NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Detak jantung Charles yang beraturan di bawah telingaku terasa seperti satu-satunya hal yang nyata di dunia ini. Di dalam pelukannya yang hangat dan kokoh, gemuruh badai di luar apartemen seolah-olah diredam oleh dinding tak kasat mata. Aroma kayu cendana dan wangi khas kemeja katunnya yang bersih menguar, perlahan-lahan mengusir rasa sesak yang sejak siang tadi menyumbat dadaku. Aku memejamkan mata, meresapi setiap detik keheningan ini, mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak sedang bermimpi. bahwa aku benar-benar aman di sini, di samping pria yang beberapa bulan lalu masih menjadi orang asing yang paling kutakuti.

Perlahan, aku melonggarkan cengkeramanku pada kemejanya. Aku mendongak sedikit, menatap garis rahangnya yang tegas dan sepasang mata tajam yang biasanya memancarkan kedinginan tanpa batas. Namun malam ini, mata itu menatapku dengan kelembutan yang begitu pekat, sebuah tatapan yang belum pernah kulihat diberikan Charles kepada siapa pun di duniaku yang lama.

"Sudah merasa lebih baik?" suaranya rendah, bergetar lembut di dadanya, mengirimkan rasa hangat yang menenangkan ke dalam hatiku.

Aku mengangguk pelan, lalu perlahan menegakkan tubuhku, meskipun tangan Charles masih melingkar protektif di pinggangku, seolah-olah ia takut jika ia melepaskannya, aku akan kembali rapuh dan luruh ke lantai. Aku menyeka sisa air mata di sudut mataku dengan ujung jari, merasa sedikit malu karena telah menumpahkan seluruh tangis dan kelemahanku di hadapannya.

"Maafkan aku, Charles," bisikku, suaraku masih agak serak. "Aku... aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi kuat setelah kita berbicara dengan Kakek tadi. Tapi setelah membaca berita tentang Vivian di internet, aku merasa seperti kembali menjadi anak kecil yang kehilangan arah. Aku merasa duniaku yang dulu benar-benar telah hancur, dan duniaku yang baru ini terlalu besar dan menakutkan untuk kuhadapi."

Charles tidak memotong kalimatku. Ia mendengarkan dengan kesabaran seorang pria yang telah melewati ribuan badai dalam hidupnya sendiri. Ia meraih jemariku, membawa tangan kecilku ke dalam genggamannya, lalu mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. Sentuhannya yang konstan dan berulang-ulang itu menjadi penenang instan bagi saraf-sarafku yang tegang.

"Andini," ucapnya, menatapku lurus-lurus. "Wajar jika kau merasa takut. Dunia yang kuhadapi setiap hari memang penuh dengan orang-orang seperti Vivian—mereka yang menghalalkan segala cara demi kepuasan ego dan kekuasaan. Tapi yang perlu kau tanamkan di dalam pikiranmu adalah: kau tidak sedang menghadapi mereka sendirian. Kau memiliki aku, dan aku memiliki seluruh kekuatan yang dibutuhkan untuk menjadi perisaimu."

Aku menatap tangan kami yang bertautan. Kontras sekali. Tangannya besar, penuh dengan gurat ketegasan seorang pemimpin, sedangkan tanganku kecil dan tampak rapuh. Namun, di dalam genggaman itu, tidak ada pemaksaan. Hanya ada perlindungan yang mutlak.

"Saat aku berada di ruang Kepala Sekolah kemarin, dan saat petugas polisi datang ke sini semalam," aku memulai lagi, mencoba menumpahkan sisa gundah yang masih mengganjal di sudut hati, "aku teringat pada Bapak Sudarman. Bapak selalu bilang bahwa nama baik adalah satu-satunya harta yang dibawa sampai ke liang kubur oleh orang miskin seperti kami. Ketika sekolah memintaku pergi, dan ketika Vivian menuduhmu melakukan hal yang tidak terhormat padaku, aku merasa telah gagal menjaga harta itu, Charles. Aku merasa seolah-olah nama Bapak dan Ibu ikut tercoreng karena situasi ini."

Mendengar nama orang tuaku disebut, ekspresi Charles melembut secara dramatis. Lengannya yang melingkar di pinggangku sedikit mengetat, menarikku kembali mendekat ke arah tubuhnya.

"Sudarman dan Narsiah tidak akan pernah tercoreng oleh tindakan orang-orang picik seperti Vivian, Andini," suara Charles terdengar begitu mantap, penuh dengan rasa hormat yang tulus kepada mendiang orang tuaku. "Mereka telah berhasil mendidik seorang putri yang luar biasa. Di ruang pemeriksaan semalam, kau tidak merendahkan dirimu sendiri. Kau tidak membiarkan para penyidik itu mendikte perasaanmu. Kau membela kebenaran hubungan kita dengan kepala tegak. Di mataku, dan di mata siapa pun yang memiliki hati nurani, kau telah menjaga kehormatan keluargamu dengan sangat baik."

Ia berhenti sejenak, lalu mengangkat tangan kanannya untuk merapikan beberapa helai rambutku yang berantakan dan menempel di pipi karena sisa air mata. "Jika ada yang harus merasa bersalah di sini, itu adalah aku. Akulah yang membawamu masuk ke dalam pusaran air yang keruh ini. Tapi aku berjanji padamu, demi memori Bapak dan Ibumu, aku akan memastikan bahwa akhir dari cerita ini adalah kemenangan atas martabatmu."

Kata-kata Charles malam itu mengalir seperti air sejuk di atas tanah yang gersang. Rasa bersalah yang selama ini menghimpit pundakku perlahan-lahan menguap. Aku menyadari bahwa pria di sampingku ini benar-benar menghargai jiwaku, menghargai masa laluku, dan menghargai nilai-nilai kesederhanaan yang kubawa dari rumah kecilku yang dulu sering bocor saat hujan.

Aku menyandarkan kembali punggungku ke sandaran sofa, menatap ke arah meja makan tempat buku catatan pemberian Bapak tergeletak di samping cangkir cokelat panas yang mulai mendingin. "Tahukah kau, Charles? Dulu, ketika hujan deras turun dan atap rumah kami bocor, Ibu Narsiah selalu menaruh ember-ember di lantai untuk menampung airnya. Ibu akan mengajakku duduk di dekat ember-ember itu, lalu kami akan mendengarkan bunyi tetesan air yang jatuh—*tik, tik, tik*—seperti sebuah lagu. Ibu bilang, 'Jangan mengutuk hujan yang membuat rumah kita basah, Andini. Dengarkan saja musiknya, karena setelah hujan selesai, langit akan selalu memberikan udara yang paling bersih untuk kita hirup.'"

Aku tersenyum kecil, ingatan masa lalu itu membawa kedamaian yang hangat ke dalam dadaku. "Semalam, saat kita berdiri di balkon dan kau memelukku, aku merasa seperti kembali ke masa itu. Aku merasa seolah-olah kau adalah orang yang bersedia membantuku menaruh ember-ember di bawah atap yang bocor, agar aku tidak perlu ketakutan sendirian menghadapi badai."

Charles terdiam cukup lama setelah mendengar ceritaku. Sorot matanya bergetar, seolah-olah kata-kata sederhana tentang Ibu Narsiah telah menyentuh bagian terdalam dari hatinya yang selama ini membeku. Ia tidak berbicara, namun ia membawa tangan komunikasiku ke bibirnya, mengecup punggung tanganku dengan lembut dan lama. Sebuah tindakan yang jauh lebih berbicara daripada seribu untai kalimat janji.

"Aku akan memastikan tidak ada lagi atap yang bocor dalam hidupmu, Andini," bisiknya setelah melepaskan kecupannya, suaranya sarat dengan emosi yang mendalam. "Aku mungkin tidak bisa mengubah apa yang sudah dilakukan oleh Vivian atau media di luar sana, tapi aku bisa menjamin bahwa di dalam ruang lingkup duniaku, tidak akan ada satu orang pun yang diizinkan untuk menyakitimu lagi. Mulai besok, guru-guru privatmu akan datang. Kau akan belajar di sini, menulis ceritamu di sini, dan meraih impianmu tanpa perlu memedulikan penilaian dunia luar yang beracun."

Aku menatapnya dengan rasa syukur yang tak terhingga. Di saat semua orang memalingkan wajah dan memintaku pergi karena aku dianggap sebagai "skandal", Charles justru membuka pintunya lebar-lebar, memperluas dunianya sendiri agar aku bisa memiliki ruang untuk tumbuh. Ia tidak memperlakukanku sebagai beban kontrak, melainkan sebagai seseorang yang berharga untuk dilindungi.

"Terima kasih, Charles," ucapku tulus, mataku kembali berkaca-kaca, namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa haru yang membuncah. "Terima kasih karena telah menjadi pelabuhan terakhirku setelah hari yang sangat panjang dan melelahkan ini."

"Tidurlah," jawabnya lembut, sambil mengusap pundakku. "Malam sudah larut, dan kau butuh mengistirahatkan pikiranmu. Besok adalah awal dari lembaran yang baru."

Charles bangkit dari sofa, lalu mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Kami berjalan beriringan menuju kamar tidurku. Di ambang pintu, ia berhenti, menatapku untuk terakhir kalinya malam itu dengan senyum tipis yang menenangkan.

"Selamat malam, Andini. Bermimpilah yang indah," ucapnya.

"Selamat malam, Charles," jawabku seiring dengan langkahku memasuki kamar.

Saat aku merebahkan tubuh di atas ranjang yang empuk dan menarik selimut hingga ke dada, aku menatap langit-langit kamar yang tinggi dan kokoh. Tidak ada suara tetesan air hujan yang bocor malam ini. Hanya ada suara detak jam dinding yang tenang. Di dalam kegelapan kamar, aku membuka buku catatan Bapak di dalam pikiranku, siap untuk menuliskan bab baru dalam hidupku keesokan hari. Aku tahu badai hukum dan kelicikan Vivian mungkin masih mengintai di luar sana, namun selama ada Charles Utama yang berdiri sebagai perisai di depan pintuku, aku tahu aku tidak akan pernah lagi berjalan dalam ketakutan. Aku telah menemukan rumahku yang baru, dan di sini, aku akhirnya bisa tidur dengan damai.

1
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!