos bergerak dari kiri.

Darios memotong dari kanan.

Segitiga maut kembali terbentuk.

Namun kali ini—

Grachius sudah membaca pola mereka.

Ia tidak mundur.

Ia justru maju.

Langsung ke tengah.

BOOM!

Grachius menerjang Theros.

Tinju kanan menyala kuning-merah.

Theros mengangkat dua lengan menahan.

Namun pukulan itu hanyalah tipuan.

Grachius menapak pada lutut Theros.

Melompat melewati kepala raksasa itu.

Tubuhnya berputar di udara.

Tendangan balik menghantam tengkuk Theros.

DOOM!

Theros jatuh berlutut.

Formasi pecah.

Kairos menusuk dari kiri.

Grachius mendarat rendah.

Pedang lewat di atas kepala.

Ia menyapu kaki Kairos.

BRAK!

Kairos jatuh.

Sebelum bangkit—

Grachius menghantam pergelangan tangannya.

Pedang terlepas.

Darios datang mengaum.

Mengayun tebasan horizontal.

Grachius menangkap lengan Darios.

Menariknya ke depan.

Dan menggunakan bahunya sebagai poros.

Darios dilempar memutar—

menghantam tubuh Kairos yang baru hendak bangun.

KRAASH!

Keduanya bertumpuk.

Theros bangkit marah.

Ia menyeruduk seperti banteng.

Grachius berdiri diam.

Menunggu.

Menunggu.

Tepat sebelum tabrakan—

ia bergeser setengah langkah.

Siku kanannya menghantam rusuk Theros.

CRACK!

Tubuh raksasa itu kehilangan arah.

Grachius menangkap kepala Theros—

lalu membantingnya ke tanah.

BOOOOM!

Jalan batu retak lebih lebar.

Debu membumbung.

Seluruh penonton terdiam.

Dalam hitungan singkat—

Tresaders hancur total.

Kairos mencoba berdiri sambil terhuyung.

Darios merangkak.

Theros batuk darah.

Mereka bertiga sudah tak sanggup melanjutkan.

Grachius berjalan perlahan mendekat.

Langkahnya tenang.

Tatapannya dingin.

Rocky sudah lari entah ke mana.

Daji menatap tanpa berkedip.

"Dia… menghancurkan mereka."

Helga bersiul kagum.

Grachius berdiri di depan tiga bersaudara itu.

Ia memiringkan kepala.

“Jadi…”

“…apa yang harus kulakukan pada kalian?”

Theros menatap dengan takut untuk pertama kalinya.

Kairos menggertakkan gigi.

Darios menelan ludah.

Grachius berpikir beberapa detik.

“Membunuh kalian?”

Ia menatap langit senja sejenak.

“Tidak.”

Ia kembali menatap mereka.

“Lebih baik membuat kalian cacat.”

Mereka bertiga membelalak.

“Apa maksudmu?!”

Grachius tidak menjawab.

Ia mengangkat tangan kanan.

Qi mengalir ke ujung jari telunjuknya.

Cahaya kuning-merah terkonsentrasi seperti jarum.

Daji langsung sadar.

"Meridian Strike…"

Grachius bergerak cepat.

SST!

Ujung jari menusuk titik di bawah tulang selangka Theros.

Theros menjerit.

SST!

Titik di punggung Kairos.

Kairos kejang.

SST!

Titik di perut bawah Darios.

Darios memuntahkan darah.

Namun Grachius belum selesai.

Ia berpindah secepat kilat.

Menekan beberapa titik lagi—

bahu.

dada.

pinggang.

pangkal leher.

alur energi utama.

Setelah selesai—

ia mundur satu langkah.

Ketiganya terdiam.

Lalu tiba-tiba menjerit bersamaan.

Qi dalam tubuh mereka kacau.

Sirkulasi energi terputus.

Jalur Meridian utama tertutup paksa.

Grachius berkata datar.

“Kalian masih bisa berjalan.”

“Masih bisa makan.”

“Masih bisa hidup.”

“Tapi…”

Ia menatap mereka satu per satu.

“…kalian tak akan pernah berkultivasi lagi.”

Sunyi menyelimuti jalan.

Bagi petarung—

hukuman itu kadang lebih buruk dari kematian.

Tresaders hancur.

Bukan hanya tubuh mereka.

Masa depan mereka juga.

Grachius membalikkan badan.

Lalu berjalan menuju Daji.

Pertarungan selesai.

Jalan depan bar masih sunyi.

Tak seorang pun berani bicara.

Tiga bersaudara Tresaders terkapar.

Mengerang.

Putus asa.

Sedangkan Grachius berjalan menjauh dari mereka seolah semuanya biasa saja.

Ia berhenti di depan Daji.

Daji masih duduk di tanah.

Tubuh penuh memar.

Napasnya berat.

Qi di dalam dirinya berputar liar karena dipaksa bertarung terus-menerus.

Grachius menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata datar.

“Qi milikmu kacau.”

Daji berkedip.

Grachius melanjutkan.

“Alirannya tidak beraturan.”

“Itu akan membuatmu cepat lelah.”

Daji hendak menjawab—

namun Grachius sudah mengangkat tangan.

Qi mengalir ke telapak tangannya.

Cahaya kuning lembut muncul.

Tidak seperti saat bertarung tadi.

Kini lebih tenang.

Lebih hangat.

Grachius menempelkan telapak tangannya ke jidat Daji.

Daji terkejut.

“…eh?”

Gelombang energi masuk perlahan.

Bukan menyerang.

Bukan menekan.

Melainkan menuntun.

Qi liar milik Daji yang berputar kacau mulai tenang.

Jalur-jalur energinya kembali lurus.

Napasnya yang berat mulai stabil.

Rasa sakit di dadanya mereda.

Detak jantungnya menurun.

Beberapa detik kemudian—

Grachius menarik tangannya.

“Selesai.”

Daji hanya diam.

Menatap wajah Grachius.

Tak tahu harus berkata apa.

Orang-orang sekitar saling pandang.

Ia menoleh ke arah bar yang rusak.

“Kau harus ganti jendela itu.”

Daji masih diam.

Grachius melirik.

“Kenapa menatapku seperti itu?”

Daji tersadar.

Cepat-cepat membuang muka.

“Bukan apa-apa!”

Namun pipinya sedikit merah.

Ia sendiri heran.

Dalam hatinya bergema satu pikiran.

"Dia berbeda…"

Selama ini ia mengenal Grachius sebagai pria dingin.

Tajam.

Sulit ditebak.

Sering bicara seperlunya.

Kadang kejam.

Namun sekarang—

setelah tiga hari meditasi—

ada sesuatu yang berubah.

Aura kasarnya masih ada.

Tatapan tajamnya masih sama.

Tetapi…

ada kehangatan.

Hal yang belum pernah Daji rasakan darinya.

"Apa meditasi itu mengubah dirinya?"

"Atau… ini memang dirinya yang asli?"

Daji menggenggam bajunya sendiri tanpa sadar.

Jantungnya berdetak aneh.

Grachius sudah berjalan menjauh.

“Hei.”

Ia berkata tanpa menoleh.

“Kalau sudah pulih, bantu bersihkan kekacauan ini.”

Daji tersentak.

“…hah?!”

Helga tertawa keras.

“Bagus! Mulai dari meja yang pecah!”

Seluruh bar kembali hidup dengan tawa.

Dan untuk pertama kalinya—

Daji tersenyum tanpa tipu daya.

Sore di Baldr terasa lebih hangat dari biasanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!