Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Perjalanan terasa begitu cepat dan lancar. Berkat jalan tol yang mulus dan keahlian Pak Didik, waktu tempuh hanya sekitar 45 menit.
Setelah melewati gerbang tol dan beberapa kilometer perjalanan darat, akhirnya pemandangan mulai berubah. Mereka resmi memasuki wilayah Mojokerto.
"Kita sudah masuk batas wilayah Mojokerto, Tuan," ucap Pak Didik.
Sulthan yang sedari tadi duduk tenang, perlahan membuka matanya. "Bagus. Lanjutkan ke lokasi utama."
Rombongan pun melaju menuju area yang ditargetkan. Tak butuh waktu lama, mobil-mobil itu akhirnya sampai di sebuah lokasi tanah yang sangat luas dan terbuka.
Benar saja, di sana belum terlihat bangunan tinggi atau tembok permanen. Lokasi itu masih berupa tanah kosong yang sudah dibersihkan, dengan tumpukan pasir, besi beton, dan lubang-lubang galian untuk fondasi. Beberapa tiang pancang sudah mulai berdiri tegak, menandakan proyek pembangunan cabang baru Aditama Group baru saja memasuki tahap awal.
Mobil-mobil dinas masuk satu per satu ke area tengah lokasi yang sudah disiapkan. Suasananya sangat sepi, angin berhembus kencang, dan tidak ada kerumunan orang sama sekali. Hanya ada beberapa petugas keamanan yang berjaga di sekeliling pagar.
Mobil Sulthan berhenti tepat di tengah area yang datar.
Sebelum pintu dibuka, prosedur keamanan tetap dijalankan ketat. Juniarta yang sudah turun lebih dulu langsung melakukan pengecekan. Dia berkeliling sebentar, memastikan jarak pandang aman, tidak ada orang asing, dan situasi benar-benar kondusif.
Setelah merasa 100% aman, Juniarta mengambil handy talky.
"Cek cek... Halo Base, lokasi sudah aman. Tidak ada orang ramai, situasi terkendali. Silakan Tuan turun," lapor Juniarta jelas.
Di dalam mobil, Sulthan mendengar laporan itu. Dia pun mengangguk.
Pak Didik segera keluar dan membukakan pintu belakang dengan sigap.
Kreekk...
Pintu mobil terbuka. Sepatu kulit hitam milik Sulthan menginjak tanah lokasi proyek itu. Dia turun dengan gagah, menegakkan tubuh tinggi besarnya, lalu merapikan jas kerjanya meskipun di sekitarnya hanya tanah dan material bangunan. Aura wibawanya tetap terpancar kuat.
Matanya menyapu sekeliling, menatap hamparan tanah luas itu dengan tatapan penuh visi, membayangkan bagaimana nantinya akan berdiri toko emas megah di tempat ini.
Matanya lalu berhenti tepat di hadapannya.
Di sana, sudah berdiri seorang pria paruh baya dengan wajah memelas namun penuh hormat. Itu Pak Bambang, kepala kontraktor dan pengawas lapangan yang ditunjuk, beserta beberapa staf teknisnya. Mereka sudah menunggu sejak tadi pagi.
"Selamat datang, Tuan Sulthan! Mohon maaf tempatnya masih berupa tanah," sapa Pak Bambang sambil menjabat tangan erat CEO muda itu.
Sulthan menyambut jabatan tangan itu dengan tenang.
"Pagi, Pak Bambang. Tidak apa-apa, justru saya ingin melihat kondisi aslinya langsung," jawab Sulthan santai.
"Silakan Tuan, kita bicara di dalam tenda kantor proyek saja atau di dalam mobil. Lebih teduh dan ada meja untuk melihat denah," ajak Pak Bambang sopan sambil menunjuk ke sebuah tenda besar yang berdiri tak jauh dari sana.
"Baik, ayo," jawab Sulthan. Diikuti oleh Juniarta dan Putri yang berjalan sigap di belakangnya.
Sampai di dalam tenda besar yang berfungsi sebagai kantor sementara, suasana terasa lebih teduh dan tertutup dari angin kencang di luar. Di sana sudah tersedia meja panjang yang ditutupi kain hijau, dan di atasnya terbentang peta serta denah pembangunan yang cukup besar.
Sulthan duduk di kursi utama, sementara Pak Bambang duduk di hadapannya dengan posisi sedikit menunduk hormat. Juniarta dan Putri berdiri tegak di sisi kiri dan kanan ruangan, siap mengawasi situasi serta mencatat hal-hal penting.
"Jadi begini, Tuan Sulthan," mulai Pak Bambang sambil menunjuk bagian-bagian tertentu di atas kertas denah. "Luas tanah yang kita dapat ini total sekitar 1.500 meter persegi. Posisi sangat strategis, tepat di pinggir jalan raya utama, jadi nanti toko emasnya akan sangat mudah terlihat oleh semua orang."
Sulthan mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu dengan seksama. Tatapannya tajam, menyerap setiap detail informasi.
"Kapan target penyelesaian tahap fondasi dan struktur utama?" tanya Sulthan memotong, suaranya tegas.
"Insyaallah untuk fondasi dan tiang utama selesai dalam waktu dua bulan ke depan, Pak. Kita pakai material terbaik dan tenaga kerja ekstra supaya cepat tapi tetap kokoh," jawab Pak Bambang cepat. "Rencananya nanti lantai dasar untuk showroom emas dan perhiasan yang luas, lantai satu untuk kantor pelayanan dan simpanan, serta ada ruang lemari besi khusus di bagian bawah tanah yang paling aman."
"Bagus. Pastikan sistem keamanannya diperhitungkan sejak awal pembangunan. Jangan sampai ada celah," pesan Sulthan.
"Siap Tuan, sudah kami desain khusus standar bank," jawab Pak Bambang meyakinkan.
Obrolan berlangsung cukup lama, membahas anggaran, jadwal kerja, hingga detail desain interior yang mewah dan elegan sesuai standar Aditama Group. Sulthan terlihat puas dengan kesiapan tim di lapangan.
"Oke, kalau begitu. Mari kita lihat langsung kondisi di luar," ajak Sulthan sambil berdiri.
"Mari Tuan," sahut Pak Bambang sigap.
Mereka semua pun keluar dari tenda. Sinar matahari pagi mulai terasa cukup panas, namun tidak menyurutkan langkah sang CEO.
Sulthan berjalan perlahan memijak tanah yang masih berupa gundukan dan bekas galian. Pak Bambang berjalan setapak di sebelah kirinya, terus menjelaskan sambil menunjuk ke sana kemari.
"Di titik ini nanti akan jadi pintu masuk utama, Tuan. Lebarnya cukup untuk dua mobil masuk bersamaan," jelas Pak Bambang.
Sulthan menatap area itu, membayangkan dalam pikirannya bagaimana nanti pintu otomatis yang megah akan berdiri di sana.
"Dan di sebelah kanan ini, rencananya area parkir khusus tamu VIP, supaya mereka aman turun naik kendaraan tanpa terlihat orang banyak," tambah Pak Bambang lagi.
Sulthan berjalan terus ke arah belakang lokasi. Dia melihat tumpukan besi beton yang siap dipakai, melihat alat berat yang sedang parkir, dan memastikan bahwa tanah di tempat ini benar-benar kokoh dan stabil.
"Pastikan drainase airnya bagus ya, Pak Bambang. Mojokerto kan kadang hujannya deras, jangan sampai lokasi ini banjir atau becek nanti saat musim hujan," pesan Sulthan sambil menendang sedikit tanah di kakinya, mengecek tekstur tanahnya.
"Siap Tuan, sudah kami hitung sistem saluran airnya sampai ke selokan utama jalan raya. Dijamin tidak akan genangan," jawab Pak Bambang penuh keyakinan.
Juniarta berjalan sedikit di belakang, matanya tetap waspada mengamati sekeliling memastikan tidak ada orang asing yang mendekat, sementara Putri sibuk mencatat poin-poin penting yang disampaikan selama pengecekan lapangan.
Sulthan merasa puas. Melihat langsung lokasi yang masih polos ini memberinya energi dan gambaran jelas tentang bagaimana kerajaan bisnisnya akan tumbuh besar di kota ini nanti.
•••
Setelah puas berkeliling menginjakkan kaki di setiap sudut lahan, matahari kini sudah mulai meninggi dan terasa cukup terik. Keringat mulai menetes sedikit di pelipis mereka, tanda aktivitas di bawah terik matahari pagi ini cukup menguras tenaga.
"Silakan masuk lagi ke dalam tenda, Tuan. Kita lanjutkan pembahasannya di sana," ajak Pak Bambang.
Mereka semua kembali berjalan menuju naungan tenda kantor proyek. Suasana di dalam terasa jauh lebih sejuk dan nyaman.
Saat mereka masuk, di atas meja sudah tersusun rapi beberapa botol minuman kemasan yang masih meneteskan air dingin, terlihat sangat segar dan menggoda.
"Mohon diminum dulu, Tuan. Buat hilangkan dahaga," kata Pak Bambang ramah.
"Makasih, Pak," jawab Sulthan.
Sulthan mengambil satu botol air mineral dingin. Ia membuka tutupnya dengan mudah, lalu meneguknya separuh bitol, cukup untuk melegakan tenggorokan yang terasa kering. Rasa dingin dan segar langsung menyebar ke seluruh tubuh, mengembalikan kesegaran tubuhnya seketika. Juniarta dan Putri pun mengambil masing-masing satu botol untuk diminum.
Setelah meletakkan botolnya kembali di meja, Sulthan tidak langsung duduk. Dia berdiri tegap di tengah ruangan, lalu menatap ke arah beberapa orang teknisi dan staf lapangan yang sudah dipanggil masuk untuk mendengarkan arahan langsung.
"Baik, sekarang saya mau bicara sedikit dengan tim teknis," suara Sulthan terdengar lantang dan tegas, membuat semua mata tertuju padanya.
Seorang pria berkacamata yang merupakan kepala teknisi maju selangkah.
"Begini, saya melihat langsung kondisi tanah dan rencana kerja kalian. Secara umum bagus, tapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan betul," mulai Sulthan.
"Pertama, soal kedalaman pondasi. Saya lihat tanah di bagian belakang agak lunak, pastikan tiang pancangnya masuk lebih dalam dari standar yang ditentukan. Jangan sampai nanti ada resiko amblas atau miring—"
"Kedua, soal material besi dan semen. Saya mau yang kualitas nomor satu. Jangan pernah coba-coba mengoplos atau pakai barang murahan demi mengejar keuntungan sendiri. Kalau saya tahu ada kecurangan soal bahan, jangan salahkan saya yang bertindak tegas," tegas Sulthan dengan tatapan tajam menusuk.
Para teknisi dan staf itu hanya mengangguk-angguk dengan ekspresi wajah takut-takut. Mereka semua terlihat serius mencerna setiap kata sang CEO.
"Siap, Pak. Kami mengerti dan akan kami jalankan sesuai standar," jawab kepala teknisi terbata-bata.
"Bagus. Kerjakan dengan jujur dan profesional, maka upah dan bonus kalian juga akan saya pastikan memuaskan," tambah Sulthan kemudian, suaranya sedikit melunak.
Setelah arahan selesai dan diskusi berjalan cukup alot namun produktif, Sulthan pun memberi isyarat pada Putri.
"Putri, sampaikan poin-poin hasil kunjungan kita hari ini dan jadwal selanjutnya," perintah Sulthan singkat.
Putri segera maju ke depan, membuka buku catatannya yang tebal, lalu mulai membacakan dengan suara jelas dan runtut.
"Baik, Bapak-bapak sekalian. Berdasarkan pengecekan dan diskusi tadi, berikut adalah keputusan dan jadwal selanjutnya..."
"Laporan progres mingguan wajib dikirim setiap hari Jumat sore via email dan WA ke kantor pusat."
"Untuk pengadaan material besi beton, harus sudah sampai di lokasi paling lambat 3 hari ke depan."
"Target penyelesaian tahap awal tetap dipegang teguh, tidak boleh ada keterlambatan walau sehari pun."
Putri menjelaskan dengan detail dan tegas, mewakili perintah dari Sulthan. Suasana di dalam tend kembali hening, hanya terdengar suara Putri yang membacakan arahan dan sesekali suara pena yang menulis catatan penting.
Sulthan berdiri dengan tangan disilangkan di dada, mendengarkan dengan puas. Segala rencana dan kendali sudah teratur dengan sempurna.