NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB SEMBILAN

Maharani menatap jendela; di sana lampu kota berkelip, dingin dan jauh. Di dalam, tekadnya kini mengeras menjadi sesuatu yang siap melawan. Ia menarik napas panjang, suaranya lebih tegas dari sebelumnya. “Kita akan bongkar ini sampai tuntas. Jangan sampai satu orang jahat bisa hancurkan hidupku cuma demi kepuasan dia sendiri.”

Reza menggenggam bahunya, suaranya pelan namun pasti. “Kita akan buktikan. Dan kalau perlu, kita bawa ini ke ranah pidana. Penyebaran deepfake yang merusak reputasi itu bisa dipidana. Gue akan pastikan hukum jalan.”

Siska mengangguk, mata berbinar penuh dukungan. “Kita bareng, Mbak. Kita lawan.”

Di atas ranjang, Maharani menutup kedua matanya sejenak. Tangisnya mereda menjadi napas panjang yang terkendali — bukan karena semua beres, tapi karena ia tidak lagi merasa sendirian. Di dalam dadanya, marah dan takut mencair menjadi tekad: bukan hanya untuk membersihkan nama, tapi untuk menuntut pertanggungjawaban siapa pun yang tega membuat gumpalan fitnah dari hidupnya.

Di luar, malam Lembang tetap dingin. Di dalam kamar, tiga orang menata rencana: menambal luka, mengumpulkan bukti, dan menyiapkan serangan balik yang rapi.

Belum sempat Maharani mengeringkan air matanya, ponselnya yang tergeletak di meja bergetar. Suara dering yang khas terdengar, membuat dadanya ikut berdegup. Ia melirik layar — nama Ayah terpampang jelas.

Wajah Maharani seketika menegang. Ia ragu untuk mengangkat, takut ayahnya sudah melihat berita yang beredar. Namun suara bergetar Siska memecah kebisuannya.

“Mbak… angkat aja. Beliau pasti khawatir.”

Dengan tangan gemetar, Maharani menyambar ponsel itu, menekan tombol hijau. “Halo, Yah…” suaranya lirih, hampir pecah.

Di seberang, terdengar suara berat dan hangat yang sudah lama ia rindukan, tapi kini terasa sarat dengan kecemasan.

“Rani… Nak, kamu nggak apa-apa kan? Ayah baru dapat kabar dari staf hotel. Apa betul ada… ada berita yang aneh-aneh tentang kamu?”

Maharani menggigit bibir, matanya kembali berkaca-kaca. “Ayah… itu fitnah. Itu bukan Rani, sumpah… Rani nggak pernah….” suaranya tersendat, air matanya kembali jatuh.

Ayahnya menarik napas panjang dari seberang, jelas menahan emosi. “Astaghfirullah… kenapa orang bisa sekejam itu, Nak? Ayah lagi di Kuala Lumpur, urus cabang hotel. Begitu dengar, ayah langsung cemas. Kalau Ayah bisa, Ayah mau langsung terbang malam ini juga.”

Reza memberi isyarat tangan agar Maharani tetap tenang dan jangan terlalu meledak. Maharani mencoba menstabilkan suaranya.

“Jangan, Yah… Ayah tenang aja dulu. Rani nggak sendirian. Ada Reza, ada Siska. Mereka lagi bantu Rani cari bukti. Rani cuma… takut Ayah kecewa.”

“Dengar, Rani.” Suara ayahnya tegas tapi lembut, penuh kasih. “Apapun yang terjadi, kamu tetap anak Ayah. Ayah kenal kamu, Ayah tahu bagaimana kamu dijaga dan bagaimana kamu jaga diri. Jangan pernah merasa sendirian, Nak. Kita akan cari jalan keluar. Kalau memang ini fitnah, kita buktikan.”

Maharani menutup mulut dengan telapak tangannya, tangisnya pecah lagi. “Makasih, Yah… Nani takut semua orang percaya. Rani takut karier hancur, nama baik keluarga tercemar.”

“Jangan pikirkan itu dulu,” jawab ayahnya cepat. “Fokus jaga diri kamu. Biar Ayah koordinasi sama pengacara keluarga. Kalau perlu, Ayah tarik semua koneksi untuk bantu bersihkan nama kamu. Dan kalau memang benar ada orang di balik semua ini… Ayah nggak akan tinggal diam.”

Reza yang duduk di samping Maharani, mengangguk mantap mendengar suara ayahnya dari seberang.

“Pak, jangan khawatir. Saya pastikan Rani nggak akan hadapi ini sendirian. Kami sedang siapkan jalur hukum.”

Sejenak, hening. Lalu suara ayah Maharani terdengar lagi, lebih lembut.

“Rani… istirahat ya, Nak. Jangan habiskan tenaga untuk menangis. Kamu harus kuat. Ingat, kamu bukan hanya artis, kamu anak Ayah. Itu yang paling penting.”

Maharani menutup mata, menggenggam ponsel erat-erat, seolah genggaman itu adalah tangan ayahnya. “Iya, Yah… Rani akan coba kuat.”

Sambungan telepon terputus. Maharani menatap layar ponselnya yang kini gelap, tapi hatinya sedikit lebih ringan. Ada rasa hangat—meski jauh di negeri seberang, ayahnya masih jadi tiang yang menopang dirinya.

Reza menepuk bahunya pelan. “Lihat? Kamu nggak sendirian, Ran. Kita semua ada buat kamu.”

Siska ikut mengangguk, senyum tipis muncul di wajahnya meski matanya masih merah. “Kita lawan bareng-bareng, Mbak.”

Maharani menghela napas panjang. Rasa takut belum sepenuhnya hilang, tapi kali ini, ada semacam cahaya kecil yang mulai tumbuh di balik gulita.

Suara ayah Maharani kembali terdengar sebelum telepon benar-benar ditutup.

“Oh ya, Rani… ada satu hal lagi. Ayah sudah kepikiran sejak tadi.”

Maharani mengerjap, bingung. “Apa, Yah?”

“Kasus sebesar ini butuh penanganan yang cepat dan tepat. Jangan cuma mengandalkan pengacara artis atau manajemen. Ayah mau kamu hubungi Wiratama Law Firm. Mereka punya reputasi paling bersih, paling kuat di bidang hukum media dan reputasi publik. Kalau mereka yang turun tangan, orang akan lebih hati-hati menyerangmu.”

Nama itu langsung membuat Maharani tercekat. Rakha Adiwangsa Wiratama. Sosok yang baru saja masuk ke hidupnya dengan tatapan dingin namun anehnya tak bisa ia lupakan.

“Iya, Yah… tapi…,” suara Maharani goyah, “apa nggak terlalu besar, Yah? Mereka kan biasa tangani kasus perusahaan atau pejabat, bukan artis.”

“Rani,” potong ayahnya, suaranya tegas. “Justru itu. Kamu butuh firma hukum yang levelnya di atas firma hukum gosip-gosip murahan. Kalau Ayah yang minta, mereka pasti mau. Ayah kenal baik dengan seniornya, bahkan sempat kerja sama untuk urusan hotel. Jadi kamu tenang saja.”

Maharani menggigit bibir, jantungnya berdegup semakin keras. Bayangan Rakha muncul lagi, senyum miringnya, caranya menggenggam tangan saat perpisahan tadi. Apakah ini kebetulan… atau takdir?

“Baik, Yah…” jawabnya lirih, akhirnya menyerah pada logika ayahnya. “Rani akan coba hubungi mereka.”

“Bagus,” ucap ayahnya mantap. “Besok pagi Ayah minta sekretaris kirimkan kontak mereka langsung ke kamu. Jangan tunda. Semakin lama, semakin banyak fitnah yang beredar. Ingat, Ayah selalu di pihakmu.”

Maharani memejamkan mata, air matanya jatuh lagi, tapi kali ini bukan hanya karena sakit—melainkan juga karena merasa ada pegangan kuat di tengah badai.

“Iya, Yah. Makasih… Rani sayang Ayah.”

Sambungan telepon pun berakhir. Maharani masih menggenggam ponsel itu erat-erat, sementara di kepalanya hanya ada satu nama: Rakha Adiwangsa Wiratama.

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!