NovelToon NovelToon
THE 100 BILLION SECRETARY

THE 100 BILLION SECRETARY

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan Malam Perayaan

Malam itu, kemewahan menyelimuti Grand Ballroom hotel bintang lima di pusat Jakarta. Cahaya lampu gantung kristal berpendar keemasan, memantul pada gelas-gelas sampanye dan perhiasan para tamu undangan. Ini adalah pesta hari jadi perusahaan yang ke-25, sebuah pencapaian besar yang dirayakan dengan sangat meriah.

Arselan berdiri di tengah kerumunan, tampak sangat gagah dengan setelan tuxedo hitam yang dijahit sempurna. Di sampingnya, Gisella tampil memukau dengan gaun malam berbahan satin berwarna midnight blue yang memeluk lekuk tubuhnya dengan elegan. Di sudut lain, Sisil yang turut diundang secara khusus oleh Arsel karena keakraban mereka sejak liburan di Bali tampak sibuk menikmati hidangan mewah sambil sesekali mengedipkan mata pada Gisel.

Namun, di balik kemeriahan itu, sepasang mata penuh dendam dan obsesi terus mengawasi Arsel. **Siska**, salah satu karyawan senior di bagian keuangan yang sudah bertahun-tahun mengincar posisi di samping Arsel, merasa ini adalah kesempatan terakhirnya. Ia tidak tahan melihat kedekatan Arsel dan Gisel yang semakin hari semakin terang-terangan.

Siska berjalan mendekati meja minuman saat pelayan sedang lengah. Dengan gerakan cepat, ia menjatuhkan butiran kecil ke dalam gelas minuman yang ia tahu adalah pesanan khusus milik Arsel.

"Ini minuman Anda, Pak Arsel," ucap Siska dengan senyum manis yang dipaksakan saat ia menyerahkan gelas itu langsung kepada sang CEO.

Arsel, yang sedang fokus berbicara dengan kolega, menerima gelas itu dan meminumnya tanpa rasa curiga.

Hanya butuh waktu lima belas menit hingga Arsel merasakan sesuatu yang tidak beres. Awalnya, ia merasa dadanya berdebar sangat kencang. Ia mengira itu hanya efek kelelahan, namun perlahan suhu tubuhnya meningkat drastis. Keringat mulai membasahi keningnya, dan pandangannya menjadi sedikit kabur.

"Gisella, saya... saya ke toilet sebentar," pamit Arsel dengan suara yang terdengar lebih berat dan serak.

Siska, yang melihat korbannya mulai bereaksi, segera bersiap untuk menyusul. Namun, tepat saat ia melangkah, seorang teman lamanya menahan lengannya dan mengajaknya mengobrol panjang lebar soal proyek baru. Siska terjebak, wajahnya tampak gusar sementara Arsel sudah menghilang di balik pintu koridor toilet.

Di saat yang sama, Sisil yang baru saja keluar dari toilet wanita terkejut melihat sosok yang ia kenal sedang bersandar di dinding koridor.

"Pak Arsel?" Sisil menghampiri dengan cemas. "Bapak kenapa? Mukanya merah padam banget, Bapak sakit?"

Arsel tidak menjawab, ia hanya mengerang pelan sambil terus melonggarkan dasinya. Napasnya terdengar memburu. Sisil yang melihat keadaan itu langsung berlari kembali ke ruang pesta untuk mencari sahabatnya.

"Gisel! Gisel!" bisik Sisil sambil menarik tangan Gisel menjauh dari kerumunan. "Lo buruan ke koridor toilet! Pak Arsel kayaknya kumat sakitnya, mukanya merah banget dan dia kayak orang linglung!"

Gisel segera berlari menuju lokasi yang disebutkan Sisil. Ia melihat Arsel sudah tidak ada di koridor, namun pintu salah satu bilik toilet tertutup rapat. Gisel mengetuk pintu itu berkali-kali.

"Pak Arsel? Bapak di dalam? Buka pintu, Pak!" seru Gisel panik.

Karena tidak ada jawaban, Gisel nekat merambas masuk dengan bantuan petugas hotel yang kebetulan lewat. Di dalam sana, ia menemukan Arsel sudah duduk di lantai, jasnya tergeletak di samping, dan kemejanya sudah terbuka setengah.

"Panas, Gisel... ini panas banget," rintih Arsel, keringat mengalir deras dari pelipisnya.

Gisel yang mengira demam Arsel saat di Bali kumat lagi, langsung memapah tubuh pria itu yang sangat berat. "Ya ampun, Bapak panas banget! Kita ke kamar Bapak saja di lantai atas untuk istirahat, ayo Pak."

Dengan susah payah, Gisel membawa Arsel ke *Presidential Suite* yang memang sudah dipesan untuk Arsel bermalam setelah pesta. Begitu sampai di dalam kamar, Gisel membantu Arsel duduk di tepi ranjang. Ia berniat pergi untuk mencari air hangat dan kompres.

"Bapak tunggu di sini, saya ambilkan—"

*Grep!*

Tangan Arsel yang panas mencengkeram pergelangan tangan Gisel dengan kuat. Ia menarik Gisel hingga gadis itu terduduk di pangkuannya.

"Tolong, Gisel... ini benar-benar panas," bisik Arsel tepat di telinga Gisel. Suaranya penuh damba, bukan suara orang yang sedang sakit demam biasa.

Sebelum Gisel sempat bereaksi, Arsel langsung menangkup wajah Gisel dan mencium bibirnya dengan rakus. Ciuman itu tidak seperti biasanya yang penuh kelembutan; kali ini ciuman itu terasa mendesak, menuntut, dan penuh dengan gairah yang tak terkendali.

Gisel awalnya mencoba meronta. "Pak... jangan, Pak Arsel! Bapak lagi sakit, ini nggak bener!"

Namun, Arsel seolah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Sentuhan tangan Arsel di pinggangnya membuat tubuh Gisel bergetar. Gisel yang selama ini memang sudah menyimpan perasaan tulus pada pria itu, perlahan mulai melemah. Ia mulai membalas ciuman Arsel, terhanyut dalam suasana panas yang diciptakan oleh obat di tubuh Arsel dan kerinduan di dalam hatinya sendiri.

"Jangan pak... hhh..." rintih Gisel saat tangan Arsel mulai meraba ritsleting di punggung gaunnya.

Arsel tidak mendengarkan. Ia menatap mata Gisel dengan tatapan gelap yang memabukkan. "Hanya kamu, Gisel. Hanya kamu yang bisa memadamkan api ini."

Dengan gerakan yang cepat namun penuh dominasi, Arsel membuka gaun satin itu, membiarkannya jatuh ke lantai. Malam itu, di bawah temaram lampu kamar hotel, segala batasan antara atasan dan bawahan, segala kontrak 100 miliar, dan segala keraguan pun sirna. Mereka tenggelam dalam lautan gairah yang membara, mengubah perayaan kantor menjadi malam yang tak akan pernah bisa mereka lupakan selamanya.

Tanpa mereka sadari, jebakan Siska justru menjadi kunci yang membuka gerbang perasaan yang selama ini mereka kunci rapat-rapat.

1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
kok cepet banget bacanya kak😅😅🙏🙏
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
10 jam 🤣🤣🤣
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
yeeeeee tetap semangat kak 💪💪❤️❤️
makacih udah update 🙏
Nessa
hai kak… aku mampir ceritanya seruuu.. di tunggu up brikutnya… semangat 😍👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!