Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 November 1945
Mbah Sidik terdiam, tatapannya yang semula teduh kini berubah menjadi setajam silet. Ia merogoh saku bajunya, mengeluarkan sebuah lencana kuno yang sudah kusam namun masih memancarkan wibawa.
"Ahmad," suara Mbah Sidik rendah, seolah membawa guntur dari masa lalu. "Kemerdekaan yang kita rayakan di Purwodadi dan Jepara itu ternyata baru permulaan. Belum kering tinta proklamasi, sekutu datang membawa nafsu Belanda yang ingin kembali menjajah. Dan puncaknya adalah di Surabaya."
Kabar tentang kematian Jenderal Mallaby dan ultimatum kejam dari Jenderal Mansergh sampai ke telinga Sidik di Jepara. Darah veterannya mendidih. Ia tahu, jika Surabaya jatuh, maka seluruh Indonesia akan kembali ke dalam kegelapan.
Sidik mengumpulkan anak buahnya yang setia di bawah pohon beringin. "Kawan-kawan, seragam kita mungkin sudah kita simpan, tapi sumpah kita tidak pernah mati. Surabaya memanggil. Siapa yang ikut?"
Tanpa ragu, seluruh pasukannya serentak berdiri. Maryam, dengan ketabahan seorang istri ksatria, hanya bisa memberikan restu lewat tatapan mata yang berkaca-kaca. Sidik mencium kening bayinya, lalu berangkat memimpin pasukannya menyelinap masuk ke kota Surabaya yang sudah dikepung dari segala penjuru.
10 November 1945, pukul 06.00 pagi. Ultimatum sekutu berakhir, dan neraka benar-benar pecah. Langit Surabaya tertutup oleh pesawat-pesawat Inggris yang menjatuhkan bom tanpa henti. Kapal perang dari laut menembakkan meriam besar yang menghancurkan gedung-gedung kota.
Sidik dan pasukannya berada di garis depan, di sekitar wilayah Jembatan Merah. Mereka tidak punya tank, tidak punya pesawat. Mereka hanya punya nyali, bambu runcing, dan beberapa pucuk senjata rampasan.
"Jangan menunduk!" teriak Sidik di tengah desing peluru yang membelah udara. "Ingat kata Bung Tomo! Lebih baik hancur lebur daripada dijajah kembali!"
Sidik mengatur strategi gerilya kota. Ia menyuruh anak buahnya masuk ke lorong-lorong sempit, menyerang tank-tank Inggris dengan bom molotov dan jebakan-jebakan cerdik yang ia pelajari di hutan Kalimantan. Setiap kali suara radio Bung Tomo menggema meneriakkan "Allahu Akbar!" semangat Sidik dan anak buahnya kembali berkobar meski raga sudah bersimbah darah dan debu mesiu.
Pertempuran itu bukan hanya soal senjata, tapi soal ketahanan jiwa. Sidik melihat anak-anak muda Surabaya maju menerjang senapan mesin hanya dengan keberanian. Kota itu terbakar, bau mayat dan mesiu menyatu di udara.
Di tengah pertempuran yang paling sengit, Sidik sempat terpojok oleh pasukan infantri Inggris. Dalam kondisi terjepit, ia kembali menggunakan insting strateginya. Ia memerintahkan anak buahnya untuk tidak menembak sampai musuh berada dalam jarak lima meter.
"Sekarang!" teriak Sidik.
Serangan mendadak dari jarak dekat itu membuat pasukan sekutu yang bersenjata modern sekalipun menjadi kocar-kacir. Sidik bertarung seperti singa, memastikan setiap jengkal tanah Surabaya dibayar dengan harga yang mahal oleh musuh. Ia tidak menggunakan ilmu kesaktiannya secara pamer, namun ketenangannya di bawah hujan bom membuat anak buahnya yakin bahwa mereka dilindungi oleh tangan Tuhan.
Sepuluh November, Surabaya menjadi saksi,
Tentang harga diri bangsa yang tak bisa dibeli.
Baja-baja Inggris mengepung dari segala sisi,
Namun mereka lupa bahwa kami punya iman di dalam hati.
Bung Tomo membakar jiwa lewat suara di udara,
Sidik memimpin barisan di tengah api yang membara.
Jembatan Merah memerah oleh darah yang suci,
Tentang janji setia yang dibawa sampai mati.
Ahmad, jangan kau tanya seberapa besar luka kami,
Tanyakan seberapa besar cinta kami pada bumi ini
Surabaya mungkin hancur oleh bom dan meriam,
Tapi semangat kami takkan pernah bisa mereka padam.
Mbah Sidik mengusap dadanya, nafasnya terasa berat seolah asap mesiu itu masih ada di sana. "Tiga minggu kami bertahan di neraka itu, Ahmad. Ribuan kawan Bapak gugur. Namun dunia akhirnya tahu, Indonesia tidak bisa lagi ditindas. Surabaya menjadi bukti bahwa bambu runcing bisa membuat meriam sekutu gemetar."
Ahmad memegang tangan bapaknya yang gemetar. "Bapak selamat dari pertempuran sehebat itu?"
"Tuhan masih meminjamkan nafas untuk Bapak, Ahmad," jawab Mbah Sidik lirih. "Agar Bapak bisa bercerita padamu, supaya kau tidak pernah meremehkan kata 'Merdeka'. Sebab kata itu dibayar dengan nyawa di sepanjang jalanan Surabaya."
Mbah Sidik menarik napas panjang, matanya tampak berkaca-kaca menatap kejauhan, seolah ia bisa mencium kembali bau mesiu yang menyengat dari bulan November1945 itu. Ia memegang bahu Ahmad, suaranya kini terdengar berat namun penuh kebanggaan.
"Ahmad, 23 hari kami berada di dalam 'inferno', sebuah neraka dunia di Surabaya," bisik Mbah Sidik.
Senin, 3 Desember 1945. Surabaya sudah menjadi kota hantu. Asap hitam masih membumbung dari gedung-gedung yang hancur lebur dihantam meriam kapal perang Inggris. Sekutu menyangka dengan bom-bom besar itu kami akan menyerah, tapi mereka keliru. Mereka memang menduduki jalanan protokol, tapi mereka tidak pernah benar-benar menguasai jiwa kota itu.
"Bapak dan kawan-kawan tidak langsung mundur begitu saja," kenang Sidik. "Meski pasukan besar mulai bergeser ke luar kota, Bapak memerintahkan beberapa anak buah terbaik untuk tetap tinggal. Kami menjadi 'hantu' di antara reruntuhan."
Sebagai ahli strategi, Sidik tahu bahwa melawan tank dengan dada terbuka adalah bunuh diri. Maka, ia menerapkan taktik *Penembak Runduk* atau *sniper*. Anak buah Sidik menyelinap ke puncak-puncak gedung yang masih berdiri, bersembunyi di balik puing, menanti serdadu Inggris lewat dengan perasaan jemawa.
Satu peluru, satu nyawa.
"Banyak serdadu Gurkha dan Inggris yang mati konyol karena peluru kawan-kawan Bapak. Mereka bingung, musuhnya tidak terlihat tapi maut selalu mengintai di setiap tikungan jalan. Kami bangga bisa mempermainkan tentara yang katanya pemenang Perang Dunia itu," ucap Mbah Sidik dengan senyum pahit.
Mbah Sidik terdiam sejenak, mengingat betapa mahalnya harga yang harus dibayar. Sekira 15 ribu saudara sebangsa gugur di Surabaya. Tanah itu benar-benar menjadi sakral karena basah oleh darah pejuang. Namun, perlawanan keras dari Sidik dan puluhan ribu pejuang lainnya membuat nyali Inggris ciut.
Mereka yang datang dengan sombong, akhirnya mengakui bahwa Pertempuran Surabaya adalah perang terberat yang pernah mereka alami pasca Perang Dunia II. Jenderal-jenderal mereka tewas, ribuan prajurit mereka gugur, dan mental mereka hancur.
"Inggris mulai sadar, Ahmad. Berlama-lama di Indonesia adalah tindakan bunuh diri. Kami membuat mereka merasa seperti masuk ke dalam gudang mesiu yang siap meledak kapan saja."
Desember datang dengan langit yang kelabu,
Membawa sisa bau mesiu dan debu yang membatu.
Surabaya memang hancur oleh dentuman meriam,
Namun semangat kami takkan pernah bisa mereka bungkam.
Kami adalah penembak runduk di balik dinding tua,
Menjadi hantu yang membuat nyali musuh menjadi hancur semua.
Biar mereka punya tank dan pesawat tempur,
Kami punya tekad yang takkan pernah bisa luntur.
Ahmad, ingatlah lima belas ribu nyawa yang melayang,
Agar Merah Putih bisa terus berkibar dengan tenang.
Surabaya bukan sekadar kota, ia adalah saksi,
Bahwa kedaulatan bangsa ini takkan bisa mereka beli.
Mbah Sidik menatap tangannya yang tua. "Setelah Surabaya, Inggris mulai mencari jalan keluar. Mereka takut, Ahmad. Mereka takut pada orang-orang seperti Bapak, orang-orang yang lebih memilih mati daripada dijajah kembali. Itulah alasan kenapa mereka akhirnya angkat kaki dari tanah ini."
"Lalu setelah dari Surabaya, Bapak kembali ke mana?" tanya Ahmad pelan.
"Bapak kembali ke Jepara, Ahmad. Membawa luka di raga, tapi membawa kemerdekaan di dalam dada. Bapak kembali untuk membesarkan anak bapak, agar dia tahu bahwa tanah yang ia pijak ini adalah tanah para pahlawan."
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
q berasa kaya lagi ngaji thor
siapa kah sebenarnya kang sidik ?