NovelToon NovelToon
Gara-gara One Night Stand

Gara-gara One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: dina Auliya

Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.


Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.


Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Yang Mulai Terbentuk

Siang itu matahari tidak terlalu terik. Langit sedikit berawan, memberi bayangan lembut di area taman kampus tempat Nayra duduk. Angin berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun yang mulai menguning.

Suasana tenang. Namun di dalam diri Nayra—Tidak sepenuhnya demikian. Rina sudah pergi sejak beberapa menit lalu. Percakapan mereka masih terngiang di kepala Nayra. Tentang rahasia. Tentang kejujuran. Dan tentang satu hal yang terus mengikat semuanya—

Nayra menatap kosong ke depan. Tangannya berada di atas pangkuan, saling menggenggam erat. Ia mencoba mengatur napas. Namun pikirannya terus berputar.

“Udah bukan orang asing lagi.” Kalimat yang tadi ia ucapkan pada Rina—

Masih terasa asing bagi dirinya sendiri. Kapan tepatnya itu berubah? Kapan pria yang dulu hanya satu malam dalam hidupnya. Menjadi seseorang yang terus hadir?

“Na!” Suara Sinta terdengar dari kejauhan. Langkahnya cepat menghampiri. Membawa dua minuman dingin di tangannya.

“Ini,” katanya sambil menyerahkan satu pada Nayra.

Nayra menerimanya pelan. “Makasih.”

Sinta duduk di sampingnya. Melihat wajah Nayra yang masih terlihat berpikir.

“Ngobrol sama Rina berat ya?”

Nayra mengangguk kecil. “Iya…”

“Dia gimana?” tanya Sinta.

“Dia nggak cerita ke siapa-siapa,” jawab Nayra.

Sinta menghela napas lega. “Syukurlah.”

Beberapa detik mereka diam. Lalu Sinta melirik Nayra.

“Terus?”

Nayra menoleh. “Terus apa?”

“Kamu cerita tentang dia?” tanya Sinta sambil mengangkat alis.

Nayra menunduk sedikit. “Dikit.”

“Dikit itu berapa?” kejar Sinta.

Nayra menghela napas pelan. “Aku bilang… dia mau tanggung jawab.”

Sinta tersenyum tipis. “Dan kamu?”

Nayra menggigit bibir bawahnya. “Aku bilang… Aku belum tahu.”

Sinta mengangguk pelan. “Setidaknya kamu jujur.”

Angin kembali berhembus. Membawa suasana yang sedikit lebih ringan. Namun tidak cukup untuk menghapus kebingungan itu.

“Na,” panggil Sinta lagi.

“Iya…”

“Kamu pernah mikir… kalau dia nggak datang?”

Nayra menoleh.

“Kalau dia nggak pernah nyari kamu… nggak pernah tahu soal ini,” lanjut Sinta. “Kamu bakal gimana?”

Nayra terdiam. Pertanyaan itu— Sederhana. Tapi menusuk.

Ia menatap ke depan. Membayangkan. Hidup tanpa kehadiran Arsen. Tanpa pesan singkat. Tanpa perhatian kecil. Tanpa seseorang yang… terus ada.

“Aku bakal tetap jalan sendiri,” jawabnya pelan.

Sinta mengangguk. “Iya.”

“Tapi sekarang dia ada.”

Kalimat itu— Menggantung di udara. Dan Nayra tidak bisa menyangkalnya. “Iya…” bisiknya.

Beberapa detik hening. Lalu Nayra berkata pelan— “Dan itu yang bikin semuanya jadi susah.”

Sinta menatapnya. “Kenapa?”

Nayra menelan ludah. “Karena aku mulai terbiasa.”

Sinta tidak langsung menjawab. Namun matanya melembut. “Terbiasa itu nggak selalu buruk, Na.”

Nayra tersenyum pahit. “Kalau akhirnya nyakitin, itu buruk.”

Sinta menghela napas panjang. “Kamu selalu mikir sejauh itu.”

Nayra tidak menjawab. Karena memang begitu. Ia selalu memikirkan kemungkinan terburuk.

Di sisi lain— Mobil hitam itu masih berada di tempat yang sama.

Namun hari ini— Arsen tidak keluar.

Ia duduk di kursi belakang. Jasnya dilepas. Kemeja sedikit terbuka di bagian leher. Tangannya memegang ponsel. Namun tidak ada pesan baru.

“Pak…” Raka membuka suara pelan.

“Iya?”

“Bapak nggak mau turun?” Arsen menatap ke depan. Ke arah taman. Namun dari posisi itu— Ia hanya bisa melihat sebagian.

“Enggak,” jawabnya singkat.

Raka mengangguk. “Masih kasih ruang?”

Arsen menghela napas. “Iya.”

Namun beberapa detik kemudian— Ia melanjutkan pelan— “Tapi aku tetap di sini.”

Raka tersenyum kecil. “Biar dia tahu?”

Arsen tidak menjawab. Namun jawabannya sudah jelas.

Di taman, Nayra tiba-tiba menoleh. Entah kenapa. Perasaan itu datang lagi. Ia melihat ke arah jalan. Ke arah parkiran. Mobil itu—Masih di sana. Nayra terdiam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

“Kamu lihat apa?” tanya Sinta.

Nayra tidak langsung menjawab. Matanya masih terpaku. “Itu…” Ia menunjuk pelan.

Sinta mengikuti arah pandangnya. Lalu tersenyum kecil. “Dia lagi.”

Nayra menghela napas panjang. “Kenapa dia nggak capek sih…”

Sinta tertawa pelan. “Mungkin karena dia serius.”

Nayra menunduk. Tangannya kembali menggenggam minuman di tangannya. “Aku harus gimana, Sin…”

Sinta menatapnya. “Sekali lagi… kamu yang tahu jawabannya.”

Nayra menggeleng pelan. “Masalahnya… aku belum tahu.”

Beberapa menit berlalu. Suasana kembali tenang. Namun kali ini— Nayra tidak lagi mengalihkan pandangannya sepenuhnya.

Ia tahu— Arsen ada di sana. Dan entah kenapa— Itu membuatnya sedikit… tenang.

Sore mulai turun. Langit berubah warna.

Oranye keemasan menyelimuti kampus.

“Pulang?” tanya Sinta.

Nayra mengangguk. “Iya…”

Mereka berdiri. Berjalan keluar dari taman.

Saat melewati gerbang— Mobil itu masih ada.

Kali ini— Pintu terbuka. Arsen turun. Langkahnya tidak terburu. Namun jelas—

Ia menuju ke arah mereka.

Nayra berhenti. Sinta juga. Beberapa detik—

Mereka saling menatap.

“Udah selesai?” tanya Arsen. Nada suaranya biasa. Seperti menanyakan hal sederhana.

“Iya,” jawab Nayra pelan.

Arsen mengangguk. “Capek?”

Nayra mengangkat bahu sedikit. “Lumayan.”

“Aku antar,” ucap Arsen.

Nayra terdiam.

Sinta meliriknya. Memberi isyarat kecil. “Na…”

Nayra menghela napas. Lalu— Mengangguk pelan. “Iya…” Jawaban itu— Tidak lagi berat seperti sebelumnya.

Arsen membuka pintu mobil. Kali ini—

Tanpa penolakan.

Di dalam mobil—bmSuasana tidak lagi seasing dulu. Nayra duduk di belakang.

Sinta di sampingnya. Arsen di depan.

Namun sesekali— Matanya bertemu dengan Nayra lewat kaca spion. Tidak ada kata.

Namun tidak juga canggung. Beberapa menit perjalanan— Nayra akhirnya membuka suara.

“Kamu dari tadi di situ?”

Arsen menjawab tanpa menoleh. “Iya.”

“Kenapa nggak pulang aja?”

Arsen terdiam sebentar. “Aku nunggu.”

Nayra menatap ke depan. “Nunggu apa?”

Arsen menjawab pelan— “Nunggu kamu.”

Jawaban itu— Tidak dramatis. Namun, langsung masuk.

Nayra menunduk. Tidak membalas.

Namun wajahnya sedikit berubah.

Sinta di sampingnya hanya tersenyum kecil.

Mobil berhenti di depan kos. Nayra turun.

Namun kali ini— Ia tidak langsung pergi. Ia berdiri. Menatap Arsen. Beberapa detik.

“Arsen…”

Arsen menoleh.

“Aku belum bisa jawab semuanya sekarang.”

Arsen mengangguk. “Iya.”

“Tapi…” Nayra berhenti sejenak. “Aku nggak nolak mu lagi.”

Sunyi. Kalimat itu sederhana. Namun—

Sangat berarti. Arsen tidak tersenyum lebar.

Tidak bereaksi berlebihan. Hanya satu hal—

Tatapannya berubah.bLebih hangat. “Cukup,” ucapnya pelan.

Nayra mengangguk kecil. Lalu berbalik. Masuk ke dalam kos. Sinta mengikuti di belakangnya.

Di dalam kamar— Sinta langsung menatapnya.

“Na…”

Nayra duduk di ranjang. Menutup wajahnya sebentar. “Aku capek…”

Sinta tersenyum. “Capek… atau lega?”

Nayra terdiam. Lalu— Tersenyum kecil. “Dua-duanya…”

Di luar— Arsen masih berdiri di dekat mobilnya.

Raka mendekat. “Pak?”

Arsen menatap ke arah bangunan kos. “Dia mulai buka pintu.”

Raka tersenyum. “Selangkah lagi.”

Arsen menggeleng pelan. “Enggak.”

Tatapannya tetap tenang. “Pelan-pelan aja.”

To be continued 🙂🙂🙂

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!