NovelToon NovelToon
Istri Sempurna Pilihan Oma

Istri Sempurna Pilihan Oma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.

Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.

Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.

Terimakasih....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3 Tidak Mudah.

Ayana terlihat berjalan memasuki daerah komplek. Wajahnya terlihat lesu, bagaimana tidak seharian bekerja begitu banyak, mondar-mandir ke sana kemari dan bahkan terkadang dia membawa mobil sendiri.

Tetapi mobil yang dia bawa bukan miliknya melainkan milik kantor dan ketika pulang kerja Anaya pasti menaiki Bis atau transportasi lainnya.

"Assalamualaikum!" sapa Ayana ketika membuka pintu rumah.

Ada orang di ruang tamu terlihat seorang pria sekitar berusia 35 tahunan sedang merokok.

"Di mana Mama?" tanya Ayana

"Mama kamu belum pulang kerja," jawab pria tersebut.

Ayana menghela nafas dan menutup pintu rumah itu kembali tetapi dia tidak masuk melainkan berada di luar dengan mengeluarkan ponselnya dari tasnya.

"Assalamualaikum Ma," sapa Ayana.

"Iya Anaya ada apa?" tanya sang ibu jauh di ujung sana dan bahkan suaranya tidak jelas terdengar.

"Mama di mana? Kenapa malam-malam seperti ini belum ada di rumah. Ayana sudah pulang kerumah," ucap Anaya.

"Iya, sebentar lagi Mama pulang, kalau kamu sudah pulang ke rumah ya udah langsung masuk saja apa yang susah," sahut Gita.

"Ma, di rumah itu tidak ada Mama dan hanya ada pria itu. Mana mungkin Ayana berduaan dengannya di rumah," jawab Ayana.

"Ayana pria yang kamu katakan itu adalah ayah sambung kamu, jadi tidak ada yang salah, kamu jangan terlalu berpikiran negatif, sudah kamu masuk saja, tidak perlu menunggu Mama pulang karena masih banyak pekerjaan yang harus Mama selesaikan!" tegas Gita.

"Tapi....." Ayana belum sempat protes telpon tersebut sudah mati.

"Ma, Mama!"

"Astagfirullah...." Ayana geleng-geleng kepala terlihat begitu kesel.

Ayana kembali melihat ke rumahnya, tidak terlintas di pikirannya untuk masuk ke rumah tersebut dan memilih untuk pergi.

Ayana gadis 24 tahun sejak kecil sudah sangat mandiri. Ketika berusia 10 tahun kedua orang tuanya berpisah. Ayana tinggal bersama neneknya dan hidup mandiri di desa, sampai akhirnya dia dewasa dan melanjutkan sekolah di Jakarta sembari bekerja.

Ayana kerap kali bertengkar dengan ibu kandungnya karena perbedaan pendapat. Selama ini ibunya juga tidak pernah merawatnya dan setelah dia mendapatkan pekerjaan yang layak barulah tinggal bersama dengan ibunya dan membiayai kehidupan ibunya.

Tetapi siapa sangka mereka bukanlah ibu dan anak yang harmonis dan selalu saja ada pertengkaran apalagi ketika ibunya memilih menikah kembali dengan seorang brondong.

Ayana tidak nyaman tinggal di rumah itu Karena ada orang lain. Ayana sudah ingin memilih tinggal sendiri, tetapi tetap kembali menjadi perdebatan dengan ibu kandungnya yang dianggap tidak berbakti kepada orang tua dan ingin memakan hasil kerja sendiri.

Kehidupan Ayana penuh drama dan tidak semulus pandangan orang lain terhadapnya saat di kantor. Di kantor orang-orang bisa melihat dari wajahnya bahwa dia tumbuh dari keluarga yang penuh kasih sayang, keluarga harmonis dan cemara dan nyatanya semua itu hanyalah prasangka orang-orang saja dan tidak sesuai dengan kenyataannya.

*****

Karena tidak mungkin berada di rumah bersama ayah sambungnya, membuat Ayana makan malam bersama dengan Diva teman kantornya.

"Ya sudah Ayana, kamu tinggal saja di kosan aku, nanti untuk pembayaran ini dan itu kita bagi dua, itu juga meringankan untukku dan lagi pula kos-kosan ku juga sangat besar," ucap Diva bukan pertama kali memberi saran kepada temannya itu.

"Jika aku membicarakan hal ini dengan Mama. Sudah pasti kami akan ribut 3 hari 3 malam," sahut Ayana.

"Ya terus bagaimana dong, aku sudah yakin setiap hari kamu pasti tidak pernah nyaman tinggal di rumah itu, ada rasa takut dan apalagi ya temanku ini sangat cantik, kita tidak tahu orang-orang di luar sana berniat Seperti apa dan apalagi pria yang menjadi suami dari ibu kamu," sahut Diva.

"Aku juga mengkhawatirkan hal itu, tetapi mau bagaimana lagi di setiap dibahas dengan Mama pasti yang ada di pertengkaran," sahut Ayana.

"Lalu bagaimana jika kamu menikah? Apa Mama kamu juga akan melarang kamu?" tanya Diva.

"Sepertinya. Mama akan takut jika semua penghasilanku tidak aku berikan kepadanya," jawab Ayana.

"Huhhhh, entahlah orang tua kamu memang aneh," sahut Diva dengan geleng-geleng kepala.

Ayana juga tidak bisa berkomentar dan melanjutkan makannya.

Di tengah mereka makan tiba-tiba saja Diva melihat pintu masuk Restaurant tersebut. Diva kaget ketika melihat pimpinan mereka Emir masuk bersama seorang pria tampan dan Diva langsung menyenggol Ayana hampir saja Ayana tersedak.

"Ada apa?" tanya Ayana.

"Tuh!" Diva memperlihatkan matanya membuat Ayana mengikuti gerak mata tersebut.

Emir ternyata menyadari keberadaan mereka berdua dan membuat mereka berdua berdiri dengan menundukkan kepala sekadar menyapa atasannya itu.

Emir tidak menanggapi dan menarik kursi dengan duduk di depan temannya.

"Aisss, kenapa juga kita harus bertemu dengan pimpinan di tempat makan seperti ini padahal sudah aku berjam-jam kita bertemu di kantor," ucap Diva pelan.

Ayana hanya tersenyum getir menanggapi protes dari temannya itu.

"Bukankah itu adalah sekretaris mu?" tanya pria yang duduk di hadapan Emir.

"Benar," jawab Emir melihat menu makanan tersebut.

"Aku berkali-kali menghubunginya untuk bertemu denganmu, tetapi dia terus saja mengatakan akan menanyakan terlebih dahulu, eh ketika aku menelponnya kembali dia tidak menanggapinya," keluh Dean.

"Setiap hari di kantor banyak penelepon dalam pekerjaan dan mungkin saja dia memilih siapa yang pantas untuk ditanggapi dan tidak," sahut Emir.

"Jadi menurutmu aku tidak pantas dan apa harus bertemu dengan sahabat sendiri harus melalui sekretaris dengan mengatur jadwal untuk makan malam seperti ini?" tanya Dean.

"Bukankah jika ingin bertemu denganku kau bisa langsung menghubungi tapi tanpa melalui sekretarisku," sahut Emir.

"Hey tuan Emir, apa menurutmu kau akan mengangkat teleponku, aku saja tidak tahu malaikat apa yang merasuki kamu tiba-tiba saja menghubungiku tadi siang," sahut Dean.

Emir tidak menanggapi protes dari temannya itu. Seorang pelayan menghampiri meja mereka dan mencatat pesanan kedua orang tersebut sampai akhirnya pada waktu meninggalkan kedua orang itu.

"Hmmm, berikan kepadaku nomornya!" Dean tiba-tiba saja memberikan ponselnya kepada Emir.

"Ayana maksudku," sahut Dean dengan mengedipkan sebelah matanya.

"Aku tidak punya," jawab Emir.

"Bohong, bilang saja kau tidak ingin membagi nomor sekretaris mu yang cantik itu kepadaku, kau takut sekali jika aku akan menggodanya," sahut Dean menarik kembali ponselnya karena sudah pasti tidak akan diberikan oleh temannya.

"Jika ingin meminta nomornya maka mintalah sendiri kepadanya," sahut Emir.

"Baiklah nanti kalau minta secara langsung kepadanya dan aku akan meneleponnya kapanpun aku mau," sahut dean dengan petangtang-petengteng.

Emir tidak merespon ucapan temannya itu dan melihat sebentar ke arah Ayana yang juga melanjutkan makan bersama dengan Diva.

Ayana dan Diva sudah pasti tidak sebebas sejak awal mereka makan di sana karena takut jika melakukan kesalahan sudah pasti akan mendapat teguran atasannya itu meskipun tidak berada di area ke kantor.

"Ayana apa kita langsung pulang saja?" tanya Diva sudah mulai tidak nyaman.

"Aku tanya Mama dulu sudah pulang atau tidak," ucap Ayana.

"Baiklah, semoga saja ibu kamu sudah pulang dan kamu juga bisa pulang dan beristirahat, kalau tidak pulang kamu menginap di kosanku aja," ucap Diva memberi saran membuat Ayana hanya mengangguk saja.

Bersambung.....

1
Oma Gavin
wah emir jadi sasaran empuk lastri nanti pakai jurus pamungkas obat lucknut biar emir kepanasan dan majuk jebakan lastri
shinta liliand
emir gk gentle bgt jd cowok.. tp jg kaasae ngomong sama omanya hmmm susaaah
Enz99
bagus
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dew666
💜💜💜💜
Dew666
🍎🍎🍎
nurlizan lizan
thor lbh teliti lg, bnyak typo🙏
Dew666
💝💝💝
Ridwani
👍👍👍👍👍👍
Dew666
👄👄👄
Ridwani
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!